Dini Kirana yang masih kelas dua SMA dijual oleh ayah tirinya kepada pria kaya yang sudah banyak istri untuk melunasi hutang. Dini memilih kabur dari rumah dan akhirnya kesasar ke salah satu Desa. Di tempat itu, Dini bertemu Aksa yang sudah berusia 28 tahun.
"Mas, boleh ya saya tidur di rumah kamu? Tolong Mas, saya butuh tempat tinggal."
"Kamu bukan siapa-siapa saya Dini, saya tidak mau digerebek warga Desa."
Bagaimana kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Di Tapal Batas pria berpakaian santai tapi rapi, wajah tampannya di sorot lampu jalanan yang bersinar redup. Tetapi tidak menjawab ketika Dini minta tolong.
"Mas" ucap Dini berlari ke arah pria itu lalu menghadang.
Si pria kaget melihat wanita yang berdiri di hadapannya. Tidak biasanya penduduk desa berada di tempat ini ketika malam begini. Sebab, tapal batas agak jauh dari pemukiman penduduk.
"Malam-malam begini kamu di tempat ini sendirian lagi, manusia atau Mbak Kunti?" Gurau pria bertubuh tinggi itu.
"Lihat belakang saya?" Dini putar balik, langsung saja percaya kepada pria dewasa kira-kira 30 tahunan yang baru ia jumpai itu.
"Ada apa dengan bahu kamu?" Pria itu mengerutkan kening.
"Bolong tidak punggung saya? Kalau tidak bolong berarti manusia dong..." Dini masih posisi membelakangi pria itu.
"Kamu ini ada-ada saja" Si pria pun meninggalkan Dini.
"Mas, tunggu" Dini mengejarnya, mengulurkan tangan hendak berkenalan. "Nama saya, Dini Kirana" ucapnya tersenyum.
"Aksa" hanya itu jawaban si pria, lagi-lagi hendak melanjutkan perjalanan.
"Mas jangan pergi. Memang kamu tega membiarkan gadis secantik saya dimakan binatang buas?" Dini cemberut, menurutnya pria itu tidak peka. Kenapa tidak mengajaknya.
Aksa menarik napas panjang, wanita itu banyak alasan. Mana ada di desa ini binatang buas seperti yang Dini pikirkan. "Sebaiknya kamu pulang? Di mana rumah kamu?" Aksa bersedia mengantarnya.
"Aku tidak mau pulang" Dini menunduk sedih, daripada pulang dan dijual kepada pria tua bangka itu lebih baik dimakan binatang buas di tempat ini.
"Kamu pasti kabur dari rumah kan? Kebiasaan orang kota kalau ada masalah terus kabur" Aksa melanjutkan perjalanan.
"Jangan sok tahu, lagian dari mana kamu tahu kalau saya orang kota?" Sungut Dini terus mengikuti langkah Aksa.
Aksa tidak menyahut, jelas ia bisa menebak bahwa Dini berasal dari kota. Dilihat dari kulitnya yang putih bersih dan bajunya yang mahal.
Tidak ada lagi suara dari mereka selain cetat cetit yang berasal dari sandal jepit Aksa, dan tak tak tak, berasal dari sepatu Dini.
"Kamu mau kemana? Saya mau pulang ini?" Aksa menatap Dini bingung, kenapa gadis itu terus mengikuti tidak mau mendengarkan kata-katanya.
"Tolong Mas, bawa saya ke rumahmu" Dini memelas.
"Tidak bisa Dina, saya tidak mau mengecewakan warga" Aksa tidak mau reputasinya rusak gara-gara menolong Dini, walaupun sebenarnya tidak melakukan apa-apa tapi norma di desa ini masih dipegang teguh.
"Dini, bukan Dina" protes Dini, karena Aksa salah panggil nama.
"Pokoknya Dina atau Dini, saya katakan sekali lagi. Saya tidak mau menampung wanita di rumah saya. Kamu tidak tahu peraturan desa ini? Bisa-bisa kita digerebek warga."
"Hiks hiks hiks" Dini justru akhirnya menangis terisak-isak.
"Eh, eh. Kenapa kamu menangis?" Aksa panik.
"Mas tega membiarkan saya tidur di tempat ini? Hu huuuu..." Dini duduk di pinggir gang sempit, ia bingung entah mau kemana. Alamat nenek yang diberikan Ratna pun hilang, padahal seingatnya ia simpan di saku celana panjang.
"Dini... disini itu bukan dikota tempat tinggal kamu yang dengan mudah menerima tamu lawan jenis" Aksa menjelaskan lembut.
"Hu huuuu..." tangis Dini semakin kencang.
"Baiklah, sebaiknya kamu saya antar ke Pak rt" Aksa lebih baik membawa gadis itu ke perangkat Desa.
Dini diam, jika Aksa lapor rt otomatis keberadaannya akan tercium oleh ayah tirinya. Dini yakin jika Ringgo tidak mau tinggal diam, saat ini pasti sedang mencarinya.
"Daripada kamu bawa saya ke Pak rt, lebih baik saya tidur di sini saja. Sana pergi!" Usir Dini. Ia buka ransel di bahu akan ia jadikan bantal.
Aksa pun serba salah, jika ada orang nakal yang kebetulan lewat jalan ini dan berbuat macam-macam kepada Dini tentu ia akan merasa bersalah. "Baiklah, malam ini kamu boleh menginap di rumah saya, tapi harus janji ya, pagi-pagi sekali segera pergi" Aksa akhirnya tidak tega.
"Iya, sebenarnya saya mau mencari rumah Nenek, tapi jalan ke rumahnya lupa" lirih Dini, mengusap air matanya.
"Kamu punya Nenek? Sekarang juga saya antar ya?" Aksa merasa lega.
"Di tempat ini saya tidak tahu arah" Dini menceritakan bahwa alamat neneknya hilang, jika besok pagi matahari sudah terbit mungkin saja ingat arah.
Aksa tidak lagi bertanya, dengan perasaan campur aduk khawatir di ketahui Warga jika membawa wanita ke rumah, ia melanjutkan perjalanan. Membiarkan Dini mengikuti.
Rumah kecil sederhana tampak bata di sekelilingnya yang belum di plaster, Aksa mengajak Dini masuk. Dini mengedarkan pandanganya, tidak ada kursi apa lagi sofa di rumah itu, selain meja belajar untuk menumpuk buku-buku entah apa pekerjaan Aksa.
"Di rumah ini kamar hanya satu, sebaiknya kamu tidur di kamar saya" titah Aksa.
"Lalu kamu tidur di mana?" Dini kasihan, Aksa sampai merelakan kamarnya.
"Jangan pikirkan saya."
Tok tok tok.
Aksa menatap Dini Deg degan ketika pintu rumahnya ada yang mengetuk.
"Kamu sembunyi dulu" Aksa mendorong tubuh Dini agar bersembunyi di kolong meja belajar yang sempit.
"Pak Aksa..." Suara perempuan di luar sana sudah tidak sabar.
"Ya... Sebentar..." Aksa pun akhirnya membuka pintu.
"Eh, kamu Ri?" Aksa berharap Lestari anak ibu sebelah itu tidak masuk ke rumah, tapi wanita yang seusia Dini itu nyelonong masuk membawa mangkuk yang masih ngebul.
"Saya disuruh Ibu mengantar bubur kacang hijau Pak, enak loh, dingin-dingin begini" Lestari meletakkan mangkok di meja belajar.
"Duh, bagaimana ini?" Aksa berdiri di depan pintu memandangi Lestari dengan perasaan panik dan was-was, Lestari akan tahu bahwa ia menyembunyikan wanita di rumah ini.
Sementara di kolong meja belajar, Dini tak kalah panik ketika menatap kaki Lestari persis di depannya.
"Kok di sini bau pupuk to, Pak?" Lestari membungkuk mengendus dan mencari di mana Aska menyimpan pupuk tanaman.
Dini merapat ke tembok dengan dada berdebar kencang takut jika Lestari melihatnya. "Bau pupuk?" Dini mengendus baju bagian lengan kanan dan kiri, tanpa ia sadari memang bau pupuk. Rupanya mobil bak terbuka yang ia tumpangi tadi hendak mengantar pupuk orea ke desa ini.
"Pupuk apa Ri? Tolong sampaikan sama ibu, terima kasih buburnya" Aksa akhirnya mendekat. Berharap Lestari segera pergi.
"Benar Pak, bau nya sih dari kolong meja sini" Lestari semakin membungkuk.
...~Bersambung~...