NovelToon NovelToon
Satya Wanara, Pendekar Toya Emas Angin Langit

Satya Wanara, Pendekar Toya Emas Angin Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Penyelamat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:904
Nilai: 5
Nama Author: Zaenal 1992

Di ambang keruntuhan Majapahit dan fajar menyingsingnya Islam di Nusantara, seorang pemuda eksentrik bernama Satya Wanara berkelana dengan tingkah laku yang tak masuk akal. Di balik tawa jenaka dan tingkah konyolnya, ia membawa luka lama pembantaian keluarganya oleh kelompok rahasia Gagak Hitam. Dibekali ilmu dari seorang guru yang lebih gila darinya, Satya harus menavigasi dunia yang sedang berubah, di mana Senjata bertemu doa, dan pedang bertemu tawa.

​Daftar Karakter Utama:

​Satya Wanara (Raden Arya Gading): Protagonis yang lincah, konyol, namun mematikan.

​Ki Ageng Dharmasanya: Ayah Satya, Panglima Telik Sandi Majapahit (Almarhum).

​Nyai Ratna Sekar: Ibu Satya, keturunan bangsawan yang bijak (Almarhumah).

​Eyang Sableng Jati: Guru Satya yang konyol dan sakti mandraguna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Warisan Sang Guru: Pusaka Langit Trowulan

Prajurit yang disebut "kumis sikat kuda" itu naik pitam. Ia menghunus pedangnya, namun Satya Wanara justru melakukan gerakan salto ke belakang, mendarat dengan satu kaki di atas pundak prajurit lainnya.

​"Aduh, pundakmu keras sekali, Kawan! Kurang pijat ya?" ejek Satya sambil menarik ikat kepala prajurit itu hingga menutupi matanya.

​Dalam sekejap, kekacauan pecah. Satya bergerak dengan pola yang tidak teratur—kadang merangkak di sela kaki lawan, kadang melompat tinggi dan bergantung di tiang-tiang pasar. Para prajurit itu mengayunkan senjata dengan kalap, namun mereka hanya menebas angin. Satya menggunakan teknik "Monyet Mencuri Buah", di mana ia meminjam tenaga dorongan lawan untuk menjatuhkan lawan lainnya.

​Brak! Gedubrak!

​Hanya dalam hitungan menit, lima prajurit itu bertumpuk di tanah seperti tumpukan karung beras. Satya berdiri di atas tumpukan itu, memetik sebutir jeruk dari dagangan pedagang yang ia tolong, lalu menggigitnya dengan santai.

​"Terima kasih jeruknya, Paman! Dan kalian... tidurlah yang nyenyak. Jangan lupa mimpi jadi orang baik!" ucapnya sambil tertawa lepas, lalu menghilang di balik kerumunan sebelum pasukan bantuan datang.

​Malamnya, Satya kembali ke gubuk tersembunyi di lereng bukit tempat ia tinggal bersama Eyang Sableng Jati. Sang guru sedang asyik membakar ubi sambil bersiul sumbang. Melihat muridnya pulang, Eyang Sableng berhenti bersiul dan menatap Satya dengan tatapan yang tidak biasanya—serius dan dalam.

​"Satya, kau sudah mulai bermain-main dengan api di kota," ujar Eyang Sableng, suaranya tidak lagi cempreng. "Darah Ki Ageng Dharmasanya dalam tubuhmu mulai bergejolak. Kau tidak bisa terus bertarung hanya dengan tangan kosong dan kayu biasa."

​Eyang Sableng berdiri, lalu berjalan menuju sebuah peti kayu tua yang tertutup lumut dan debu. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah bungkusan kain kuning keemasan yang sudah kusam.

​"Ini adalah Toya Emas Angin Langit," bisik Eyang.

​Toya itu adalah mahakarya pandai besi legendaris. Tubuh utamanya terbuat dari emas murni yang telah ditempa ribuan kali dan dicampur dengan meteorid hitam serta baja pilihan dari tanah perdikan. Perpaduan logam ini menciptakan warna emas yang sedikit gelap dengan guratan-guratan perak yang mengalir seperti urat saraf di sepanjang batangnya.

​Kedua ujung tongkat itu dilapisi campuran tembaga suci yang diukir membentuk kepala naga yang sedang mengaum. Saat Satya menggenggamnya, ia terkejut karena beratnya bisa berubah-ubah. Di tangan Satya, toya itu terasa seringan bulu, namun saat diayunkan, massa logam campurannya menciptakan dentuman angin yang sangat kuat.

​"Logam ini bukan sembarang logam, Satya. Ia mengandung elemen bumi yang bisa mematahkan pedang baja manapun, namun tetap luwes mengikuti gerakan 'Wanara'-mu. Emasnya tidak akan pernah pudar, persis seperti kebenaran yang kau bawa," Eyang Sableng menjelaskan sambil mengelus jenggotnya yang berantakan.

​Satya memutar Toya Emas tersebut di atas kepalanya. Suara dengungan logamnya terdengar seperti nyanyian ribuan lebah. Dengan gerakan nakal, ia menggunakan ujung emas tongkat itu untuk menggaruk punggungnya yang gatal.

​"Waduh! Berkilau sekali, Guru! Kalau aku sedang bokek, apa boleh aku potong sedikit ujungnya untuk beli sate di pasar?" canda Satya sambil menyengir lebar.

​Eyang Sableng hampir saja melemparkan ubi bakarnya ke wajah Satya. "Dasar bocah sableng! Jika kau lakukan itu, tongkat itu akan menjadi seberat gunung dan menghimpitmu sampai gepeng!"

​Satya tertawa terbahak-bahak, lalu dengan satu gerakan lincah, ia melompat ke dahan pohon tertinggi. Toya Emas Angin Langit itu ia ikat di punggung, berkilauan tertimpa cahaya bulan, siap menjadi saksi bisu atas pembalasan dendam yang akan ia lakukan dengan cara yang paling jenaka.

1
anggita
wah ada anggota Wali Songo juga😊.
anggita
oke lah👌👍
anggita
ikut dukung like👍iklan👆👆, buat author novel fantasi timur lokal. semoga lancar sukses novelnya.
anggita
nama teknik jurusnya unik😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!