Season 2 dari Novel Sang Penakluk.
Hi Cesss, Novel Sang Penakluk kembali lagi ni. Semoga klean suka dengan alur ceritanya Cesss.
Jangan Lupa Like, Komen dan Supportnya Cesss. Karena setiap like, komen dan support dari kalian akan sangat berguna bagiku yang pemula ini.
Selamat Membaca...,,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RantauL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32. Rahasia Lyra
Ia tersenyum tipis dan segera melepaskan jabat tangan itu. “Senang bertemu denganmu.”
Ray Zen menatapnya sejenak lebih lama. Senyumnya sedikit menyempit—seolah ia juga merasakan sesuatu.
Setelah itu, Kaisar kembali membuka suara. “Lyra,” katanya lembut namun tegas. “Kau belum menjawab pertanyaanku. Apakah kau mengenal Lylis?”
Semua mata tertuju padanya.
Lyra menelan ludah.
Lalu ia tersenyum. Senyum yang sempurna. Ringan dan palsu.
“Ti… tidak,” katanya. “Aku tidak mengenal siapa pun dengan nama itu.”
Ren Zen menatapnya tajam. Ia tahu. Ia tahu betul ada yang salah dengan Lyra kali ini.
“Lyra?” panggilnya lagi. “Ada apa denganmu?”
“Ti… tidak… tidak ada,” jawab Lyra cepat, menghindari tatapannya. “Aku hanya sedikit lelah.”
Permaisuri Mei Ling segera berdiri. “Kalau begitu, sebaiknya kau beristirahat. Kamar tamu sudah disiapkan.”
Ia menoleh pada Ren Zen. “Antarkan dia, Ren.”
Ren Zen mengangguk, meski pertanyaan jelas memenuhi pikirannya.
Saat mereka berjalan menjauh, Lyra menatap lurus ke depan. Wajahnya kembali tenang. Namun di dalam—Hatinya bergejolak hebat.
Nama itu.
Tatapan itu.
Dan tekanan dari Ray Zen—
Ia kini mengerti sepenuhnya.
Istana Kekaisaran Awan Putih bukan sekadar tempat yang menarik.
Ia adalah tempat yang menakutkan.
Dan rahasia yang ia bawa… mungkin tak akan bisa disembunyikan disana selamanya.
Koridor istana memanjang sunyi di hadapan mereka.
Lampu-lampu kristal yang tergantung di sepanjang dinding memancarkan cahaya lembut, memantul di lantai batu giok yang mengilap.
Bayangan Ren Zen dan Lyra memanjang, beriringan, sesekali menyatu lalu terpisah oleh lengkung pilar-pilar tinggi. Malam semakin larut, dan suara langkah mereka menjadi satu-satunya irama yang terdengar.
Ren Zen berjalan sedikit di depan. Beberapa kali ia melirik ke belakang, memastikan Lyra masih mengikutinya. Wanita itu terlihat tenang—terlalu tenang—namun Ren Zen menyadari ada perubahan pada Lyra. Mungkin tekanan batin.
Saat mereka hampir tiba di belokan terakhir menuju kamar tamu, Ren Zen akhirnya menarik napas dan menghentikan langkahnya.
“Lyra?” panggilnya pelan.
Lyra juga berhenti. Ia menoleh, rambut ungunya bergoyang ringan terkena hembusan angin malam yang menyusup dari jendela koridor. “Apa…?” balasnya, nadanya santai, meski matanya menyimpan sesuatu.
Ren Zen ragu sejenak. Ia bukan tipe yang mudah mencampuri urusan orang lain—namun sesuatu di wajah Lyra malam ini membuatnya tak bisa diam.
“Apa kau merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Ayahku tadi?” tanyanya akhirnya. “Kau… berbohong, kan?”
Lyra tidak langsung menjawab.
Ia menunduk sedikit, tatapannya jatuh ke lantai giok yang dingin. Cahaya lampu memantul di matanya, membuat sorotnya tampak sayu, seolah pikirannya terlempar jauh ke masa yang tak ingin ia sentuh.
Beberapa detik berlalu dalam diam.
Ren Zen melangkah setengah maju, lalu berhenti lagi—memberi jarak, memberi ruang.
“Aku tidak akan memaksamu menjawab,” katanya kemudian, suaranya rendah namun mantap. “Itu hakmu. Setiap orang punya hal-hal yang tak bisa di ungkapkan.”
Ia menatap Lyra lurus, tanpa desakan, tanpa kecurigaan.
“Tapi yang jelas,” lanjutnya, “kalau suatu saat kau butuh bantuan… aku akan selalu siap membantumu.”
Nada suaranya sederhana. Tidak berlebihan. Justru karena itu, ketulusannya terasa nyata.
Lyra mengangkat wajahnya perlahan.
Untuk sesaat, ia hanya menatap Ren Zen—pemuda yang berdiri di depannya dengan wajah serius, mata jujur, dan sikap yang sama sekali tidak memaksanya menceritakan apa pun. Ada keheningan aneh di antara mereka, keheningan yang hangat.
“Hemp…” Lyra mendesah pelan. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Terima kasih, Ren.”
Jawaban itu singkat, nyaris remeh. Namun Ren Zen tahu—itu bukan sekadar ucapan basa-basi.
Ia menghela napas kecil, seolah ingin meringankan suasana. “Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Malam ini panjang, dan kau pasti kelelahan.”
Ren Zen lalu menoleh ke arah koridor di depan. “Lebih baik sekarang kau beristirahat. Besok…” ia berhenti sejenak, lalu melirik ke arah Lyra, “…aku akan mengajakmu berkeliling ibu kota.”
Mata Lyra langsung berbinar.
“Benarkah?” katanya cepat. Perlahan aura muram yang tadi menyelimutinya menguap.
“Janji?”
Tanpa menunggu jawaban, ia mengangkat jari kelingkingnya, menyodorkannya ke arah Ren Zen dengan ekspresi setengah menantang, setengah kekanak-kanakan.
Ren Zen terdiam.
Ia menatap jari kecil itu sejenak, lalu menghela napas pelan, nyaris tak terdengar. “Kau ini…” gumamnya.
Pada akhirnya, ia mengangkat tangannya juga.
Jari kelingking mereka bertaut.
Sentuhan ringan—namun entah mengapa terasa hangat.
“Janji,” ucap Ren Zen.
Lyra tersenyum lebar. Senyum yang kali ini benar-benar kembali seperti biasanya—cerah, santai, dan bebas dari tekanan.
“Kalau begitu,” katanya sambil berbalik dan melangkah lebih ringan, “aku akan tidur nyenyak malam ini.”
Ren Zen mengikuti di belakangnya, memperhatikan punggung Lyra yang kini tampak jauh lebih rileks.
Saat mereka tiba di depan pintu kamar tamu, Ren Zen berhenti.
“Selamat istirahat,” katanya.
Lyra menoleh sebentar. “Terima kasih… Ren.”
Pintu pun tertutup perlahan.
Ren Zen berdiri beberapa detik di sana, menatap pintu itu dalam diam. Pikirannya kembali pada ekspresi Lyra di taman.
Ia mengepalkan tangan pelan.
“Kau menyimpan rahasia Lyra,” gumamnya, “aku tidak tahu apa itu… tapi jika suatu hari kau membutuhkanku, Lyra—aku tidak akan pergi.”
Angin malam berdesir lembut di koridor istana.
Di balik pintu kamar tamu, Lyra bersandar pada daun pintu. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berdebar pelan.
“Pemuda bernama Ray Zen itu benar-benar mengerikan… bahkan aku merasa sulit bernapas saat berada di dekatnya. Mungkinkah ia bisa melihat ke dalam diriku? Apa kau juga merasakannya, Pak Tua?” gumam Lyra pada dirinya sendiri.
“Hei, Pak Tua, jawab aku,” ucapnya sedikit lebih keras, seolah sedang berbicara pada seseorang. Namun kenyataannya, ia sendirian di dalam kamar itu.
Karena tak ada jawaban yang ia harapkan, Lyra pun membaringkan tubuhnya di atas kasur. Matanya menatap sayu langit-langit kamar.
“Ibu… andai saja kau masih hidup. Kita pasti sudah hidup bahagia sekarang,” ucapnya lirih, membayangkan sosok ibunya yang telah lama pergi.
Tiba-tiba, sorot matanya berubah tajam, dipenuhi dendam. Sebuah senyum tipis terukir di wajahnya—senyum yang tampak begitu menyeramkan.
“Ibu… aku telah menemukannya. Aku telah menemukannya,” bisiknya pelan. Ia kemudian mengepalkan tinjunya erat. “Pria dan wanita itu harus mati di tanganku. Dendammu pasti akan kubalaskan.”
“Hei, bocah, jangan gegabah.”
Tiba-tiba, suara serak seorang kakek tua terdengar di dalam pikiran Lyra. Suara itu hanya bisa didengar olehnya.
“Untuk saat ini, kau belum bisa membalaskan dendam itu. Kekuatan mereka jauh lebih hebat darimu,” lanjut suara tersebut.
Lyra menjawab dengan nada ringan, seolah sudah terbiasa mendengar suara itu. “Hei, Pak Tua, ke mana saja kau…” tanyanya pada suara di dalam kepalanya. “Kau juga merasakannya, kan?”
“Ya,” jawab suara itu singkat. “Kau harus lebih berhati-hati, Lyra. Pemuda bernama Ray Zen itu sangat berbahaya.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
........Jangan Lupa Like dan Komennya Cesss........
........Selamat Membaca........
........Lanjut Terussss........
Cesss updatenya satu chapter dulu ya, soalnya mau libur puasa, jadi tugasnya pun menumpuk... Sorry kali ni...
reader yg setia masih menanti update yg terbaru