NovelToon NovelToon
Maira, Maduku

Maira, Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Poligami / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: Tika Despita

Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.

Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tawaran Menjadi Madu

“Sebenarnya tujuan Anda mengundang saya ke sini untuk apa? Bahkan Anda sudah membayar cukup mahal,” tanya Maira dengan nada serius. Tatapannya lurus, tanpa senyum sedikit pun.

“Kalau bukan untuk kepuasan nafsu Anda, lalu apa yang Anda inginkan dari saya?” lanjutnya dingin.

Hazel langsung menggeleng pelan. Wajahnya terlihat tegang sejak awal.

“Maaf. Kamu salah paham. Saya mengundang kamu ke sini bukan untuk itu,” jawab Hazel tegas.

“Maksudnya?” Maira mengerutkan dahi, jelas tak paham.

“Saya butuh bantuan kamu. Dan saya akan membayar kamu jauh lebih banyak dari penghasilan yang kamu dapat dari bekerja seperti ini,” ucap Hazel lagi. Kali ini tatapannya benar-benar serius, seolah ingin memastikan Maira mempercayainya.

“Bantuan apa yang kamu maksud?”

Hazel menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

“Saya ke sini karena menuruti permintaan gila istri saya,” ucapnya dengan nada putus asa.

Maira terdiam, menunggu.

“Dia sudah lama memantau kamu. Dia tertarik dengan kamu,” lanjut Hazel, suaranya semakin berat.

“Dan dia menginginkan kamu untuk menjadi madu saya.”

Ucapan itu membuat Maira terperangah.

“Kami butuh keturunan. Tidak… maksud saya, istri saya yang butuh keturunan,” sambung Hazel cepat, seolah sadar kata-katanya terdengar keliru.

Beberapa detik berlalu sebelum Maira tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Tawanya lepas, bahkan matanya sampai berair.

“Jadi Anda mencari saya hanya supaya punya keturunan?” tanyanya di sela tawa.

Hazel mengangguk pelan.

Sekejap, tawa Maira menghilang. Wajahnya kembali serius.

“Saya bukan panti sosial yang menyediakan anak untuk pasangan yang belum dikaruniai keturunan. Gila, ya,” ucapnya dingin.

“Kamu tentu bisa tertawa mendengarnya, tapi kamu tidak mengerti posisi kami,” jelas Hazel.

 “Saya ke sini hanya demi istri saya. Kalau tidak…”

“Anda tidak akan sudi, kan, berkenalan dengan wanita seperti saya?” potong Maira tajam.

Hazel terdiam.

“Saya menolak tawaran Anda,” ucap Maira tegas.

“Alasannya?” tanya Hazel cepat.

“Saya akan bayar kamu mahal. Ini hanya sementara sampai kamu bisa memberikan anak untuk kami,” Hazel mencoba meyakinkan.

“Alasannya karena saya tidak mau menjadi madu Anda,” jawab Maira tanpa ragu.

“Lebih baik saya bekerja seperti ini daripada menjadi istri kedua dalam rumah tangga orang. Zaman sekarang tidak akan ada lelaki yang bisa adil kepada dua wanita. Dan pasti salah satu akan terluka. Saya tidak mau melukai hati wanita mana pun.”

Maira berdiri, bersiap pergi.

“Kamu yakin menolaknya?” tanya Hazel sekali lagi.

Maira menoleh dan tersenyum tipis.

“Tidak akan pernah ada dua ratu dalam satu istana.”

Ia melangkah menuju pintu, lalu berhenti sejenak dan menoleh kembali.

“Bayaran yang sudah Anda transfer tadi tidak akan saya kembalikan. Waktu saya sudah terpakai untuk berbicara dengan Anda.”

“Kamu tidak ingin keluar dari dunia yang sedang kamu jalani ini?” tanya Hazel lantang. Suaranya membuat tangan Maira terhenti saat memegang kenop pintu.

“Saya bisa membantu kamu. Kamu tidak perlu lagi bekerja di sana. Bahkan setelah kamu melahirkan anak untuk kami, saya akan tetap membantu kamu,” ucap Hazel memberi pilihan terakhir.

Maira tidak menjawab. Ia membuka pintu dan pergi begitu saja, meninggalkan Hazel dengan tawaran yang ditolaknya mentah-mentah.

-

-

-

Maira memutuskan keluar dari hotel dengan langkah cepat. Begitu pintu berputar itu tertutup di belakangnya, ia langsung menghela napas panjang. Sepanjang jalan menuju parkiran, mulutnya tak berhenti mengoceh, meluapkan kekesalan yang sejak tadi menumpuk di dada.

“Dasar perempuan gila,” gumamnya kesal.

“Di mana-mana itu istri pengin suaminya setia, gak nyimpen gundik. Lah ini malah nyuruh suami cari wanita malam buat jadi madu suaminya.Benar-benar gila itu istrinya!”

Ia menggeleng tak percaya, lalu membuka pintu mobil dan masuk dengan kasar.

“Kenapa, beb? Kok wajah kamu bete banget gitu?Udah kayak disrempet taksi online gitu. ” Roy menoleh heran begitu Maira duduk di sampingnya.

“Besok-besok jangan terima klien kayak dia lagi,” ujar Maira ketus.

“Kenapa emangnya?” tanya Roy penasaran.

“Dia gak butuh tubuh gue,” jawab Maira sambil menyandarkan punggung ke kursi.

“Dia butuh rahim gue buat melahirkan anak untuk mereka.”

Roy terdiam sejenak.

“Dia kira hidup aku ini kayak di sinetron, bisa sewa-menyewa rahim gitu,” tambah Maira dengan nada sinis.

“Oh… gitu,” angguk Roy pura-pura paham, meski raut wajahnya menunjukkan kebingungan.

“Kita balik ke klub,” perintah Maira singkat.

“Ok, beb,” sahut Roy sambil melajukan mobil, meninggalkan kawasan hotel.

Tak lama kemudian, mobil mereka berhenti di depan klub. Baru saja Maira turun, pandangannya langsung tertuju pada seorang wanita paruh baya yang sudah berdiri tak jauh dari pintu masuk. Sosok itu sangat ia kenal.

“Ra… itu nyokap kamu,” keluh Roy pelan.

“Dia pasti mau cari masalah lagi sama kamu.”

“Kamu masuk duluan, Roy,” ujar Maira.

“Aku mau bicara sama Mama.”

Roy mengangguk dan masuk ke dalam klub, sementara Maira melangkah mendekati wanita itu.

“Gimana penghasilan kamu malam ini?” tanya Sarah tanpa basa-basi.

“Gak ada pelanggan malam ini,” bohong Maira. Ia sudah hafal betul, setiap kali jujur, ujung-ujungnya hanya akan dimintai uang.

“Ok, gak apa-apa. Gak masalah,” jawab Sarah santai.

Maira menatap heran. Biasanya, kalimat itu akan disusul dengan kemarahan atau makian.

“Mama ada pelanggan VIP buat kamu besok malam,” lanjut Sarah.

“Dia sudah bayar separuh ke Mama.”

“Ma…” Maira mendesah kesal.

“Kenapa sih Mama selalu mutusin sendiri?”

“Kamu tenang saja,” potong Sarah.

“Bayarannya mahal. Kamu diminta melayaninya sebaik mungkin. Namanya Pak Vinsen.”

Sarah mendekat sedikit, menurunkan suaranya.

“Mama tunggu kamu besok malam di depan Hotel Aryaduta. Awas kalau kamu gak datang. Kamu tahu sendiri kan risikonya? Papa kamu.”

Setelah itu, Sarah langsung pergi begitu saja, meninggalkan Maira terpaku di tempat.

Maira tak mampu berkata apa-apa. Bibirnya terkatup rapat, sementara matanya mengikuti langkah sang ibu yang semakin menjauh. Senyum getir terbit di wajahnya.

Tak pernah ia sangka, mama kandungnya bisa segila ini pada uang. Dan mama nya pula yang menyeretnya masuk ke dunia malam yang begitu ia benci ini.

Ia tahu, jika ia menolak, ancaman itu akan kembali terucap. Papanya yang sakit jiwa dan kini berada di rehabilitasi rumah sakit jiwa selalu dijadikan senjata. Karena itulah Maira bertahan. Ia bekerja sebagai wanita malam demi membiayai hidup mamanya, dan tentu saja demi biaya perawatan papanya.

1
Qhaqha
Jangan lupa bintang dan ulasannya ya... 😊😊🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!