Ricky Riswan ( Yasir Hamdan)seorang pekerja di kota Jakarta yang baru saja mendapatkan gelombang PHK dari perusahannya tempatnya bekerja, ia memutuskan untuk kembali ke Tasikmalaya, di mana tanah kelahirannya berada ,ia berencana untuk mengembangkan dan mengolah lahan milik keluarganya , hanya saja di tengah jalan ,mobil bus yang ditumpanginya mengalami kecelakaan dan meledak ,dan saat ia sadar ia berada di desa yang sangat asing bagi dirinya dan baru mengetahui bahwa dirinya akan dijadikan sebagai pengantin pria untuk dua gadis yang tidak dia kenal , bagaimana kelanjutan cerita ini, masih lama bro ,mungkin nunggu dua tahun atau lebih...!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pecinta timur10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2 makan bersama di pagi hari
Yasir menoleh ke belakang ,ia melihat seorang anak kecil yang tampak membawa barang yang cukup berat, namun anak kecil tersebut tidak memiliki hal rasa lelah ,melainkan semangat yang timbul karena barang bawaannya itu.
" Yahya ,apa yang kamu bawa ?" Yasir balik bertanya ,ia memandang ke arah bakul yang di bawa oleh anak kecil yang bernama Yahya tampak seperti buah kelapa yang sudah dihilangkan sabutnya.
" ini ,kelapa ,aku mau pergi ke kota dekat desa ,menjual kelapa ini ,mumpung harganya masih mahal " kata Yahya dengan wajah kecil yang kurus.
" ohh ... bagus semangat... !"
Yasir berjalan canggung dan hanya menatap ke arah anak kecil yang membawa barang melebihi ukuran tubuhnya, " anak zaman dahulu sangat kuat dan memiliki sifat yang tangguh ,hanya saja aneh dengan sifat pemilik tubuh ini ,bodoh ,pemalas dan juga pemabuk berat " kutuknya dalam hati .
Ia terus berjalan menelusuri pematang sawah yang belum di kerjakan oleh para petani dan ia mengambil satu demi satu bulir padi yang menempel di pematang sawah ,hingga dalam waktu dua puluh menit ,berhasil mengumpulkan satu kilo bulir bulir padi .
" yah ini cukup...!"
" bang Yasir apa yang kamu lakukan dengan gabah gabah itu, ?" Tanya seorang pria muda yang membawa cangkul di pundaknya.
" ehh Kasnan ,aku hanya penasaran dan mencoba mengumpulkan gabah gabah ini " kata Yasir dengan senyum tipis .
" kalau mau banyak, ada di gubuk bang ,"
" tidak ini saja ..!" Yasir tahu pemuda itu hanya menawarkan saja ,tidak benar benar ikhlas memberi ,hal itu terlihat dari raut wajah Kasnan yang khawatir.
" tidak apa apa bang ,...!"
Yasir berdiri dan berencana membawa gabah gabah itu kembali, " tidak terimakasih, ini sudah cukup " ucap Yasir pergi dari hadapan pria muda itu.
Ia tidak mau terkena masalah atau gosip dari warga desa Plarangan, ia juga perlahan akan mengubah dirinya dari seorang pemalas menjadi pemuda yang berguna bagi keluarga dan negara ( walaupun zaman itu adalah zaman kolonial Belanda, tapi pemikiran untuk merdeka sudah ada sejak 1928 , dan mulai muncul partai politik di berbagai daerah di pulau Jawa).
Berjalan pelan ,ia kembali naik ke atas tanjakan yang cukup licin, ia tidak habis fikir dengan jalan selicin ini ,bisa dilewati dengan mudah oleh para warga dan juga keluarga barunya.
Saat sampai di rumah ,ia melihat bahwa ada satu karung kain tepung singkong dan juga beberapa ikan asin yang kering .dan ia juga melihat sebotol minuman yang tidak asing baginya.
" mas sudah pulang " gadis yang ada di dalam rumah melihat Yasir terdiam menatap ke arah dapur .
" ya , kenapa kamu membeli minuman ini ?"
" ini , aku .... !" Matanya tampak berkaca kaca ,seperti ingin mengatakan sesuatu tapi takut .
" baiklah jangan menangis ,aku sekarang adalah kepala keluarga, aku tidak butuh minuman seperti itu dan aku harap di masa depan, tidak ada lagi kejadian seperti ini, kembalikan " kata Yasir dengan wajah serius ,ia menghapus air mata yang mengalir pelan di wajah pucat gadis yang belum tahu namanya siapa.
" baik ,aku akan kembalikan...!"
" tunggu ..!"
" ada apa mas ?"
" umhh siapa nama kamu dan saudarimu, agar aku bisa memanggil kalian berdua dengan nama " Yasir tersenyum tipis, ia duduk di kursi meletakan gabah yang ada di kantongnya itu.
" aku Lestari dan saudariku, Halimah..." jawabnya pelan, tampak tidak berani menatap Yasir yang ada di depannya.
" baiklah, Tari ,aku akan memanggilmu dengan nama itu "
" terimakasih mas !"
Gadis kurus yang bernama Lestari itu berdiri dan akan segera mengembalikan minuman yang sempat di beli tadi, namun Yasir menghentikannya, " Tari apakah kamu sudah makan ?"
" umhh belum... nasi singkongnya belum matang !"
" tunggu dulu ,setelah makan baru kembalikan barang haram itu , juga panggil umi dan Halimah untuk makan bersama, "
" baik mas !"
Tak lama kemudian dua wanita tua dan muda muncul dengan pakaian yang dipenuhi keringat , keduanya tampak seperti baru saja dari sawah ,dan itu terlihat dari penampilan wanita tua yang kakinya penuh dengan lumpur.
" umi dari mana ?" Tanya Yasir prihatin .
" dari sawah nak , kamu juga darimana ,apakah sudah makan ?" Sang wanita tua tersenyum tipis ,dan mulai membersihkan kakinya di aliran air yang cukup untuk membersihkan kaki dan tangan.
" aku belum makan ,kita semua makan bersama sama " kata Yasir masuk ke dalam rumah .
Mata wanita tua itu dipenuhi rasa terkejut, ia merasa pemuda di depannya sangat baik dan tidak melakukan hal kasar yang seperti di beritakan oleh para penduduk.
" umi kamu sudah tua, biar aku saja yang bekerja ,juga aku lihat punggung umi sudah tidak bisa lagi tegak " mata Yasir dipenuhi rasa kasihan dan ia berjanji untuk bekerja baik dan halal .
Wanita tua itu hanya tersenyum, " tidak apa apa nak , umi tidak lelah ,umi bekerja juga demi semua orang ,kamu sebagai menantu umi memang berhak untuk bekerja , tapi umi masih sanggup"
" tidak umi ,sekarang juga umi harus berhenti ,bagaimana jika cucu umi lahir dan melihat neneknya tidak berdaya dan tidak bisa bermain dengan cucunya, aku sebagai seorang lelaki merasa gagal dan aku tidak mau melihat hal ini " kata Yasir terus membujuk.
" terus di masa depan , siapa yang akan memenuhi kebutuhan hidup sehari hari ?"
" saya umi, aku ingat masih ada pekerjaan di pasar dan setiap minggu aku dapat sekitar sepuluh hingga dua puluh sen ,itu cukup untuk makan satu minggu dan kita semua bisa menabung sedikit, " kata Yasir bersungguh sungguh.
Wanita tua itu merasa ada yang menopang hidupnya, matanya menatap kedua anak perempuannya yang tampak memerah di mata dan wajahnya, keduanya merasa bahwa hidup di masa depan akan menjadi maju dan normal dan ada kesungguhan tekad di masing masing mata dua gadis muda itu.
" baiklah nak ,aku akan berhenti bekerja, tapi kamu harus segera memberikan umi cucu , kedua putriku secara sah sudah menjadi istrimu ,walaupun terdengar aneh, tapi sudah tertulis di atas kertas " kata wanita tua itu tersenyum penuh pengharapan.
" baik umi ,aku akan berusaha...,sudah sekarang kita sarapan bersama sama " Yasir mengambil piring kayu yang cukup kasar dan mengisinya dengan nasi singkong yang cukup banyak ,lalu meletakan di depan wanita tua itu ,lalu kemudian ia mengambil wadah dua gadis yang masih kosong itu .
" biar saja kami saja mas , "
" tidak apa apa tenang saja imah , " Yasir melakukan hal yang sama dan sekarang nasi singkong sudah berpindah tempat .
" umi makan yang banyak ,kamu harus sehat selalu, Tari , Imah kalian juga makan yang banyak ,setelah ini aku akan mengajak salah satu diantara kalian berdua untuk pergi ke pasar, agar yakin bahwa aku bekerja seperti biasa dan melakukannya secara halal " ujar Yasir dengan wajah bersungguh sungguh. Ia ingin membuktikan bahwa dia bukan pemuda malas dan akan berubah selamanya .
" baik mas ,biar Tari saja yang menemani mas pergi ke pasar , imah sama umi di rumah !"