Berawal dari utang panci 1.500 koin emas, Feng—murid "sampah" Level Nol tanpa sihir—justru memutarbalikkan tatanan tiga alam semesta!
Bersenjatakan Sistem Dewa Asal Mula yang menukar kalori makanan menjadi kekuatan fisik pembelah surga, serta ditemani Buntel, naga buncit yang menjadikan pedang pusaka dan zirah dewa sebagai camilan renyah, Feng memulai perjalanan kultivasi paling brutal.
Dari meratakan Balai Penegak Hukum sekte, mengacaukan turnamen elit demi akses kantin gratis, merampok gudang senjata di Alam Dewa, hingga akhirnya meninju Sang Pencipta Kosmos di ujung semesta. Semuanya membuktikan satu hukum mutlak: Sihir paling sakti sekalipun akan hancur lebur di hadapan tamparan sandal jepit orang yang sedang kelaparan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LEDAKAN ENERGI YANG DIKIRA CUMAN MASUK ANGIN
Kriuk. Krotok. Nyam.
Suara kunyahan kasar itu beradu sangat kontras dengan deru angin mematikan dari pedang perak yang meluncur deras. Ujung pedang Tetua Li yang memancarkan aura hijau pembelah angin itu kini hanya berjarak sekian milimeter dari urat nadi di leher Feng.
"Mati kau, Pencuri!" teriak Tetua Li dengan urat leher yang menonjol keluar. Niat membunuhnya sudah tidak bisa ditarik kembali. Dia mengerahkan seratus persen Tenaga Dalamnya ke dalam tebasan itu.
SISTEM MENGELUARKAN PERINGATAN KILAT DENGAN HURUF KAPITAL MERAH: ANCAMAN FISIK TINGKAT FATAL TERDETEKSI. WAKTU HIDUP INANG SAAT INI TINGGAL LIMA PULUH DETIK. MENGGUNAKAN DUA JARI UNTUK MENAHAN PEDANG PUSAKA TINGKAT MASTER AKAN MENGURANGI WAKTU HIDUP SEBANYAK SEPULUH DETIK. LAKUKAN SEKARANG?
"Sepuluh detik adalah harga yang sangat murah kalau saldonya baru saja terisi penuh," batin Feng dengan sangat tenang.
Tepat sebelum ujung tajam pedang itu memenggal kepalanya, tangan kiri Feng terangkat ke udara dengan gerakan yang luar biasa santai. Dua jari kurusnya, telunjuk dan jari tengah, menjepit bilah pedang perak yang sedang melaju dengan kecepatan kilat tersebut.
TANG!
Suara benturan logam nyaring bergema memekakkan telinga di dalam kamar asrama yang sudah setengah hancur itu.
Mata Tetua Li hampir melompat keluar dari rongganya. Pedang pusaka kebanggaannya berhenti total secara mendadak, seolah menabrak tebing baja abadi yang tidak bisa ditembus oleh apa pun di dunia ini. Ujung pedangnya bergetar hebat, mengeluarkan suara melengking di bawah jepitan dua jari murid Level Nol tersebut.
"Lepaskan pedangku, Iblis!" raung Tetua Li dengan suara serak.
Pria paruh baya itu menekan gagang pedangnya menggunakan seluruh tenaga yang dia miliki. Wajahnya memerah padam, tubuhnya gemetar menahan beban. Namun, bilah perak itu sama sekali tidak bergeser satu milimeter pun.
Feng menelan kunyahan pil di mulutnya dengan susah payah, lalu menatap Tetua Li dengan pandangan malas yang setengah mengantuk.
"Tetua Li," ucap Feng dengan suara sedikit serak karena tenggorokannya masih kering. "Ibu saya di kampung dulu pernah menasihati saya. Kata beliau, pantangan paling besar di dunia ini adalah dilarang keras mengganggu orang yang sedang mengunyah makanan. Nanti pelakunya bisa kualat dan rezekinya seret seumur hidup."
"Kau... Monster macam apa kau ini?!" jerit Tetua Li dengan napas terengah-engah. "Bagaimana mungkin jari fana busuk milikmu bisa menahan tebasan pedang spiritualku?!"
Feng menghela napas panjang melihat kekeraskepalaan pria tua di depannya.
"Karena Tetua ini sangat keras kepala dan tidak mau mengalah mundur, saya terpaksa bertindak sedikit kurang sopan. Maaf ya, pedangnya saya kembalikan dalam bentuk bongkaran," kata Feng santai.
Feng memutar pergelangan tangan kirinya sedikit saja ke arah luar.
KRAAAK!
Suara patahan yang sangat jernih dan keras terdengar. Bilah pedang pusaka seharga ribuan keping perak itu patah menjadi dua bagian tepat di titik yang dijepit oleh jari Feng.
Kekuatan pantulan balik dari patahnya pedang tersebut menghantam dada Tetua Li dengan sangat telak. Pria tua itu terlempar ke belakang, punggungnya menabrak sisa daun pintu yang hancur hingga dia jatuh terduduk bergulingan di lantai teras asrama. Sepotong bilah pedang yang patah jatuh berdenting nyaring di dekat ujung sepatu kain Feng.
Budi, kacung yang sedari tadi bersembunyi sambil menonton di sudut ruangan, langsung menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Dia menangis ketakutan tanpa berani mengeluarkan suara, seluruh tubuhnya meringkuk melihat kekuatan absurd dari murid yang selama ini selalu dia panggil sampah.
Tetua Li memegangi dadanya yang terasa sangat sesak, matanya menatap horor pada sisa gagang pedang yang sudah buntung di tangannya. Namun, keterkejutan sang Penegak Disiplin belum selesai sampai di situ. Dia tiba-tiba teringat kembali pada benda apa yang baru saja ditelan mentah-mentah oleh Feng beberapa detik yang lalu.
"Tunggu dulu!" seru Tetua Li sambil menunjuk wajah Feng dengan jari telunjuk yang bergetar hebat. Senyum mengerikan mendadak muncul di wajah paniknya. "Kau baru saja menelan lima butir Pil Pengumpul Qi tingkat menengah sekaligus! Energi murninya setara dengan tenaga puluhan banteng liar! Tubuh tanpa meridian milikmu pasti akan meledak hancur dari dalam sekarang juga!"
Tetua Li segera mundur merangkak menjauh dengan sisa tenaganya. Dia membentangkan aura perlindungan berwarna hijau tebal di depan wajahnya untuk menahan cipratan darah, pecahan tulang, dan potongan organ tubuh yang dia yakini akan segera meledak berhamburan dari tubuh Feng.
"Lari, Kakak Senior Budi! Dia akan meledak!" teriak Tetua Li memperingatkan bawahannya.
Budi juga ikut merangkak mundur sejauh mungkin. Dia meringkuk menyudut di dekat kaki Tetua Li sambil menutup telinganya rapat-rapat.
"Mati kau, Feng! Rasakan akibat dari keserakahanmu menelan pil dewaku!" tawa Tetua Li dengan nada histeris penuh kemenangan.
Di tengah ruangan, tubuh Feng mendadak membeku. Wajah pemuda itu perlahan berubah warna menjadi merah padam seperti kepiting rebus. Urat-urat biru mulai menonjol di sekitar leher dan dahinya. Hawa panas yang luar biasa pekat mulai menguar dari pori-pori kulit Feng, membuat udara di sekitarnya terlihat bergelombang seperti aspal jalanan di siang bolong.
"Nah, benar kan! Meledaklah kau menjadi serpihan debu!" teriak Tetua Li semakin kegirangan melihat reaksi tersebut.
SISTEM MENGELUARKAN PENGUMUMAN DENGAN NADA SANGAT SIBUK: ENERGI SPIRITUAL TINGKAT TINGGI MEMASUKI LAMBUNG INANG. MEMULAI PROSES KONVERSI PAKSA MENJADI KALORI FISIK MURNI. KARENA JUMLAH ENERGI TERLALU BESAR DAN MASUK SECARA BERSAMAAN, SUHU TUBUH INANG MENINGKAT DRASTIS. HARAP BERTAHAN DARI EFEK SAMPING PENCERNAAN.
"Sistem sialan," rutuk Feng sambil memegangi perutnya yang mulai membengkak sedikit. "Kenapa rasanya perut saya seperti diaduk-aduk pakai tongkat besi panas? Padahal rasa pilnya tadi manis seperti daun mint."
Feng membungkukkan badannya, kedua tangannya bertumpu kuat memegangi lutut. Keringat panas bercucuran dari dahinya hingga menetes ke lantai kayu dan langsung menguap menjadi asap putih.
"Meledak! Meledaklah sekarang!" raung Tetua Li dengan mata melotot lebar menunggu pertunjukan darah.
Feng menarik napas sangat dalam hingga dadanya membusung maksimal, lalu membuka mulutnya lebar-lebar.
HUUUAAAAAARRRGGGHHH-HIKK!
Sebuah suara sendawa yang luar biasa panjang, keras, dan menggelegar layaknya auman naga purba meledak keluar dari mulut Feng.
Bersamaan dengan suara sendawa sakti itu, sebuah gelombang kejut berupa gas berwarna kehijauan menyapu seluruh ruangan. Gas itu melesat seperti badai angin topan, menghantam aura pelindung Tetua Li hingga pecah berkeping-keping, lalu menerbangkan tubuh pria paruh baya itu beserta Budi hingga terjerembap ke halaman asrama yang berdebu.
Aroma herbal yang luar biasa wangi, menyengat, namun bercampur dengan bau asam lambung memenuhi seluruh penjuru bukit asrama sekte luar.
SISTEM MEMBERIKAN NOTIFIKASI SUKSES: PROSES PENCERNAAN SELESAI. SELURUH ENERGI SPIRITUAL TELAH DIKONVERSI MENJADI KALORI MURNI. WAKTU HIDUP TUAN KINI RESMI DIPERPANJANG MENJADI DUA PULUH EMPAT JAM, TIGA MENIT, DAN DUA PULUH DETIK. SELAMAT MENIKMATI HARI TUAN.
Di tengah kepulan asap hijau tipis itu, Feng kembali berdiri tegak. Rona merah di wajahnya sudah hilang, digantikan oleh ekspresi sangat lega dan santai. Dia menepuk-nepuk perutnya yang kini sudah kembali rata dengan senyum sangat puas.
"Waduh, maafkan ketidaksopanan saya, Tetua Li," ucap Feng sambil mengibaskan tangan di depan hidungnya sendiri untuk mengusir sisa asap. "Pil hijau buatan sekte ini rupanya mengandung terlalu banyak ragi. Perut saya mendadak kembung parah. Sepertinya saya cuma masuk angin karena tadi pagi lupa pakai baju hangat saat bangun tidur."
Di halaman asrama, Tetua Li terbatuk-batuk keras sambil mengusap wajahnya yang kotor oleh tanah. Matanya menatap Feng dengan pandangan kosong, seolah jiwanya baru saja dicabut paksa dari tubuhnya.
"Masuk... angin?" gumam Tetua Li dengan bibir bergetar hebat. "Kau menelan lima butir pil spiritual berharga yang bisa membuat seorang kultivator tingkat lima meledak berkeping-keping... dan kau menyebut ledakan energi murni itu sebagai masuk angin?!"
"Iya, Tetua. Cuma masuk angin biasa. Rasanya persis seperti habis minum air jahe dicampur obat batuk berkarbonasi," jelas Feng dengan wajah sangat polos tanpa dosa. "Lain kali kalau Tetua mau beli pil herbal, cari yang kualitas racikannya lebih halus. Yang ini bikin perut begah dan sering bersendawa."
"Kau bukan manusia!" jerit Budi histeris dari balik semak-semak, air mata membasahi seluruh wajahnya. "Tetua Li, dia ini monster iblis pemakan energi! Kita semua akan dimakan hidup-hidup!"
Tetua Li mengepalkan sisa gagang pedangnya hingga tangannya berdarah. Harga dirinya hancur lebur berkeping-keping. Pemahaman tentang ilmu kultivasi yang dia pelajari selama empat puluh tahun runtuh tidak tersisa. Pemuda di depannya ini menentang segala hukum alam yang ada di Benua Pedang.
"Baik," desis Tetua Li sambil perlahan bangkit berdiri. Matanya kini dipenuhi oleh kegilaan, kebencian, dan keputusasaan yang kelam. "Kau mungkin memiliki tubuh fisik sekuat monster purba, Feng. Kau mungkin kebal terhadap ledakan energi Qi di dalam perutmu. Tapi, kekuatan fisik iblis macam itu tidak akan pernah diakui oleh jalan kultivasi lurus!"
Tetua Li merogoh saku jubahnya yang robek dan mengeluarkan sebuah token giok berwarna merah darah. Itu adalah Token Pemanggilan Darurat milik petinggi sekte.
"Tetua mau lapor polisi sekte? Silakan saja. Saya akan bilang kalau Tetua yang sengaja menabrakkan pedang ke jari saya sampai patah," tantang Feng santai sambil bersandar nyaman di kusen pintu yang rusak.
TENG! TENG! TENG!
Belum sempat Tetua Li meremukkan token giok merah itu, suara lonceng perunggu raksasa kembali bergema membelah langit dari arah puncak Gunung Sekte. Suaranya kali ini terdengar lebih cepat, nyaring, dan sangat mendesak.
Mendengar suara lonceng tersebut, Tetua Li menghentikan gerakannya. Dia menatap token merah di tangannya, lalu menatap Feng dengan seringai licik yang kembali mengembang di wajah tuanya. Pria itu menyimpan kembali tokennya perlahan-lahan.
"Lonceng Ujian Tahunan telah berbunyi untuk ketiga kalinya," ucap Tetua Li dengan nada penuh intrik dan rencana kotor. "Setiap murid sekte luar wajib berkumpul di Aula Utama sekarang juga. Ini adalah ujian kelulusan sekaligus penyaringan bakat murni."
"Saya absen saja boleh tidak, Tetua?" tanya Feng sambil menguap lebar. "Saya mau cari tempat sepi buat rebahan. Pencernaan saya butuh istirahat setelah masuk angin tadi. Apalagi lambung saya sedang bekerja keras mengubah pil keras itu jadi kalori."
"Kau tidak punya pilihan, Feng!" bentak Tetua Li lantang, wajahnya kembali memancarkan otoritas palsu. "Jika kau tidak hadir, kau akan langsung dieksekusi mati oleh formasi sekte karena dianggap kabur dari kewajiban! Tidak ada murid luar yang bisa lari dari aturan ini!"
Feng hanya mengangkat bahu acuh tak acuh. Dia sama sekali tidak peduli dengan ancaman eksekusi formasi mematikan itu.
Melihat reaksi terlalu santai Feng, Tetua Li langsung mengeluarkan kartu as terakhirnya.
"Dengarkan aku baik-baik, Bocah Sombong," pancing Tetua Li sambil memicingkan matanya. "Tahun ini, Patriark sangat bermurah hati. Bagi murid luar yang berhasil menyalakan Batu Pengukur Bakat hingga memancarkan cahaya tingkat tertinggi, Patriark telah menyiapkan hadiah khusus."
"Hadiahnya sertifikat kertas lagi? Buang saja ke tempat sampah," balas Feng bosan, sudah bersiap melangkah kembali ke kasur jeraminya.
"Hadiahnya adalah akses gratis ke kantin lantai dua selama setahun penuh, dan lima ratus koin emas murni yang akan diserahkan secara tunai di atas panggung!" seru Tetua Li dengan suara keras, memastikan setiap kata terdengar jelas.
Langkah Feng yang tadinya hendak berbalik masuk ke dalam kamarnya mendadak berhenti total di udara.
Tubuh Feng berputar seratus delapan puluh derajat dengan kecepatan yang tidak wajar. Matanya yang tadi terlihat sangat mengantuk dan malas kini terbuka sangat lebar, memancarkan cahaya keserakahan yang jauh lebih terang daripada bintang di langit malam.
"Lima ratus koin emas?!" seru Feng dengan suara sedikit bergetar karena sangat bersemangat. "Tetua Li, tolong jangan bercanda dengan masalah finansial orang miskin. Seratus koin emas saja sudah bisa buat beli sate babi satu gerobak penuh. Lima ratus koin? Saya bisa membeli warungnya sekalian dengan si penjualnya!"
"Itu janji langsung dari Patriark di depan seluruh Tetua!" jawab Tetua Li sambil tersenyum licik dalam hati, merasa umpannya berhasil dimakan.
"Tapi tunggu dulu, ini pasti jebakan," gumam Feng sambil mengusap dagunya, bertingkah seperti detektif yang sedang berpikir keras. "Ujiannya suruh melakukan apa? Saya tidak mau kalau disuruh berkelahi sungguhan. Memukul orang itu sangat membuang kalori, nanti waktu hidup saya habis lagi sia-sia."
"Sangat mudah, Feng," jelas Tetua Li sambil menunjuk ke arah puncak bukit dengan dagunya. "Kau hanya perlu meletakkan tanganmu atau memukul Batu Pengukur Bakat peninggalan Leluhur Sekte yang ada di tengah aula. Batu itu hanya akan merespons dan menyala jika kau mengalirkan energi Qi murni ke dalamnya."
Tetua Li menyeringai lebar, memamerkan deretan giginya yang kekuningan.
"Jika kau hanya menggunakan kekuatan fisik iblismu tanpa setetes pun energi Qi, batu itu akan tetap mati dan berwarna hitam pekat. Dan kau... akan ditelanjangi sebagai penipu tanpa kultivasi di hadapan puluhan ribu pasang mata! Setelah itu, aku sendiri yang akan memenggal kepalamu di atas panggung!" ancam Tetua Li.
Feng terdiam sejenak mencerna penjelasan tersebut.
SISTEM MENGELUARKAN PERINGATAN LOGIS: TUAN, TUBUH INANG SAAT INI TIDAK MEMILIKI SATU TETES PUN ENERGI QI MURNI. MENGIKUTI UJIAN TERSEBUT ADALAH TINDAKAN YANG SANGAT MEMALUKAN DAN TIDAK AKAN MENGHASILKAN APAPUN SELAIN CACIAN DARI MANUSIA FANA.
"Sistem," sela Feng dalam batinnya dengan nada sangat serius. "Kalau ada lima ratus koin emas tergeletak bebas di depan mata, urusan malu itu bisa kita simpan di laci meja dulu. Yang penting asupan nutrisi terjamin aman sentosa."
Feng lalu menatap Tetua Li dengan senyum lebar yang sangat percaya diri.
"Baiklah, Tetua Li yang baik hati. Tantangan diterima," ucap Feng sambil menepuk kedua telapak tangannya untuk membersihkan debu khayalan. "Mari kita pergi ke Aula Utama sekarang juga. Saya tidak sabar ingin melihat bentuk batu hadiah lima ratus koin emas itu."
Tanpa menunggu balasan atau persetujuan dari Tetua Li, Feng langsung melangkah pergi berjalan mendaki bukit menuju Aula Utama dengan langkah riang gembira seolah mau pergi piknik.
Tetua Li hanya bisa menatap punggung Feng yang menjauh dengan tatapan penuh kebencian dan antisipasi yang mematikan.
Tiga puluh menit kemudian, Feng tiba di pelataran Aula Utama yang sangat luas. Ribuan murid berpakaian seragam putih abu-abu sudah berkumpul memadati lapangan, menciptakan lautan manusia yang bising.
Di tengah lapangan tersebut, berdiri sebuah batu obsidian hitam raksasa setinggi tiga meter. Batu Pengukur Bakat itu memancarkan aura kuno yang membuat siapa saja yang mendekatinya merasa tertekan.
Di atas panggung kehormatan, para Tetua Sekte duduk berjejer dengan wajah angkuh, sementara Tetua Li baru saja tiba dan langsung mengambil tempat duduknya, matanya terus mengunci pergerakan Feng dari kejauhan.
"Selanjutnya! Feng dari Asrama Murid Luar!" teriak petugas ujian dengan suara lantang yang memecah keributan kerumunan.
Seketika, puluhan ribu pasang mata menoleh dan menatap tajam ke arah pemuda kurus berseragam kusam yang sedang berjalan santai membelah kerumunan. Tatapan meremehkan, ejekan, dan tawa sinis menyambut langkah Feng menuju panggung batu hitam mematikan itu.