NovelToon NovelToon
Ratu Layla ( Takhta Darah Di Atas Atlas )

Ratu Layla ( Takhta Darah Di Atas Atlas )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Barat
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: Anang Bws2

kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Kelam di Bawah Bayang-Bayang faramis

Malam itu, Istana Atlas terasa seperti kuburan yang megah. Cahaya obor yang biasanya melambangkan kejayaan kini hanya tampak seperti percikan api yang sekarat. Ratu Layla, dengan jubah hitam yang menyeret di lantai marmer, melangkah menuju balkon tertinggi istana. Pikirannya masih dipenuhi oleh bayangan wajah putrinya yang lenyap ditelan bara api. Kekejamannya yang biasanya ia tujukan kepada musuh, kini berbalik membakar dirinya sendiri dalam bentuk rasa bersalah yang tak berujung.

Layla berdiri di tepi balkon, menatap bulan bulat sempurna yang bersinar pucat. Bulan itu seolah mengejeknya, mengingatkannya bahwa meski ia menguasai daratan dan langit, ia tidak bisa menguasai takdir. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan badai di dalam dadanya. Namun, di tengah keheningan malam yang mencekam, udara di sekitarnya mendadak berubah menjadi lembap dan berbau tanah basah.

Tanpa peringatan, akar-akar pohon yang tebal dan berduri merambat dengan kecepatan kilat dari celah-celah batu balkon. Sebelum Layla sempat berteriak atau memanggil naganya, akar-akar itu melilit pergelangan kakinya dengan sangat kuat. Ratu yang kejam itu terhenyak jatuh, punggungnya menghantam lantai dengan keras. Penyihir Hutan, , muncul dari balik kegelapan dengan mata hijau yang menyala jahat. Dengan satu sentakan sihir yang kuat, akar tersebut menarik kaki Layla, menyeretnya melewati pagar balkon, dan menjatuhkannya ke bawah.

Layla tidak mati. Sihir hitamnya menciptakan bantalan dari sulur-sulur tanaman yang menangkapnya sebelum menghantam tanah.

Akar-akar itu terus menyeretnya dengan kasar, menembus kegelapan, menjauh dari benteng Atlas yang kokoh. Layla mencoba meraih belati di pinggangnya, namun tumbuhan merambat itu segera mengunci tangannya. Ia diseret melalui medan yang gelap dan rimbun hingga mereka tiba di sebuah area terbuka yang tersembunyi jauh dari jangkauan pasukannya.

Di sana, di tengah remang cahaya bulan, Raja Gris telah menunggu. Ia tidak lagi mengenakan zirah perang yang hancur, melainkan pakaian sutra tipis yang kontras dengan luka bakar di wajahnya. Penyihir Hutan melepaskan lilitannya dan menghilang ke balik pepohonan, meninggalkan sang Ratu yang terhina di hadapan musuh bebuyutannya.

Gris melangkah mendekat, namun tidak ada pedang di tangannya. Ia menatap Layla dengan tatapan yang sulit diartikan "Kau pikir hanya kau yang bisa merasakan kehilangan, Layla?" bisiknya lembut namun mengerikan. Ia memaksa Layla berdiri dan mendekapnya dengan kasar,lalu memasukkan inang pohon ke dalam tubuh ratu dengan bantuan penyihir hutan

Namun penyiksaan itu, tidak berlangsung lama. Langit tiba-tiba bergetar oleh suara kepakan sayap yang sangat dikenal. Dari kejauhan, raungan Naga Api membelah malam, diikuti oleh pekikan Griffon yang memekakkan telinga. Delta, Sang Panglima, bersama Penyihir Petir telah memimpin pasukan besar Atlas untuk mencari ratu mereka yang hilang. Ribuan obor yang dibawa oleh pasukan Centaur dan Minotaur terlihat seperti lautan api yang bergerak mendekat.

"Mereka datang," desis Gris, melepaskan ratu layla dengan senyum sinis.

Penyihir Hutan muncul kembali dari balik bayangan, tangannya merapal mantra transportasi. "Kita harus pergi, Tuanku. Pasukan Atlas terlalu besar untuk kita hadapi sekarang," lapor sang penyihir.

Gris menatap Layla untuk terakhir kalinya. "Ini belum selesai, Ratu Atlas. Aku telah mengambil putrimu, dan sekarang aku telah mengambil takhtamu." Dengan bantuan sihir kabut hijau dari Penyihir Hutan, tubuh keduanya memudar dan menghilang tepat saat Delta melompat dari punggung Griffon-nya dengan pedang terhunus.

"Ratu!" teriak Delta, segera berlutut di hadapan Layla yang terduduk lemas dengan pakaian yang berantakan.

Penyihir Petir segera merapalkan mantra perlindungan di sekitar mereka, matanya waspada mencari sisa-sisa keberadaan musuh. "Mereka menggunakan sihir perpindahan ruang tingkat tinggi. Kita tidak bisa mengejar mereka dalam kegelapan ini."

Delta melepaskan jubah perangnya dan menyampirkannya ke bahu Layla untuk menutupi tubuh sang ratu. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir Layla. Matanya yang biasanya tajam kini tampak kosong, menatap tanah dengan kebencian yang melampaui akal sehat. Tanpa perlawanan, Ratu Layla dibantu berdiri oleh Delta dan diantar kembali menuju istana dengan pengawalan ketat dari seluruh pasukan Minotaur dan Centaur yang tersisa. Malam itu, Atlas mendapatkan kembali ratunya,

1
Anang Anang
seru
Dini
sungguh mengerikan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!