Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia yang Tidak Pernah Sama
Hari pertemuan itu tidak diberi nama khusus.
Tidak ada tanggal yang dihafalkan Carmela dengan gugup, tidak ada gaun putih, tidak ada bunga segar. Hanya sebuah mobil hitam yang berhenti di depan rumahnya tepat pukul sepuluh pagi, seperti janji yang tidak bisa ditunda.
Carmela berdiri di ambang pintu ketika suara klakson pendek terdengar. Jantungnya berdegup lebih cepat dari yang ingin ia akui. Ibunya merapikan kerudungnya untuk terakhir kali, tangannya gemetar.
“Kau tidak perlu bicara banyak,” bisik ibunya. “Dengarkan saja.”
Carmela mengangguk.
Ia sudah terlalu sering mendengar kalimat itu sepanjang hidupnya.
Pintu mobil terbuka. Seorang pria turun lebih dulu—bukan Matteo. Tubuhnya tinggi, posturnya tegap, matanya waspada. Ia menatap sekeliling sebelum membuka pintu belakang.
Dan di situlah Carmela melihatnya untuk pertama kali.
Matteo Mariano tidak seperti yang ia bayangkan.
Tidak terlalu tua, tidak pula terlalu muda. Wajahnya tenang, terlalu tenang, seolah dunia jarang mengejutkannya. Setelan hitamnya sederhana, tapi jelas mahal. Tidak ada perhiasan mencolok, tidak ada senyum basa-basi.
Tatapan mereka bertemu.
Hanya sesaat.
Carmela menunduk lebih dulu, refleks yang sudah mendarah daging. Tapi dalam sedetik itu, ia sempat menangkap sesuatu di mata Matteo—bukan ketertarikan, bukan penilaian, melainkan pengukuran. Seperti seseorang yang sedang memastikan apakah sebuah keputusan akan menimbulkan masalah di kemudian hari.
“Carmela Alegro,” kata Matteo akhirnya, suaranya rendah dan terkontrol.
Bukan sapaan hangat. Bukan pula dingin. Hanya fakta.
“Iya,” jawab Carmela pelan.
Matteo mengangguk tipis. “Kita akan berangkat sekarang.”
Bukan pertanyaan.
Ibunya memeluk Carmela dengan cepat, seolah takut jika terlalu lama akan mengubah keputusan yang sudah dibuat. Carmela membalas pelukan itu dengan tubuh kaku.
Ia melangkah masuk ke mobil.
Dan pintu tertutup.
Perjalanan berlangsung sunyi.
Mobil melaju mulus, meninggalkan lingkungan sempit menuju jalan-jalan besar yang bersih dan teratur. Carmela duduk dengan tangan di pangkuan, punggung tegak, pandangan lurus ke depan. Ia bisa merasakan keberadaan Matteo di sampingnya—tenang, tak bergerak, seolah jarak di antara mereka adalah dinding tak kasatmata.
“Kau tidak bertanya apa pun,” kata Matteo akhirnya.
Carmela menoleh perlahan. “Apa yang seharusnya kutanyakan?”
Matteo menatapnya singkat, lalu kembali melihat jalan. “Banyak perempuan akan bertanya tentang rumah, tentang pernikahan, tentang peranku.”
Carmela terdiam sejenak. “Aku tidak tahu harus berharap apa.”
Jawaban itu jujur. Dan untuk sesaat, Matteo tampak… berpikir.
“Harapan sering kali membuat orang ceroboh,” katanya. “Dalam hidupku, aku belajar untuk tidak memilikinya.”
Carmela menatap jendela. Bangunan-bangunan di luar tampak semakin asing.
“Aku juga,” katanya pelan.
Itu adalah kesamaan pertama mereka—dan keduanya tidak menyadarinya sepenuhnya.
Rumah keluarga Mariano berdiri jauh dari keramaian. Gerbang besi terbuka perlahan, memperlihatkan halaman luas yang tertata rapi. Semuanya terlihat terkontrol, terlalu sempurna.
Carmela merasa kecil.
Ia turun dari mobil, seketika disambut oleh keheningan yang berat. Beberapa orang berdiri di kejauhan—staf, pengawal, atau entah apa peran mereka. Tidak ada yang mendekat, tidak ada yang tersenyum.
Matteo berjalan di depannya, langkahnya mantap. Tidak menoleh, tidak memastikan apakah Carmela mengikutinya.
Ia mengikuti.
Di dalam rumah, udara terasa sejuk. Terlalu sejuk. Dindingnya tinggi, langit-langit luas. Segalanya terasa permanen, seperti tempat yang tidak memberi ruang bagi kesalahan.
“Ini rumah utama,” kata Matteo akhirnya. “Kau akan tinggal di sini.”
Carmela mengangguk. “Aku mengerti.”
Matteo berhenti melangkah dan menoleh padanya. Tatapannya tajam, seolah sedang mencari sesuatu.
“Kau tidak terlihat terkejut.”
Carmela menarik napas. “Aku tidak punya pembanding.”
Kejujuran itu membuat Matteo terdiam sejenak.
“Akan ada aturan,” katanya kemudian. “Bukan untuk mengekangmu. Tapi untuk keamanan.”
Keamanan lagi.
“Kau bebas di dalam rumah,” lanjutnya. “Di luar… kita akan bicarakan nanti.”
Nada suaranya datar. Profesional. Seolah sedang menjelaskan kontrak.
“Pernikahan ini,” Matteo menambahkan, “adalah kesepakatan. Aku tidak akan menuntut perasaanmu. Aku juga tidak akan berpura-pura.”
Carmela menatapnya langsung kali ini. “Lalu apa yang kau tuntut?”
Matteo menjawab tanpa ragu. “Disiplin. Dan kepercayaan.”
Kepercayaan pada pria yang baru ia temui hari ini.
Carmela mengangguk. “Aku akan berusaha.”
Matteo menatapnya lama. Mungkin terlalu lama. Lalu ia berkata, “Berusaha saja tidak cukup di dunia ini. Tapi itu awal.”
Ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Carmela berdiri sendiri di ruang besar itu.
Malam tiba lebih cepat dari yang Carmela perkirakan.
Ia duduk di kamar yang disediakan untuknya—luas, rapi, dingin. Tidak ada sentuhan personal. Tidak ada cermin kecil yang retak, tidak ada bau rumah lama.
Ia membuka koper kecilnya. Isinya sederhana: beberapa pakaian, satu buku lama, dan sehelai foto keluarganya.
Ia memegang foto itu lama.
Di rumah ini, ia bukan lagi anak, bukan pula sepenuhnya istri. Ia adalah bagian dari sistem yang belum ia pahami.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
Matteo berdiri di ambang pintu. Kali ini tanpa jas, hanya kemeja gelap dengan lengan tergulung.
“Makan malam akan disajikan,” katanya. “Kau tidak wajib bergabung. Tapi sebaiknya.”
Carmela berdiri. “Aku akan datang.”
Matteo mengangguk. Sebelum pergi, ia berhenti sejenak.
“Carmela,” katanya.
“Iya?”
“Jika kau merasa tidak aman… katakan padaku. Diam tidak selalu menyelamatkan.”
Kalimat itu mengejutkannya.
Matteo pergi sebelum ia sempat menjawab.
Carmela berdiri di sana, jantungnya berdetak lebih cepat.
Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia merasakan sesuatu yang berbeda—bukan aman, bukan takut sepenuhnya.
Melainkan pertanyaan.