Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan berkarisma. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik batin berkepanjangan dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. IMU coz ILU
...~•Happy Reading•~...
Seketika Athalia menatap Ethan yang duduk santai di sampingnya. Seakan mereka telah lama kenal dan punya banyak kenangan yang bisa dikenang.
"Mas Niel, apa yang bagus dari pertemuan kita yang bisa dikenang?" Athalia bertanya pelan. Wajahnya menjadi pink, ingat pertemuan mereka pertama dan kedua, juga emosinya yang tidak terkendali terhadap yang dikatakan Ethan. Hingga dia mengatakan I hate you.
"Kalau saya banyak, dimarah, dibenci, mau dipukul, tapi juga ditraktir kopi." Ucapan Ethan membuat wajah Athalia memerah. Dia jadi malu atas sikapnya yang tidak terkontrol, karena emosi.
"Maaf, Mas. Waktu itu tanpa berpikir panjang, saya sudah mengatakan yang tidak pantas dan tidak sopan." Ucap Athalia tanpa berani melihat Ethan. Dia menyadari kesalahannya yang gegabah mengeluarkan kata tanpa berpikir.
"Talia, mungkin bagi yang tidak paham, akan merasa tidak pantas atau tidak sopan. Tapi saya paham." Ethan serius menunjuk dadanya, agar Athalia tidak merasa bersalah. Dia mau menyelesaikan salah paham dengan cara mereka sendiri.
"Sebelum kita ngobrol yang lain, tolong jawab pertanyaan saya. Apa kau memang sebaik itu, lakukan pada orang yang tidak dikenal?" Ethan meneruskan, karena ingin lebih kenal Athalia.
"Kalau untuk penyandang tuna netra, pernah lakukan beberapa kali...." Athalia tidak meneruskan, alasannya menolong. Agar tidak merusak suasana hatinya. "Tapi untuk traktir kopi, baru pernah." Athalia jadi tersenyum, tapi matanya berembun.
Nada suara Athalia berubah. Sehingga Ethan tidak jadi bertanya selanjutnya. "Oh, ok. Jadi saya yang pertama ditraktir kopi?"
Athalia mengangguk pelan. Ethan pun mengangguk. Mereka mengangguk dengan suasana hati yang berbeda. "Kalau begitu, coba diicip kopinya. Gimana pendapatmu." Ethan mengalihkan rasa hati mereka kepada kopi di atas meja.
"Oh, iya, Mas." Athalia mengangkat pelan cangkir kopi yang harganya bikin dia berpikir sepuluh kali untuk membeli. Dia mencicipi pelan. "Sesuai dengan harganya, Mas." Athalia mengakui, rasa kopinya sangat enak.
"Diteruskan. Cicipi semua kuenya juga." Ethan menyadari, Athalia tidak langsung mencicipi, jika tidak dipersilahkan. Dia jadi berpikir, mungkin karena perbedaan usia, jabatan atau baru bicara baik, jadi Athalia agak sungkan melakukan sesuatu di depannya.
Ethan terus berpikir, agar menukan topik pembicaraan sambil minum. "Suka di tempat kerja sekarang?"
"Suka, Mas. Selain suasana kerja, pekerjaannya juga suka. Pimpinan dan rekan kerja baik, mau membantu...." Athalia menceritakan sikap supervisor dan juga rekan kerjanya, terutama Tony yang ringan tangan membantu dan berbagi ilmu jika dia dan Alea kesulitan.
Ethan mendengar dengan serius sambil berpikir, sebab yang dikatakan Athalia semuanya positif. Tapi setahu dia tidak demikian, karena pernah melihat sikap yang tidak terpuji dari rekan kerjanya.
"Syukur tidak ada yang menyusahkan kalian." Ethan memancing, karena dia ingat kedua wanita yang sinis kepada Athalia.
"Ada sih, yang tidak suka kami pindah ke situ, tapi itu biasa, Mas. Kami anggap sebagai penyedap, supaya tidak mengantuk." Athalia jadi tersenyum mengibaratkan perilaku Marci dan Sita.
Ethan makin mengenal hati Athalia dan berpikir positif. Mereka bercakap santai hingga menjelang malam. Banyak hal yang diketahui Ethan tentang suasana kerja di perusahaan dan kemampuan Athalia.
"Mau kita dinner di mana?" Tanya Ethan yang melihat semua pesanan mereka hampir habis.
"Maaf, Mas. Kalau yang itu, aku benar-benar tidak bisa. Mau pulang saja, supaya besok bisa segar. Mas juga, besok mesti kerja." Athalia menolak dengan halus.
"Tapi kau harus makan malam, kan?" Ethan masih berharap, bisa dilanjutkan dengan makan malam.
"Iya, sih, Mas. Tapi tidak usah makan di luar. Nanti lain kali saja, pas ngga banyak pikiran."
"Ok. Deal. Kalau begitu, mari kita pulang." Ethan tidak memaksa, karena Athalia sudah mengatakan nanti lain kali.
"Sebentar, Mas. Saya habiskan ini. Mau icip, kalau dingin, rasanya berubah, ngga?" Ucap Athalia sambil tersenyum, karena dia merasa sayang menyisakan kopi mahal.
"Silahkan. Nanti kalau tidak sibuk, kita datang lagi ke sini." Ethan tersenyum dalam hati. Athalia bersikap apa adanya.
Setelah melihat mobilnya sudah parkir di depan caffee shop, Ethan mengajak Athalia keluar. Dia mengantar Athalia pulang ke alamat yang sama, tempat kost putri. 'Ternyata benar. Dia tinggal di kost.' Ethan membatin.
~••~
Beberapa waktu kemudian ; Sejak mengantar Athalia pulang, Ethan tidak terlihat di kantor dan tidak pernah hubungi Athalia. Dia bagaikan hilang ditelan Bumi.
Hal itu membuat Athalia bingung dan sering bertanya dalam hati. Kadang dia melihat ponselnya berulang kali, berharap ada pesan dari Niel. Tapi sudah tiga hari berlalu, tidak ada kabar dari Niel.
Dia ingin mengirim pesan untuk bertanya, tapi hatinya melarang karena hubungan mereka belum masuk pada taraf saling bertanya untuk mengetahui kabar.
"Talia, kemana pria yang menunggumu waktu itu? Kok setiap kali kita pulang kerja justru Hendry yang muncul dan pura-pura telpon tanpa melihatmu?" Tanya Alea menjelang pulang kantor.
"Mungkin beliau lagi sibuk, jadi ngga bisa pulang teng. Tenang saja, ada abang ojol yang selalu siap sedia mengantar." Athalia coba bercanda dan menjawab normatif. Dia tidak tahu, mengapa pria bernama Niel yang sudah merebut hatinya tidak pernah muncul lagi.
"Beliau? Jadi kalian belum jadian?" Alea menautkan kedua ujung jari telunjuknya sebagai tanda pacaran, dengan mimik wajah terkejut dan bingung.
"Ssssstttt... Jangan sampai didengar yang lain." Athalia menarik tangan Alea, karena Marci tiba-tiba menengok ke arah mereka.
"Tenang saja, mereka ngga tahu. Sekarang pita suara usil mereka terkunci, karna lagi dag dig dug tunggu hasil evaluasi perusahaan."
"Mari kita pulang. Ini sudah lewat teng. Jadi kita pulang saja." Ajak Alea, agar mereka bisa bicara leluasa di luar ruangan.
Athalia mengangguk pelan dan ikut yang dilakukan Alea. Merapikan meja dan mematikan komputer. Dia menyembunyikan rasa hatinya yang tidak bersemangat dan sedih. Walau gundah, dia berharap, pulang kerja Niel akan menunggunya di lobby.
"Ah, kenapa selalu harus ketemu dia di lobby?" Tanya Athalia saat melihat Hendry sudah menunggu di pintu keluar.
"Iya, ya. Sorry, aku ngga bawa motor untuk melarikanmu dari orang itu." Bisik Alea.
"Ngga pa'pa. Aku harus hadapi dia, supaya jangan dikira aku takut. Kita seperti biasa saja, seakan tidak kenal dia." Athalia jadi emosi.
Hendry yang sudah melihat Athalia keluar dengan Alea, tidak berdiri diam seperti biasanya. Dia mendekati Athalia sebelum keluar dari lobby. "Talia, Masih berharap sama pria yang tidak jelas itu? Datang entah dari hutan mana dan pergi ke rimba mana." Hendry berusaha mempengaruhi Athalia.
Dia sudah mengecek hubungan pria yang bersama Athalia dan beberapa hari terakhir Athalia terlihat murung. Sehingga dia mau gunakan kesempatan ketidakhadiran saingannya untuk merai Athalia.
"Maaf, Pak. Beliau jelas bagi saya. Kalau tidak jelas bagi bapak, mungkin beliau tidak datang dan pergi ke hutan rimba yang sama dengan bapak." Athalia tidak terima yang dikatakan Hendry tentang Niel.
...~•••~...
...~•○♡○•~...