“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.
Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.
“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”
Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.
Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Mobil Sky berhenti tepat di depan gedung utama Lartika Group. Yura menatap bangunan kaca menjulang itu dengan perasaan yang kini jauh lebih ringan dibanding beberapa minggu lalu.
“Ayah ikut aku saja,” ucap Yura pelan sambil menoleh ke kursi belakang. Namun, pria paruh baya itu tersenyum lembut dan menggeleng.
“Ayah sudah lama ingin kembali ke rumah sendiri. Kamu tenang saja, rumah itu aman. Lagipula…” ia melirik Sky, “aku titipkan diriku padanya.” dia melirik Sky.
Sky mengangguk mantap. “Saya janji, Om. Tidak akan terjadi apa-apa.”
Yura terdiam sejenak. Ia menatap Sky, pria yang entah sejak kapan berdiri di sisinya tanpa banyak bertanya, tanpa memaksa, tanpa menuntut pengakuan. Akhirnya ia membuka pintu, turun dari mobil, lalu mencondongkan tubuh sedikit.
“Terima kasih,” ucapnya lirih.
Sebelum Sky sempat berkata apa pun, Yura berjinjit dan mengecup pipi pria itu dengan singkat. Hanya sepersekian detik namun cukup membuat Sky terdiam. Wajah Yura bersemu merah ketika menyadari apa yang baru saja ia lakukan, sementara Sky tersenyum tipis, hangat, seolah kecupan itu adalah janji yang tak perlu diucapkan.
“Hati-hati di jalan,” kata Yura akhirnya, berusaha kembali pada sikap profesionalnya.
Mobil Sky pun berbalik arah, membawa ayah tirinya pergi. Yura menatapnya sampai kendaraan itu menghilang di tikungan, lalu menarik napas panjang sebelum melangkah masuk ke gedung.
Di lantai atas, suasana kantor Lartika terasa tenang seperti biasa. Yura baru saja melepas jasnya ketika Mario datang menghampiri dengan wajah sedikit ragu.
“Nona,” ucap Mario hati-hati, “ada tamu yang menunggu di ruang VIP.”
“Siapa?” tanya Yura tanpa menoleh.
Mario terdiam sepersekian detik sebelum menjawab, “Nona Shasmita … dan Tuan Hans.”
Langkah Yura terhenti, tangannya yang hendak membuka pintu ruang kerja mengeras. Rahangnya menegang, sorot matanya berubah dingin. Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik dan melangkah menuju ruang VIP dengan langkah mantap namun begitu pintu itu terbuka, tubuhnya refleks berhenti.
Shasmita berdiri anggun di dekat jendela, sementara Hans duduk di sofa, kedua tangannya saling bertaut. Tatapan Hans langsung tertuju padanya tatapan yang sarat rasa bersalah, rindu, dan penyesalan yang tak terucap.
Yura hanya menatap mereka sekilas.
“Maaf,” ucapnya singkat, sudah berbalik badan. “Saya tidak menerima tamu tak diundang.”
Tangannya hampir menyentuh gagang pintu ketika Shasmita bergerak cepat dan menahan lengannya.
“Yura,” suara Shasmita lembut namun tegas. “Tolong, kali ini … dengarkan dulu.”
Yura menoleh perlahan. Tatapannya menusuk, dingin, tanpa emosi. “Aku sudah mendengarkan terlalu banyak kebohongan dalam hidupku, Nona Shasmita.”
Hans bangkit dari duduknya. “Aku tidak datang untuk memaksamu kembali. Aku juga tidak datang sebagai pewaris Wijaya.”
Yura menertawakan itu, pendek, dan sinis. “Lalu sebagai apa?”
“Sebagai seseorang yang terlambat menyadari kesalahannya,” jawab Hans jujur. “Dan sebagai kakak yang gagal.”
Keheningan menggantung di ruangan itu.
Yura menatap Hans lama, lalu perlahan menarik lengannya dari genggaman Shasmita. Ia berjalan masuk dan menutup pintu, tapi bukan sebagai tanda penerimaan melainkan keputusan untuk mengakhiri semuanya dengan caranya sendiri.
“Katakan,” ucap Yura dingin sambil duduk berhadapan dengan mereka. “Apa yang ingin kalian ambil dariku kali ini?”
Shasmita dan Hans saling pandang.
Hans berdiri perlahan. Tangannya sedikit gemetar ketika ia mengeluarkan sebuah map cokelat dari tas kerja yang dibawanya sejak tadi. Map itu terlihat biasa saja, namun isinya mampu mengguncang hidup siapa pun yang membacanya.
“Yura…” suara Hans tertahan. “Aku tidak akan memaksamu percaya dengan kata-kataku. Karena itu … aku membawakan bukti.”
Ia meletakkan map itu di atas meja kaca di hadapan Yura, lalu mendorongnya pelan. Yura tidak langsung menyentuhnya. Tatapannya datar, nyaris kosong, seolah apa pun yang ada di dalam map itu tak lagi penting.
“Tes DNA,” lanjut Hans lirih. “Antara kamu dan Ibu.”
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Akhirnya, Yura meraih map itu. Jemarinya membuka berkas satu per satu dengan gerakan terlalu tenang untuk seseorang yang sedang dihadapkan pada kebenaran asal-usul hidupnya sendiri.
Matanya berhenti pada satu baris kalimat.
Yura menghembuskan napas pelan. Bibirnya melengkung namun bukan senyum bahagia. Senyum itu rapuh, getir, dan penuh luka yang tak pernah sembuh.
“Jadi … ini bukti yang ingin kau banggakan?” ucapnya akhirnya.
Hans menatapnya penuh harap. “Yura, kamu—”
“Cukup.” Yura menutup map itu dan mendorongnya kembali ke arah Hans. “Mau Anda bersujud di hadapanku pun, aku tidak pernah ... dan tidak akan pernah menganggap Anda bagian dari hidupku.”
Ucapan itu menghantam Hans tanpa ampun.
Yura bangkit dari duduknya. Matanya menatap Hans lurus, tanpa gentar, tanpa air mata.
“Satu hal yang paling aku sesali dalam hidupku,” lanjut Yura dingin, “adalah … dilahirkan dari keluarga yang kejam seperti kalian.”
Hans tercekat, dadanya terasa sesak.
“Kau tahu apa hidupku selama ini?” Yura tersenyum tipis, pahit.
“Tiga tahun aku jadi pengantin pengganti di keluarga Arga. Bertahun-tahun sebelumnya, Putri membuat hidupku seperti di neraka dan kau?” Yura tertawa kecil.
“Kau berdiri di belakangnya. Kau membenarkan kejahatannya. Kau membiarkan aku diinjak, dihina, hampir dihancurkan.”
"Meksipun aku bukan putri kandung Wijaya, kalian tidak berhak menghakimi orang lain atas kesalahan yang mereka tak perbuat, hanya karena Kalian keluarga konglomerat!"
Hans membuka mulut, namun tak ada satu pun kata yang mampu keluar.
“Aku lebih baik mati,” suara Yura menajam, “daripada hidup dengan mengakui diriku sebagai adikmu.”
Setiap kata Yura seperti pisau yang menusuk tanpa ragu. Ia berbalik, melangkah menuju pintu.
“Yura!” Hans berteriak, refleks mengejarnya.
Namun, sebelum Hans sempat mendekat, Mario sudah berdiri di hadapan Yura, menghadang dengan tubuh tegap dan tatapan tegas.
“Cukup, Tuan Hans,” ucap Mario dingin. “Nona Yura tidak ingin diganggu.”
Hans terhenti, matanya memerah, napasnya berantakan.
“Yura … tolong,” suaranya melemah. “Aku hanya ingin menebus kesalahanku.”
Langkah Yura tidak berhenti. Bahkan kepalanya pun tidak menoleh.
Shasmita mendekat ke sisi Hans, menahan lengannya yang gemetar.
“Hans,” katanya pelan namun tegas, “bersabarlah, luka Yura terlalu dalam. Tidak ada yang bisa kau paksa.”
Jujur, baru kali ini, saya baca tanpa Skip ❤️😃😘
Jalan ceritanya sederhana tanpa banyak Drama yang bikin nampol😩🤣🤣🤣
Ceritanya bagus, karakter Yura bukan wanita lemah, lebay, plin plan, manja / jadi Goblok karna bucin. 👍👍
😭 kali ini bikin Arga + Putri menyesal sampai berdarah darah 😡
Harusnya kalau memang pemeran wanita nya pintar, uang 100M tidak ada artinya. Tapi ya gitu lah.. Terserah Author aja.. 😃
Palingan saya bacanya banyak di Skip aja.. 🙄🤔
apa yg di cari Yura selain donor untuk ayah nya sedangkan sebagai lartika dia org berpengaruh+ bergelimpangan
Karya Abian yng mana yak ?? 🙏
endingnya hepi semua
terima kasih