Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?
Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.
Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.
Apakah Quinn mampu bertahan hidup?
Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?
୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
III. Adikku, Pewarisku
...୨ৎ──── B R A U N ────જ⁀➴...
...(35 Tahun)...
Sambil mengecek status semua pengiriman bersama Gustav, aku dengar tawa riang Naveen waktu dia latihan bareng Chooper dan Marius.
“Naveen, enggak ada gunanya pura-pura nahan diri,” gumamku. “Aku enggak bakal pernah ngelakuin itu ke kamu.”
Dia berhenti di tengah pukulan dan pasang ekspresi enggak senang.
“Ayolah, Braun. Aku hampir selevel sama Chooper dan Marius.”
Aku menghela napas waktu Marius menyeletuk, “Mimpi kaleeeeee!"
Buat membuktikan ucapannya, dia menendang kaki Naveen sampai Naveen jatuh terduduk.
Tawa Gustav yang menggelegar pun langsung memenuhi ruangan. Dia geleng-geleng kepala, “Iya, kamu hebat banget!"
Dengan kening berkerut, Naveen berdiri lagi. “Aku lengah.”
Aku berdiri dari kursi.
“Gustav, pastiin pengiriman ke Jepang enggak telat. Kontrak sama Yakuza itu penting.”
“Siap, Bos.”
Waktu aku jalan ke arah pintu, Naveen mengejarku.
“Kita mau ke mana?”
“Restoran,” jawabku sambil meninggalkan gudang.
“Buat makan siang?” tanyanya. “Aku laper banget. Latihan bareng mereka emang bikin nafsu makan naik."
Aku memelototi dia tajam.
“Bukan ... Buat ngecek apakah semuanya udah berjalan sempurna. Apa cuma makan doang yang ada di otakmu, hah?”
"Enggak, lah. Tapi sekarang aku lagi mikir makanan."
Aku menghela napas.
“Kamu sopir aku. Itu udah cukup.”
Naveen baru dua puluh tahun. Papanya, Wassilie, dulu sopir Papaku sampai dia meninggal kena serangan jantung beberapa tahun lalu. Sejak itu, Naveen praktis selalu menempel sama aku. So, biar dia tetap sibuk, aku jadikan dia sopir pribadi aku.
Waktu kecil, aku lebih sering ketemu Wassilie dibanding Papaku sendiri. Dan aku selalu menganggap Naveen itu keluarga.
Karena dia dekat sama aku, lama-lama dia bakal belajar soal bisnis ini. Dan kalau dia sudah siap, aku akan menjadikan dia tangan kananku setelah Gustav.
Aku dekat sama banyak orang, tapi Naveen itu sudah seperti adik laki-laki buat aku. Artinya, aku bakal melindungi dia.
Tentu saja aku peduli sama semua anak buahku. Tapi ada beberapa yang aku cintai seperti mereka adalah darah daging aku sendiri. Gustav, Boaa, Marius, dan Naveen ada di urutan teratas, bersama bos-bos Marunda lainnya.
Naveen membukakan pintu Bentley hitam, menungguku masuk, lalu menutup pintunya dan lari ke depan buat duduk di balik kemudi.
Waktu dia bawa mobil menjauh dari gudang, dia diam saja.
Lima menit sebelum sampai Baek Imperial Table, restoran yang aku buka waktu umur aku dua puluh satu, Naveen akhirnya buka suara. "Kenapa?"
Aku tetap menatap pemandangan di luar jendela.
“Kenapa ... Kenapa aku enggak bolehin kamu jadi pengawal aku?”
"Iya."
“Karena tugasku itu ngelindungin kamu. Bukan sebaliknya.”
"Tapi—"
”Cukup, Naveen,” potongku. "Ya, Tuhan."
Waktu dia parkir di depan restoran, nadanya terdengar menyesal. “Aku enggak bermaksud bikin kamu kesel.” Dia menengok ke belakang, mata kami bertemu. “Aku cuma pingin bisa berantem."
Sambil menghela napas, aku tatap dia dan jawab, “Dan aku pingin kamu tetap aman. Sebagai yang paling tua di antara kita, itu udah jadi tugas aku.” Aku condong ke depan, taruh tanganku di bahunya, lalu meremasnya pelan. “Aku janji sama Papamu bakal jagain kamu. Biarin aku nepatin janji itu.”
Sudut bibirnya terangkat dan dia mengangguk. "Oke."
Sambil membuka pintu mobil, aku bilang, “Ayo. Kita cari makan.”
Dia tertawa sambil turun dari mobil, dan begitu kami masuk ke restoran, aku dengar perut Naveen berbunyi keras.
"Silakan pesen dulu, nanti temuin aku di kantor," gumamku sebelum meninggalkan Naveen di area utama restoran.
Begitu aku masuk ke kantor, HPku langsung bergetar. Waktu aku keluarkan, nama "Tully" muncul di layar. Tully itu salah satu bos Marunda.
Aku memang dekat sama Farris, Remy, dan Cavell, tapi Tully itu sahabat terdekat aku.
...[Kisah Remy ada di season I]...
...[Kisah Tully ada di season II]...
Aku pun tersenyum.
...📞...
“Hai. Apa kabar?”
Aku dengar dia menguap.
^^^“Hoaaamms ... Sial, aku bisa mati gara-gara kurang tidur.”^^^
Aku tertawa sambil duduk di balik meja, menyalakan laptop.
“Ya begitulah jadinya kalau kamu punya anak kembar.”
Tully menikah beberapa tahun lalu dan baru saja jadi Papa dari dua bayi cantik. Aku jarang ketemu dia karena keluarganya menghabiskan hampir seluruh waktunya. Kalau dipikir-pikir, aku juga jarang ketemu Remy. Dia sama sibuknya sama istri dan anaknya.
Aku bukan satu-satunya cowok jomblo di lingkaran ini. Kayaknya Farris dan Cavell juga belum ada niat buat menikah dalam waktu dekat, jadi aku masih bisa nongkrong bareng mereka tiap dua minggu sekali.
^^^"Iya, iya. Hoaaammss!"^^^
Tully menguap lagi sebelum berdeham.
^^^"Pengiriman sampai di Brunei tanpa masalah."^^^
"Makasih infonya."
Aku bersandar di kursi.
“Kapan kita ketemu?”
^^^"Kapan pun ... Kamu selalu bisa datang kapan pun yang kamu mau dan bantu ngurus anak-anak."^^^
Tawaku langsung pecah.
"Enggak mau. Aku enggak suka sama tangisan bayi."
Naveen masuk ke kantor dan duduk di seberangku.
Tepat saat itu, aku dengar suara bayi menangis dari ujung telepon, dan Tully menghela napas capek.
“Aku harus pergi.”
"Goodluck, Bro!"
Aku tertawa sebelum menutup telepon.
“Tully?” tanya Naveen.
“Iya. Dia capek banget. Tiga anak itu nyedot semua energinya.”
“Setuju.”
Naveen menatapku sebentar, lalu bertanya, “Kamu bakal nikah dan punya anak suatu hari nanti enggak?”
Sambil geleng-geleng kepala, aku alihkan perhatian kembali ke layar laptop.
“Enggak.”
“Tapi kamu butuh ahli waris buat ngambil alih pas kamu meninggal atau pensiun.”
Pandanganku pindah ke wajahnya sebentar, lalu balik lagi ke layar.
"Aku punya Gustav."
Naveen mengambil pulpen dari mejaku, mencomot secarik kertas kecil dan mulai menggambar karikatur.
"Iya, tapi Gustav lebih tua dari kamu. Gimana kalau dia pensiun?"
“Ya Tuhan, hari ini kamu banyak nanya banget, sih!" gumamku.
Aku buka dokumen daftar inventaris restoran dan mengecek apakah Bastian, kepala koki, enggak memesan bahan terlalu banyak. Pernah, suatu hari bajingan itu pesan ikan salmon, cukup buat kasih makan semua pleton pasukan Marunda, bahkan lebih. Dan akhirnya, sebagian terpaksa dibuang ke tempat sampah.
Naveen condong ke depan dan menempelkan kertas kecil itu ke layar sebelum lempar senyum ke aku. Dia gambar seorang cowok yang lagi gendong bayi menangis.
Sambil ketawa, dia bilang, “Itu bisa jadi masa depan kamu!”
Aku cabut kertas itu dari layar, dan waktu aku coba lempar ke arah dia, kertas itu malah melayang jatuh ke meja.
“Berhenti main-main dan mulai belajar sesuatu.”
Naveen geser kursinya ke samping mejaku, dan aku mulai jelaskan seluk-beluk dapur restoran.
Belum ada lima menit, bajingan itu sudah menguap sambil menggerutu, “Mana makanan aku?”
Sambil menatap dia dengan ekspresi serius, aku bilang, “Kamu mau jadi sopir selamanya?”
Dia langsung geleng-geleng kepala. "Jelas enggak, lah!"
“Semakin cepat kamu pelajarin semuanya, semakin cepat juga kamu dipromosiin, ngerti?"
Alisnya langsung naik.
“Dipromosiin?”
Aku sebenarnya ingin menunda obrolan soal melatih Naveen buat naik jabatan, tapi karena aku merasa dia butuh motivasi, jadi aku bilang, “Aku pingin melatih kamu buat jadi wakil komandan Gustav. Menurutmu, kamu sanggup?”
Ekspresi kagetnya makin jelas. Dia tatap aku hampir satu menit penuh, mencerna apa yang baru saja aku katakan.
Ada ketukan di pintu, dan aku pun teriak, “Masuk!”
Sonia, salah satu pelayan, masuk ke kantor sambil membawa nampan dan taruh makanan itu di sudut meja. Biasanya Naveen bakal godain cewek itu, tapi kali ini dia masih menatapku dengan ekspresi kaget.
“Ini aja?” tanya Sonia, matanya tertuju pada Naveen. Tentu saja dia naksir adik laki-lakiku ini.
"Iya. Kamu boleh pergi," gumamku.
Begitu pintu tertutup, aku tersenyum sambil taruh tangan di bahu Naveen.
“Sekarang kamu ngerti kan, kenapa aku enggak bolehin kamu latihan jadi pengawal aku?”
Dia mengangguk gugup, lalu raut wajahnya berubah.
“Karena ini bakal jadi kerjaan berat!” Aku peringatkan dia.
Dia mengangguk lagi, masih diam.
Aku menunjuk ke arah nampan. "Makan dulu ... keburu dingin!"
Tatapan Naveen masih menempel ke aku, dan suaranya seakan enggak percaya waktu dia bertanya, “Kamu benaran mau jadiin aku wakil komandan?”
"Kamu adik aku, Naveen. Enggak ada orang lain yang cocok buat ngambil alih waktu Gustav dan aku pensiun."
Jarang sekali aku bicara begini, tapi ini sudah menjadi rahasia umum.
Senyum lebar pun langsung muncul di wajahnya. Dia kelihatan bahagia banget, lalu maju dan peluk aku.
“Aku enggak bakal ngecewain kamu, Braun!” janjinya, nadanya tegang.
Sambil menepuk punggungnya, aku jawab, “Aku tahu.”