Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Retakan di Balik Cahaya
Pagi setelah jamuan makan malam itu, Alya terbangun dengan perasaan asing. Bukan takut. Bukan juga bahagia sepenuhnya. Ada sesuatu di antara keduanya—seperti kaca bening yang retak halus, nyaris tak terlihat, namun cukup untuk mengubah cara cahaya masuk ke dalamnya.
Ia duduk di tepi ranjang apartemen kecilnya, menatap kain sutra merah muda yang tergantung rapi di kursi. Semalam ia belum sempat menyimpannya kembali ke dalam kotak beludru. Entah mengapa, ia ingin kain itu tetap terlihat. Seolah menjadi saksi bahwa semua yang terjadi semalam bukan sekadar mimpi.
Pertemuan dengan Arga dan Bu Ratna terus berputar di kepalanya. Tatapan Arga yang terkejut. Suaranya yang gemetar saat menyebut namanya. Dan yang paling menusuk—rasa kosong yang justru muncul setelah ia berhasil berdiri tegak di hadapan mereka.
Alya mengira kemenangan akan terasa manis. Nyatanya, kemenangan itu terasa hening. Tidak gegap gempita. Tidak ada sorak-sorai. Hanya kelegaan sunyi, seperti luka lama yang akhirnya berhenti berdarah, meski bekasnya tetap ada.
Ia bangkit, bersiap ke kantor.
Hari itu, kantor terasa berbeda. Bukan karena perubahan fisik, melainkan karena atmosfer yang tak kasatmata. Tatapan rekan kerja terasa lebih lama dari biasanya. Bisik-bisik di sudut ruangan tidak lagi berhenti ketika Alya lewat—justru semakin sengaja diperdengarkan.
Ia tahu, kabar tentang jamuan malam itu sudah menyebar.
“Pagi, Alya.”
Suara itu milik Dimas, staf IT yang biasanya jarang menyapa. Senyumnya ramah, namun mata orang-orang di sekitar mereka seketika tertuju ke arah Alya.
“Pagi,” jawab Alya singkat, tetap berjalan menuju mejanya.
Ia baru saja menyalakan komputer ketika notifikasi email masuk.
Subjek: Klarifikasi Kehadiran di Acara Asosiasi Pengusaha
Pengirim: HRD Internal
Alya menarik napas panjang sebelum membukanya.
Isi email itu singkat, formal, namun dingin. Ia diminta menghadap bagian HRD siang nanti untuk memberikan penjelasan mengenai kapasitas kehadirannya di acara resmi bersama pimpinan perusahaan.
Tangannya mengepal perlahan.
Ini baru permulaan, batinnya.
Fitnah yang Berwajah Prosedur
Siang hari, Alya duduk di ruang HRD. Di hadapannya, Bu Lestari—kepala HRD—menyilangkan tangan dengan ekspresi netral yang sulit ditebak.
“Alya, kami tidak bermaksud menuduh,” ucap Bu Lestari akhirnya. “Namun, beberapa karyawan mempertanyakan profesionalitas relasi Anda dengan Pak Sultan. Kami perlu memastikan tidak ada pelanggaran etika kerja.”
Alya menegakkan punggungnya.
“Saya hadir atas undangan resmi Pak Sultan sebagai perwakilan tim administrasi. Tugas saya malam itu adalah menjelaskan proyek arsip sejarah perusahaan kepada beberapa mitra,” jawabnya tenang.
Bu Lestari menatapnya beberapa detik lebih lama.
“Apakah ada hubungan personal di luar pekerjaan?”
Pertanyaan itu menusuk lebih dalam dari yang Alya perkirakan.
“Tidak ada,” jawabnya tegas. “Hubungan kami profesional.”
Itu bukan kebohongan. Setidaknya, belum.
Bu Lestari mengangguk pelan. “Baik. Kami hanya ingin memastikan semua berjalan sesuai koridor. Anda boleh kembali bekerja.”
Saat Alya keluar dari ruangan itu, kakinya terasa sedikit lemas. Bukan karena takut, melainkan karena ia sadar: keberaniannya berdiri tegak semalam telah menempatkannya tepat di bawah sorotan.
Di pantry, Maya berdiri bersama dua rekannya. Kali ini, Maya tidak tersenyum mengejek. Ia tersenyum tipis—senyum yang lebih berbahaya.
“Wah, Alya,” katanya. “Sekarang sampai HRD juga tertarik sama kamu.”
Alya menatapnya lurus. “Jika kamu ingin naik jabatan, Maya, caranya bukan dengan menjatuhkan orang lain.”
Maya tertawa kecil. “Kita lihat saja nanti, Al. Di dunia ini, perempuan seperti kita harus tahu batas.”
Alya berlalu tanpa menanggapi. Namun di dalam hatinya, ia tahu satu hal pasti: Maya tidak akan berhenti.
Kunci yang Membuka Luka Lama
Sore hari, Alya masuk ke ruang arsip yang baru direnovasi. Bau kayu baru dan kertas lama bercampur menjadi aroma yang menenangkan. Loker kecil dengan nomor namanya terpasang rapi di sudut ruangan.
Ia memasukkan kunci pemberian Sultan ke dalam lubang, memutarnya perlahan.
Di dalam loker itu, bukan hanya dokumen. Ada sebuah map cokelat tebal bertuliskan tangan:
"Alya – Akses Khusus”
Alya terdiam. Ia tidak pernah meminta ini.
Ia membuka map itu dengan hati-hati. Isinya adalah arsip sejarah perusahaan—namun ada satu berkas yang membuat dadanya mengeras.
Nama Arga.
Ternyata, perusahaan tempat Arga bekerja kini menjadi salah satu mitra bisnis Sultan Rahman.
Takdir, rupanya, belum selesai mempermainkannya.
Saat itulah Sultan masuk ke ruang arsip.
“Kamu sudah lihat isinya?” tanyanya pelan.
Alya mengangguk. “Saya tidak tahu Mas Arga terlibat.”
Sultan menyandarkan tubuhnya ke meja. “Saya baru tahu setelah acara itu. Jika kamu merasa tidak nyaman, saya bisa mengalihkan tugas ini.”
Alya menggeleng.
“Tidak,” katanya mantap. “Saya tidak ingin lari lagi. Jika masa lalu datang mengetuk, kali ini saya akan membukakan pintu dengan kepala tegak.”
Sultan menatapnya lama. Ada kekaguman, tapi juga kekhawatiran.
“Kamu tidak harus membuktikan apa pun pada siapa pun,” ucapnya.
Alya tersenyum tipis. “Saya tahu. Saya membuktikannya untuk diri saya sendiri.”
Arga yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi
Di tempat lain, Arga duduk di ruang kerjanya dengan tangan gemetar. Setelah bertahun-tahun mengejar pengakuan dan stabilitas finansial, ia akhirnya menyadari satu hal: semua itu tidak pernah cukup.
Wajah Alya di jamuan malam itu menghantuinya. Tatapannya yang tenang. Caranya berdiri sejajar dengan pria-pria besar tanpa gentar.
Ia teringat Alya yang dulu—yang selalu menunduk, selalu meminta maaf bahkan untuk hal-hal yang bukan kesalahannya.
Dan kini, ia tahu: dialah yang telah meremukkan sayap wanita itu… dan orang lain yang kini melihatnya terbang.
Arga membuka ponselnya, menatap nomor Alya yang tak pernah ia hapus.
Pesan singkat itu akhirnya terkirim.
“Alya, aku ingin bicara. Bukan untuk meminta kembali. Hanya untuk meminta maaf.”
Beberapa menit berlalu.
Tak ada balasan.
Batas yang Mulai Kabur
Malam itu, Alya lembur di ruang arsip. Hanya lampu meja yang menyala. Ketika pintu terbuka, ia terkejut melihat Sultan berdiri di ambang pintu.
“Kamu belum pulang?” tanyanya.
“Ada beberapa data yang harus saya rapikan,” jawab Alya.
Sultan masuk, menutup pintu perlahan. Keheningan di antara mereka terasa berbeda. Lebih intim. Lebih berbahaya.
“Kamu mendapat pesan dari Arga?” tanyanya tiba-tiba.
Alya terkejut. “Bagaimana Bapak tahu?”
“Saya melihat namanya di layar ponselmu tadi sore,” jawab Sultan jujur.
Alya menunduk. “Saya belum membalas.”
Sultan mengangguk. “Apa pun keputusanmu, pastikan itu demi ketenanganmu. Bukan demi rasa bersalah.”
Kalimat itu membuat Alya menatapnya.
“Kenapa Bapak begitu peduli?” tanyanya lirih.
Sultan terdiam. Untuk pertama kalinya, pria itu terlihat ragu.
“Karena saya melihat kamu bukan sebagai aset perusahaan,” ujarnya akhirnya. “Tapi sebagai manusia yang berhak bahagia.”
Udara terasa menegang. Jarak di antara mereka hanya beberapa langkah, namun terasa seperti jurang.
Alya mundur selangkah.
“Kita harus hati-hati,” katanya pelan. “Saya tidak ingin keberanian saya disalahartikan.”
Sultan tersenyum kecil, pahit. “Saya mengerti.”
Namun mereka berdua tahu, ada sesuatu yang telah berubah. Dan perubahan itu tidak bisa dibatalkan.
Cahaya yang Tak Bisa Dipadamkan
Malam semakin larut. Alya pulang dengan hati penuh tanya. Ia sadar, hidupnya kini berada di persimpangan yang jauh lebih rumit dari sekadar bertahan hidup.
Ia bukan lagi Alya yang tak punya pilihan.
Namun dengan pilihan, datang pula konsekuensi.
Ia menatap bayangannya di cermin sebelum tidur.
“Apa pun yang terjadi,” bisiknya pada diri sendiri, “aku tidak akan kembali menjadi bayangan.”
Dan di luar sana, tanpa ia sadari, ada tiga kekuatan yang mulai bergerak:
Ambisi Maya. Penyesalan Arga. Dan perasaan Sultan yang perlahan menolak untuk tetap diam.
Cahaya Alya telah menyala.
Dan tidak semua orang siap melihatnya bersinar.