Season 2 dari Novel Sang Penakluk.
Hi Cesss, Novel Sang Penakluk kembali lagi ni. Semoga klean suka dengan alur ceritanya Cesss.
Jangan Lupa Like, Komen dan Supportnya Cesss. Karena setiap like, komen dan support dari kalian akan sangat berguna bagiku yang pemula ini.
Selamat Membaca...,,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RantauL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33. Lylis
Sementara itu, setelah kepergian Ren Zen dan Lyra, gazebo di dalam taman itu diliputi keheningan yang cukup lama.
Angin malam berembus lembut, menggoyangkan tirai tipis dan dedaunan pohon plum di sekitar taman. Lentera-lentera yang tergantung memancarkan cahaya keemasan redup, menciptakan bayangan panjang di atas lantai batu.
Tak seorang pun langsung berbicara.
Kaisar Jack Zen duduk tegak, wajahnya tenang seperti biasa. Namun siapa pun yang cukup mengenalnya akan menyadari—tatapannya kini lebih dalam dari biasanya.
Permaisuri Mei Ling memandangi suaminya sekilas. Ia tahu. Ia tahu persis nama yang baru saja diucapkan tadi bukanlah nama sembarangan.
Keheningan itu akhirnya pecah oleh suara ringan namun penuh rasa ingin tahu.
“Ayah…” Lia Zen memiringkan kepalanya sedikit. “Siapa orang bernama Lylis itu?”
Semua mata di gazebo perlahan tertuju pada Kaisar.
Lus Si menahan napas tanpa sadar. Bai Hu dan Han Yu saling bertukar pandang singkat. Tiger, Trile dan Bear berdiri sedikit lebih tegak.
Bahkan Ray Zen, yang sejak tadi duduk santai dengan senyum tipisnya, kini menatap ayahnya dengan perhatian penuh.
Kaisar Jack Zen tidak langsung menjawab. Matanya terpejam perlahan. Angin malam berembus sekali lagi. Dan pikirannya melayang jauh… ke masa yang telah lama ia kubur di sudut terdalam ingatannya.
Beberapa detik berlalu. Lalu ia membuka matanya kembali.
“Lylis…” ucapnya pelan.
Suaranya tidak berubah. Tetap tenang. Tetap stabil. Namun ada sesuatu di dalamnya—sesuatu yang jarang terdengar.
“Lylis adalah sahabat masa mudaku.”
Lia Zen langsung mendekat sedikit, duduk bersila dengan wajah penuh antusias.
“Sahabat?” tanyanya cepat.
Kaisar mengangguk pelan.
“Sejak kecil, kami sudah bersama. Kami belajar di tempat yang sama, berlatih di tempat yang sama, bahkan sering dihukum bersama karena kenakalan yang sama.”
Sudut bibirnya terangkat samar. “Itu… masa yang menyenangkan.”
Permaisuri Mei Ling tersenyum lembut. “Kalian berdua memang tidak bisa dipisahkan saat itu.”
Ray Zen memperhatikan ayahnya dengan tenang. Ia jarang sekali mendengar Ayahnya berbicara tentang masa mudanya.
“Seperti apa orangnya, Ayah?” tanya Lia Zen lagi, matanya berbinar.
Kaisar menatap langit sejenak sebelum menjawab.
“Lylis adalah wanita yang luar biasa.”
Ia berhenti sejenak, memilih kata-kata yang tepat.
“Dia Jenius. Sangat Jenius. Dalam hal pemahaman teknik dan peningkatan kultivasi, ia selalu selangkah lebih cepat dariku.”
Bai Hu sedikit mengangkat alisnya. “Lebih cepat dari Yang Mulia?”
Kaisar tersenyum kecil. “Saat itu… ya.”
Bear terkekeh pelan. “Itu berarti dia benar-benar hebat.”
Kaisar mengangguk. “Namun bukan hanya itu.” Wajahnya menjadi sedikit lebih serius.
“Lylis memiliki hati yang sangat kuat. Ia tidak pernah takut menghadapi siapa pun, tidak pernah mundur meski tahu lawannya jauh lebih kuat darinya.”
“Berani sekali…” gumam Lia Zen.
“Bukan hanya berani,” sahut Permaisuri Mei Ling lembut. “Dia juga wanita yang lembut.”
Semua menoleh pada Mei Ling.
Permaisuri Mei Ling melanjutkan, “Saat aku pertama kali bergabung dengan mereka, aku adalah pendatang baru. Aku tidak mengenal siapa pun. Tapi Lylis yang pertama kali menyapaku, dan memperkenalkanku pada Yang Mulia.”
Ia tersenyum mengenang.
“Dia menarik tanganku dan berkata, ‘Kalau kau ingin bertahan di sini, kau harus menjadi kuat. Tapi jangan pernah kehilangan hatimu.’”
Lia Zen tersenyum lebar. “Lylis terdengar seperti orang yang sangat baik.”
“Dia memang baik,” kata Kaisar pelan. “Terlalu baik… untuk dunia yang keras ini.”
Ray Zen sedikit menyipitkan mata. Kalimat itu tidak diucapkan tanpa makna.
“Apakah Ayah… menyukainya?” Lia Zen tiba-tiba bertanya polos.
Lus Si hampir tersedak tehnya. Bear menahan tawa. Han Yu, Tiger, dan Trile menoleh cepat ke arah Kaisar dengan ekspresi setengah penasaran, setengah menunggu bencana. Sementara Permaisuri Mei Ling justru tertawa kecil.
Kaisar menghela napas ringan.
“Putri kecilku, Lia…” ucap permaisuri Mei Ling lembut, mencoba mengingatkan.
“Apa Ibu? Aku kan hanya bertanya!” Lia Zen mengangkat bahu.
Kaisar akhirnya tersenyum. “Ayah hanya menyukai ibumu Lia. Perasaanku dengan Lylis hanya sebatas sahabat.”
Mei Ling memandang suaminya dengan tatapan lembut namun sedikit menggoda. “Kalian memang sangat dekat saat itu.”
Kaisar tidak membantah.
“Kami bertiga,” lanjutnya, “aku, Lylis, dan Mei Ling… hampir selalu bersama. Latihan bersama. Menyelesaikan misi bersama. Bahkan pernah tersesat di Pegunungan Seribu Kabut selama dua minggu.”
“Dua minggu?!” seru Lia Zen.
“Ya,” jawab Kaisar tenang. “Kami dikejar binatang buas ratusan ribu tahun kala itu. Jika bukan karena Lylis menemukan jalur tersembunyi dan menenangkan kami, mungkin kami tidak akan selamat.”
Han Yu mengangguk perlahan. “Berarti dia bukan hanya kuat, tapi juga tenang dalam krisis.”
“Benar,” kata Kaisar. “Ia selalu berpikir jernih.”
Ray Zen akhirnya berbicara, suaranya ringan namun dalam. “Lalu… apa yang terjadi padanya sekarang Ayah?”
Pertanyaan itu membuat suasana kembali hening. Wajah Kaisar berubah sedikit. Permaisuri Mei Ling juga menundukkan pandangannya.
“Tidak lama setelah Mei Ling resmi bergabung dengan kami…” Kaisar mulai berkata perlahan, “Lylis menghilang.”
“Menghilang?” ulang Lia Zen, bingung.
“Tanpa pesan. Tanpa jejak. Tanpa kabar sedikitpun.”
Tiger menyilangkan tangan. “Tidak mungkin orang sekuat dia, bisa lenyap begitu saja.”
“Kami juga berpikir begitu,” kata Kaisar. “Kami mencarinya.”
Mei Ling melanjutkan, “Kami menyusuri tempat-tempat yang biasa ia kunjungi. Rumahnya. Hutan tempat latihan. Bahkan wilayah terlarang di luar perbatasan.”
“Namun tidak ada satu pun petunjuk,” kata Kaisar.
“Seolah-olah…” Mei Ling terdiam sejenak, “…ia menghapus dirinya sendiri dari dunia.”
Lia Zen memeluk lututnya. “Kenapa dia pergi?”
Kaisar menggeleng perlahan. “Itulah yang tidak pernah kami ketahui.”
Ray Zen menatap ayahnya lekat-lekat. “Dan setelah itu?” tanyanya.
Kaisar menghela napas dalam. “Setelah itu… Aku dan Mei Ling pun memutuskan untuk berpetualang.” Ia berdiri perlahan, berjalan beberapa langkah menuju tepi gazebo. “Dunia terlalu luas untuk berhenti pada satu kehilangan.”
Mei Ling ikut berdiri, berdiri di samping Kaisar Jack Zen.
“Kami melakukan petualangan panjang,” lanjutnya. “Melintasi banyak wilayah. Menghadapi pemberontakan. Dan menyelamatkan kota-kota dari invasi iblis.”
“Hingga akhirnya,” kata Kaisar, “kami tiba di wilayah ini.” Ia memandang jauh ke arah tembok istana. “Wilayah Kekaisaran Awan Putih, yang saat itu masih di kuasai oleh kaisar biadab.”
“Dan dari situlah segalanya dimulai, Ray.” Mei Ling menyelesaikan.
Ray Zen menyandarkan punggungnya ke kursi, menutup mata sejenak, mencerna semuanya. Pikirannya kini telah menemukan benang merah yang sangat berharga.
Lus Si berbicara pelan, “Yang Mulia… apakah Anda mencurigai sesuatu tentang Lyra?”
Kaisar tidak langsung menjawab. Beberapa detik berlalu. Lalu ia berkata, “Wajahnya…” Ia menoleh pada Mei Ling. “Sangat mirip dengan Lylis.”
Mei Ling mengangguk perlahan.
“Bentuk matanya. Garis rahangnya. Bahkan ekspresi tenangnya…” Kaisar terdiam. “Itu benar-benar wajah Lylis.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
........Jangan Lupa Like dan Komennya Cesss........
........Selamat Membaca........
........Lanjut Terusss........
lanjutkan dgn semangat bintang d langit,thor
lanjut dgn smngat bintang d langit,thor
reader yg setia masih menanti update yg terbaru