Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dingin yang Tak Tergoyahkan
Pagi-pagi sekali, Zayden sudah berada di ruang fisioterapi. Keringat membasahi kaos singlet nya, memperlihatkan otot-otot lengannya yang mulai kembali terbentuk.
Ia mencengkeram palang besi penyangga dengan urat-urat yang menonjol.
"Satu... dua... tiga!" Zayden menggeram, memaksakan kakinya yang masih kaku untuk melangkah. Rasa sakitnya luar biasa, seperti ditusuk ribuan jarum, tapi di kepalanya hanya ada bayangan Amy yang menunggunya di depan bengkel.
"Ayo, Pitter! Jangan loyo! Kita punya janji buat kencan tanpa penggaris!" gumamnya menyemangati diri sendiri.
Elisa, sang terapis, memperhatikan Zayden dengan tatapan yang semakin dalam. Ia kagum dengan determinasi Zayden, tapi di sisi lain, ia merasa terancam dengan kenyataan bahwa Zayden sembuh demi wanita lain. Ia ingin Zayden melihat bahwa dialah yang ada di sini, menemaninya di masa-masa tersulit, bukan Amy yang jauh di sana.
"Zayden, pelan-pelan. Kamu terlalu memaksakan diri," ucap Elisa sambil mendekat.
Ia sengaja mengambil posisi di belakang Zayden, seolah-olah ingin menjaga keseimbangannya.
Namun, saat Zayden sedikit goyah, Elisa langsung melingkarkan lengannya di pinggang Zayden, merapatkan tubuhnya ke punggung pemuda itu.
"Aku menjagamu, Zay. Sandarkan saja tubuhmu padaku," bisik Elisa lembut di dekat telinga Zayden.
Tangannya mulai mengusap perut Zayden dengan gerakan yang lebih dari sekadar bantuan medis.
Zayden tersentak. Sensasi sentuhan Elisa tidak membuatnya nyaman, justru membuatnya muak. Ia segera melepaskan tangan Elisa dengan kasar dan berpegangan kuat pada palang besi sendirian.
"Aku bilang jangan menyentuhku jika tidak berhubungan dengan terapi, Elisa," suara Zayden kembali ke mode nol derajat celcius. Dingin dan menusuk.
"Zayden, aku hanya ingin membantu. Aku yang merawatmu setahun ini! Amy bahkan tidak tahu kamu hidup atau mati sampai kemarin!" Elisa mulai emosi, matanya berkaca-kaca. "Kenapa kamu begitu setia pada seseorang yang tidak ada di sini?"
Zayden menoleh perlahan, menatap Elisa dengan pandangan yang membuat nyali gadis itu menciut.
"Dia tidak ada di sini secara fisik, tapi suaranya adalah alasan kenapa jantungku masih berdetak semalam," ucap Zayden tajam. "Dan Soal Tubuhku... dia itu pemilih. Dia nggak suka disentuh sama tangan yang nggak punya izin dari pemilik hatiku. Jadi, lakukan tugasmu sebagai terapis, atau aku minta Papa menggantimu sekarang juga."
Elisa terdiam seribu bahasa, tangannya gemetar karena malu dan sakit hati.
Zayden tidak peduli, ia kembali fokus pada langkah kakinya. Baginya, setiap jengkel rasa sakit yang ia rasakan saat melangkah adalah satu meter jarak yang terpangkas untuk kembali ke pelukan Amy.
Zayden mengambil jeda istirahat, ia meraih ponselnya dan mengirim pesan suara ke Amy.
"Sayang, hari ini aku udah bisa melangkah lima kali tanpa jatuh. Doain ya, bentar lagi aku bakal lari ke arah kamu. Dan bilang sama Pitter, dia harus sabar, karena bentar lagi dia bakal dapet tuan putri yang asli, bukan cuma suara di telepon."
Di Indonesia, Amy membaca pesan itu sambil tersenyum lebar di tengah perpustakaan kampus, membuat mahasiswa di sekitarnya heran melihat Ice Girl yang tiba-tiba tampak sangat hangat.
.
.
Hari kepulangan Zayden tinggal menghitung Hari. Tubuhnya sudah kembali kokoh, langkahnya sudah mantap, bahkan ia mampu berjalan satu kilometer tanpa alat bantu. Zayden sudah tidak lagi ditangani Elisa sejak insiden sentuhan waktu itu, ia menggantinya dengan terapis senior yang lebih profesional.
Namun, Elisa tidak terima dicampakkan. Ia merasa dialah yang paling berjasa atas kesembuhan Zayden. Di kepalanya yang mulai terobsesi, jika ia tidak bisa memiliki Zayden, maka Amy pun tidak boleh.
Malam itu, Zayden sedang merapikan koper di apartemennya, bersiap untuk penerbangan besok pagi. Tiba-tiba pintu apartemen diketuk. Ia mengira itu adalah ayahnya, namun ternyata Elisa berdiri di sana dengan botol minuman mewah.
"Zayden, ini untuk perpisahan. Aku minta maaf atas semua kesalahanku," ucap Elisa dengan nada yang sangat meyakinkan. "Tolong minum ini bersamaku sekali saja sebagai tanda kita tetap berteman."
Zayden yang sedang bahagia dan tidak ingin menyimpan dendam, meneguk minuman itu sedikit untuk menghargai. Namun, ia tidak tahu bahwa Elisa telah mencampurkan obat perangsang dosis tinggi yang mampu meruntuhkan logika pria mana pun.
Hanya dalam hitungan menit, tubuh Zayden terasa seperti dibakar. Keringat bercucuran, napasnya memburu, dan penglihatannya mulai kabur. Si Pitter bereaksi sangat hebat karena dosis yang diberikan kali ini jauh lebih gila daripada yang diberikan Tuan Pratama dulu yang diminum Amy.
Elisa mulai mendekat, melepaskan kancing bajunya satu per satu hingga ia berdiri tanpa busana di depan Zayden. "Zayden... lihat aku. Amy tidak ada di sini. Hanya aku yang bisa memuaskan mu sekarang," bisiknya sambil mencoba mencium bibir Zayden.
PLAK!
Zayden menampar Elisa dengan sisa kekuatannya. "Pergi... kamu... wanita kotor!" geram Zayden. Namun, hasratnya benar-benar di ujung tanduk. Ia merasa ingin menggila. Dalam kondisi antara sadar dan tidak, Zayden meraih sebuah pisau buah dari atas meja. Ia lebih baik menjadi pembunuh daripada mengkhianati Amy.
"Kalau kamu mendekat lagi... aku pastikan nyawamu hilang!" Zayden mengangkat pisau itu, matanya merah padam penuh amarah dan nafsu yang tersiksa.
Tepat saat Zayden hendak mengayunkan pisaunya karena Elisa nekat memeluknya, pintu apartemen yang tidak terkunci rapat terbuka.
"Zayden!"
Amy berdiri di sana. Ia datang lebih cepat ke Amerika untuk memberikan kejutan, namun yang ia lihat adalah pemandangan yang mengerikan. Amy melihat Elisa yang tanpa busana dan Zayden yang menggenggam pisau dengan tubuh gemetar hebat.
Tanpa rasa takut, Amy berlari melewati Elisa dan langsung memeluk Zayden dari belakang. Ia melingkarkan lengannya erat di perut Zayden, menyandarkan pipinya di punggung pemuda itu yang panas membara.
"Zayden... ini aku. Ini Amy. Letakkan pisaunya, Sayang. Aku di sini," bisik Amy dengan suara yang sangat tenang dan penuh cinta.
Zayden membeku. Aroma parfum Amy yang sangat ia hafal merasuki indra penciumannya, melawan kabut obat perangsang di otaknya. Pisau di tangannya jatuh berdenting di lantai. Zayden berbalik, matanya yang tadi liar kini melunak melihat wajah gadis yang selama dua tahun ini ia tangisi.
Elisa yang melihat kehadiran Amy langsung panik. Rasa malunya memuncak karena tertangkap basah dalam kondisi seperti itu. Tanpa kata, ia meraih pakaiannya yang berserakan dan lari keluar dari apartemen sambil menangis.
Kini hanya ada mereka berdua. Zayden jatuh berlutut, memeluk pinggang Amy dengan sangat erat.
Tubuhnya masih terbakar efek obat, namun kehadiran Amy membuatnya merasa aman.
"Amy... kamu nyata? Kamu beneran di sini?" suara Zayden bergetar hebat.
Amy berlutut di depan Zayden, memegang kedua pipinya. "Iya, aku di sini. Aku datang buat jemput jantung kamu yang mau aku goreng itu."
Amy mencium dahi Zayden, mencoba menenangkan pria itu yang sedang berjuang menahan hasrat biologis akibat obat dosis tinggi tersebut. "Tahan ya, Sayang. Kita lalui ini bareng-bareng. Tanpa penggaris satu meter lagi."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading 🥰🥰🥰