NovelToon NovelToon
Pura-Pura Tak Kenal

Pura-Pura Tak Kenal

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rosida0161

Rio terpaksa menyetujui menikah dengan Rayi demi warisan supaya tak jatuh pada Rayi yang merupakan cucu dari teman sejati Kakek Brata.
Mereka kuliah di satu kampus dengan jurusan berbeda. Rayi terpaksa menerima syarat dari Rio bahwa di kampus mereka pura-pura tak kenal.
Namun mulai timbul masalah saat Didit teman satu kampus Rayi naksir gadis itu, dan Lala mantan Didit yang ingin mencelakai Rayi, serta Aruna teman sekolah naksir Rio kembali disaat hati Rio mulai bimbang untuk melepaskan Rayi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosida0161, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kakekku Mendadak Jadi Comblang

Rayi yang sudah didandani terlihat cantik manglingi. Wajahnya yang imut sesuai umurnya disulap lebih dewasa namun tidak berlebihan. Mike upnya natural sesuai permintaannya pada tim perias yang dikirim oleh kakek Brata.

Pernikahan hari ini dengan cucu kakek Brata sudah dia ketahui tahun lalu saat kakek Satya masih ada, namun hal itu tak dia masukkan dalam hati. Bahkan dia melupakannya.

"Ingat perjodohan cucu kita, Satya," terdengar suara kakek Brata saat bertamu ke rumah kakek Satya kakeknya Rayi.

Rayi yang tengah membawa dua cangkir teh tanpa gula sesuai permintaan kedua lansia yang tengah bercakap akrab itu, tertegun di balik pintu.

"Oh ya pasti itu, Sat, setelah kita gagal menjodohkan Ratri anakku dengan Hadi anakmu karena mereka justru memiliki pilihan masing-masing, dan Rayi cucuku akan berjodoh dengan cucumu."

Rayi berdebar mendengar suara kakek Satya menjadi berdebar, terkejut dan takut.

"Ya cucumu dan cucuku bernasib sama tak mendapat kasih sayang kedua orang tuanya," ujar kakek Brata, "Harusnya cucuku masih mendapat kasih sayang ibunya, tapi sejak tewasnya Hadi Rosa bagai orang hilang akal," keluh kakek Brata.

"Semua karena cinta Brata, menantumu tak kuat kehilangan anakmu ..." ujar kakek Satya. Lalu Rayi mendengar kakeknya batuk-batuk, "Sejak Ratri meninggal saat melahirkan Rayi menantuku malah membenci Rayi. Dia juga jadi edan ..." lanjut Satya dengan suara penuh amarah.

"Ya menantumu itu karena begitu mencintai anakmu jadi salah membenci anaknya sendiri ... Cinta memang terkadang membuat pelakunya bertindak diluar nalar dan seperti kehilangan akal sehat. Menantuku dan menantumu itu korban dari cinta sejati mereka," ujar kakek Brata.

Tapi sejak percakapan itu sepertinya kakek Satya tak mau mengganggu Rayi dengan perjodohan itu. Rayi merasa beruntung karena tak terganggu dengan rencana dua orang tua yang bersahabat karib dari kecil hingga tua. Dan Rayi mengira mereka sudah lupa, hingga beberapa bulan kemudian saat kakeknya jatuh sakit.

"Rayi cucuku jika Kakek tiada ada kakek Brata yang akan menyayangimu dan dia akan menganggapmu cucu karena kami sudah sepakat menjodohkanmu dengan Rio cucunya," ujar kakek Satya menggenggam tangan Rayi sehari sebelum meninggal, "Kakek ikhlas meninggalkanmu pada kakek Brata sahabat rasa saudara bagi kakekmu ini,"

Rayi tak ingin memberikan bantahan disaat kakeknya terlihat sangat lemah. Dia diam saja dan berharap kakeknya sehat kembali.

"Kek jangan mikir macam-macam Kakek pasti sembuh, kok," bujuk Rayi menggenggam tangan kakek Satya.

Tapi rupanya itu adalah percakapan terakhir antara Rayi dengan kakeknya, karena keesokan harinya kakek Satya tak pernah bangun lagi dan tak pernah membuka mata.

Kakek Brata menitikkan air mata saat berdoa di samping jenazah kakek Satya.

"Rayi sebaiknya kamu tinggal di rumah Kakek Brata saja, di sini kamu sendirian," bujuk kakek Brata membujuk Rayi setelah satu minggu kakek Satya meninggal.

"Terima kasih Kakek Brata, tidak usah di sini ada mbak dan bibik yang menjaga Rayi," ujar Rayi menyebut dua orang asisten rumah tangganya yang sudah lama bekerja pada kakeknya. Si bibik bahkan bekerja selagi dirinya masih dalam kandungan ibunya.

"Baiklah jangan ragu jika Rayi membutuhkan keperluan apa pun, anggap Kakek Brata ini kakeknya Rayi, dan Rayi harus tahu kakekmu itu pernah menyelamatkan Kakek Brata ..."

Rayi menatap Kakek Brata tanpa suara.

"Waktu itu Kakek Brata bersama dengan klien, dan tak tahunya klien itu seorang yang licik ingin menguasai perusahaan Kakek Brata. Dan saat kami berada di sebuah lahan tiba-tiba saja klien Kakek akan menikam Kakek Brata dari belakang, beruntung kakekmu yang gemar berkuda itu ada di tempat yang tak jauh dari tempat kami, makanya kakekmu langsung menabrakkan kudanya pada klien yang hampir saja membunuh Kakek Brata,"

"Oh ya?" Ada senyum bangga pada sepasang mata Rayi, saat itu langsung saja terbayang kakek Satya muda dalam kostum pangeran duduk di atas pelana kuda kerajaan yang berada di atas bukit , lalu membawa kudanya meluncur ke lereng bukit untuk menolong sahabatnya yang dalam bahaya.

"Ya, kakekmu pemberani, berkat pertolongannya aku masih bernapas sampai saat ini ..." ujar kakek Brata.

"Non utusan penjemputan sudah tiba," ujar Ruh memberitahu membuyarkan lamunan Rayi.

"Oh ... Ya, Mbak Ruh," angguk Rayi tersadar kalau hari ini adalah hari pernikahannya dengan cucu kakek Brata.

Bibik mendekat, "Mari, Non ..." lalu membimbing non majikannya.

"Mbak foto kakek," bisik Rayi.

"Oh ya ..." segera Ruh mengambil foto setengah badan kakek Satya yang telah di bingkai dalam figura.

Kakek Brata menyambut langsung kedatangan Rayi dan membimbing gadis yang memeluk foto kakeknya.

"Rayi mari sini foto kakekmu biar aku bawa,"

Rayi memberikan foto kakek Satya pada kakek Brata dan kemudian melangkah kearah dimana Rio sudah duduk menunggu di depan penghulu dan wali hakim untuk Rayi serta saksi.

Sama dengan Rayi yang menunduk, Rio pun tak mau mengangkat kepalanya. Otomatis calon pengantin itu tak saling tahu wajah masing-masing.

Bibik mendudukan Rayi di samping Rio yang masih menunduk, terkesan tak sudi menyambut calon pengantinnya. Sedangkan kakek Brata duduk di kursi di ujung meja di sebelah kanan Rio. Sedangkan foto kakek Satya diletakkan di ujung kursi satunya di sebelah kiri Rayi, dan berhadapan dengan kakek Brata.

Lalu di depan pasangan calon pengantin duduk penghulu yang akan menikahkan pengantin didampingi oleh lelaki yang bertindak sebagai wali hakim untuk Rayi serta seorang saksi pernikahan.

"Baiklah saat ini Kakek baru bisa menikahkan kalian secara agama berhubung Rio nanti sore akan terbang ke Jepang dalam rangka tugas perusahaan selama satu bulan, nanti setelah Rio kembali ke Jakarta insyaAllah akan segera mendaftarkan pernikahan ini ke KUA sekalian membuat resepsi ..." ujar kakek Brata.

Rio tak membantah walau dia meyakini belum bisa membuat resepsi pernikahan berdasarkan kemauan kakeknya itu.

Kakek Brata tersenyum lega setelah Rio menyelesaikan ijab kabul itu dengan satu tarikan napas.

"Sah?"

"Sah." Seru saksi dengan suara tegas.

"Alhamdulillah ..." seru kakek Brata memandang kedua pengantin dengan tersenyum bahagia.

Dan segera Kakek Brata mengambil kota beludru warna merah yang berisi dua cincin. Disodorkannya pada Rio.

Rio segera mengambil satu cincin bermata berlian dan tanpa menatap pada Rayi segera memakaikan cincin itu ke jari manis Rayi yang juga masih menunduk, walau mengulurkan jari tangannya.

Setelah itu kakek menyodorkan cincin satunya pada Rayi untuk dikenakan di jari manis tangan Rio.

Sama halnya dengan adegan Rio yang mengenakan cincin ke jari manis Rayi, gadis yang baru saja menyandang gelar istri itu masih menunduk gugup saat mengenakan cincin ke tangan Rio.

Tangan Rayi agak gemetar saat mengenakan cincin ke jari manis Rio, dan Rio yang memandang pada tangannya sendiri melihat tangan gemetar istrinya.

Rayi menoleh ke foto kakeknya, Kek sekarang Rayi sudah menikah dengan lelaki yang diinginkan kakek menjadi suamiku, batin Rayi.

Setelah acara pernikahan selesai kakek Brata mengantar pengantin baru itu ke kamarnya. Lelaki tua itu merangkul Rio di lengan kanannya, dan lengan kirinya merangkul Rayi.

"Aduh Kakekku ini apa-apaan, sih, sampai nganter ke kamar segala, dikiranya kami ini pengantin beneran apa, uh ..." sungut Rio, tentu saja hanya dikeluhkan dalam hati saja.

Di depan pintu kamar langkah kakek Brata berhenti, menoleh pada Rio, "Rio," suaranya tegas seakan pembukaan sebuah pidato.

"Ya, Kek," sahut Rio tanpa menoleh tetap menghadap ke pintu kamar yang masih tertutup.

"Kamu sudah menjadi seorang suami jadi jaga hatimu dari perempuan lain, fokus hanya mencintai Rayi istrimu,"

Aduh apa-apaan, sih kakekku ini, tapi tetap "Ya," yang keluar dari mulutnya. Ibarat kata lain di mulut lain di hati.

"Rayi ..." pada Rayi suara kakek Brata lebih lembut dan perhatian.

"Ih suara kakek pada dia lembut," gerutu hati Rio.

"Ya, Kek," jawab Rayi.

"Rayi sekarang sudah menjadi istri Rio ingat itu ya, Nak,"

"Ya, Kek," sahut Rayi.

"Nah kalian lebih mengenal lagi." Ujar kakek Brata, "Kakek harap sebelum Rio berangkat ke Jepang kalian saling mengenal satu dan lainnya," lalu kakek Brata melepaskan rangkulannya pada kedua bahu pasangan pengantin baru itu, lalu membuka pintu kamar, "Masuklah ..." lanjutnya.

"Asli kakekku ini kok bisa mendadak jadi comblang ..." gerutu Rio dalam hati, tapi tetap melangkah masuk ke kamar diikuti Rayi di belakangnya.

Segera kakek Brata menutup pintu kamar. Rio melirik takjub sekaligus gemas pada kakeknya.

1
Rosida0161
ya mike up trimksih koreksinya
Ririn Rafika
semangat kak
Ririn Rafika
semangat kak
suka banget alurnya
Memyr 67
𝗆𝗂𝗄𝖾 𝗎𝗉𝗇𝗒𝖺? 𝖺𝗉𝖺 𝗂𝗇𝗂 𝗆𝖺𝗄𝗌𝗎𝖽 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗆𝗂𝗄𝖾 𝗎𝗉? 𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗇𝗎𝗅𝗂𝗌, 𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝗄𝖺𝗆𝗎𝗌 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗌𝗂𝗁?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!