NovelToon NovelToon
Dinikahi Sahabat Ayah

Dinikahi Sahabat Ayah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

Katya dan Donny dipertemukan bukan oleh cinta, melainkan oleh keputusan orang dewasa, norma, dan takdir yang berjalan terlalu cepat. Mereka datang dari dua dunia berbeda—usia, cara pandang, dan luka—namun dipaksa berbagi ruang paling intim: pernikahan.

Novel ini bukan sekadar kisah beda usia.
Ia adalah cerita tentang pertumbuhan, batas, rasa bersalah, dan kemungkinan cinta yang datang paling tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebenaran di Balik Kertas

Jakarta terasa lebih sesak bagi Katyamarsha. Setiap sudut kota seolah menyimpan rekaman suaranya bersama Donny. Di sela-sela kesibukannya mengurus paspor, visa, dan surat keterangan kesehatan untuk keberangkatannya ke Berlin, Katya merasa seperti sedang menyiapkan peti mati bagi perasaannya sendiri. Rian semakin sering datang ke rumah, membawa brosur tentang apartemen di Berlin atau daftar universitas kedokteran yang akan menjadi tempatnya menimba ilmu. Arman tampak jauh lebih sehat; binar matanya kembali, dan ia seringkali terdengar bersenandung di pagi hari, yakin bahwa putrinya telah memilih jalan "benar" bersama pria yang ia restui.

Namun, di balik senyum tipis yang Katya paksakan, ada luka yang terus menganga. Ia berhenti mengirim pesan pada Donny. Ia berhenti mencari tahu keberadaan pria itu. Baginya, Donny telah menyerah, dan ia pun harus belajar untuk menyerah.

Satu minggu sebelum keberangkatan, Arman sedang merapikan laci meja kerjanya yang berantakan. Ia mencari akta kelahiran Katya yang dibutuhkan untuk kelengkapan dokumen asuransi perjalanan. Di sela-sela tumpukan berkas lama, sebuah amplop cokelat besar dengan kop surat perusahaan Donny terselip di bagian paling bawah.

"Donny meninggalkan berkas apa lagi?" gumam Arman. Ia membukanya, mengira itu adalah laporan tahunan yayasan yang biasa mereka diskusikan.

Namun, saat matanya menyapu baris demi baris dokumen di dalamnya, tangannya mulai gemetar. Itu bukan laporan kerja. Itu adalah dokumen "Perjanjian Hibah dan Dana Perwalian". Di sana tertera jelas bahwa seluruh biaya pendidikan Rian, tunjangan hidup Katya, hingga biaya perawatan kesehatan Arman di Jerman nanti, dibiayai sepenuhnya dari rekening pribadi Donny, bukan dari rumah sakit atau beasiswa pemerintah.

Ada satu catatan kecil yang ditulis tangan di lembar terakhir, dengan tulisan yang sangat Arman kenali:

“Man, ini bukan suap. Ini adalah mahar yang tidak akan pernah bisa aku berikan secara resmi. Tolong pastikan Katyamarsha mendapatkan dunia yang layak dia miliki. Aku akan menjauh agar jantungmu tetap berdetak untuknya. Jangan katakan padanya dari mana uang ini berasal. Biarkan dia membenciku, agar dia lebih mudah mencintai suaminya nanti.”

Arman terduduk lemas di lantai. Air mata mengalir di pipinya yang mulai berkeriput. Ia merasa seperti orang paling jahat di dunia. Sahabatnya, pria yang ia anggap sudah mengkhianati kepercayaannya, ternyata sedang melakukan pengorbanan yang paling ekstrem: membiayai pernikahan dan masa depan wanita yang ia cintai dengan pria lain, hanya agar sahabatnya tetap hidup dan putrinya tetap "murni" di mata dunia.

"Donny... apa yang kamu lakukan?" bisik Arman parau.

Tepat saat itu, Katya masuk ke ruangan dengan membawa secangkir teh. Ia melihat ayahnya terduduk lemas dengan kertas-kertas berserakan.

"Ayah! Ayah kenapa? Jantung Ayah sakit lagi?" Katya panik, ia menjatuhkan cangkirnya dan segera berlutut di samping Arman.

Arman menatap putrinya dengan tatapan hancur. Ia menyodorkan kertas-kertas itu pada Katya. "Baca ini, Ya. Baca apa yang dilakukan 'Om pengecut' yang kamu bilang itu."

Katya mengambil kertas-kertas itu dengan bingung. Saat ia membacanya, dunianya seolah runtuh untuk kesekian kalinya. Setiap angka yang tertera di sana, setiap klausul perlindungan yang dibuat Donny, terasa seperti tamparan yang sangat keras di wajahnya.

"Dia membayar Rian untuk membawaku pergi?" suara Katya bergetar hebat. "Dia... dia memberikan segalanya untuk kita, sementara kita membencinya?"

"Dia tidak pengecut, Katya," suara Arman pecah oleh isak tangis. "Dia hanya terlalu mencintaimu sampai dia rela menghancurkan dirinya sendiri agar kita tetap utuh. Ayah yang salah. Ayah yang egois karena menggunakan kesehatan Ayah untuk memisahkan kalian."

Katya berdiri dengan kaki yang lemas. Rasa bersalah yang tadi menghujamnya kini berubah menjadi kemarahan yang luar biasa. Bukan pada ayahnya, bukan pada Donny, tapi pada takdir yang begitu kejam. Ia berlari keluar rumah, mengabaikan teriakan ibunya dan panggilan ayahnya. Ia masuk ke dalam taksi, hanya ada satu tujuan di kepalanya: Apartemen Donny.

---

Donny sedang berada di kantornya yang gelap ketika ponselnya berbunyi berkali-kali. Ia tidak mengangkatnya. Ia sedang menatap koper besar di sudut ruangan. Ia berencana berangkat ke London malam ini, untuk waktu yang tidak ditentukan. Ia ingin benar-benar menghilang sebelum pernikahan Katya dan Rian diumumkan. Ia merasa misinya sudah selesai. Ia sudah memastikan Katya aman.

Tiba-tiba, pintu ruang kerjanya didobrak terbuka. Donny tersentak dan berdiri. Di ambang pintu, Katya berdiri dengan napas tersengal-sengal, wajahnya sembab, dan di tangannya ia memegang dokumen cokelat itu.

"Katya? Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu seharusnya berkemas untuk Berlin," suara Donny berusaha tetap dingin, meski hatinya menjerit ingin memeluk gadis itu.

Katya berjalan mendekat, setiap langkahnya penuh dengan determinasi. Ia melempar dokumen itu ke meja Donny. "Ambil kembali uangmu, Om! Ambil kembali beasiswa Rian! Aku bukan barang dagangan yang bisa Om beli kebebasannya!"

Donny memalingkan wajah. "Itu untuk masa depanmu, Katya. Rian pria yang baik."

"Pria baik tidak menerima uang untuk menikahi wanita, Om!" teriak Katya. "Dan pria hebat tidak akan membuang wanita yang dia cintai hanya karena dia takut pada opini dunia! Om bilang Om memberiku nama Katyamarsha agar aku kuat? Lihat aku sekarang! Aku cukup kuat untuk kehilangan segalanya, asal aku tidak kehilangan kejujuran perasaanku!"

Donny menatap Katya, pertahanannya mulai retak. "Ayahmu, Katya... jantungnya..."

"Ayah sudah tahu!" potong Katya. "Ayah yang memberikan kertas ini padaku. Ayah menangis, Om. Dia merasa bersalah karena telah membuat sahabatnya menjadi martir seperti ini. Ayah bilang, dia lebih suka jantungnya berhenti berdetak daripada harus melihat sahabatnya mati perlahan-lahan karena kesepian yang dia buat sendiri!"

Donny terpaku. Arman tahu? Harapan Donny untuk menghilang dalam sunyi kini musnah.

"Pulanglah, Katya," bisik Donny, meski suaranya sudah tidak memiliki wibawa lagi.

"Aku nggak akan pulang," Katya mendekat, berdiri tepat di depan Donny, hingga ia bisa merasakan napas pria itu. "Kalau Om berangkat ke London malam ini, aku akan ikut. Aku akan mengikuti Om ke ujung dunia mana pun. Om tidak bisa lagi mengusirku dengan uang atau rasa bersalah. Karena sekarang, Ayah sudah merestui kita."

Donny tertegun. "Apa?"

"Ayah bilang... dia ingin meminta maaf langsung padamu. Dia ingin kamu datang ke rumah. Bukan sebagai sahabat yang membawa martabak, tapi sebagai pria yang akan menjaga putrinya selamanya."

Air mata yang selama bertahun-tahun ditahan oleh Donny akhirnya jatuh juga. Pria tegap itu luruh, ia menyembunyikan wajahnya di pundak Katya, menangis sesenggukan seperti anak kecil. Beban berat yang ia pikul sejak di kontrakan sempit itu, sejak malam di Bandung, sejak serangan jantung Arman, kini seolah terangkat.

Katya memeluk kepala Donny, mengelus rambutnya yang mulai beruban di beberapa sisi. "Jangan pernah buang aku lagi, Om. Jangan pernah."

"Maafkan aku, Katya... Maafkan aku," isak Donny.

Di luar gedung, hujan Jakarta turun dengan sangat deras, seolah ikut membasuh segala luka dan rahasia yang selama ini menyiksa mereka. Rencana ke Berlin mungkin akan tetap ada, tapi bukan dengan Rian, dan bukan sebagai pelarian.

Malam itu, Donny tidak jadi pergi ke London. Ia pulang ke rumah Arman. Pertemuan malam itu dipenuhi dengan isak tangis dan pelukan antara dua sahabat lama. Arman mengembalikan dokumen itu pada Donny.

"Simpan uangmu, Don. Pakai itu untuk pesta pernikahan kalian nanti," ujar Arman sambil tersenyum melalui air matanya. "Dan maafkan aku karena hampir saja merusak nama yang kamu berikan pada anakku."

Rian, yang ternyata juga hadir di sana setelah ditelepon oleh Arman, mundur dengan ksatria. Ia menyadari bahwa cinta sebesar yang dimiliki Donny dan Katya tidak akan pernah bisa ia kalahkan dengan gelar dokter atau beasiswa mana pun.

Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah ancaman baru muncul. Masa lalu Donny—tentang bagaimana istrinya meninggal dan siapa orang di balik kehancuran bisnisnya dulu—mulai mengintai kembali. Seseorang yang tidak suka melihat Donny bahagia sedang memperhatikan dari kegelapan.

1
awesome moment
sll bgitu kn?
awesome moment
g salah koq. p lg tanpa ikatan darah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!