NovelToon NovelToon
Rencana Gagal Mati

Rencana Gagal Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mantan / Komedi
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Tokoh utama nya adalah pria bernama Reza (30 tahun) .Dia bukan Pahlawan, dia bukan orang kaya ,dia cuma pria yang merasa hidupnya sudah tamat karena hutang, patah hati, Dan Rasa bosan.

dia memutuskan untuk pergi secara terencana .dia sudah menjual semua barang nya , menulis surat perpisahan yang puitis, dan sudah memilih Gedung paling tinggi. tapi setiap kali ia mencoba selalu ada hal konyol yang menggagal kan nya , misalnya pas mau lompat tiba tiba ada kurir paket salah alamat yang maksa dia tanda tangan. Pas mau minum obat, eh ternyata obatnya kedaluwarsa dan cuma bikin dia mulas-mulas di toilet seharian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu yang Tak Diundang

Reza masih duduk di kursi plastik birunya, menatap sisa tulang ayam di dalam kotak kertas yang kini sudah mendingin. Di lehernya, bekas merah dari tali jemuran kuning itu mulai terasa perih, pengingat fisik bahwa beberapa menit lalu ia hampir saja tidak ada di dunia ini. Kepalanya terasa kosong. Telepon dari Anya barusan bukan hanya merusak rencana perpisahannya, tapi juga memaksanya untuk kembali berpijak di bumi yang tadinya ingin ia tinggalkan.

"Hamil," gumam Reza. Kata itu terasa lebih berat daripada beban tubuhnya yang tadi tergantung.

Selama dua tahun setelah perceraian mereka, Reza mengira ia sudah mati rasa. Ia melihat Anya pergi mencari kehidupan yang lebih mewah, sementara ia sendiri tenggelam dalam lubang hutang dan kegagalan bisnis startup kecil-kecilannya. Ia sudah membiasakan diri untuk membenci wanita itu agar rasa rindunya tidak terlalu menyakitkan. Namun, mendengar suara Anya yang hancur barusan, benteng kebencian yang ia bangun selama dua tahun itu runtuh hanya dalam hitungan detik.

Reza berdiri, kakinya sedikit gemetar. Ia harus melakukan sesuatu. Ia tidak bisa membiarkan Anya datang ke apartemen yang kondisinya seperti tempat kejadian perkara ini. Ia segera menarik tali jemuran kuning itu dari kaitan lampu plafon. Ia menggulungnya dengan kasar dan melemparnya ke dalam lemari kosong. Surat perpisahan yang tadi ia ketik rapi segera ia remas-remas menjadi bola kertas dan dibuang ke tempat sampah yang sudah penuh dengan bungkus mi instan.

Ia melihat sekeliling. Ruangannya sangat memprihatinkan. Tanpa kursi (kecuali yang biru itu), tanpa meja (kecuali meja kayu murahan yang ia temukan di tong sampah), dan tanpa harapan. Ia mencoba merapikan debu-debu yang beterbangan dengan kaosnya yang sudah bolong-bolong.

Tiba-tiba, suara ketukan pintu kembali terdengar. Kali ini bukan gedoran brutal sang kurir, melainkan ketukan yang ragu-ragu dan pelan.

Reza menarik napas panjang, meraba lehernya untuk memastikan bekas tali itu tertutup oleh kerah kaosnya, lalu membuka pintu.

Di sana berdiri Anya.

Penampilannya jauh berbeda dari foto-foto di Instagram-nya. Tidak ada gaun mahal, tidak ada riasan wajah yang sempurna. Anya hanya mengenakan hoodie kegedean, celana jeans longgar, dan matanya bengkak luar biasa. Rambutnya diikat asal-asalan. Saat mata mereka bertemu, ada keheningan yang panjang dan menyesakkan. Bau keringat, bau ayam geprek, dan bau penyesalan bercampur di udara.

"Za..." Anya memulai, suaranya pecah sebelum sempat menyelesaikan kata pertama.

"Masuklah," jawab Reza singkat. Ia menyingkir dari pintu, memberi jalan.

Anya masuk dan tertegun melihat kondisi apartemen itu. "Mana semua barangmu, Za? Kenapa kosong sekali?"

Reza menutup pintu dan menguncinya. "Sudah kujual. Aku mau pindah rumah, tapi rencananya sedikit... tertunda."

Anya duduk di satu-satunya kursi plastik biru di sana. Ia tidak tahu bahwa kursi itulah yang tadinya akan menjadi saksi kematian mantan suaminya. Ia memegang perutnya yang masih tampak rata, namun tangannya gemetar.

"Aku minta maaf, Za. Aku tahu aku tidak punya hak untuk datang ke sini. Aku yang pergi, aku yang memilih dia, dan sekarang aku kembali saat hidupku hancur," Anya mulai terisak lagi. "Dia bilang dia mencintaiku, Za. Tapi saat aku bilang tes kehamilan ini positif, dia langsung memblokir nomor ku dan pindah apartemen hari itu juga. Aku sendirian."

Reza bersandar di dinding, mencoba menahan dirinya agar tidak melangkah maju dan memeluk wanita itu. "Kenapa meneleponku? Kenapa bukan orang tuamu?"

"Karena ayahku pasti akan membunuhku jika tahu aku hamil di luar nikah. Dan ibuku... kau tahu dia, dia akan sibuk memikirkan apa kata tetangga. Cuma kamu, Za. Cuma kamu orang yang aku tahu akan berkata jujur padaku, meskipun itu menyakitkan."

Anya mendongak, menatap Reza, dan saat itulah ia melihat sesuatu. "Lehermu... kenapa itu merah melingkar?"

Reza refleks memegang lehernya. "Bukan apa-apa. Tadi aku mencoba memperbaiki lampu dan kabelnya menjerat leherku. Aku memang ceroboh, kau tahu itu."

Anya berdiri, mendekati Reza dengan langkah pelan. Ia menyentuh kerah baju Reza, melihat bekas merah itu lebih dekat. Sebagai wanita yang pernah hidup dengan Reza selama lima tahun, ia tahu kapan suaminya berbohong. Ia menoleh ke arah lemari tempat tali kuning itu disembunyikan, lalu menatap kursi plastik biru di tengah ruangan.

Anya menutup mulutnya dengan tangan. "Ya Tuhan... Za... kamu... kamu baru saja mau..."

"Jangan dibahas, Anya," potong Reza tegas. Matanya menatap tajam, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Sekarang bicarakan soal bayi itu. Apa rencanamu?" "Aku tidak tahu," bisik Anya. "Aku sangat takut. Aku merasa hidupku juga sudah berakhir."

"Lucu sekali," Reza tertawa sinis, tawa yang kering tanpa rasa humor. "Dua orang yang merasa hidupnya berakhir bertemu di ruangan kosong ini. Harusnya kita merayakan sesuatu, bukan? Ayam gepreknya masih ada setengah kalau kau mau."

Anya tidak tertawa. Ia justru memeluk Reza dengan sangat erat. Ia menaruh wajahnya di dada Reza yang kurus. "Jangan pergi, Za. Tolong. Aku tidak bisa melakukan ini sendirian. Aku tidak minta kau kembali menjadi suamiku atau menjadi ayah dari anak ini. Aku cuma butuh seseorang yang tahu bahwa aku masih ada."

Reza terdiam. Tangannya menggantung di udara sebentar sebelum akhirnya perlahan ia mendaratkannya di punggung Anya. Kehangatan tubuh Anya meresap melalui kaosnya yang tipis. Di detik itu, rasa dingin yang tadi menguasai hatinya saat berdiri di atas kursi mulai memudar.

Dua orang gagal ini sedang saling berpegangan di tengah badai.

"Aku lapar," gumam Anya di sela tangisnya.

Reza melepaskan pelukannya, mengambil kotak ayam geprek tadi, dan menyodorkannya pada Anya. "Ini pedas sekali. Mungkin tidak baik untuk bayimu, tapi ini satu-satunya hal yang kupunya saat ini."

Anya mengambil sepotong ayam dengan jarinya, memakannya dengan lahap sambil air mata masih menetes ke pipinya. Mereka duduk berdua di lantai apartemen yang dingin, membagi sisa ayam geprek level sepuluh dalam keheningan yang tidak lagi terasa mematikan.

Di luar, lampu-lampu kota mulai menyala. Dunia luar masih tetap sibuk, kejam, dan tidak peduli. Tapi di dalam ruangan kosong nomor 402 itu, rencana mati Reza baru saja diganti secara paksa dengan rencana hidup yang jauh lebih berantakan, tapi setidaknya, kali ini ia punya teman untuk menghadapi kekacauan itu.

"Besok kita harus cari uang," kata Reza pelan.

," kata Reza pelan.

"Bagaimana caranya? Kau tidak punya pekerjaan, aku juga baru saja dipecat," tanya Anya.

Reza menatap kursi biru itu. "Aku akan cari kurir tadi. Mungkin perusahaannya sedang butuh orang yang tahan banting. Kalau aku bisa selamat dari tali jemuran, kurasa aku bisa selamat dari kemacetan kota ini."

Anya tersenyum tipis senyuman pertama yang nyata setelah sekian lama. "Itu rencana yang konyol, Za."

"Hidup memang konyol, Anya. Kita saja yang terlalu serius menanggapinya."

1
oratakasinama
kek pernah baca di novel sebelah 🤣🤭
Kal Ktria: kak? mna , spil dong
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!