Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.
"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira
"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara
"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Matahari di Balik Jendela
Gedung SMA cakrawala selalu terasa terlalu berisik bagi indra pendengaran Aira. Suara decit sepatu di lantai koridor, tawa yang meledak di kantin, hingga dentuman bola basket di lapangan, semuanya terasa seperti gangguan bagi ketenangan yang susah payah Aira bangun sejak dari rumah.
Bagi orang lain, keramaian adalah kehidupan. Bagi Aira, keramaian adalah pengingat betapa sunyinya ruang tamu di rumahnya.
Aira duduk di kursinya, barisan kedua dari depan. Ia sudah membuka buku paket Fisika, meski bel masuk baru akan berbunyi sepuluh menit lagi. Ia tidak suka "menganggur". Baginya, pikiran yang kosong adalah ruang bagi ingatan-ingatan pahit untuk masuk. Jadi, ia menyibukkan diri. Selalu.
"Syaira! Lihat catatan nomor empat dong, gue belum selesai nyalin yang kemarin," suara itu datang dari Rini, teman sebangkunya yang hanya akrab jika ada tugas.
Aira menggeser bukunya tanpa suara. Ia tidak keberatan. Memberi catatan adalah cara termudah untuk berinteraksi tanpa harus berbincang terlalu dalam.
"Tumben lo rajin banget pagi-pagi, Sya. Padahal jam pertama kosong, kan? Pak mulyono lagi ada rapat katanya," lanjut Rini sambil mulai menulis cepat.
"Kosong?" Aira mendongak. Jemarinya yang memegang pena berhenti sejenak. "Bukannya harusnya diganti tugas mandiri?"
Rini tertawa kecil. "Ya elah, lo mah tugas mulu. Santai kali. Eh, lihat deh di lapangan. Itu si Yasa lagi dihukum apa emang lagi rajin, ya?"
Aira mengikuti arah pandang Rini ke jendela besar di samping kelas mereka. Di bawah sana, di tengah lapangan yang mulai memanas oleh terik pukul tujuh pagi, seorang laki-laki berdiri tegak.
Itu Abyasa Raditya.
Dia sedang mengarahkan barisan anak-anak kelas sepuluh yang terlambat. Suaranya tidak terdengar sampai ke lantai dua, tapi dari gerak tubuhnya yang tegas dan punggungnya yang tegap, Aira bisa merasakan otoritas yang kuat. Sinar matahari seolah sengaja jatuh tepat di atas kepalanya, membuat seragam putihnya tampak menyilaukan.
"Gila ya si Yasa," gumam Rini kagum. "Ketua OSIS, disiplin banget. Gue dengar dia nggak pernah telat semenit pun selama dua tahun sekolah di sini. Hidupnya kayak sudah diatur pakai penggaris. Lurus terus."
Aira memperhatikan laki-laki itu dari balik kaca jendela. Di mata Aira, Yasa tampak seperti objek yang sangat asing. Yasa adalah perwujudan dari segala hal yang tidak Aira miliki: Kejelasan, sorotan, dan keberanian untuk berdiri di tengah lapang tanpa takut bayangannya sendiri.
Tiba-tiba, di bawah sana, Yasa mendongak.
Aira tersentak. Jarak mereka jauh, terpisah oleh lantai dan kaca jendela yang tebal, namun entah kenapa Aira merasa pandangan mata laki-laki itu menyapu tepat ke arah tempatnya duduk. Cepat-cepat Aira menundukkan kepala, kembali menatap rumus-rumus Fisika yang tiba-tiba terasa buram di matanya.
"Sya? Lo kenapa? Muka lo agak pucat," tanya Rini heran.
"Enggak. Silau aja," jawab Aira pendek. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, sebuah anomali yang ia benci.
Aira kembali fokus ke bukunya. Ia tidak suka matahari. Matahari itu terlalu jujur, ia sanggup mengungkap segala hal yang ingin disembunyikan oleh kegelapan. Dan bagi seseorang yang menyimpan rahasia samudera di dalam dadanya, cahaya seperti Yasa adalah ancaman.
Bel berbunyi. Tapi bukan Pak Mulyono yang masuk.
Langkah sepatu yang mantap terdengar di ambang pintu kelas. Langkah yang ritmenya sangat teratur, seolah setiap pijakannya sudah diperhitungkan dengan matang.
"Selamat pagi semuanya. Karena Pak Mulyono berhalangan, saya diminta untuk mengawasi kelas ini dan membagikan lembar kerja."
Suara itu berat dan tenang. Aira tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang berdiri di depan kelas. Suasana kelas yang tadinya riuh mendadak sunyi, seolah kehadiran laki-laki itu membawa gravitasi yang memaksa semua orang untuk patuh.
Aira tetap menunduk, pura-pura menulis sesuatu di pinggir bukunya. Ia berharap samudera di dalam dirinya cukup dalam untuk menyembunyikan eksistensinya pagi ini. Namun, bayangan seseorang mulai menutupi meja kerjanya, menghalangi cahaya lampu yang menyinari bukunya.
"Nomor empat itu seharusnya pakai rumus energi potensial, bukan kinetik."
Sebuah telunjuk dengan kuku yang bersih menunjuk ke arah baris ketiga catatannya. Aira membeku. Ia terpaksa mendongak, dan untuk pertama kalinya, ia melihat Matahari itu dari jarak sedekat ini.
Aira menahan napas sejenak. Bau parfum laki-laki ini tercium samar—aroma jeruk yang segar bercampur dengan bau matahari yang menempel di baju yang baru saja terpapar panas lapangan. Sangat kontras dengan aroma teh melati dan debu kayu yang biasanya menyelimuti paru-paru Aira.
"Aku tahu," jawab Aira pelan, hampir berupa bisikan. "Ini baru coretan awal."
Yasa tidak langsung pergi. Ia berdiri di sana, sedikit membungkuk sehingga bayangannya benar-benar menelan separuh meja Aira. "Coretan awal yang rapi. Biasanya orang yang coretannya serapi ini punya pikiran yang terlalu penuh."
Aira memberanikan diri menatap mata laki-laki itu. Mata Yasa jernih, tajam, dan memiliki binar kepercayaan diri yang hampir membuat Aira ingin berpaling. Di sekolah, orang-orang memanggilnya Yasa, si ketua OSIS yang tidak punya celah. Namun, bagi Aira yang memiliki insting samudera, ia melihat sesuatu yang lain: sebuah disiplin yang sangat ketat, seolah laki-laki ini sedang berperang melawan sesuatu yang tidak terlihat.
"Kamu Syaira, kan? Kelas XI MIPA 1?" tanya Yasa, meskipun ia jelas-jelas sedang berada di dalam kelas itu.
"Iya," jawab Aira singkat. Ia menutup bukunya sedikit, seolah ingin melindungi privasi pikirannya dari tatapan Yasa.
Yasa tersenyum tipis. Bukan senyum menggoda, melainkan senyum tipis yang sopan namun terasa dominan. "Saya Abyasa. Tapi saya rasa satu sekolah sudah tahu itu. Pak Mulyono bilang kamu asisten laboratorium yang paling teliti. Bisa bantu saya bagikan lembar kerja ini?"
Aira melirik tumpukan kertas di tangan Yasa. Ia ingin menolak. Berdiri di depan kelas bersama Yasa berarti menjadi pusat perhatian, sesuatu yang sangat dihindari Aira. Tapi, tatapan Yasa tidak memberikan ruang untuk negosiasi. Disiplinnya menuntut kepatuhan.
"Baik," Aira berdiri.
Saat ia mengambil separuh tumpukan kertas dari tangan Yasa, jari mereka bersentuhan tanpa sengaja. Aira tersentak kecil. Kulit Yasa terasa hangat, sangat hangat hingga rasanya seperti menyetrum ujung jemari Aira yang selalu dingin.
Yasa menyadari reaksi itu. Ia mengernyitkan dahi sedikit, menatap jemari Aira yang pucat. "Tanganmu dingin sekali. Kamu sakit?"
"Memang selalu begini," jawab Aira cepat, lalu ia bergegas berjalan ke barisan meja paling ujung untuk mulai membagikan kertas.
Ia bisa merasakan pandangan Yasa masih mengikuti punggungnya selama beberapa detik sebelum laki-laki itu mulai membagikan bagiannya sendiri. Kelas yang biasanya tidak peduli pada Aira, kini mulai berbisik-bisik. Kasya si "gadis bayangan" tiba-tiba berada satu frekuensi dengan sang Matahari.
Sepanjang sisa jam pelajaran, Yasa tidak duduk di kursi guru. Ia memilih berdiri di dekat jendela, mengawasi kelas dengan tangan bersedekap di dada. Sesekali ia berkeliling, memastikan tidak ada yang mengobrol. Dan entah kenapa, setiap kali Yasa berjalan melewati meja Aira, ia akan melambatkan langkahnya.
Aira mencoba fokus pada soal-soal di depannya, tapi ia gagal total. Kehadiran Yasa di ruangan itu terasa seperti lampu sorot yang terus-menerus mencari keberadaannya.
Saat bel istirahat berbunyi, Yasa mengumpulkan kembali lembar kerja yang sudah selesai. Ketika sampai di meja Aira, ia berhenti lagi. Kali ini, ia tidak hanya mengambil kertas. Ia meletakkan sebuah pulpen cadangan di meja Aira.
"Pulpenmu tadi tintanya hampir habis, kan? Pakai ini saja dulu. Tulisan rapi seperti punyamu sayang kalau putus-putus di tengah jalan," ujar Yasa sebelum akhirnya berbalik dan keluar kelas tanpa menunggu jawaban.
Aira terpaku menatap pulpen di mejanya. Di batangnya ada stiker kecil bertuliskan "A.R. Bagaskara".
"Cieee, Syaira..." goda Rini sambil menyenggol bahunya. "Matahari lagi baik banget hari ini, atau emang samuderanya lagi pasang?"
Aira tidak menjawab. Ia memasukkan pulpen itu ke dalam tas dengan tangan gemetar. Ia tidak senang. Di dalam kepalanya, peringatan Mbok Darmi tadi pagi kembali bergema.
Jangan terlalu dekat dengan cahaya, Aira. Bayanganmu akan terlihat semakin gelap di bawahnya.
Aira merapatkan jaketnya, merasa kedinginan di tengah cuaca sekolah yang mulai terik. Ia sadar, mulai detik ini, hidupnya tidak akan sesunyi biasanya.
Ia takut, ia sangat takut.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰