Ciluk ba...
"Ha yo... Om mau mendekati Mamaku ya?" seru seorang gadis cilik dengan rambut keritingnya.
"Enggak. Siapa juga yang mau mendekati Mamamu yang janda itu?" tanya seorang laki-laki yang tak lain adalah atasan dari Ibu gadis cilik itu, Luis Marshal Gena.
"Om suka lilik-lilik Mama. Ndak boleh ya, Om. Nanti matanya bintitan," ucap gadis cilik itu lagi.
Seorang janda atau single mom bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan. Kata orang-orang, dirinya disebut sebagai janda seksi. Padahal menurut sang empu, dia biasa saja.
Luis yang merupakan atasannya, begitu kagum dengan sosok sekretarisnya yang mandiri dan tegas. Bahkan berulangkali terpergok melihatnya. Namun perjalanan Luis mendekati sekretarisnya sangat terjal karena anaknya yang tampak tak suka dengannya.
Mampukah Luis meraih hati si janda seksi dan anaknya itu? Lalu bagaimana dengan mantan suami dari sekretarisnya yang tiba-tiba datang dan menjadi penghalang mereka untuk bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jahil
"Beli pembersih khusus make up waterproof, Tuan Kim. Itu bisa untuk membersihkan spidol permanen," ucap Emma memberitahu Kim agar membeli pembersih make up untuk wajahnya. Sungguh, ia merasa kasihan pada Kim dan kedua pengawal Luis itu.
"Bentuknya seperti apa, Nona? Saya tidak paham," ucap Kim sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Emma pun mengambil ponselnya dan mencari gambar pembersih make up. Setelah menemukan apa yang dicarinya, Emma menunjukkannya pada Kim. Ia membawa pembersih make up, namun tinggal sedikit.
Jika diberikan pada Kim dan kedua pengawal, tentu tidak cukup. Kim pun menganggukkan kepalanya kemudian menengadahkan telapak tangannya ke arah Luis. Sedangkan Luis, tampak kebingungan dengan maksud dari Kim.
"Mau cium tangan itu, Om bos." seru Aiko membuat Luis meraih tangan Kim kemudian punggung tangannya didekatkan pada dahi pengawalnya.
"Bukan ini, Bos." seru Kim yang langsung melepaskan tangannya.
"Saya mau minta uang untuk beli pembersih itu," serunya yang kesal malah disuruh mencium tangan Luis. Sudah seperti dia mau pamitan berangkat sekolah sama orangtuanya saja.
"Bilang dong. Mana saya tahu kalau kamu mau minta duit?" seru Luis dengan tatapan sinisnya.
"Lagian ngapain beli pembersih make up itu sih? Pakai bensin mobil itu kan bisa. Tinggal dicolek, terus diratakan ke muka." ucapnya memberikan ide membuat Kim memelototkan matanya.
"Iya, benal kata Om bos. Habis itu nyalakan kolek api dan bakal. Habis dan hilang sudah mukana," timpal Aiko.
Hahahaha...
Luis dan Aiko tertawa bersamaan saat berhasil menjahili Kim dan dua pengawalnya. Mereka terlihat sangat kompak, membuat Emma langsung memalingkan wajahnya. Matanya berkaca-kaca karena terharu melihat Aiko bisa tertawa lepas begitu.
Tak lupa dengan Kim dan kedua pengawalnya, mereka saling pandang. Seakan tengah berdiskusi karena tak percaya dengan penglihatan mereka. Luis tertawa lepas, seakan beban pekerjaan dan tuntutan dari keluarga hilang seketika.
"Kita permisi pamit dulu, Tuan dan Nona. Kami tak akan mengganggu kebersamaan keluarga kecil ini," ucap Kim yang kemudian pergi dari kamar hotel tempat tinggal Emma tanpa jadi minta uang pada Luis.
"Keluarga kecil?" gumam Luis yang langsung menghentikan tawanya.
"Apa aku bisa punya keluarga kecil yang bahagia? Kehangatan di keluargaku saja penuh kepalsuan, apalagi jika aku membentuknya dengan orang asing." lanjutnya sambil menghela nafasnya pelan.
"Om bos melamun, Mama. Sepeltina Om bos lagi mikilin utang paylatelna yang jatuh tempo," bisik Aiko karena kini bocah cilik itu sudah berada di dalam gendongan Emma.
"Huss... Mana ada Om bos punya hutang? Yang ada, Mama nih yang punya hutang cicilan rumah." ucap Emma sambil tertawa.
Emma hanya bisa menggelengkan kepala mendengar ucapan dari Aiko. Buat apa juga Bosnya itu punya hutang paylater? Ia tahu seberapa banyak kekayaan dari Bosnya itu. Belum lagi keluarganya yang masuk dalam jajaran konglomerat negeri ini.
Om bos, kalau butuh teman culhat bisa lho celita sama Aiko. Jangan melamun,
Lahasia dijamin aman, kecuali kalau ada yang sogok Aiko buat celita. Ya Aiko celitakan, lumayan lho uangna buat jajan.
Astaga... Maafkan anak saya, Pak. Dia memang sok tahu anaknya,
Tidak apa-apa. Aku suka gadis yang cerewet,
Tuh kan... Om bos suka sama Aiko. Om bos suka sama Mamana Aiko juga ndak?
Eh...
***
Rasanya Emma sangat malu mendengar ucapan Aiko. Bisa-bisanya Aiko menanyakan Luis tentang dia suka dengan Emma atau tidak. Namun Luis hanya menanggapinya dengan senyum tipis kemudian pergi. Namun lihat lah bocah yang tadi membuatnya malu, sekarang malah bergulingan di atas kasur.
"Mama ndak ada niatan buat ajak Aiko jalan-jalan? Lugi kali sudah jauh-jauh ke lual kota tapi cuma tidulan di kamal hotel," ucap Aiko yang tengah menyindir Mamanya agar mengajaknya jalan-jalan.
"Nanti malam, Aiko. Sama Om bos juga," jawab Emma yang kemudian berbaring di samping Aiko.
"Malam? Malam itu tidul lho, masa mau jalan-jalan." ucap Aiko dengan tatapan bingungnya.
"Iya, jalan-jalan mau melihat lampu." ucap Emma.
"Lampu? Kulang keljaan sekali Mama dan Om bos. Jalan-jalan lihat lampu? Di hotel saja bisa. Lampuna juga banyak," gumam Aiko sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal.
"Mama, kenapa jalan-jalanna lihat lampu? Kok ndak lihat dolal saja, bial matana ijo." tanyanya lagi.
Tidur...
Daripada semakin membuat Emma pusing, wanita itu segera membawa Aiko ke dalam pelukannya. Ia mengusap lembut punggung Aiko agar tertidur. Semakin hari, anaknya ini sangat cerewet dan banyak ingin tahunya. Ia sedikit kuwalahan dalam menjawab pertanyaan dari Aiko.
"Sabar. Anak umur segini emang lagi aktif-aktifnya," gumam Emma sambil menghela nafasnya pelan.
***
Senangna hatiku, jalan-jalan sama Mama dan Om bos.
Makan semua glatis. Disayang dan dimanja sama Om bos,
Aiko mengucapkan kalimat yang bernada membuat suasana malam itu tak sepi. Aiko bersama Emma dan Luis saling bergandengan tangan. Aiko berada di tengah-tengah antara Emma dan Luis. Jika dilihat, ketiganya sudah seperti keluarga kecil yang bahagia.
"Jangan sering minta-minta sama Om bos. Nanti uang Om bos habis," ucap Emma menegur anaknya.
"Bisa pakai paylatel, Mama. Santai..." ucap Aiko dengan santainya.
"Paylater?" tanya Luis dengan tatapan bingungnya.
"Iya, beli sekarang terus bayarnya nanti." ucap Emma menjelaskan.
"Kredit?" tanya Luis lagi dan diangguki kepala oleh Emma.
Kredit? Tentu saja itu bukan kebiasaannya. Ia jarang menggunakan kartu kredit atau membeli barang dengan mencicil. Bahkan rumah dan mobil saja, dirinya beli secara cash. Bahan baku untuk produksi di perusahaannya, ia bayar lunas setelah produk sampai.
"Om bos, mau boneka itu." seru Aiko yang begitu antusias saat melihat sebuah boneka panda besar di toko mainan.
"Eh... Nggak ya. Boneka Aiko sudah banyak di rumah. Lagian bonekanya juga nanti bakalan rusak kalau dipegang sama Aiko," ucap Emma melarang Aiko untuk membelinya.
"Nggak papa, beli aja. Daripada anaknya ngambek dan menangis," ucap Luis saat melihat mata Aiko kini berkaca-kaca.
"Tidak semua yang diminta oleh anak kecil harus dituruti, Kak Luis. Asal Kak Luis tahu, boneka Aiko di rumah itu banyak sekali dan selalu dirusak setelah beli." ucap Emma dengan tegas.
"Aiko kan lagi belajal doktel-doktelan. Jadi halus dipeliksa dan diopelasi itu kepala juga pelutna," ucap Aiko dengan polosnya.
Nah... Paham kan, sekarang? Kenapa aku melarang membelikan boneka?
Luis hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia kebingungan harus menuruti keinginan siapa. Jika tidak menuruti Aiko, pasti bocah itu akan terus merengek dan menangis. Semakin membuat repot dirinya dan Ema.
O...
Luis, ngapain kamu di sini?
Ini sama siapa?
Eh...
ets tapi ada rasa senang juga melihat drama calon keluarga kecil itu 🤭
mama Emma, papa bos, dan si kecil Aiko😂
ini buktinya🤣🤣
dengan itu om bos ,kalau gak tertarik mending buat kakek Regan aja😂
Emma lihat tuh kak Luis dan Aiko sangat kompak bukan ,sangat pantas dan cocok jadi suami mu 😂
Luis kapan ngajakin nikah 🤣
serius aku nanya😂
nanti tambah gak tumbuh tumbuh rambut nya Kim kalau sama Celine hahaha
tapi bener juga siapa tau cocok😂