NovelToon NovelToon
TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Tumbal
Popularitas:191
Nilai: 5
Nama Author: S. N. Aida

Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.

Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.

Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.

Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 — RUMAH PENGABDIAN

Joglo tua itu berdiri di sisi barat desa, sedikit terpisah dari pemukiman warga lainnya oleh kebun singkong yang rimbun. Bangunan itu megah, sisa kejayaan masa kolonial yang telah memudar, dengan tiang-tiang penyangga dari kayu jati utuh yang diameternya seukuran pelukan orang dewasa.

​"Ini rumah ndalem," jelas Pak Wiryo sambil membuka pintu ganda yang berat. Engselnya tidak berderit, seolah baru saja diminyaki—atau mungkin karena sering dibuka-tutup oleh sesuatu yang tak terlihat. "Dulu rumah ini milik lurah pertama. Kosong sepuluh tahun, tapi kami rawat untuk tamu istimewa seperti kalian."

​Udara di dalam rumah itu statis. Tidak apek, tapi berat. Dion melangkah masuk, hidungnya kembang kempis. Ia mencium bau lilin yang baru dipadamkan dan aroma tanah basah, padahal lantai rumah itu terbuat dari tegel kunci yang dingin.

​"Kamar tidur ada tiga," lanjut Pak Wiryo, menunjuk ke lorong gelap di sisi kanan ruang tengah yang luas. "Satu untuk laki-laki, yang besar untuk perempuan. Kamar mandi ada di belakang, dekat sumur."

​"Listrik gimana, Pak?" tanya Raka, matanya menyapu ruangan yang hanya diterangi lampu pijar 5 watt yang temaram di langit-langit tinggi. Bayangan perabotan kayu tua di sudut-sudut ruangan tampak memanjang, menyerupai siluet orang yang sedang membungkuk.

​"Listrik ada, dari genset desa. Tapi jam dua belas malam akan mati. Hemat bahan bakar," jawab Pak Wiryo. Senyumnya tidak pernah luntur. "Dan ingat, sesuai adat sini... sebaiknya setelah listrik mati, kalian sudah istirahat. Jangan keluyuran."

​Nara mengangguk, mencatat mental. "Terima kasih, Pak. Kami akan beres-beres dulu."

​Setelah Pak Wiryo dan Bu Kanti pamit—meninggalkan sepiring pisang rebus dan ubi yang masih mengepul panas—suasana hening kembali menyergap.

​"Gila, ini rumah gede banget tapi suram abis," keluh Lala. Ia meletakkan koper pink besarnya di tengah ruangan, suaranya memantul di dinding kayu. "Sinyal beneran nggak ada, woy. Gue nggak bisa update story."

​"Bersyukur masih dikasih tempat tinggal layak, La," tegur Siska pelan. Ia sudah membuka kerudungnya sedikit karena gerah, memperlihatkan rambutnya yang lepek. "Yang penting ada tempat sholat."

​"Bagi kamar," komando Nara. Insting kepemimpinannya mengambil alih untuk menutupi rasa tidak nyamannya. "Cewek di kamar tengah yang gede. Cowok di kamar depan. Oke?"

​Mereka bergerak membawa barang masing-masing.

​Dion, yang sedari tadi diam, berjalan memisahkan diri menuju lorong. Ia penasaran dengan tata letak rumah ini. Sebagai mahasiswa psikologi yang terbiasa mengamati pola perilaku, ia juga punya kebiasaan mengamati ruang. Rumah ini terasa asimetris.

​Ia melewati kamar yang akan ditempati para gadis, lalu kamar laki-laki. Di ujung lorong yang gelap, ada satu pintu lagi.

​Pintu itu berbeda. Kayunya lebih gelap, nyaris hitam. Tidak ada pegangan pintu, hanya lubang kunci kuno yang besar dan berkarat. Dan anehnya, tidak ada ventilasi di atasnya. Seolah-olah ruangan di baliknya memang didesain untuk tidak bernapas.

​Dion mendekatkan telinganya ke daun pintu.

​Hening.

​Tapi bukan hening kosong. Hening yang berisi. Seperti saat kau tahu ada seseorang di ruangan sebelah yang sedang menahan napas agar tidak ketahuan.

​"Yon! Ngapain lo?" tepukan keras Bima di bahunya membuat Dion terlonjak.

​Jantung Dion berpacu cepat. "Ah, kaget gue, Bangsat."

​Bima tertawa, suaranya menggema terlalu keras. "Tegang amat muka lo. Itu kamar siapa?"

​"Nggak tau. Dikunci," kata Dion, berusaha menormalkan napasnya. "Pak Wiryo tadi nggak nyebut kamar ini."

​"Gudang kali. Atau tempat nyimpen gabah," sahut Bima acuh tak acuh. Ia menarik koper Dion. "Udah ayo, Raka udah nge-tag kasur yang deket jendela. Kita kebagian yang deket pintu."

​Dion menurut, tapi matanya masih terpaku pada pintu hitam itu. Sebelum ia berbalik, ia bersumpah melihat sesuatu. Di celah bawah pintu yang menyentuh lantai, ada garis tipis cahaya merah redup. Sangat redup. Dan kemudian hilang, seolah seseorang di dalam sana baru saja menutup celah itu dengan kain.

​Malam itu, mereka makan malam dengan bekal mie instan yang dimasak menggunakan air galon. Suasana mulai sedikit cair. Raka membuat lelucon tentang betapa kunonya desa ini, Lala tertawa manja menanggapi godaan Raka, sementara Siska makan dalam diam.

​Nara duduk sedikit menjauh, bersandar pada tiang utama joglo (saka guru). Ia mengamati teman-temannya. Ia melihat bagaimana Raka menatap belahan dada Lala saat gadis itu tertawa dan mencondongkan tubuh. Ia melihat bagaimana mata Lala berkilat, menikmati perhatian itu dengan cara yang lebih agresif dari biasanya.

​Nara menghela napas. Hormon, pikirnya. Anak muda yang jauh dari pengawasan.

​"Oke, briefing bentar," Nara memotong tawa mereka. "Besok kita mulai observasi desa jam tujuh pagi. Jangan ada yang telat bangun. Dan inget pesen Pak Wiryo. Jam dua belas tidur."

​"Siap, Bu Ketua," jawab Raka dengan nada mengejek yang main-main.

​Pukul 23.55.

​Nara berbaring di kasur kapuk yang keras diapit oleh Siska dan Lala. Siska sudah tertidur, napasnya teratur. Lala masih gelisah, bolak-balik badan.

​Nara menatap langit-langit kamar yang tinggi. Tanpa plafon, ia bisa melihat kerangka atap dan genteng tanah liat. Di sela-sela genteng itu, ada kegelapan pekat malam.

​Tepat pukul 00.00, lampu pijar di kamar itu berkedip sekali, lalu mati total. Suara mesin genset di kejauhan berhenti mendadak.

​Keheningan total menyergap.

​Nara memejamkan mata, mencoba tidur. Namun, indra pendengarannya yang tajam menangkap suara.

​Bukan dari luar. Tapi dari dalam rumah.

​Langkah kaki. Pelan. Terseret.

​Srek... srek... srek...

​Suara itu berasal dari lorong. Bergerak menjauh dari kamar laki-laki, melewati kamar perempuan, dan berhenti tepat di ujung lorong. Di depan kamar yang pintunya hitam.

​Nara menahan napas. Tangannya meraba ponsel di bawah bantal, ingin menyalakan senter, tapi tubuhnya kaku. Insting purbanya berteriak: Jangan bergerak. Jangan melihat.

​Lalu terdengar suara kunci diputar. Klik. Diikuti derit engsel yang kering dan berat.

​Dan kemudian, suara bisikan. Bukan bahasa Jawa, bukan bahasa Indonesia. Suaranya rendah, basah, seperti orang yang berkumur dengan darah.

​Nara memberanikan diri membuka mata sedikit. Dalam kegelapan kamar, ia melihat Lala. Gadis itu tidak lagi berbaring. Lala sedang duduk tegak di atas kasur, membelakangi Nara, menghadap ke arah pintu kamar yang tertutup rapat.

​Bahu Lala naik turun dengan ritme yang aneh. Dan dari arah Lala, terdengar suara geraman halus yang penuh kenikmatan, seolah ia sedang bermimpi indah—atau mimpi yang sangat kotor.

​Di luar, angin hutan mulai menderu, memukul-mukul jendela kayu seakan minta masuk. Pengabdian mereka baru saja dimulai, dan rumah ini sudah mulai memakan kewarasan penghuninya, gigitan demi gigitan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!