"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"
Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.
Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.
Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.
Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Pulang dan Memaafkan?
"Cklek."
Pintu utama Mansion Alger terbuka pelan.
Hara melangkah masuk dengan hati-hati, seolah memasuki zona perang yang baru saja terkena serangan udara. Aroma di dalam rumah itu sungguh ajaib—campuran antara bau gosong yang menyengat, wangi sabun mandi yang tumpah ruah, dan aroma keju pizza yang sudah dingin.
"Astaga..." desis Hara pelan sambil menutup hidung.
Matanya menyapu seluruh ruangan. Zona Hijau yang tadi pagi masih rapi, sekarang tampak seperti kapal pecah. Bantal sofa berserakan di mana-mana membentuk benteng pertahanan yang runtuh. Kotak pizza terbuka lebar di atas meja kaca mahal, menyisakan remah-remah di karpet bulu. Ada jejak kaki basah yang mengering di lantai marmer, memanjang dari kamar mandi sampai ke ruang tengah.
Dan di tengah kekacauan itu, tergeletak sesosok tubuh pria dewasa.
Cayvion Alger. CEO yang biasanya tampil klimis dan sempurna itu kini tertidur pulas di lantai karpet. Dia meringkuk memeluk guling kecil milik Elia, kemeja putihnya kusut masai dengan kancing terbuka sebagian, memperlihatkan dadanya yang naik turun teratur.
Tapi bukan itu yang membuat Hara terpaku menahan tawa.
Wajah Cayvion.
Wajah tampan yang sering menghiasi majalah bisnis itu kini penuh dengan karya seni abstrak. Ada gambar kumis kucing besar di pipi kanan dan kirinya, digambar menggunakan spidol warna hitam. Di dahinya, tertulis kata 'PAPA' dengan huruf kapital miring berwarna merah. Dan yang paling parah, ada lingkaran hitam di sekitar kedua matanya, membuatnya terlihat seperti panda yang habis dipukuli.
"Karya Elia, pasti," gumam Hara, menggelengkan kepala.
***
Hara melangkah pelan, berusaha tidak menginjak mainan LEGO yang berserakan—ranjau darat yang pernah membuat Cayvion menjerit tempo hari. Dia berjongkok di samping suaminya.
Cayvion terlihat begitu lelah. Ada kerutan di antara alisnya, bahkan dalam tidurnya pun dia tampak stres. Tangannya masih menggenggam erat buku cerita Cinderella yang sudah lecek, seolah itu adalah senjata terakhirnya untuk menaklukkan monster kecil bernama anak-anak.
Hati Hara yang sejak kemarin membeku, perlahan mencair. Dia melihat usaha di balik kekacauan ini. Cayvion tidak memanggil Bu Marta. Dia tidak menelepon asisten. Dia benar-benar mencoba bertahan sendirian, dan hancur lebur demi menebus kesalahannya.
Hara menghela napas panjang, melepaskan tasnya. Dia mengambil selimut tipis yang tergeletak di sofa, lalu menyelimuti tubuh Cayvion pelan-pelan sampai sebatas bahu.
Gerakan itu membuat Cayvion tersentak.
"Jangan siram Papa lagi!" igau Cayvion panik, matanya langsung terbuka lebar. Dia bangun dengan posisi waspada, siap menangkis serangan air.
Namun, yang dia lihat bukan Elia dengan selang air, melainkan Hara yang duduk bersimpuh di depannya dengan wajah tenang.
Cayvion mengerjap. Dia mengucek matanya (membuat tinta spidol di matanya makin belepotan).
"Hara? Kamu... sudah pulang?" suaranya serak khas bangun tidur. Dia buru-buru duduk tegak, merapikan rambutnya yang mencuat ke segala arah. "Jam berapa ini? Aku ketiduran sebentar. Cuma lima menit. Sumpah."
"Lima jam, Pak," koreksi Hara sambil menunjuk jam dinding. "Sekarang sudah jam delapan malam."
Bahu Cayvion merosot turun. "Delapan malam? Astaga... anak-anak..."
"Sudah tidur. Saya cek di kamar tadi. Mereka tidur pulas, meski Elio tidurnya sambil cemberut," jawab Hara.
Cayvion menunduk, menatap lantai yang penuh remah pizza. "Maaf."
Satu kata itu keluar begitu saja. Berat dan putus asa.
"Aku kacau, Hara," lanjut Cayvion, menatap telapak tangannya sendiri. "Aku bakar dapur. Aku bikin kamar mandi banjir busa. Aku bahkan kalah main game sama Elio dan malah marah-marah. Aku pikir aku bisa melakukan semuanya. Ternyata... mengurus mereka sehari lebih susah daripada mengurus merger perusahaan. Aku gagal."
Cayvion memberanikan diri menatap Hara, siap menerima omelan atau surat cerai.
"Kamu pasti mau marah lihat rumah berantakan begini. Silakan. Aku terima."
Hara diam sejenak. Dia menatap wajah coreng-moreng itu. Lucu, tapi menyentuh.
"Bapak emang kacau," akhirnya Hara buka suara. Itu kalimat terpanjang yang dia ucapkan dalam dua hari terakhir. Nada suaranya tidak lagi dingin menusuk, tapi datar dan... lelah.
"Bapak pikir jadi orang tua itu ada SOP-nya? Ada manual book-nya kayak mesin pabrik? Enggak, Pak. Tiap hari itu improvisasi. Dan hari ini, Bapak belajar cara yang keras."
Hara mengulurkan tangan, membersihkan remah pizza di kerah kemeja Cayvion.
"Rumah berantakan bisa dibereskan. Pizza gosong bisa dibuang. Tapi janji..." Hara menatap mata suaminya tajam. "Jangan pernah ulangi lagi janji yang nggak bisa ditepati. Anak-anak nggak butuh Bapak jadi Super Dad yang sempurna. Mereka cuma butuh Bapak ada. Hadir. Fisik dan mental."
Cayvion tertegun. Tenggorokannya tercekat.
"Jadi... kamu memaafkanku?" tanya Cayvion ragu. "Mogok bicaranya selesai?"
"Tergantung," Hara menunjuk wajah Cayvion. "Kalau Bapak bisa hapus spidol permanen di muka Bapak itu sebelum rapat besok pagi, mungkin saya maafkan."
Cayvion bingung. Dia meraba pipinya. "Spidol? Muka saya kenapa?"
Dia menoleh ke cermin besar di dinding ruang tengah.
"ASTAGA!" Cayvion terlonjak kaget melihat pantulan dirinya sendiri yang mirip badut pasar malam. "ELIAAAA!"
Hara tertawa kecil. Tawa pertama yang terdengar di rumah itu setelah badai kemarin.
"Papa berisik."
Suara langkah kaki kecil terdengar dari arah tangga. Elio turun sambil mengucek mata, memegang kotak P3K kecil di tangannya. Dia berjalan mendekati mereka dengan wajah bangun tidur yang kusut.
"Elio, lihat muka Papa! Adikmu melakukan vandalisme di aset perusahaan!" adu Cayvion pada putranya.
Elio tidak peduli. Dia duduk di depan Cayvion, membuka kotak P3K itu, dan mengeluarkan sebuah plester luka bergambar dinosaurus.
"Diam, Pa," perintah Elio.
Tanpa permisi, Elio menempelkan plester itu di pipi kanan Cayvion—tepat di atas gambar kumis kucing, menutupi sebagian tinta spidol itu. Sebenarnya tidak ada luka di sana, tapi Elio merasa perlu menempelkannya.
"Buat apa ini?" tanya Cayvion bingung, memegang plester di pipinya.
"Buat luka di hati Papa," jawab Elio asal, lalu menatap wajah ayahnya lamat-lamat. "Papa jelek banget dicoret-coret gitu."
"Terima kasih, Nak. Papa tahu."
Elio menghela napas, lalu menepuk bahu Cayvion pelan, seolah dia yang bapaknya.
"Tapi Papa dimaafin," kata Elio pelan. "Sekali ini aja. Kalau besok-besok janji palsu lagi, Elio ganti kunci rumah."
Hati Cayvion mencelos lega. Rasanya beban ribuan ton di pundaknya terangkat seketika. Dia langsung menarik Elio ke dalam pelukannya, mencium puncak kepala anaknya yang bau minyak telon.
"Terima kasih, Jagoan. Papa janji. Nggak ada janji palsu lagi."
Elio diam saja dipeluk, tidak memberontak, meski wajahnya datar. "Udah, Pa. Bau asem. Mandi sana."
Hara tersenyum melihat pemandangan itu. "Sana mandi, Pak. Air hangatnya masih ada sisa sedikit, kalau belum habis dipakai main air tadi."
Cayvion melepaskan pelukannya, berdiri dengan semangat baru meski wajahnya masih hancur lebur.
"Siap, Bos," kata Cayvion pada Hara, lalu memberikan hormat militer konyol sebelum berlari ke kamar mandi.
Malam itu, Mansion Alger kembali hangat. Meskipun besok paginya, Cayvion harus rapat dengan bekas spidol samar-samar di dahi yang tidak bisa hilang total meski sudah digosok pakai bensin.
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri