NovelToon NovelToon
Bayangan Di Ujung Takdir

Bayangan Di Ujung Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: dyrrohanifah

Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.

Di sanalah Qing Lin tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7 fondasi yang berdarah tipis

Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.

Qing Lin duduk bersila di atas tikar jerami, punggungnya tegak, kedua tangan diletakkan di atas lutut. Napasnya teratur, masuk dan keluar dengan ritme yang sudah melekat di tubuhnya sejak beberapa hari terakhir.

Namun kali ini berbeda.

Qi yang bergerak di dalam tubuhnya tidak lagi seperti kabut tipis yang mudah tercerai. Ia masih lemah, masih sedikit, tapi kini terasa memiliki arah—seperti aliran air yang mulai mengenali jalurnya sendiri.

Qing Lin menutup mata.

Ia tidak mencoba menarik lebih banyak.

Ia hanya mempertahankan apa yang ada.

Tarik napas.

Qi bergerak.

Hembuskan perlahan.

Qi mengikuti.

Siklus itu berulang.

Di setiap putaran, ia merasakan sesuatu yang samar di bawah pusarnya—sebuah titik kecil, dingin, namun stabil. Tidak bercahaya. Tidak berdenyut kuat. Hanya ada, seperti batu kecil yang tertanam dalam tanah.

Qing Lin tidak tahu istilah dantian.

Namun tubuhnya sedang membangunnya.

Perlahan.

Tanpa izin dunia.

Tiba-tiba, dada Qing Lin terasa sesak.

Bukan karena qi memberontak, melainkan karena kenangan.

Bayangan serigala muncul di pikirannya—mata kuning, darah hangat, napas terakhir yang terputus di tenggorokan binatang itu.

Qi di tubuhnya bergetar.

Sedikit.

Qing Lin membuka mata.

Ia mengerutkan kening.

“Jangan,” bisiknya.

Ia tidak ingin kekuatan yang datang dari darah itu menguasai pikirannya.

Ia menarik napas lebih dalam, memaksa pikirannya tenang.

Dan di saat itulah—

Sutra Darah Sunyi merespons.

Tidak seperti sebelumnya.

Tidak hanya berdenyut.

Ada sensasi.

Seolah lapisan tipis terbuka di dalam kesadarannya.

Bukan suara.

Bukan kata-kata.

Melainkan pemahaman kasar yang langsung tertanam di tubuhnya.

Darah adalah jembatan.

Namun jembatan tidak harus dilalui dengan rakus.

Qing Lin tersentak.

Ia hampir membuka mata, tapi menahan diri.

Keringat dingin mengalir di pelipisnya.

Qi di tubuhnya mulai bergerak membentuk pola yang lebih jelas—tidak acak, tidak liar, tapi juga tidak sepenuhnya terkendali. Setiap kali ia mengingat darah serigala, qi itu menguat. Setiap kali ia menenangkan pikirannya, alirannya menjadi lebih halus.

“Jadi… begini caranya,” gumamnya pelan.

Bukan membunuh untuk menjadi kuat.

Melainkan memikul akibatnya.

Malam berlalu.

Saat Qing Lin akhirnya membuka mata, fajar sudah mendekat.

Tubuhnya terasa berat, seolah baru saja berjalan jauh.

Namun di balik rasa lelah itu, ada perubahan nyata.

Qi di tubuhnya tidak menghilang saat ia berdiri.

Ia tetap ada.

Menyatu.

Qing Lin bangkit perlahan dan keluar rumah.

Udara pagi dingin menyentuh wajahnya. Langit masih pucat, tapi cahaya sudah mulai muncul di balik pegunungan.

Ia mengambil ember dan pergi ke sumur.

Langkahnya mantap.

Tidak cepat.

Tidak lambat.

Seorang pemburu desa yang sedang lewat berhenti sejenak, menatap Qing Lin dengan alis berkerut.

“Kau…” pemburu itu ragu. “Apa kau bertambah tinggi?”

Qing Lin menggeleng. “Tidak.”

Pemburu itu menggaruk kepala. “Entahlah. Rasanya kau terlihat… berbeda.”

Qing Lin hanya tersenyum kecil.

Ia tahu apa yang dimaksud.

Namun ia juga tahu—perbedaan sekecil ini belum cukup untuk menarik bencana.

Atau setidaknya, ia berharap begitu.

Siang hari, Qing Lin pergi ke hutan lagi.

Bukan untuk berburu.

Ia memilih jalur yang lebih dalam, lebih sepi, hingga tiba di tempat ia mengubur serigala beberapa hari lalu.

Tanahnya masih agak cekung.

Ia berdiri lama di sana.

Tidak ada qi yang keluar.

Tidak ada kabut merah.

Namun saat ia menutup mata dan bernapas, ia merasakan sisa-sisa yang hampir lenyap—jejak darah yang telah menyatu dengan tanah.

Qing Lin membuka mata.

“Aku tidak ingin membunuh,” ucapnya pelan. “Tapi aku juga tidak ingin mati.”

Angin berdesir.

Tidak ada jawaban.

Ia duduk bersila di bawah pohon tua, mencoba mengulang meditasi malam tadi.

Namun kali ini, ia memasukkan satu hal lagi ke dalam napasnya—

kesadaran.

Setiap tarikan qi disertai niat menahan.

Setiap dorongan untuk mempercepat, ia tekan kembali.

Waktu berjalan.

Qi di tubuhnya menguat sedikit demi sedikit, tapi jauh lebih stabil dibanding sebelumnya.

Saat ia berdiri, sebuah perubahan kecil terjadi.

Kulitnya terasa lebih padat.

Pendengarannya sedikit lebih tajam.

Dan yang terpenting—

ia tidak merasa haus akan darah.

Qing Lin menghela napas lega.

Namun di kejauhan, tanpa ia sadari—

di atas bukit kecil yang menghadap Desa Qinghe, seseorang berdiri.

Seorang pemuda berjubah biru tua, lencana awan perak tergantung di dadanya. Ia memejamkan mata, merasakan angin.

“Masih ada,” gumamnya. “Samar… tapi tidak hilang.”

Ia membuka mata, menatap ke arah desa.

“Bukan binatang iblis,” katanya pelan. “Dan bukan kultivator biasa.”

Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

“Menarik.”

Saat matahari tenggelam hari itu, Qing Lin kembali ke rumah tanpa tahu apa pun.

Ia hanya tahu satu hal:

Fondasi di tubuhnya telah terbentuk.

Rapuh.

Sunyi.

Dan membawa bekas darah yang tidak bisa dihapus.

Sementara itu, dunia—

perlahan mulai menoleh ke arahnya.

1
asri_hamdani
jauh sekali lompat ceritanya 🙏
Rohanifah: biar cepet end ga sih,
total 1 replies
asri_hamdani
Hmmm🤔 awal yang menarik
asri_hamdani
Awal mula yang menarik 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!