NovelToon NovelToon
The Phoenix Empress: Dendam Membara Di Singgasana Emas

The Phoenix Empress: Dendam Membara Di Singgasana Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:265
Nilai: 5
Nama Author: Mieayam(⁠•⁠‿⁠•⁠)

SINOPSIS


Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
​Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(⁠•⁠‿⁠•⁠), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Kekuatan Terlarang dan Pelajaran Berdarah

​Hutan di pinggiran Desa Awan Hijau dikenal sebagai tempat yang suram. Pohon-pohon tua dengan batang yang melilit seolah-olah sedang mengawasi setiap langkah manusia yang masuk ke dalamnya. Kabut tipis selalu menyelimuti permukaan tanah, membawa aroma lembap dan tanah basah yang menyengat. Bagi penduduk desa, hutan ini adalah tempat terlarang karena keberadaan binatang buas tingkat rendah yang lapar. Namun bagi Lin Xiao—atau lebih tepatnya Feng Ruxue—hutan ini terasa jauh lebih ramah dibandingkan gubuk busuk milik bibinya yang penuh dengan kebencian.

​Lin Xiao melangkah lebih dalam, mencari tempat yang cukup tersembunyi. Ia akhirnya menemukan sebuah batu besar yang dikelilingi oleh semak berduri. Di sanalah ia duduk bersila, mengabaikan rasa perih pada kulitnya yang tergores duri.

Tubuhnya yang kurus kering dan gemetar akibat kurang gizi itu perlahan ia paksa untuk tenang.

​‘Tubuh ini benar-benar berada di ambang kehancuran,’ keluhnya dalam hati sambil memeriksa kondisi internalnya melalui meditasi batin. ‘Nadi-nadinya tersumbat oleh kotoran dari makanan berkualitas rendah, tulang-tulangnya rapuh, dan yang terburuk, tidak ada satu titik pun energi kultivasi yang tersisa. Ini benar-benar tubuh seorang sampah.’

​Namun, Feng Ruxue bukanlah orang biasa. Ia adalah jenius yang pernah mencapai puncak kultivasi di Kekaisaran Phoenix. Ia mulai mencoba teknik "Napas Phoenix" miliknya—sebuah teknik kuno untuk menyerap energi matahari. Tetapi, alih-alih merasakan kehangatan yang familiar, dadanya justru terasa sesak dan panas. Tubuh Lin Xiao yang lemah tidak mampu menampung energi suci yang murni.

​Tepat saat ia hampir menyerah, sebuah getaran aneh muncul dari dasar tulang belakangnya—tempat di mana seharusnya tulang sumsum Phoenix berada. Tiba-tiba, di dalam kegelapan batinnya, ia melihat sebuah retakan kecil yang memancarkan cahaya ungu gelap. Dari retakan itu, mengalir sebuah energi cair berwarna hitam pekat yang berkilauan seperti bintang di malam hari.

​‘Ini... ini bukan Energi Phoenix!’ mata Lin Xiao terbuka lebar, pupil matanya sejenak berubah menjadi vertikal menyerupai predator. ‘Ini adalah Energi Nirwana Hitam! Legenda kuno mengatakan bahwa kekuatan ini hanya bangkit pada mereka yang telah mati dengan dendam yang mampu menggetarkan langit dan kemudian lahir kembali dari abu kematian mereka sendiri!’

​Tanpa bisa dicegah, energi hitam itu mulai mengalir deras ke seluruh pembuluh darahnya. Rasanya bukan lagi seperti air, melainkan seperti lava panas yang membakar setiap inci dagingnya.

Lin Xiao mencengkeram tanah dengan kuku-kukunya hingga berdarah. Ia ingin berteriak, namun ia menggigit bibirnya hingga robek. Rasa sakit ini luar biasa, seolah-olah jiwanya sedang ditempa ulang di dalam tungku api neraka.

​Perlahan tapi pasti, energi hitam itu menghancurkan sumbatan-sumbatan hitam di nadinya. Kotoran-kotoran berbau busuk mulai keluar dari pori-pori kulitnya. Ajaibnya, luka-luka memar akibat tendangan Bibi Lin pagi tadi mulai menutup dan menghilang. Meskipun wajahnya masih cacat, ia bisa merasakan kekuatan baru yang mengalir di setiap serat ototnya.

​BUM!

​Sebuah gelombang energi meledak dari tubuhnya, menghancurkan batu besar tempatnya duduk menjadi serpihan. Lin Xiao berdiri, mengembuskan napas panjang yang membawa uap hitam. Ia telah berhasil melompati tahap awal dan langsung mencapai Tahap Pembersihan Sumsum tingkat pertama.

​"Cukup untuk memberi pelajaran pada beberapa serangga yang tidak tahu diri," bisiknya dengan senyum tipis yang mematikan.

​Matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, menciptakan bayangan panjang di tanah saat Lin Xiao kembali ke desa. Di bahunya, ia memanggul dua ikat besar kayu bakar yang beratnya bisa mencapai tiga puluh kilogram, namun ia membawanya seolah-olah itu hanyalah tumpukan jerami ringan.

​Di depan gerbang desa, suasana yang tadinya tenang berubah menjadi tegang. Tiga orang pemuda sudah berdiri di sana, seolah-olah memang sedang menunggu mangsa. Di tengah-tengah mereka adalah Lin Dong, putra dari kepala desa yang bertubuh gempal dan berwajah kasar. Selama bertahun-tahun, Lin Dong telah menjadikan Lin Xiao sebagai samsak tinju pribadinya.

​"Oho! Lihat siapa yang kembali dari hutan hidup-hidup!" Lin Dong tertawa, suaranya parau dan menjijikkan. "Si buruk rupa kita ternyata cukup beruntung hari ini. Hei, Sampah! Kudengar kau menemukan tanaman obat berharga di hutan tadi pagi. Serahkan padaku, atau aku akan memastikan kau merangkak pulang tanpa kaki!"

​Dua temannya ikut tertawa, mereka mulai berjalan berputar untuk mengepung Lin Xiao. Di masa lalu, Lin Xiao pasti sudah gemetar, menjatuhkan kayunya, dan berlutut memohon ampun sambil menangis histeris. Namun hari ini, gadis itu bahkan tidak menghentikan langkahnya.

​"Minggir. Kau menghalangi jalanku," ucap Lin Xiao datar. Suaranya tidak lagi melengking ketakutan, melainkan dingin dan berat, seperti gletser yang runtuh.

​Langkah Lin Dong terhenti sejenak karena terkejut. Namun, rasa malu karena diperintah oleh seorang 'sampah' di depan teman-temannya membuat wajahnya memerah padam. "Kau berani bicara seperti itu padaku?! Dasar jalang cacat! Sepertinya kepalamu terbentur pohon di hutan!"

​Lin Dong melayangkan tinju besarnya ke arah wajah Lin Xiao. Lin Dong adalah seorang kultivator tahap awal, bagi orang biasa, pukulannya sangat cepat dan kuat. Namun di mata Feng Ruxue yang telah melalui ribuan peperangan, gerakan itu tampak selambat siput yang sedang merayap.

​Plakk!

​Suara benturan itu membuat dua pemuda lainnya ternganga. Lin Xiao menangkap tinju Lin Dong hanya dengan satu tangan kiri. Tidak ada getaran, tidak ada langkah mundur. Gadis kurus itu menahan serangan pria yang beratnya dua kali lipat darinya seolah itu bukan apa-apa.

​"Hanya ini kekuatanmu?" Lin Xiao menatap mata Lin Dong dengan tatapan meremehkan. "Ternyata yang selama ini ditakuti oleh desa ini hanyalah seekor babi yang banyak bicara."

​"Kau... lepaskan!" Lin Dong mencoba menarik tangannya, namun tangan Lin Xiao terasa seperti klem besi yang membara. Energi hitam tipis mulai merayap dari telapak tangan Lin Xiao ke kulit Lin Dong, membuat pria itu merasa seolah ribuan jarum dingin menusuk tulangnya.

​"Kau ingin mematahkan kakiku?" Lin Xiao bertanya dengan nada tenang yang mengerikan.

"Bagaimana jika aku mulai dengan mematahkan tangan yang kotor ini dulu?"

​KREKK!

​Bunyi patahan tulang terdengar begitu jelas di keheningan sore itu. Lin Dong menjerit histeris, sebuah jeritan melengking yang membuat burung-burung di sekitar terbang ketakutan. Lin Xiao tidak berhenti di sana. Ia melepaskan pegangannya dan dalam sekejap, kakinya meluncur seperti kilat menuju dada Lin Dong.

​DUAK!

​Tubuh gempal Lin Dong terpental sejauh lima meter, berguling di tanah yang berdebu, dan akhirnya pingsan dengan mulut mengeluarkan busa.

​Dua teman Lin Dong gemetar hebat. Mereka melihat Lin Xiao seolah-olah ia adalah iblis yang baru saja merangkak keluar dari tanah. Aura yang terpancar dari gadis itu begitu menekan hingga mereka sulit bernapas.

​"Bawa babi ini pergi dari hadapanku," kata Lin Xiao singkat sambil membetulkan posisi kayu bakar di bahunya. "Dan beri tahu kepala desa... mulai hari ini, siapa pun yang berani menyentuh jalanku, akan berakhir seperti dia."

​Tanpa perlu diperintah dua kali, kedua pemuda itu memapah Lin Dong yang pingsan dan lari terbirit-birit tanpa berani menoleh ke belakang. Lin Xiao menatap punggung mereka dengan dingin. Ia tahu, tindakannya ini akan memancing kemarahan yang lebih besar. Bibi Lin yang kejam dan Kepala Desa yang korup pasti akan datang menuntut balas malam ini.

​Namun, itulah yang ia rencanakan. Ia butuh panggung untuk menunjukkan bahwa Lin Xiao yang lama sudah mati, dan seorang ratu baru telah bangkit. Dengan langkah mantap, ia berjalan menuju gubuknya, siap menyambut badai yang akan datang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!