NovelToon NovelToon
TIRAKAT 2

TIRAKAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Tumbal
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Berdasarkan kisah nyata.

Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.

Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?

SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!

Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEBUAH PENGAJARAN HIDUP

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂

Semilir angin berhembus tenang dan sejuk. Lalu tercium aroma bunga kantil yang begitu harum, namun datang begitu halusnya.

"Ada apa engkau memanggilku Nisa?" ucap Dayang Putri saat dengan perlahan ia hadir di dekatku.

"Tidak apa-apa Dayang Putri. Aku hanya ingin ditemani olehmu saja malam ini." jawabku sambil tersenyum padanya.

"Aku mengetahui apa yang sedang kau rasakan Nisa. Kau tak bisa membohongiku."

"Ah... Kapan sih Dayang Putri tidak bisa mengetahui perasaanku?"

"Bagaimana caranya supaya aku tak bisa mengetahui perasaanmu?

"Hihihi... Iya deh... Emang susah buat merahasiakan sedikit aja perasaanku darimu Dayang Putri..."

Aku tertawa tipis, Dayang Putri pun tersenyum melihatku.

Beberapa detik kemudian, aku dan Dayang Putri saling menatap dalam diam. Kupandangi wajah cantiknya, dengan kedua bola matanya yang berwarna hijau cerah. Ditambah adanya sinar bulan sabit dan hiasan bintang di atas langit.

"Katakanlah Nisa... Apa yang ingin kamu bicarakan denganku sekarang..." ucapnya kemudian, masih dengan tatapan matanya yang tajam namun terasa lembut bagiku.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

Aku berdiri. Berjalan menghampiri Dayang Putri. Dan dengan sengaja ku lewati begitu saja tubuhnya. Tubuhku bisa menembus tubuhnya.

Aku sekarang berdiri di belakangnya. Menatap lurus ke arah bulan sabit dan seluruh bintang di langit.

"Dayang Putri..." ucapku sambil membelakanginya.

"Iya Nisa..."

"Kurasa kau sudah tau bahwa aku akan pergi jauh..."

"Iya. Aku sudah tau itu."

"Itulah yang sekarang sedang memenuhi perasaanku Dayang Putri."

Dia tak menjawab. Beberapa detik kemudian, sosoknya berjalan dan ikut berdiri di samping kananku. Dayang Putri menatap juga ke arah langit. Gestur tubuhnya sama persis dengan tubuhku.

Lalu Dayang Putri berkata...

"Manusia pasti akan dihadapkan dengan sebuah keputusan dalam hidup mereka. Begitu juga dengan bangsaku."

Aku menoleh ke arahnya. Bermaksud mendengarkan apa yang akan selanjutnya ia katakan.

"Aku memutuskan untuk menjadi perewangan Ibumu. Dan kini aku berpindah menjadi perewanganmu Nisa. Itulah keputusanku." ucapnya.

"Apakah Dayang Putri bisa menolak itu?"

"Tidak akan pernah Nisa."

"Kenapa?"

"Karena aku hadir dengan sebuah tugas. Dan menemanimu adalah tugasku."

"Hm... Apakah Dayang Putri pernah merasa menyesal selama menjadi perewanganku?"

"Tidak pernah Nisa. Justru aku bahagia."

"Kenapa?"

"Karena aku bisa hidup sesuai dengan keputusan yang ku pilih."

Beberapa saat aku masih memandang wajahnya. Ekspresinya terasa berbeda malam ini saat ia mengutarakan perasaannya.

Aura di wajahnya terasa lebih kuat. Dan aku seperti langsung memahami. Bahwa apa yang telah Dayang Putri ucapkan tadi adalah sebuah pengajaran padaku.

Seolah dirinya ingin menunjukkan bagaimana hidup itu harus dijalankan, tapi tanpa bahasa yang menggurui diriku.

Dan aku kembali menatap langit. Kemudian ku respon semua penjelasannya...

"Baiklah Dayang Putri... Aku paham apa yang kau ajarkan padaku..."

Tampak giliran Dayang Putri yang menatapku, sedangkan aku menatap langit di atas sana.

"Aku tau kau semakin bijak. Dan semakin dewasa pikiranmu Nisa."

"Hehehe... Terima kasih Dayang Putri."

Beberapa saat kami berdua kembali memandang langit yang sama. Tanpa bicara. Hanya berdiri berdua.

Hatiku semakin bisa memahami juga apa yang telah disampaikan oleh bapakku saat mengobrol tadi. Karena ternyata Dayang Putri pun mengajarkan hal yang sama.

Aku sudah dewasa. Aku sudah seharusnya bisa membuat sebuah keputusan yang lebih besar dalam hidupku. Demi kebaikan diriku, bapakku, dan juga untuk kebaikan orang banyak di sekitarku.

Tiba-tiba, ditengah ketenangan ini, terlintas dalam pikiranku sebuah pertanyaan. Apakah Dayang Putri akan tetap menemaniku jika aku memutuskan untuk pergi ke Jawa Timur?

Aku menoleh kepadanya, hendak mempertanyakan itu, tapi...

"Aku akan selalu bersamamu Nisa..." ucapnya sambil menoleh juga kepadaku. Menatap kedua mataku. Dengan tersenyum begitu manisnya.

Padahal aku baru saja ingin membuka mulut untuk bertanya, ternyata langsung dijawab oleh Dayang Putri.

"Hihi... Terima kasih Dayang Putri..." balasku dengan tersenyum juga.

Dan... Tiba-tiba saja aku ingin mengetes dirinya. Aku agak usil. Dalam pikiranku, aku ingin bertanya juga padanya tentang sosok Gilang yang sudah tak pernah aku lihat.

Dan benar saja, Dayang Putri langsung menjawab tanpa ku ucapkan pertanyaannya...

"Jangan pernah kau tanyakan dia lagi Nisa. Aku sudah membantumu agar dia tak mengganggu lagi."

"Hehehe..." responku terkekeh kecil.

"Masih banyak hal lain yang bisa kau tanyakan padaku. Entah kau ucapakan atau tidak pertanyaannya."

"Iya-iya... Maaf..." jawabku.

Aku kembali bertanya juga akhirnya, "Em... Dayang Putri, apakah dirimu bisa menjelajah lebih jauh?"

"Bisa... Dan aku tau alasanmu kenapa bertanya seperti itu Nisa."

"Iya... Baiklah... Bisakah kau melakukannya untukku?"

"Menjelajah ke tempat yang akan menjadi rumah barumu kelak?"

Aku agak kaget dengan respon Dayang Putri itu.

Apa maksudnya dia bilang rumah baruku?

Padahal jika aku benar-benar memutuskan untuk ke Jawa Timur, murni itu sebagai sebuah pengabdianku. Dan juga untuk menjalankan tugas dari Ustadz Furqon.

"Maksudnya? Rumah baruku? Gimana?"

"Kelak kamu akan tau apa maksudku..."

"Eh... Kasih tau aku dong... Jadi penasaran aku..."

"Tidak baik jika bangsa manusia sepertimu bisa mengetahui masa depan yang belum terjadi."

Aku semakin bingung dan agak sedikit merasa iri dengan kemampuan Dayang Putri itu.

"Nisa..."

"Iya Dayang Putri?"

"Aku akan lakukan perintahmu."

"Hah? Perintah apa?"

"Untuk menjelajah ke daerah yang kamu maksud tadi."

"Loh, tunggu, aku belum perintahkan itu loh Dayang Putri. Aku tadi kan juga bertanya aja. Apakah bisa Dayang Putri menjelajah lebih jauh..."

"Bagiku pertanyaanmu itu baik. Dan itu menjadi perintah untukku Nisa."

"Eh, kok gitu?"

Dayang Putri tak menjawab lagi. Dan justru dengan perlahan sosoknya menghilang dari pandanganku.

"Dayang Putri?! Tunggu... Aku bukan perintahkan kamu untuk---"

Kalimatku tak selesai ku ucap. Karena sosoknya kini benar-benar menghilang.

Seketika aku merasa tak enak hati. Aku belum pernah memerintahkan sesuatu pada Dayang Putri. Ini baru pertama kalinya ia melakukan itu.

Tapi sungguh, aku tak bermaksud memerintahkan itu. Tapi... Ya sudahlah...

Karena sosoknya juga sudah menghilang, lantas aku berkata dalam hati...

"Terima kasih ya Dayang Putri..."

Setelah itu, aku tiba-tiba menguap. Tanda bahwa tubuhku memberikan sinyal agar aku segera beristirahat.

Aku akhirnya berjalan masuk ke dalam rumah. Dan ku kunci pintunya.

"Nisa... Tidur... Udah malem loh ini!"

Bapak berkata itu dari dalam kamarnya saat mendengar aku mengunci pintu.

"Iya Pak, ini aku mau tidur kok..." sahutku sambil berjalan menuju kamar.

Dan kurapikan dahulu kasurku, melepas jilbab, mengganti baju dengan baju tidur. Dan aku segera merebahkan tubuhku.

Tak lupa juga aku berdo'a, mengirimkan do'a juga untuk almarhumah ibu, do'a untuk bapak...

Dan juga... Untuk Dayang Putri...

1
Akbar Aulia
Nisa Baek" ya disana nanti
Ayuk Witanto
lanjut
Ayuk Witanto
tinggal nunggu keberangkatan
Ayuk Witanto
lanjut
Ayuk Witanto
sepertinya bisa nanti akan menetap di Jawatimur sama iko
Ayuk Witanto
Alhamdulillah di kasih ijin
Ayuk Witanto
lanjut
Ayuk Witanto
pasti si iko ada rasa sama kamu nis
Ayuk Witanto
si Gilang minta di getok tuh...makin lama makin jail gak bisa di kasiani
Ayuk Witanto
bener2 si Gilang
Ayuk Witanto
kerasukan
Ayuk Witanto
si Gilang harus di musnahkan
Ayuk Witanto
si Gilang perlu di pulangkan
Ayuk Witanto
si Gilang ini meresahkan
Ayuk Witanto
kok agak aneh ya
Ayuk Witanto
rumahnya di pucuk
Ayuk Witanto
Risa sakit apa yah
Ayuk Witanto
mencurigakan...kok tau dayang putri
Ayuk Witanto
kok ngomongnya gitu si risa
Ayuk Witanto
pasti saudara pak Handoyo punya pesugihan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!