NovelToon NovelToon
Glitz And Glamour

Glitz And Glamour

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Duniahiburan / Percintaan Konglomerat / Fantasi Wanita / Berondong / Playboy / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di jagat hiburan, nama Leonard Abelano bukan sekadar aktor, dia adalah jaminan rating. Setiap drama yang dibintanginya pasti menyentuh angka dua digit. Leo, begitu publik memanggilnya, punya segalanya: struktur wajah yang dipahat sempurna, status pewaris takhta bisnis Abelano Group, dan sebuah reputasi yang membuatnya dijuluki "Duta Kokop Nasional."

Bagi penonton, cara Leo mencium lawan mainnya adalah seni. Namun bagi Claire Odette Aimo, itu adalah ancaman kesehatan masyarakat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

jadwal olahraga

Eleanor memang anomali di NYIS. Di balik kacamata tebal dan sikap kutu bukunya, semua orang tahu kalau dia adalah "Dewi" yang tersembunyi.

Berbeda dengan Stevani dan gengnya yang hobi pamer lekuk tubuh dengan seragam ketat, Eleanor lebih suka tenggelam dalam buku-bukunya.

Namun, seragam olahraga yang pas di badan tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa Eleanor memiliki lekuk tubuh yang jauh lebih mematikan, curvy dan berisi di tempat yang tepat.

Siang itu, jadwal olahraga baru saja selesai. Eleanor masuk ke ruang ganti yang mulai sepi. Ia tidak tahu kalau Stevani sudah menyiapkan rencana busuk.

Stevani sengaja mengunci pintu dari luar dan mematikan lampu, lalu mulai melepaskan beberapa ekor tikus besar ke dalam ruangan gelap itu, hal yang paling ditakuti Eleanor.

"Gue Bilang Buka Pintunya!"

Sean sedang berjalan di koridor belakang ruang ganti, berniat bolos ke rooftop bersama Aber. Langkahnya terhenti saat mendengar suara teriakan histeris dan hantaman pintu dari dalam ruang ganti wanita.

"Stevani, buka! Gue tahu ini kerjaan Lo!" teriak Eleanor dari dalam, suaranya bergetar hebat.

Sean melihat Stevani dan dua temannya tertawa cekikikan di depan pintu yang diganjal balok kayu.

Mata Sean menggelap. "Apa-apaan nih?"

Stevani menoleh, wajahnya pucat melihat Sean. "Eh, Sean... Ini cuma bercandaan biasa, kok—"

"Buka pintu atau gue patahin tangan Lo sekarang juga," potong Sean dengan suara rendah yang sangat mengancam.

Stevani gemetar dan langsung menyingkirkan balok kayu itu lalu lari terbirit-birit.

Sean menendang pintu hingga terbuka lebar. Ruangan itu gelap gulita. Ia mendengar suara isakan di pojok ruangan. Begitu Sean menyalakan lampu, ia melihat Eleanor sedang berdiri di atas bangku, wajahnya pucat pasi, matanya sembab karena ketakutan melihat tikus-tikus yang berlarian di bawah.

Tanpa pikir panjang, Sean berjalan mendekat. Sebelum ia sempat bicara, Eleanor yang sudah kehilangan logika karena fobianya langsung melompat turun dan menghambur ke pelukan Sean.

Eleanor memeluk leher Sean dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang cowok itu. Sean mematung. Ini pertama kalinya ada wanita yang memeluknya bukan karena ingin menggoda, tapi karena benar-benar butuh perlindungan.

Sean bisa merasakan tubuh Eleanor yang berisi dan empuk menempel sempurna di tubuhnya. Wangi vanila dan buku lama khas Eleanor menyeruak ke indra penciumannya.

"Tenang, Riccardo. Gue di sini," bisik Sean. Anehnya, nada suaranya yang biasanya kasar mendadak melembut. Tangannya yang besar perlahan mengusap punggung Eleanor yang bergetar.

Eleanor masih terisak, tangannya meremas kaus olahraga Sean dengan kuat. "Jangan pergi... ada tikus di sana, Sean... tolong..."

Sean menyeringai tipis, namun bukan seringai jahat. Ia justru merasa sangat posesif saat ini. "Gue nggak bakal pergi. Lo aman sama gue."

Sean kemudian mengangkat tubuh Eleanor dalam gendongannya, bridal style. Eleanor yang masih ketakutan refleks melingkarkan lengannya di leher Sean, membuat dada mereka semakin rapat.

Sean bisa merasakan betapa montoknya tubuh Eleanor di balik balutan seragam olahraga yang ketat itu.

"Sean... lepasin gue kalau udah di luar," gumam Eleanor pelan, wajahnya memerah karena malu menyadari dia baru saja memeluk musuh bebuyutannya.

"Tergantung," jawab Sean pendek sambil berjalan keluar menuju UKS. "Tergantung seberapa manis mulut Lo nanti setelah gue selamatin."

Sesampainya di ruang UKS yang sepi, Sean menurunkan Eleanor ke atas ranjang dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat.

Suasana yang tadinya mencekam karena insiden tikus, mendadak berubah menjadi canggung dan panas.

Eleanor segera melepaskan tangannya dari leher Sean, berusaha merapikan seragam olahraganya yang sedikit berantakan. Wajahnya masih sembab, tapi harga dirinya mulai kembali.

"Thanks udah bantuin gue," gumam Eleanor tanpa berani menatap mata Sean. "Tapi jangan pikir ini bakal ngerubah pandangan gue soal sifat kasar Lo."

Sean tidak langsung pergi. Ia justru berdiri di antara kedua kaki Eleanor, mengunci pergerakan gadis itu dengan kedua tangannya yang bertumpu di pinggiran ranjang. Ia menunduk, menatap Eleanor dengan seringai iblis yang sangat menyebalkan.

"Galak lagi? Padahal tadi Lo meluk gue kayak nggak mau lepas," goda Sean, suaranya rendah dan serak. "Lo meluk gue kencang banget sampai gue bisa ngerasain semuanya, Riccardo."

Eleanor membelalak, wajahnya memerah padam. "Maksud Lo apa?! Gue panik karena tikus, ya!"

Sean tertawa pelan, tawa khasnya yang terdengar sangat sombong. Ia memajukan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan.

"Jujur aja ya, gue kecewa," cetus Sean tiba-tiba.

"Kecewa kenapa?" tanya Eleanor bingung.

Sean menatap tubuh Eleanor dari atas ke bawah dengan tatapan menilai yang kurang ajar.

"Rumor di sekolah bilang Lo itu Dewi tersembunyi dengan tubuh paling oke. Tapi setelah ngerasain badan Lo nempel di badan gue tadi..." Sean menjeda kalimatnya, lalu menggelengkan kepala seolah prihatin.

"Apa?!"

"Menurut gue... bokong Lo kurang empuk, Riccardo. Dan itu..." Sean melirik ke arah dada Eleanor yang masih naik turun karena emosi. "Kayaknya terlalu kecil buat ukuran tangan gue. Lo kurang gizi atau gimana?"

Eleanor terperangah. Mulutnya menganga saking tidak percayanya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Lo... Lo bener-bener orang gila! Lo baru aja ngelecehin gue?! Keluar Lo dari sini!"

Eleanor mencoba mendorong dada bidang Sean, tapi Sean tidak bergeming sedikit pun. Cowok itu malah menangkap kedua pergelangan tangan Eleanor dan menguncinya di atas kepala.

"Gue nggak ngelecehin, gue cuma kasih ulasan jujur," bisik Sean tepat di bibir Eleanor.

"Makanya, kalau mau tebar pesona, badan Lo diurus dulu. Tapi anehnya... biarpun kurang menurut standar gue, kenapa jantung gue malah berisik banget pas Lo peluk tadi, yah?"

Sean melepaskan tangan Eleanor, lalu berdiri tegak seolah tidak terjadi apa-apa.

Ia merapikan rambutnya yang berantakan, lalu berbalik menuju pintu.

"Makan yang banyak, Riccardo. Biar pas besok-besok Lo meluk gue lagi karena takut tikus, gue bisa ngerasain ulasan yang lebih bagus," ucap Sean sambil melambai tanpa menoleh, meninggalkan Eleanor yang meledak karena amarah sekaligus rasa malu yang luar biasa.

"SEAN MANUEL! GUE BENCI BANGET SAMA LO!" teriak Eleanor, melempar bantal UKS ke arah pintu yang sudah tertutup.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰 😍

1
Retno Isusiloningtyas
happy ever after
Retno Isusiloningtyas
aku kok blm nerima undangannya yaaa🤭
ros 🍂: Ntar dikirimin ya kak undangannya 🤣
total 1 replies
Retno Isusiloningtyas
wow...
keren....
Retno Isusiloningtyas
seruuuuuu👍
Retno Isusiloningtyas
😍
Sweet Girl
Buktikan. Claire... dr pada mati penasaran.
Sweet Girl
Bwahahaha dibilang Duta Kokop.🤣
sasip
ngeri loh kalimat pernyataan leo: "satu²nya skenario yg ingin dipelajari sampe mati".. mantab jiwa.. 👍🏻🫣😉🤭😅
sasip
enggak nyangka ei.. novel sebagus ini masih sepi pembaca.. sy yg awalnya cuma iseng mampir gegara liat cover yg provokatif pun terhipnotis & kepengen baca terus, tapi sempetin mampir deh buat memberi semangat othor keren.. 👍🏻 TOP pake banged.. lanjut ya thor.. 🫶🏻💪🏻🫰🏻
ros 🍂: Ma'aciww sudah mampirr😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!