Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elisa-34
Di dunia bisnis orang-orang mengenal Kalandra Mahendra sebagai sosok yang begitu sangat teliti dan tegas. Jika ia menjadwalkan rapat pukul 10.00, maka pada pukul 09.59 ia sudah berada di kursinya dengan tatapan tajam yang sanggup mengintimidasi lawan bicaranya. Namun tidak dengan Pagi ini, di ruang kerja baru Kalandra yang terletak tepat di sebelah kamar bayi, ketelitian itu sedang diuji oleh sesuatu yang sama sekali tidak bisa diprediksi yaitu jadwal tidur si kembar tiga.
Di dalam ruang kerjanya, Kalandra duduk di depan monitor lengkungnya, mengenakan kemeja biru yang rapi di bagian atas, namun tetap memakai celana pendek santai yang tersembunyi di bawah meja. Di telinganya terpasang noise-cancelling earphone yang tercanggih.
"Jadi, target akuisisi kita untuk kuartal ini adalah sektor energi terbarukan," ujar Kalandra dengan suara bariton yang mantap ke arah kamera. Di layar Zoom itu, tampak sepuluh wajah direksi yang mendengarkan dengan khidmat.
Tiba-tiba, pintu ruang kerjanya terbuka sedikit. Elisa mengintipnya dengan wajah yang panik, tangannya memegang botol susu yang baru saja disterilkan. Ia memberikan isyarat pada kalandra menggunakan gerakan tangannya karena tau sang suami sedang rapat sebagai bentuk tanda bahwa pasukan sudah bangun.
“Hmm”
Kalandra hanya berdehem, Dan tetap menjaga ekspresi wajahnya agar tetap terlihat seperti CEO yang kejam. "Bimo, bisa tolong jelaskan rincian biaya operasionalnya? Saya perlu meninjau dokumen lain sejenak."
Begitu Bimo mulai bicara di layar, Kalandra langsung menekan tombol mute dan mematikan kamera dengan kecepatan cahaya.
"El, ada apa sayang? Kok mereka lebih cepat bangunnya?" bisik Kalandra sambil menghampiri Elisa di ambang pintu.
"Si Abang, Mas. Dia kayaknya mimpi buruk, terus suara nangisnya keras sampai bangunin Adik Satu sama Adik Dua. Sekarang mereka lagi konser di dalam," lapor Elisa dengan napas sedikit terengah.
Kalandra mengintip ke arah kamar bayi. Benar saja, suara tangisan bersahutan terdengar seperti paduan suara yang tidak sinkron. Bi Inah dan seorang perawat sedang sibuk luar biasa.
"Sini, kasih si Abang ke aku saja Yang. Aku coba tenangin sambil rapat," ujar Kalandra nekat.
"Mas yakin? Nanti para direksi denger dan keganggu sama suara tangis Abang?"
"Tenang, El. mikrofonku punya fitur peredam suara bising. Asal dia nggak teriak tepat di depan mic, harusnya aman."
Kalandra kembali ke kursinya dengan Arkananta, si Abang, di pelukannya. Ia kembali menyalakan kamera. Wajahnya kembali datar seolah tidak terjadi apa-apa, sementara di bawah meja, tangannya sibuk menepuk-nepuk bokong bayinya yang mulai tenang karena aroma tubuh sang ayah.
"Lanjutkan, Bimo. Angka itu sepertinya perlu kita koreksi 5%," ucap Kalandra tenang.
Di layar, Gery yang juga ikut rapat hanya bisa menahan tawa sampai bahunya bergetar. Ia tahu persis apa yang sedang terjadi karena ia bisa melihat ujung bando bayi atau selimut kecil yang sesekali melintas di sudut bawah kamera milik Kalandra.
Rapat berlangsung selama satu jam. Kalandra berhasil menjaga wibawanya, walaupun sempat Arkananta gumoh sedikit tadi di lengan kemeja mahalnya. Setelah rapat berakhir dan ia menutup laptopnya, Kalandra langsung menghela napas panjang seolah baru saja memenangkan perang dunia.
"Gila... ini lebih memacu adrenalin daripada nego sama vendor dari Jerman," gumam Kalandra.
Ia keluar dari ruang kerja dan menemukan sang istri sedang duduk di ruang tengah yang sedang mencoba menidurkan dua putri mereka. Aris juga ada di sana, sedang duduk tenang sambil membacakan buku cerita bergambar untuk adik-adiknya meskipun adik-adiknya belum mengerti satu kata pun.
"Mas, kemejanya kena gumoh ya?" tanya Elisa saat melihat noda putih di lengan Kalandra.
Kalandra melihat lengannya dan tertawa. "Anggap saja ini parfum baru dari Mahendra Group. Aromanya... susu basi."
"Mas harus ke kantor siang ini, kan? Ada penandatanganan berkas fisik?"
Kalandra mengangguk. "Iya, cuma sebentar. Tapi aku harus antar kamu dulu ke dokter buat cek jahitan pasca melahirkan. Jadi, kita bawa pasukan ke kantor."
“Ya Allah mas, Nggak usah di cek juga nggak papa mas.” Ucap Elisa memberikan pengertian ke sang suami.
“Tidak, tetap harus di cek! Walaupun sedikit jahitannya!” Jawab kalandra dengan mode On, tatapan tajam dan datar.
...---------------...
Siang harinya, lobi Mahendra Group geger. Sebuah mobil SUV hitam berhenti tepat di depan pintu utama. Bukan hanya Kalandra yang turun dengan setelan jas lengkapnya, tapi juga Elisa yang mendorong stroller kembar tiga yang panjang, diikuti Gery dan Bimo yang masing-masing membawa tas perlengkapan untuk bayi raksasa.
Para Staf di lobi yang biasanya membungkuk hormat dengan kaku, kini malah berdiri mematung dengan mulut terbuka.
"Selamat siang, Pak Kalandra... Bu Elisa..." sapa resepsionis dengan nada ragu. Matanya tidak bisa lepas dari tiga pasang mata bayi yang mengintip dari balik stroller.
"Siang. Tolong siapkan ruang rapat utama, tapi pastikan suhu AC-nya tidak terlalu dingin. Dan minta OB bersihkan area karpet di sana," perintah Kalandra sambil tetap menggandeng tangan Elisa.
Mereka pun naik ke lantai paling atas. Di sana, para direksi sudah menunggu untuk penandatanganan berkas. Suasana yang biasanya sangat formal berubah menjadi sangat hangat. Para direktur yang biasanya bicara soal angka, kini malah sibuk bertanya soal berat badan bayi dan tips menangani kolik.
"Pak Kalandra, ini beneran yang kembar tiga itu? Luar biasa... auranya beda sekali ya," puji salah satu direktur senior yang paling galak di perusahaan.
Kalandra duduk di kursinya, menandatangani berkas satu per satu sambil sesekali melirik Elisa yang sedang mengajak bayi-bayi itu bicara di sudut ruangan.
"Perusahaan ini adalah warisan untuk mereka," ujar Kalandra sambil meletakkan pulpennya. "Jadi saya ingin mereka mengenal rumah mereka sejak dini. Dan mulai besok, saya minta laporan perkembangan pembangunan ruang laktasi di lantai tiga harus sudah selesai."
...----------------...
Sore hari setelah urusan kantor dan rumah sakit selesai, Kalandra dan Elisa sampai di rumah dengan kondisi sisa tenaga 5%. Anak-anak mereka sudah tertidur lelap di mobil dan langsung dipindahkan ke kamar.
"Mas..." panggil Elisa saat mereka duduk di sofa ruang tengah yang remang-remang. "Boleh nggak kamu luangin waktu untuk aku”
Kalandra menoleh, sedikit terkejut. "Maksudnya?"
“Maksudnya, Emm itu…Aku pengen ngerasaiin kencan. Cuma kita berdua. Nggak bahas popok, nggak bahas jadwal ASI,” Elisa menyandarkan kepalanya di bahu Kalandra. Dia juga bingung kenapa pengen sekali merasakan yang namanya kencan atau Me Time bareng sama sang suami "Cuma sepuluh menit saja juga nggak apa-apa kok Mas."
Kalandra yang mendengar permintaan sang istri pun tersenyum lembut walau sempat kaget mendengarnya. Ia pun menarik Elisa ke pelukannya. "Boleh. Gimana kalau kita kencan di balkon sekarang? Aku tadi sempat suruh Bi Inah siapin teh hangat sama camilan di sana."
Mereka berdua pun berjalan ke balkon kamar. Udara malam Jakarta terasa sejuk. Di bawah sana, lampu-lampu taman mansion bersinar temaram. Kalandra duduk di kursi panjang, membiarkan Elisa bersandar di dadanya.
"Sepuluh menit me-time," bisik Kalandra sambil mencium puncak kepala Elisa.
Mereka mulai mengobrol. Bukan soal anak, tapi soal hobi Elisa yang ingin ia tekuni lagi, soal rencana liburan mereka di masa depan, dan soal betapa konyolnya Gery saat mencoba menggendong bayi tadi di kantor.
"Mas, inget nggak waktu pertama kali Mas panggil aku Sayang?" tanya Elisa.
"Inget. Mana itu spontan lagi dan Rasanya lidahku mau kelu, El. Tapi sekarang, rasanya aneh kalau nggak panggil gitu," Kalandra mempererat pelukannya. "Aku bener-bener bersyukur malam itu terjadi, meski jalannya sangat berliku."
Keheningan yang indah menyelimuti mereka. Namun, seperti hukum alam bagi orang tua baru itu, ketenangan adalah isyarat bahwa badai akan datang.
Lima menit berlalu. Tapi Tiba-tiba, dari monitor bayi yang dibawa Kalandra di saku celananya, terdengar suara geraman kecil yang berubah menjadi tangisan pendek.
“Oeeekk...”
Elisa dan Kalandra saling pandang. Mereka tidak bergerak.
"Itu si Adik Satu atau Adik Dua?" bisik Kalandra.
"Kayaknya Adik Satu. Suaranya lebih melengking," balas Elisa.
Hening lagi. Mereka berharap tangisan itu berhenti. Tapi kemudian, suara kedua menyusul.
Oeeekk! Oeeekk!
Kalandra menghela napas panjang, lalu tertawa kecil. "Oke, kencan sepuluh menit kita cuma bertahan tujuh menit."
"Nggak apa-apa, Mas. Itu rekor baru buat kita sekarang," Elisa bangkit sambil membenahi rambutnya.
Saat mereka masuk kembali ke kamar, Kalandra sempat berhenti di depan cermin. Ia melihat dirinya, dimana seorang pria yang dulunya hanya tahu cara mencari uang, kini harus memegang botol susu untuk anak-anaknya dan tersenyum pada kehidupan yang ia miliki.
"El," panggil Kalandra.
"Ya?"
"Aku nggak bakal tukar kekacauan ini dengan ketenangan apa pun di dunia."
Elisa tersenyum, ia menarik kerah baju Kalandra dan memberikan ciuman singkat namun penuh perasaan di bibirnya. "Aku juga, Mas. Ayo, pasukan sudah menunggu konduktornya." Sungguh kalandra kaget dengan tindakan sang istri
Malam itu, simfoni di mansion Mahendra kembali bergema. Bukan suara denting piano atau musik klasik, tapi suara tangisan, tawa kecil Kalandra saat kena pipis bayi, dan suara Elisa yang bersenandung lembut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Selamat membaca guyssss☺️🌹🥰...