Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.
Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.
#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: PANGGILAN YANG TIDAK PERNAH DIJAWAB (DAN SEMUA KONSEKUENSINYA)
Disclaimer: Bab ini mengandung deskripsi mendetail tentang keinginan kuat untuk pindah planet, strategi menghilang dari muka bumi tanpa meninggalkan jejak digital, dan satu ayam jago yang terlalu bersemangat.
---
Panggilan video itu berdering.
Bagi Ardi, suaranya bukan sekadar notifikasi biasa. Itu adalah soundtrack kiamat personalnya. Lagu penutup dari sisa-sisa harga dirinya yang sudah remuk redam sejak sepuluh menit yang lalu.
Layar HP di atas tumpukan kaos kotor itu berpendar dengan foto profil Kinan yang flawless senyum tipis, latar belakang buku, cahaya softbox yang sempurna dan tulisan "kinanstudies memulai panggilan video..." di atasnya seperti sebuah tuduhan.
"Jangan. Jangan, jangan, jangan," gumam Ardi sambil merangkak di tempat tidur seperti tentara yang menghindari ranjau. Dia menyambar HP itu, jari telunjuknya bergetar di atas tombol merah "Tolak".
Tapi dia membeku.
Kalau ditolak, dia akan tahu aku lagi online dan sengaja nolak. Itu lebih jahat.
Kalau dibiarin, dia akan berpikir aku enggak berani. Tapi... emang iya, sih.
Kalau diangkat... Tuhan, kasih jalan tengah.
Otaknya yang panik berputar lebih kencang dari kipas laptopnya. Pilihannya adalah antara "pengecut", "penghindar", atau "mayat hidup yang siap dipermalukan secara visual".
Deringnya berhenti.
Hening selama tiga detik yang menyiksa. Lalu, muncul notifikasi baru.
kinanstudies: Panggilan tidak terjawab.
Ardi menghela napas panjang, melepaskan udara yang tidak disadari ditahannya. Tapi lega itu hanya bertahan 0,5 detik.
kinanstudies: It's 3 AM. You're online. You saw my DM. You used those specific words. And now you're ignoring my call.
kinanstudies: This is getting creepy.
Kata terakhir itu membakar matanya. Creepy. Dia bukan cuma salah, bukan cuma awkward. Tapi creepy. Levelnya naik dari "kesalahan teknis" ke "ancaman potensial".
Dia harus membalas. Sekarang. Tapi apa? Penjelasan tentang keripik bawang dan tugas Manajemen Operasi terdengar semakin tidak masuk akal di tengah malam buta.
Tangannya menari di atas keyboard virtual, mengetik dan menghapus pesan yang sama sekali tidak membantu.
"Ini bukan kayak yang ka pikir " Hapus. Terlalu defensif.
"Aku bisa jelasin, tapi ini agak aneh "Hapus. Lebih mencurigakan.
"Aku cuma kepo biasa, sumpah "Hapus. Itu justru mengakui kejahatan.
Dia menatap langit-langit kamar kosnya yang ada noda air berbentuk peta Indonesia. Ini semua salahmu, pikirnya pada noda itu. Kalau saja kosan ini tidak lembab, mungkin otakku tidak juga lembab.
HP bergetar lagi. Bukan dari Kinan.
Tapi dari grup WhatsApp"Manajemen Operasi GASSS!!!" yang beranggotakan 5 orang (termasuk dirinya). Ada pesan dari Rendra, si ketua kelompok yang sok asik.
Rendra: "Team, besok pagi ketemu di perpus jam 9 buat ngerjain bab 2 & 3 ya. Yang batal auto saya doxkeun alamat kosnya. 😊"
Ardi memejamkan mata. Besok. Pagi. Ketemu orang. Berinteraksi. Berpura-pura menjadi manusia fungsional setelah malam dari neraka digital ini. Itu mustahil.
Pikirannya melayang ke Kinan. Apa yang sedang dia lakukan sekarang? Mungkin sedang mengetik screenshot DM nya (dengan nama dan foto profil Ardinya di blur, tentu saja) untuk dikirim ke grup WhatsApp dekatnya. Atau sedang membuat Story dengan quote, "Protect your energy from invasive people.🛡️" dengan latar musik yang menyedihkan.
Rasa mual yang bukan dari keripik bawang mulai naik.
Dia harus melakukan sesuatu. Sesuatu yang radikal. Matiin akun? Tapi akun Instagramnya adalah satu-satunya bukti bahwa dia punya kehidupan sosial (walaupun 750 follower nya adalah bot). Hapus aplikasi? Itu seperti memotong kaki karena kapalan.
Inspirasi datang, tiba-tiba dan brilian.
Private Story.
Ya! Dia akan membuat private story yang begitu vibe nya "aku baik-baik saja dan produktif" sehingga jika Kinan kebetulan melihatnya (dan dia yakin Kinan akan stalk balik), semua kesalahpahaman ini akan luruh.
Dengan semangat baru, dia membuka kamera depan. Tampangnya yang pucat, mata berkantung, dan rambut seperti sarang burung muncul di layar. Tidak. Itu adalah tampang "aku baru melakukan kejahatan dunia maya".
Dia beralih ke kamera belakang, mengarahkannya ke laptopnya yang masih terbuka dengan dokumen kosong. Dia menyalakan lampu kamar (yang cahayanya kuning dan menyedihkan), dan mengambil secangkir kopi dingin yang sudah berjam-jam terabaikan sebagai properti.
Klik. Dia mendapat foto: sudut meja yang berantakan, layar laptop, dan cangkir kopi. Caption? Dia berpikir keras.
Akhirnya, dia mengetik: "Burn the midnight oil untuk hal-hal yang worth it. ☕⛽ #NightOwl #ProductiveNight"
Dia post ke Private Story nya, yang hanya diikuti oleh 30 orang (kebanyakan teman sekosan dan beberapa kenalan kuliah). Termasuk Kinan. Karena dulu, di masa awal dia follow Kinan, Kinan balik follow secara otomatis mungkin karena bot followback nya, atau mungkin karena jumlah follower Ardi yang lumayan aesthetic (berkat 750 bot tadi).
Lalu, dia menunggu. Mata tak lepas dari notifikasi.
Dua menit kemudian: Dilihat oleh faisal.ardhana, dea.lim, ...
Lima menit kemudian:Dilihat oleh kinanstudies.
DIA MELIHAT! Jantung Ardi berdebar kencang, tapi kali ini karena harapan. Sekarang Kinan akan mengerti. Dia bukan stalker yang menyeramkan. Dia adalah mahasiswa yang sedang berjuang dengan deadline, persis seperti jutaan mahasiswa lain. Mungkin Kinan akan membalas dengan, "Semangat ya! Tapi jangan lupa tidur." Atau bahkan sekadar mereact dengan 😊.
Notifikasi masuk.
Bukan DM.
Tapi REAKSI terhadap story nya.
Dia membuka dengan gemetar.
Di bawah story "produktif" nya, ada sebuah emoji.
Bukan hati.
Bukan senyum.
Tapi 👁️.
The eye emoji.
Emoji yang ambigu. Bisa berarti "I see you", "I'm watching", atau "Interesting...". Dalam konteks Ardi yang sedang ketakutan, emoji itu hanya memiliki satu arti: "Aku mengawasimu, wahai makhluk mencurigakan."
Ardi menjatuhkan dirinya kembali ke kasur. Rasanya seluruh ususnya berputar. Private story nya bukan solusi. Itu adalah bumerang. Sekarang dia terlihat seperti orang yang trying too hard untuk menutupi kesalahannya.
Dalam keputusasaan, dia membuka DM nya dengan Kinan. Dia harus mengakhiri ini dengan jujur. Dia mengetik dengan perlahan, tanpa memedulikan aesthetic atau tata bahasa.
ardi.pras: ka. maaf bgt. beneran. aku cuma kesel sendiri gara2 tugas. terus aku like foto lama ka bukan sengaja. aku gatau kenapa aku bales pake kata2 itu. aku bukan creepy. aku cuma... lelah. dan malu. maaf udah bikin ka ga nyaman. serius.
Dia kirim. Tidak ada tanda "read".
Kinan offline.
Dia menunggu. Lima menit. Sepuluh menit.
Tidak ada balasan.
Mungkin Kinan tidur. Mungkin Kinan memutuskan untuk memblokirnya besok pagi. Mungkin Kinan sedang menyusun thread Twitter yang panjang tentang "pengalaman saya didigital stalk".
Kelelahan akhirnya menang. Mata Ardi terpejam, dengan HP masih terkepal di tangannya. Mimpi buruknya diisi oleh ikon hati yang mengejarnya dan emoji mata yang berkedip-kedip.
---
Di sisi lain kota, Kinan tidak tidur.
Dia duduk di tempat tidurnya yang rapi, selimut warna sage terlipat rapi di kakinya. Layar HP nya menyala, memamerkan chat terakhir Ardi.
"Aku cuma... lelah. dan malu."
Kata-kata itu menghentikannya. Itu bukan bahasa si mantan youtuber podcaster yang selalu penuh energi palsu. Itu terdengar... jujur. Dan sangat manusiawi.
Dia membuka profil Ardi. ardi.pras. Foto profil burung hantu. Postingan: beberapa meme deadline, foto langit sore, repost konten musik. Tidak ada foto wajah sendiri yang aesthetic. Tidak ada quote motivasi. Hanya... biasa saja. Bahkan cenderung low effort.
Dia membuka story Ardi yang "produktif" itu lagi. Matanya yang terlatih melihat detail: cangkir kopi bermerk sachetan, sudut meja yang penuh dengan noda, font pada laptop yang bukan MacBook. Ini bukan foto yang dikurasi. Ini adalah potongan kehidupan nyata yang messy.
Sesuatu di dalam dirinya, yang lelah menjaga segala sesuatu agar tetap sempurna, merasa tertarik. Tertarik pada kekacauan yang jujur itu.
Jempolnya menari di atas layar. Dia mengetik, lalu menghapus. Akhirnya, dia hanya mengirim satu kalimat.
kinanstudies: Lelah dan malu itu valid. Tapi "capek" dan "malu" bukan alasan buat stalk orang.
Dia kirim. Lalu, sebelum keraguan menyelimutinya, dia mengetik lagi.
kinanstudies: Btw, itu tugas Manajemen Operasi apa? Mungkin aku bisa bantu. Gue dulu dapet A.
kinanstudies: Tapi ini bukan berarti kamu nggak creepy ya. Ini masih abu-abu.
Dia melemparkan HP nya ke bantal dan menyandarkan kepalanya ke tembok. Kenapa dia melakukan itu? Kenapa dia menawarkan bantuan kepada orang asing yang tadi malam membuatnya panik?
Mungkin karena di tengah semua kata-kata motivasi dan aesthetic yang dia pertahankan, dia juga... lelah. Dan dalam kelelahan itu, melihat seseorang yang dengan polosnya mengakui kelelahan dan rasa malunya, terasa seperti menghirup udara segar.
Atau mungkin ini hanya efek dari kurang tidur.
Dia tidak tahu. Tapi untuk pertama kalinya dalam lama, dia merasa penasaran pada seseorang yang tidak terkurasi rapi.
---
Pagi datang dengan kejam untuk Ardi. HP nya berdering dengan alarm yang menggelegar. Matanya merah, kepalanya berat.
Dengan setengah sadar, dia membuka HP. Dan ada tiga DM dari Kinan yang belum dibaca.
Dia membacanya. Sekali. Dua kali.
Tubuhnya yang lemas tiba-tiba disetrum. Dia duduk tegak di tempat tidur.
Dia menawarkan bantuan. Untuk tugas.
Ini bukan akhir dunia. Ini... adalah awal dari sesuatu yang sangat tidak terduga.
Dengan jantung yang tiba-tiba ringan, dia membalas, jari-jarinya sudah tidak gemetar lagi.
ardi.pras: beneran ka? ini soalnya tentang analisis break even point untuk usaha dadu karet.
Dia menatap pesan yang dikirimnya. Usaha dadu karet. Kenapa contoh tugasnya selalu tentang usaha yang absurd?
Sambil menunggu balasan, dia beranjak dari tempat tidur. Untuk pertama kalinya pagi ini, dia melihat noda di langit-langit yang berbentuk Indonesia itu tersenyum padanya.
Mungkin, hanya mungkin, kesalahan like terbesar dalam hidupnya tidak akan berakhir dengan blokir dan laporan polisi.
Mungkin ini akan berakhir dengan... teman mengerjakan tugas?
Atau sesuatu yang lain.
HP nya bergetar. Balasan dari Kinan.
kinanstudies: Dadu karet? Seriously? 😂 Oke, challenge accepted. Tapi kita perlu data riil. Kamu kenal usaha dadu karet?
ardi.pras: ...kayaknya enggak, ka.
kinanstudies: Sigh. Cari, dong. Gue bantu analisisnya, kamu cari narasumbernya. Itu teamwork.
ardi.pras: oke ka. aku cari.
Ardi berdiri di depan cermin kamar mandi kosannya, sikat gigi di mulut. Bayangan di cermin masih sama: culun, lelah, dengan rambut yang menentang gravitasi. Tapi ada sedikit senyum di sudut matanya.
Dia tidak tahu bahwa narasumber untuk usaha dadu karet itu akan datang dari arah yang paling tidak terduga: dari dosen killer yang setiap pagi mengajarinya dengan muka masam, yang besok akan membawa sebuah koper kecil berisi dadu karet warna-warni ke kelas, dan yang akun TikTok nya sedang menunggu momentum untuk meledak.
Tapi itu cerita untuk esok hari.
Untuk sekarang, Ardi hanya fokus pada satu hal: tidak membuat kesalahan lagi saat mengirim chat ke Kinan.
Kesimpulan sementara:
Accidental like bisa menjadi pintu gerbang menuju krisis identitas digital.
Emoji mata (👁️) adalah senjata psikologis yang ampuh.
Kadang, pengakuan jujur "gue lelah dan malu" lebih efektif daripada ratusan kata motivasi yang dikurasi.
Dan yang terpenting: semua masalah di dunia mungkin bisa diselesaikan jika kamu punya tugas kelompok tentang analisis break even point usaha dadu karet.
#ToBeContinued
(Dan besok, Pak Suryo akan masuk dengan jogetnya.)