Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.
Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??
kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!
Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar
Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 17
Sudah tiga hari sejak insiden dermaga.
Raven Medika udah tenang, tapi hawa di lantai 3—tempat ruang isolasi dan observasi pasien—kayak dilapisi kaca tebal yang bikin napas susah.
Paul berdiri di depan papan kasus digital yang penuh foto-foto korban, diagram, dan catatan.
Di tengah semuanya: nama PHARMA DELL dalam huruf merah.
> “Kau tahu, Paul,” suara Cade terdengar di belakang, “kau mulai kelihatan kayak orang yang pengen ngebunuh seseorang cuma karena ngerasa dia salah.”
Paul nggak nengok. “Kalau kau ngeliat cukup lama, Cade, kadang insting bisa lebih jujur daripada bukti.”
Rodi yang duduk di atas meja ngelirik, nada suaranya ringan tapi tegang.
> “Insting nggak bisa masuk laporan. Dan tanpa bukti, bos Magnus bakal ngebekuin penyelidikan ini besok.”
Paul mendengus, matanya tajam.
> “Magnus bisa aja nyetop tim. Tapi dia nggak bisa nyetop gue.”
Cade nyeletuk, “Kau mau ngelawan sistem?”
> “Kalau sistemnya busuk, ya.”
Paul muter kursinya, ngebuka file digital korban hilang dari minggu lalu.
Semua punya satu kesamaan—semua pernah operasi di Delfi Hospital.
Dan semuanya punya catatan follow-up medis dari… Pharma.
Tapi saat mereka cross-check database resmi—nggak ada satu pun jejak transaksi, surat kontrol, atau bahkan catatan kunjungan.
Seolah-olah semuanya dihapus secara klinis bersih.
> “Dia nyapu datanya dengan sempurna,” gumam Rodimus.
“Terlalu sempurna,” timpal Paul. “Kayak orang yang tau sistem ini dari dalem.”
Cade bersandar ke tembok, suaranya berat.
> “Tapi kita nggak punya dasar buat nuduh dia. Tanpa surat perintah, kita nggak bisa nyentuh seorang dokter elit kayak Pharma. Lagi pula… lo sadar kan, Paul, dia ipar lo sendiri?”
Paul diam lama. Matanya turun ke meja, ke foto-foto korban yang udah pudar.
Satu di antaranya—seorang gadis muda dengan gelang pasien bertuliskan “Delfi.”
Dia yang bikin Paul nggak bisa tidur. Karena waktu itu, dia yang operasi.
Paul ngetik sesuatu di tab barunya, nada suaranya turun jadi pelan banget.
> “Justru itu, Cade. Gue kenal dia terlalu baik.”
“Dia jenius. Tapi jenius kayak dia—kalau nyimpang sedikit aja—bisa jadi monster yang bahkan sistem medis nggak bisa deteksi.”
Rodimus nyengir kecil, “Lo mau nyelundup ke Delfi lagi, kan?”
Paul ngangkat alis, tapi nggak jawab.
> “Gue cuma mau bukti kecil aja. Sekeping doang. Biar dunia berhenti nganggep gue gila.”
Dan malam itu, saat semua orang di markas udah tidur, Paul keluar dengan hoodie hitam dan drive portable di saku.
Arah langkahnya jelas: Delfi Hospital.
---
---
Lorong Raven Medika masih bau antiseptik dan darah kering.
Lampu-lampu putihnya bergetar kecil setiap kali generator di bawah berdenyut.
Kaon duduk di kursi roda, satu tangannya masih diperban dari luka ledakan dermaga, tapi senyumnya masih kayak biasa—sinis, santai, dan terlalu tenang buat orang yang baru nyaris mati.
Magnus yang ngedorong kursinya nggak ngomong apa-apa, cuma melirik dari sisi. Jazz di belakang mereka bawa map laporan, langkahnya ringan tapi fokus penuh.
Lyra ikut di samping, jalan pelan sambil sesekali nengok ke Kaon.
> “Sakitnya masih kerasa?” tanya Lyra pelan.
Kaon nyengir tipis. “Kalo dibilang enggak, aku bohong. Tapi kalo dibilang nyesel, ya nggak juga.”
Magnus melirik sedikit ke arah Lyra, lalu ke Kaon.
> “Dia tetap harus diinterogasi, Lyra. Kau tahu itu.”
Lyra menunduk pelan. “Aku tahu… tapi dia nyelametin aku, Magnus.”
Jazz nyeletuk sambil ngebuka pintu lift, nadanya lebih netral, tapi matanya tajam.
> “Nggak berarti dia bersih dari semuanya. Kadang orang yang nolong juga bisa punya alasan yang salah.”
Lift naik. Sunyi. Hanya bunyi mesin dan napas mereka yang nempel di udara.
Kaon ngeliat pantulan dirinya di dinding logam lift—mata gelapnya bertemu tatapan Magnus lewat refleksi.
> “Kau takut aku bakal kabur, ya?”
Magnus jawab datar. “Aku cuma nggak mau ada lagi yang mati.”
Kaon ketawa pelan. “Lucu. Kau ngomong gitu kayak kita semua masih bisa milih siapa yang mati duluan.”
Lift terbuka—kantor polisi pusat Raven udah dijaga ketat.
Lampu merah di atap gedung berputar lambat, sementara angin malam dari luar bawa aroma laut dan bensin.
Beberapa petugas langsung sigap begitu Magnus muncul.
> “Tahanan prioritas kelas-A. Nama: Kaon . Status: terlibat insiden dermaga dan afiliasi dengan grup DJD,” kata Magnus ke petugas.
“Akan kami proses, Sir.”
Mereka bawa Kaon ke ruang interogasi utama.
Tapi sebelum pintunya ditutup, Kaon nengok lagi ke arah Lyra—senyumnya cuma sebentar, tapi cukup bikin Lyra terdiam.
> “Hidup ini aneh, ya,” katanya pelan. “Kadang yang paling nyeremin justru yang paling ngerti caramu gemetar.”
Pintu besi nutup dengan bunyi clang berat.
Lyra masih berdiri di lorong, tangan mengepal di sisi tubuhnya. Magnus jalan pelan mendekat, suaranya rendah tapi tulus.
> “Kau nggak perlu ikut lihat interogasinya.”
“Aku tahu,” balas Lyra lirih, “tapi aku mau tahu… apakah dia bener-bener salah, atau cuma orang yang kebetulan jatuh di sisi gelap.”
Jazz ngelirik ke Magnus, lalu ke Lyra. “Dunia kita, kid—kadang nggak kasih perbedaan jelas soal itu.”
---
Kaon duduk di kursi ruang interogasi—tangan masih diborgol, tapi matanya nggak lagi sekeras kemarin. Magnus berdiri di depannya, Jazz di samping, sementara Lyra diem di belakang kaca dua arah.
Cahaya lampu putih dingin nembus ke wajah Kaon. Napasnya masih berat tapi stabil.
Magnus nunduk dikit, nada suaranya datar tapi tegas,
> “Nama anda Kaon, mantan mekanik, sekarang jadi bagian dari jaringan bawah tanah, benar?”
Kaon menatap Magnus lurus-lurus.
> “Kalo gua bilang enggak, lo bakal percaya?”
Jazz nyeletuk ringan, tapi matanya tajam,
> “Bro, kita nemuin bahan peledak di tempat lo meledak barusan. Bukti lebih banyak dari playlist guilty pleasure gua.”
Kaon mendengus. Tapi tatapannya nggak ke Magnus, nggak ke Jazz. Ke arah kaca—tempat Lyra berdiri. Tatapan mereka ketemu sepersekian detik, dan di situ ada sesuatu... kayak lega kecil yang nggak diucapin.
Magnus nutup berkas, lalu pelan ngomong,
> “Terra udah buka mulut. Dia bilang lo disuruh nyiapin jalur kabur, tapi malah nolak buat ninggalin target waktu ledakan. Kenapa?”
Hening. Suara kipas di langit-langit kayak jeda panjang.
Kaon akhirnya nyeletuk rendah,
> “Karena gua nggak ninggalin orang. Bahkan kalo itu bunuh diri.”
Jazz melirik Magnus. Magnus diem, tapi kelihatan ada sesuatu di balik wajah kaku itu—kayak... rasa hormat kecil yang nggak diakuin.
Dari balik kaca, Lyra nutup mulutnya pelan. Bahunya gemetar dikit, tapi bukan karena takut.
Paul di ruang lain, ngeliatin layar monitor sambil nyengir tipis,
> “Lucu. Kadang yang disebut ‘penjahat’ malah punya lebih banyak nurani daripada yang di meja atas.”
Magnus akhirnya berdiri tegak, nyuruh petugas,
> “Bawa dia ke ruang tahanan sementara. Gue mau koordinasi sama divisi.”
Tapi sebelum Kaon dibawa keluar, dia sempet ngelirik lagi ke kaca—ke arah Lyra.
Bibirnya bergerak pelan, hampir tanpa suara,
> “Lo aman, kan?”
Lyra ngejawab cuma dengan anggukan kecil. Tapi ekspresinya... lembut banget.
Kaon baru aja dimasukin ke sel kaca tahanan elite—ruangannya bersih, lampunya agak redup, lebih mirip ruangan observasi medis daripada penjara biasa. Borgol di pergelangan tangannya akhirnya dilepas, tapi sisa luka bakar di lengan masih kelihatan merah.
Magnus berdiri di depan pintu sel, ngeliatin dia dari balik kaca transparan itu. Tubuh besar Magnus berbayang sama cahaya biru sistem keamanan yang berputar pelan. Suaranya berat, tapi tenang:
> “Lo udah banyak ngelakuin hal gila, Kaon. Tapi gua kasih tau satu hal—Lyra aman. Sama gua.”
Kaon ngangkat pandangan, matanya redup tapi fokus. Ada sedikit kerutan di antara alisnya, kayak nahan sesuatu—antara lega dan curiga.
> “Lo jagain dia… kenapa?”
Magnus narik napas pelan.
> “Karena dia bukan cuma saksi. Dia juga penyebab kenapa lo masih hidup.”
Keheningan turun. Hanya suara mesin keamanan yang berdesir halus.
Kaon nyandarin punggung ke tembok kaca, senyum miring tipis banget muncul di ujung bibirnya.
> “Heh… figures. Dia emang keras kepala dari sononya.”
Magnus ngeliat Kaon sebentar, kayak mau bilang sesuatu lagi, tapi akhirnya cuma ngangguk pelan.
> “Tidur, Kaon. Besok pagi lo dipindahin ke bawah pengawasan langsung sektor investigasi. Jangan mikir buat kabur—bukan karena lo nggak bisa, tapi karena lo nggak perlu.”
Magnus berbalik, langkah sepatunya berat dan rapi. Pas pintu otomatis nutup, suara klik dari kunci magnetik kedengeran nyaring.
Tinggal Kaon sendirian, duduk di ujung ranjang baja itu. Dia ngelirik ke langit-langit, lalu ke tangan kirinya yang masih perih. Senyumnya muncul lagi, kali ini lebih lelah.
> “Dia aman, huh… bagus.”
Lalu kamera keamanan di pojok ruangan berkedip—dan di ruangan kontrol, Lyra ngeliat semua itu. Tatapan dia lama banget ke layar, kayak nggak sanggup cabut pandangan.
Paul datang di belakangnya, bawa dua gelas kopi.
> “Lo yakin dia cuma ‘pelaku sampingan’?”
Lyra diem sebentar, lalu jawab pelan,
> “Dia bisa aja salah arah… tapi dia nggak salah niat.”
Paul narik senyum tipis.
> “Kalo semua penjahat lo bela, Lyra, lo bisa buka firma hukum"
Oke—scene lanjutannya kayak gini ya ↓
---
Pagi di kota masih berkabut tipis, sisa dari malam yang kebakar semalaman. Bau garam dan asap masih kebawa angin laut. Mobil hitam Paul meluncur pelan di jalanan utama menuju Raven Medika, rumah sakit riset sekaligus markas besar medis yang dipimpin langsung oleh ayah mereka—Ratchet.
Lyra duduk di kursi penumpang, jaketnya masih ada noda debu dari dermaga. Tangannya mainin gelang kecil di pergelangan tangan, diam dari tadi. Paul sesekali ngelirik dari balik kemudi.
> “Kau masih mikirin dia?” tanya Paul datar.
> “Aku cuma... nggak habis pikir aja,” jawab Lyra pelan. “Dia tahu itu jebakan, tapi masih milih tinggal.”
> “Itu bukan keberanian. Itu kebodohan,” potong Paul cepat. Tapi nadanya nggak keras—lebih ke protektif. “Kau hampir mati, Lyra.”
> “Aku tahu,” balasnya lirih, senyum miris. “Tapi kalau aku kabur sendiri, dia mati.”
Paul ngelirik sebentar lagi, terus ngeluarin napas berat.
> “Ya Tuhan, kalian berdua sama aja.”
Mobil berhenti di depan gedung tinggi berlogo Raven Medika Institute. Dindingnya kaca semua, refleksi langit pagi keperakan. Pintu otomatis kebuka, aroma antiseptik langsung nyambut.
Ratchet lagi di meja resepsi VIP, masih pakai jas lab putih tapi dasinya longgar, kayak orang yang nggak tidur semalaman. Begitu lihat mereka, dia langsung berdiri.
> “Kalian baru pulang dari neraka, ya?” katanya dengan nada datar khas Ratchet, tapi matanya jelas khawatir.
> “Sesuatu kayak gitu,” jawab Paul, lepas jaket kulitnya. “Lyra cuma butuh dicek cepat, habis itu aku bawa dia balik ke kantor buat laporan.”
Ratchet mendengus,
> “Laporan bisa nunggu. Kesehatan nggak.”
Dia melirik Lyra dari ujung kepala sampai kaki, lalu ngetik sesuatu di datapad-nya.
> “Masuk ke ruang observasi tiga. Aku yang cek sendiri.”
> “Ayah, kau sibuk—”
“Aku dokter, bukan patung,” potong Ratchet dingin, lalu suaranya melunak sedikit. “Kau anakku. Itu prioritas.”
Paul senyum kecil, tapi nada suaranya masih tenang banget waktu bilang:
> “Kau lihat sendiri, Lyra. Kadang lebih gampang berdebat sama aku daripada sama dia.”
Ratchet cuma melirik sekilas, tapi ada senyum samar nyelip di situ—jarang banget muncul.
> “Dan kau, Paul, jangan pikir aku nggak tahu kau juga belum tidur.”
Paul ngangkat tangan, nyerah.
> “Baik, Dokter.”
Lyra cuman geleng kecil sambil jalan masuk, rambutnya kebelakangin, wajahnya kelihatan lebih pucat dari biasanya. Tapi di matanya—masih ada sisa kilat tekad.
---
---
Ruang observasi Raven Medika udah mulai sepi, cuma lampu neon putih yang masih nyala redup. Paul lagi ngobrol pelan sama Ratchet di sisi lain ruangan, sementara Lyra duduk di tepi ranjang, mainin ponselnya.
Di layar ada pesan baru dari Veronica 🌸:
> “Aku udah di bandara. Makasih, Ly. Aku bakal baik-baik aja.”
“Kau juga, hati-hati ya. Dunia kalian terlalu berbahaya buat orang kayak aku.”
Lyra senyum kecil, senyum yang agak pahit tapi lega. Dia ngetik balasan pelan-pelan:
> “Pergilah. Jangan balik sebelum aku bilang aman. Jaga diri, Nika.”
Dia matiin layar, taruh ponselnya di pangkuan. Nafasnya keluar panjang.
Ratchet nyadar dari jauh, terus nanya,
> “Itu Veronica?”
Lyra ngangguk pelan. “Iya. Dia udah pergi. Aku yang nyuruh.”
Paul refleks nengok. “Kamu nyuruh dia pergi?” suaranya sedikit naik.
> “Iya,” jawab Lyra tanpa ngelihat ke arah dia. “Dia udah terlalu dalam. Kalau tetep di sini, bisa-bisa dia ikut kena.”
Paul jalan mendekat, matanya tajam. “Ly, itu bisa dikategorikan menghalangi penyelidikan.”
Lyra nyengir tipis, tapi nada suaranya tenang banget.
> “Penyelidikan kalian nggak akan jalan kalau semua saksi mati duluan, Paul.”
Ratchet mendesah kecil, tangannya nyentuh bahu anaknya. “Paul, biarkan dulu. Kadang cara Lyra… memang bukan cara textbook, tapi niatnya nggak salah.”
Paul ngehela napas berat, terus mundur satu langkah. “Aku cuma nggak suka ngelihat kalian main api.”
Lyra berdiri, matanya udah nggak setenang tadi. “Dunia yang kita hadapin udah lama kebakar, Paul. Aku cuma berusaha biar satu orang nggak ikut hangus.”
Hening sebentar. Cuma bunyi beep alat medis.
Ratchet akhirnya ngomong, suaranya rendah tapi tegas,
> “Untuk saat ini, Veronica bukan prioritas. Kita fokus ke stabilisasi Magnus dan pemulihan Kaon. Soal Terra dan Pharma... baru kita bahas setelah semua tenang.”
Paul cuma ngangguk, meskipun wajahnya jelas belum sepenuhnya setuju.
---
Markas djd, malam
Markas DJD, beberapa kilometer dari pelabuhan yang udah jadi puing.
Bau logam dan asap masih kerasa, bahkan di ruang kendali yang remang.
Terra berdiri di depan layar hologram biru yang masih kedap-kedip nunjukin berita:
> “Ledakan di Dermaga Timur—dua korban luka berat, dua tersangka berhasil ditangkap…”
Nama Kaon dan Helex udah muncul di situ.
Dan itu bikin suasana meja rapat mendadak mencekam.
Vos lagi nyimpen senapan panjangnya ke rak, sementara Sho (yang biasanya paling kalem) cuma bersandar di kursi, mainin pisau lipat.
Tarn duduk di kursi utama, helmnya mantul cahaya redup.
Suaranya berat, tapi bukan teriak—lebih kayak ancaman yang diucap dengan tenang.
> “Dua anggota inti kita ditangkap.
Operasi dermaga gagal.
Dan Pharma—belum juga ngirim pasokan organ yang dijanjikan.”
Sho ngangkat alis, nadanya setengah sinis.
> “Mungkin dia lagi sibuk jadi dokter baik hati, bos.”
Vos ngetik sesuatu di tablet, terus ngomong datar.
> “Signal terakhir Kaon ada di Raven Medika. Mereka sekarang dijaga kepolisian.”
Terra mukanya udah kelihatan kebakar emosi, “Semua ini gara-gara Kaon dan perempuannya itu! Kalau dia nggak campur tangan, kita nggak akan kehilangan dua orang dan satu pengiriman!”
Tarn diem beberapa detik. Cuma dengar. Tapi hawa ruangan langsung berubah begitu dia berdiri.
> “Terra.”
“Ya, sir?”
“Kau yang pasang bom di dermaga, benar?”
“Ya, tapi—”
> “Dan kau gagal memastikan target mati.”
Satu langkah. Dua langkah.
Suara sepatu besinya berat, tapi stabil.
Tarn berhenti tepat di depan Terra, jarak cuma beberapa sentimeter.
> “Aku tidak suka kegagalan.”
Vos menatap ke arah lain. Sho berhenti main pisau.
Terra menelan ludah, “Saya bisa perbaiki, saya janji. Gue bakal cari cara ngambil alih kembali operasi itu, bahkan kalau harus bunuh Pharma sendiri.”
Tarn diam. Lama.
Lalu suaranya turun jadi pelan banget, tapi menusuk.
> “Kau tidak akan menyentuh Pharma. Belum.”
Sho angkat kepala, bingung. “Belum?”
> “Kita masih butuh dia. Ada sesuatu di proyek organ itu yang bahkan aku belum paham sepenuhnya.”
Vos akhirnya buka suara, nada suaranya kayak serpihan logam.
> “Kalau begitu, apa langkah berikutnya?”
Tarn menatap layar hologram. Gambar wajah Lyra muncul di situ, hasil tangkapan kamera dermaga.
> “Cari dia. Wanita ini tahu terlalu banyak… dan Kaon mempertaruhkan nyawanya buat nyelamatin dia.”
Dia mematikan layar, lalu berbalik.
> “Kita akan buat dia bicara.”