Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.
Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.
Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.
Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.
Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Bismillah yang Ragu
Mobil Reza berhenti di halaman rumah sederhana dengan cat tembok usang. Bagian teras dipenuhi berbagai macam bunga dengan daun dan bunga warna-warni di pot bawah maupun gantung. Daun-daun hijau merambat di teras, beberapa bunga kecil mekar cerah. Indah. Menenangkan dan menyejukkan mata.
Reza memejamkan mata sejenak sebelum turun dari mobil.
"Aku gak pernah bayangin akan ada hari ini," gumamnya dalam hati.
Rahman memapah Siti, sedang Reza membawa paper bag di tangan kiri dan box di tangan kanan.
Reza mengetuk pintu. "Assalamu'alaikum," ucapnya, matanya melirik meja dan kursi sederhana dengan taplak meja sulam motif bunga.
"Aku gak pernah lihat taplak seperti itu," batinnya.
"Wa'alaikumsalam." suara seorang wanita terdengar dari dalam dan tak lama seorang wanita paruh baya muncul. Aini.
Sudut bibirnya tertarik ke atas melihat tiga orang di depannya. "Eh, Pak Rahman, Bu Siti. Mari masuk," ujarnya ramah.
Reza menatap sofa tua di ruang tamu sederhana, sebelum akhirnya duduk dan meletakkan oleh-olehnya.
"Ini sedikit oleh-oleh," ucap Siti.
"Terima kasih," ucap Aini tulus. "Jadi repot," tambahannya, lalu menatap Reza. "Ini...Nak Reza?"
Reza mengangguk sopan. "Benar, Bu," jawabnya singkat.
"Ah, Ibu sampai pangling," ujar Aini seraya mengambil air mineral gelasan dari bawah meja lalu meletakkannya di atas meja. "Maaf cuma air putih."
"Nggak usah repot-repot," kata. Siti, tersenyum tipis meski wajahnya pucat.
"Ayza ada, Bu Aini?" tanya Pak Rahman.
"Ada, Pak. Sebentar saya panggilkan." ia bergegas masuk ke dalam.
Tak lama kemudian Aini masuk bersama Ayza.
Ayza menghampiri Aini dan Rahman.
“Om, Tante,” sapanya lembut. Ia menunduk, menyalami, lalu mengecup punggung tangan Aini dengan hormat.
Aini mengusap lengan Ayza. “Sudah lama nggak ketemu,” ucapnya dengan senyum tipis.
“Iya, Tan.” Ayza membalas singkat. Ia lalu mengatupkan kedua tangan di depan dada, menunduk sopan ke arah Rahman dan Reza.
Rahman membalas dengan anggukan kecil.
Reza hanya mengangguk pelan, matanya tak lepas dari gadis bercadar itu.
Langkah Ayza teratur, sedikit lebih kaku di satu sisi. Gerakannya tampak hati-hati saat membungkuk dan ketika hendak duduk. Tenang, nyaris tak mencolok, namun cukup bagi Reza untuk menyadarinya.
Rahman akhirnya membuka percakapan. “Kedatangan kami ke mari ingin melanjutkan pembicaraan tempo hari. Soal perjodohan Nak Ayza dan putra kami, Reza.”
Aini mengangguk. Ayza tetap menunduk, jemarinya saling bertaut di pangkuan.
Rahman menarik napas dalam sebelum melanjutkan. “Jika Bu Aini berkenan, dan Nak Ayza bersedia, kami ingin meminang Nak Ayza untuk putra kami.”
Aini menoleh pada Ayza.
Ayza hanya mengedipkan mata pelan, nyaris tak terlihat.
Siti, Rahman, dan Reza terdiam menunggu.
“Saya sudah membicarakan hal ini dengan Ayza,” kata Aini akhirnya. “Dan saya menerima pinangan ini sesuai persetujuannya.”
Reza tetap diam.
Rahman dan Siti saling berpandangan, lalu mengangguk tipis.
“Sebelum kita bicara lebih jauh,” Rahman menjeda, suaranya mengeras tipis seolah memilih kata, “ada beberapa hal yang perlu kami sampaikan.”
“Silakan,” jawab Aini.
Namun entah mengapa, sejak kalimat itu terucap, dada Aini terasa sedikit tidak tenang.
Rahman berdehem pelan. “Nak Ayza dan Reza memang kenal sejak kecil, tapi jarang bertemu. Belum saling mengenal lebih jauh.” Ia berhenti sejenak. “Jadi… tanpa bermaksud buruk, apalagi merendahkan Bu Aini dan Nak Ayza—”
Rahman menelan ludah. Nadanya terjaga, hati-hati. “Untuk sementara, sebelum mereka benar-benar cocok dan saling mencintai, kami berharap pernikahan ini dilakukan secara siri.”
Ayza refleks mengangkat wajah. Matanya membulat sesaat sebelum kembali tertunduk.
Aini membeku.
Rahman buru-buru melanjutkan, seolah takut kalimat barusan terlalu tajam. “Jika kelak mereka saling cocok dan cinta, Reza akan meresmikan pernikahan ini secara negara dan mengadakan resepsi. Akan tetap ada akta nikah siri. Jadi bila suatu hari ingin didaftarkan, itu bisa digunakan.”
Reza akhirnya angkat suara. “Semua ini juga untuk kebaikan Ayza,” katanya datar. “Dengan nikah siri terlebih dahulu, bila kami memutuskan berpisah… status Ayza tetap lajang.”
Aini menoleh ke putrinya. Jemarinya mengusap punggung tangan Ayza lembut. “Nak, keputusan sepenuhnya ada di tanganmu.”
Siti menimpali cepat, suaranya lirih namun tegas. “Kalau kamu keberatan, kami tidak akan memaksa.”
Ayza memejamkan mata sejenak. Tarikan napasnya pelan, nyaris tak terdengar. “Jika menurut Ibu, Om, dan Tante ini yang terbaik,” ucapnya akhirnya, “Ayza bersedia.”
Rahman dan Siti menghela napas lega hampir bersamaan.
“Alhamdulillah.”
Siti menggenggam tangan Rahman, senyum tipis terbit di wajahnya. Rahman balas tersenyum dan menggenggam tangan Siti.
Aini hanya tersenyum samar. Senyum yang lebih menyerupai doa. "Semoga ini pilihan yang tepat, batinnya," meski keraguan belum sepenuhnya pergi.
Reza ikut tersenyum. Tipis. Dipaksakan. "Ini demi ayah dan bunda," pikirnya. "Kalau tidak…"
Tatapannya melirik Ayza.
Gamis longgar menutupi tubuhnya. Cadar hampir menutup seluruh wajah itu.
"Bagaimana mungkin aku menjadikannya pendampingku di acara-acara resmi?"
Ia tak tahu, kelak ia akan menyesali cara pandangnya sendiri.
Ia lupa satu hal sederhana, bahwa tidak semua bisa dinilai dari apa yang tampak di permukaan.
“Soal hari pernikahan…” ucap Siti ragu. Tatapannya berpindah dari Rahman, lalu ke Aini dan Ayza.
Aini dan Ayza saling pandang sejenak.
“Kami menurut saja,” jawab Aini akhirnya.
Rahman dan Siti saling bertukar pandang singkat.
“Besok saya dan istri harus berangkat ke Singapura untuk pengobatan,” ucap Rahman hati-hati. “Jika Bu Aini dan Nak Ayza tidak keberatan… bagaimana kalau pernikahannya besok pagi saja?”
Aini menoleh pada Ayza. Ayza mengangguk pelan.
“Baik. Kami tidak masalah,” ucap Aini.
Rahman dan Siti langsung mengucap hamdalah.
Dan Reza? Ia hanya menghela napas berat, seolah udara di ruangan itu tiba-tiba menipis.
“Kalau begitu, kami pamit dulu,” lanjut Rahman. “Bu Aini dan Nak Ayza tidak perlu menyiapkan apa pun. Biarkan kami yang mengurus semuanya.”
“Baik, Om,” jawab Ayza lirih.
Ayza dan Aini berdiri di teras, mengantar kepergian Pak Rahman dan keluarganya hingga mobil menghilang di ujung jalan.
Saat kembali duduk di sofa ruang tamu, Aini menggenggam tangan Ayza erat.
“Nak,” ucapnya pelan, “kamu sudah memutuskan. Maka jalani sepenuh hati. Jangan setengah-setengah.”
Ayza mengangguk. “Aku mengerti, Bu. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik… sesuai ajaran agama kita.”
Aini tersenyum. Bukan senyum bahagia, tapi untaian doa yang dipanjatkan ke langit.
“Bismillah,” bisiknya. “Semoga ini yang terbaik. Aamiin.”
...🔸🔸🔸...
...“Tidak semua pernikahan diawali cinta. Sebagian hanya diawali persetujuan, dan doa agar luka tidak datang terlalu cepat.”...
...“Kadang yang paling berani bukan mereka yang memilih pergi,...
...melainkan mereka yang tetap tinggal meski tahu cintanya tak pernah dijanjikan.”...
...“Manusia boleh merencanakan dengan hitungan, tapi Tuhan sering menguji dengan perasaan.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Fahri selalu ngingetin Ayza jangan sampai jatuh Cinta sama Pria Bestard kaya si Reza🤣,tenang saja Fahri...Ayza tidak akan pernah jatuh cinta sama kakakmu,Ayza mh sudah ada yang nungguin Cinta sejatinya Ayza...Kaisyaf😍