Nareya, anak sulung bermimpi meniti karir di dunia fashion, harus merelakannya demi menjadi tulang punggung keluarga. Terlahir untuk berjuang sejak dini membuat dia tidak tertarik soal pernikahan.
Tidak menikah, berkecukupan, dan bisa membahagiakan keluarganya adalah keinginan sederhana Nareya. Tapi siapa sangka, dia justru menyetujui perjanjian pernikahan dengan mantan Bosnya?
Kala terlahir berdarah campuran membuatnya dicap sebagai noda. Demi pengakuan para tetua, dia menyeret Nareya dalam sebuah perjanjian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Beban Anak Pertama
Rapat hampir selesai, seperti biasa Kala selalu memeriksa setiap pekerjaan timnya.
“Laporan retur minggu ini kok belum ada. Siapa yang handle?… Nareya Alyssa?” tanya Kala dengan selembar kertas sebagai panduanya.
“Iya, saya, Nareya. Setelah rapat saya input, ini baru selesai di cek pagi ini”
Alis Kala naik satu, dia menampakan ekspresi tak bersahabatnya “Kamu lagi?”
“Datang paling akhir dan datanya juga paling akhir. Kita mau bahas ini pakai apa? Insting?” cecar Kala.
Ruangan berubah jadi hening, semua pura-pura sibuk dengan dokumen masing-masing. Tanggan Nareya mengepal kuat di pangkuan, ruangan jadi seolah menyempit.
“Data fisik nya memang baru selesai diverifikasi, Makanya…”
“Semua orang disini punya alasan. Bedanya mereka tidak membuat timeline semua orang berantakan” potong Kala
Kala tak habis pikir mengapa hal seperti ini perlu terjadi. Semua karyawan baru selama satu bulan sebelum bekerja mereka pun sudah mendapat pelatihan dan pembekalan. Jadi tidak ada alasan untuk memaklumi siapapun di tim nya untuk melewatkan tugas mereka.
“Baiklah, saya tanya langsung saja. Rate retur paling tinggi minggu ini dari item mana?” lanjut Kala bertanya.
Detik kedua Nareya belum menjawab, Kala tidak memberi ruang. “Alasanya apa?”.
Nareya yang hampir menjawab memilih diam, menunggu Kala selesai bicara.
“Kalau kamu benar-benar cek pagi ini harusnya kamu hafal”
“Kalau kamu gak siap, bilang dari awal, supaya nggak membuang waktu kita semua yang hadir di rapat ini. Saya bisa mendapatkan pengganti posisi mu kapanpun.”
Kalimat terakhir Kala cukup menyulut Nareya. Ada batas yang tidak boleh disentuh, ia menegang tapi bukan karena takut. Harga dirinya diusik di depan banyak mata. Itu sama sekali bukan sebuah ancaman baginya, justru sebuah tantangan.
“Item A-18” sergahnya dengan cepat sebelum semakin direndahkan oleh Kala.
“Alasanya karena packaging bocor di batch produksi Senin” ucap Nareya sengaja menjedanya
Ketika Kala hampir bersuara, lalu Nareya menyambar kembali persis seperti yang dilakukan Kala sebelumnya terhadap dia. “Saya sudah rekomendasi untuk hold di gudang kepada QC.” sekali lagi Nareya menjedanya.
Kembali mengulang trik nya, Nareya kembali bersuara di waktu yang tepat, tegas, tanpa terkesan meledak “ Kalau bapak butuh sekarang saya share draft nya”
Garis bibir Kala sedikit melengkung. Alih-alih langsung tunduk meminta maaf, wanita itu justru balik menyerang dengan sengaja meniru perbuatannya
Tak banyak membuang watu, Kala menyambar solusi yang ditawarkan Nareya “Kirim sekarang. Ingat, saya nggak suka yang kerjanya banyak alasan. Saya nggak mau manage orang yang tidak layak” ucapnya lalu meninggalkan ruangan tanpa memberi kalimat penutup rapat di tersebut.
***
Kantin kantor benar-benar penuh ketika jam makan siang dan Nareya selalu memilih di meja pojok. Apalagi kali ini ada makanan gratis dari kantor, biasanya karena ada yang merayakan kenaikan jabatan. Seperti pada umumnya kantin menjadi tempat berbincang, entah berkeluh, bernegosiasi, ataupun bergosip. Seperti yang dia lakukan saat ini, curhat dan bergosip dengan temannya sejak kecil. Tak menyangka bahkan setelah empat tahun berkuliah tak bertemu dengannya, justru bekerja di tempat yang sama.
“Lo tau pimpinan yang namanya Kala? Nyebelin banget sumpah.” tanya Nareya
“Jangan sampai punya masalah sama dia. Dendaman banget orangnya. Karyawan yang punya masalah sama dia pasti abis” ucap Agis.
“Lo ngasih telat ngasih tau, gue udah bermasalah sama dia. Nyebelin banget seolah gue bisa ditekan biar keliatan gak bisa jawab di depan semua orang, jelas gue bales balik tu orang.” adu Nareya.
“Tapi dia nggak penting, masalah dirumah lebih parah. Pulsa listrik abis, gue belum gajian. Gak kebayang gue bakal gelap dan gak pake listrik dua hari sampai gue gajian” lanjut Nareya langsung menceritakan kejadian di rumah saat pagi tadi kepada Agis sambil terus makan bakso yang dia sudah dia racik super pedas
Nareya bercerita seolah ingin meringankan bebanya. Seperti teman lama yang memang sudah sangat dia kenali hingga tak ada lagi batasan privasi, semua diceritakan. Semua kata-kata begitu mengalir lancar. Tapi Nareya juga tahu persis keadaan Agis bukan yang jauh berbeda denganya. Nareya bisa saja meminta pinjaman kepada Agis, tapi dia tidak melakukanya.
Agis mendengarkan dengan sabar, mengamati detail setiap ekspresi yang Nareya tampilkan malah menghiburnya. Bagaimana cerewetnya Nareya bercerita sambil terus lahap makan bakso. Tapi ada rasa yang kembali, seperti saat dulu semasa sekolah, menjadi orang yang pertama tahu apa yang dikeluhkan Nareya. Dia tidak bisa mendefinisikan rasa itu, sehingga tak ada yang pernah tau selain dirinya sendiri. Tapi ternyata gelitik dalam dada itu muncul lagi bahkan setelah sekian lama tak bertemu pelaku nya.
***
Lelahnya sepulang kantor belum reda, sampai rumah masih harus disambut hal yang sama. Kemudian melihat Wira sudah pulang lebih dulu, duduk di kursi rotan dengan kaki menjulur diatas meja. Asap mengepul keluar dari mulutnya dengan sebatang rokok di apit di jarinya. Kopinya sudah tinggal ampasnya. Rupanya sudah lama bersantai, tanpa terganggu sedikitpun dengan bunyi yang sama saat pagi tadi. Nareya menghela napas, tapi tiba-tiba hpnya bunyi, lalu menampilkan notifikasi yang membuat suasana hatinya seketika berubah.
Agis
Rey, abang gue nawarin lo buat ngajar les bahasa inggris muridnya, mau gak?
Nareya
Gue? Kok bisa?
Tapi mau banget gue
Agis
Iya, kewalahan dia pegang semua kelas. Les nya mulai nanti malem. Soal honor bakal langsung lo dapet per pertemuan.
Nareya
Ini malaikat apa temen gue dah? Makasih banyak ya Agis lo penolong gue banget
Gue emang lagi butuh banget.
Agis
Kesambet apaan? Bukan gaya lo banget
Nareya
Lo ngasih gue beban kerjaan? Yaelah, gue kerjain, santai
Agis
Nah itu baru lo. Jam 8 ya, nanti link meeting dikirim sama Kak Agam ya
Nareya
Siap bro
Nareya yang langsung dihubungi Agam, akhirnya melanjutkan mengirim pesan ke Agam. Dia langsung bersemangat, semuanya beban selalu terasa jadi lebih ringan setelah bercerita dengan Agis.
Tanpa menghiraukan Papanya, Nareya hanya melewatinya dan bergegas masuk ke rumah. Mempersiapkan semua materi untuk mengajar nanti. Ada harapan untuk bisa mengisi pulsa listrik sebelum padam. Kebetulan laptop, hp, dan beberapa powerbank pun sudah penuh daya karena dia sempat mengisinya di kantor.
***
Hari sudah gelap, semua berkumpul di ruang tengah. Wira merebah di sofa. Sundari membuat es mambo untuk stok jualan besok. Parama dan Athaya belajar dan mengerjakan tugas sekolahnya. Satu-satunya yang menggunakan listrik di rumah itu, hanyalah lampu yang menerangi mereka. Hanya Nareya yang bersuara selama dua jam berinteraksi dengan anak les bimbingan nya.
“That's all for today. I hope this session was helpful. Thank you for staying late and studying hard. Good night, everyone, and sleep well.” ucap Nareya sambil tersenyum dan melambai-lambai kan tangan nya, pertanda dia selesai mengajar.
Nareya sangat memang sangat suka mengajar, dan ini bukan pengalaman pertamanya. Dia langsung mengabarkan ke Agam kalau les nya sudah selesai. Agam memberitahu semua muridnya sudah mentransfer biaya les nya sebelum pertemuan dimulai secara mandiri. Senyum Nareya semakin mengembang, tapi tiba-tiba terdengar lagi bunyi “beep” dengan ritme lebih cepat. Nareya dengan gerak cepat membayar dan memasukan digit token listrik.
***
Nareya mulai menikmati rutinitas nya beberapa hari kebelakang, kerja di pagi hari dan lanjut mengajar les di malah hari. Bahkan yang biasanya hanya makan dua butir telur yang didadar untuk berlima, sekarang ayam goreng pun tersedia. Hasil kerja kerasnya dari pagi sampai malam terbayar dengan suasana ruang makan yang hangat dan adik-adik nya makan dengan lahap.
Pagi ini lengkap semua anggota rumah sarapan bersama. Tidak biasanya Wira turut duduk di ruang makan, ternyata memang ada hal serius yang dia bicarakan. Berita Wira di berhentikan oleh mandornya jadi hal paling berat untuk memulai hari. Menghancurkan kestabilan yang sudah Nareya usahakan selama ini.
“Lu kerja aja masih gak mencukupi kebutuhan keluarga, ini lu nganggur?!” teriak Sundari.
“Bukan kemauan papa juga itu karena memang banyak karyawan yang diberhentikan juga”
“Terus mau gimana? Anak dua ini masih sekolah, belum lagi rencana buat terapi Athaya… “
“Cukup Mah!” potong Nareya seketika Sundari menutup mulutnya, kelepasan.
Mereka dengan hati-hati menoleh ke arah Athaya yang sudah menunduk dengan bibir ditekuk, air matanya sudah menggenang di pelupuk mata.
“Papa pikir Nareya sudah cukup dewasa untuk mengerti, kalau papa sudah tua. Bersyukur Nareya sudah bisa kerja setelah kita kuliahkan. Papa kira juga Nareya gak akan keberatan kalau membalas budi orang tua kan?” sela Wira yang justru melempar beban ke anak pertamanya.
“Sementara Papa masih tetap akan cari kerjaan yang lebih baik lagi. Meskipun rasanya Papa sudah terlalu tua untuk bisa dapat pekerjaan yang bagus”
Nareya mendengar itu seolah sedang memikul batu yang besar. Sebagai anak pertama yang pertama kali merasakan realita kehidupan, sudah dihadapkan beban utama. Menjadi tulang punggung keluarga disaat dia belum pernah menikmati hasil kerja kerasnya. Bahkan sudah tak peduli lagi dengan cita-citanya.
“Yah memang keadaanya seperti ini, tapi walaupun anak perempuan, Nareya sudah bisa bekerja” ucap Wira
“Bekerja di tempat yang bagus, walaupun belum punya jabatan tinggi, tapi nanti juga bisa naik terus kan” ujar Sundari menimpali
“Dari pada kamu nurutin cita-citamu di fashion, yang masih belum jelas. Kalau di kantor kan sudah jelas digaji” lanjut Sundari.
“Mah, Pah, Nareya sudah selesai. Rama sama Athaya selesaikan makanya, nanti kita berangkat bareng” ucap Nareya beranjak dari ruang makan.
Wira dan Sundari hanya saling pandang.
Begitu banyak hal yang Nareya relakan dan perjuangkan, tapi tetap saja itu belum cukup untuk membeli rasa aman untuknya. Nareya di kamar hanya diam duduk diatas ranjangnya, mencerna apa yang baru saja dia dengar. Dia tidak memahami apa yang harus dia lakukan di umur 24, rasanya semuanya hanya usaha sia-sia. Dia menginginkan kebebasan dan kebahagiaan yang sepertinya hanya ilusi. Setahun pertama setelah kuliah saat dia mencoba bisnis fashion, banyak yang menyukai karyanya. Tapi disaat yang bersamaan menjadi titik terendahnya. Kondisi ekonominya tidak memungkinkan dia melanjutkan bisnisnya.