Pantanganya hanya satu, TIDAK BOLEH MENIKAH. Jika melanggar MATI MEMBUSUK
Putus asa dan hancur, Bianca Wolfe (25) memilih mengakhiri hidupnya dengan melompat dari apartement Le Manoir d'Argent yang mewahnya di pusat kota Paris, Perancis. Namun, maut menolaknya.
Bianca terbangun di ranjang mewahnya, dua tahun sebelum kematian menjemputnya. Di sebelahnya cermin, sesosok kuasa gelap bernama Lora menagih janji: Keajaiban tidaklah gratis.
Bianca kembali dengan satu tujuan. Ia bukan lagi gadis malang yang mengemis cinta. Dengan bimbingan Lora, ia menjelma menjadi wanita paling diinginkan, binal, dan materialistis. Ia akan menguras harta Hernan de Valoisme (40) yang mematahkan hatinya, dan sebelum pria itu sempat membuangnya, Bianca-lah yang membuangnya lebih dulu.
Kontrak dengan Lora memiliki syarat: Bianca harus terus menjalin gairah dengan pria-pria lainnya untuk menjaga api hidupnya tetap menyala dan TIDAK BOLEH MENIKAH.
Jika melanggar, MATI.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanilla Ice Creamm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Menentang atau Mati
Bianca menatap Hernan yang terlelap di sampingnya dengan dengkuran halus. Pikirannya seketika melayang pada Lora, sosok di balik cermin kuningan itu. Melalui Lora, ia bisa meminta apa saja dari pria ini—harta, kemewahan, atau kepuasan—asalkan bukan sebuah komitmen suci di altar gereja.
"Apa benar aku akan mati jika melanggarnya?" bisik Bianca ragu.
Ia meraih cermin itu, melangkah pelan menuju kamar sebelah untuk bernegosiasi dengan Lora. Di dalam benaknya, ia masih curiga bahwa peringatan itu mungkin hanya gertakan sambal untuk menakut-nakutinya.
Bianca berdiri mematung di depan cermin besar itu. Permukaan kaca yang semula bening berubah menjadi gelap beriak seperti air. Suara itu muncul bukan di telinganya, melainkan menggema langsung di dalam kepalanya.
"Kau sangat menikmatinya, bukan? Tubuh yang tidak akan pernah layu, kulit yang selalu kencang, dan gairah yang terus membara."
Bianca mengepalkan tangannya. "Aku hanya menjalankan apa yang kau perintahkan agar aku tidak mati."
"Bagus, Bianca Wolfe. Jadilah pemuas dahaga bagi mereka. Biarkan mereka memujamu, memberikanmu kemewahan, dan menghujamkan gairah mereka padamu."
Cermin itu memancarkan kilatan cahaya merah redup yang menyerupai api neraka.
"Tapi ingat satu hal: Pria yang baru saja memuaskanmu itu hanya selembar kertas dalam buku panjang hidupmu. Jika kau membiarkan hatimu terlibat, jika kau bermimpi untuk bersanding dengannya di pelaminan, maka kontrakmu selesai."
Cermin itu terdiam sejenak sebelum memberikan peringatan terakhir:
"Satu langkah pernikahan adalah seribu langkah menuju neraka kekal. Teruslah menjadi simpanan yang binal, karena hanya di dalam dosa itulah kau tetap hidup."
Setelah itu, permukaan cermin kembali normal. Bianca hanya bisa menatap bayangannya sendiri—cantik, sempurna, namun terjebak dalam sangkar emas dan penuh dosa.
Bianca terduduk lemas di pinggir ranjang.
"Hanya sebuah cermin, tapi dia bisa mengendalikan hidupku. Jika begini, lebih baik aku mati saja saat terjun dari apartemen waktu itu. Toh, akhirnya sama-sama masuk neraka," gumamnya pahit.
Ia menyambar kotak rokok dengan kasar setelah mengenakan baju tidur sutra yang sedikit lebih sopan.
Dengan tangan gemetar, ia menyulut ujung rokoknya, membiarkan nikotin mencoba menenangkan sarafnya yang tegang.
Cermin itu sebenarnya adalah pemberian mendiang neneknya saat Bianca masih berusia empat belas tahun. Sebuah cermin tangan dengan gagang berukir rumit, berbahan kuningan. Dulu, Bianca kecil yang kesepian iseng menamai cermin itu 'Lora' dan sering mengajaknya bicara seolah benda itu bernyawa.
Namun, Lora bukan lagi sekadar mainan masa kecil. Cermin itu bergetar hebat saat Bianca terbangun di tempat tidur ini—beberapa saat setelah ia mencoba bunuh diri. Bianca tersadar bahwa ia telah terlempar kembali ke masa lalu. Saat ia melirik kalender meja di nakas, ia berada di usianya yang ke-25. Itu artinya, ia kembali ke waktu dua tahun yang lalu, tepat sebelum semua kehancuran hidupnya dimulai.
Kontrak kematian itu nyata. Lora telah memberinya kesempatan kedua, namun dengan harga yang sangat mahal: keabadian yang hampa dan terlarang bagi cinta yang sah.
"Lora, lalu apa benefit lain selain kecantikan abadi? Bisa kah membuat rekeningku gemuk seketika tanpa harus seorang pria memberiku uang?." Tanya Bianca lantang menantang Lora cermin gaib itu.
Permukaan cermin itu kembali beriak, kali ini warnanya berubah menjadi keemasan yang berkilau, Suara Lora kembali menggema di kepala Bianca, kali ini dengan nada yang sedikit mengejek.
"Kecantikanmu adalah mata uang yang paling mahal di dunia ini, Bianca. Kenapa kau meminta kertas-kertas sampah itu jika kau bisa memiliki pemilik banknya?"
Bianca mendengus, asap rokok mengepul dari hidungnya. "Itu melelahkan. Aku ingin uang yang muncul begitu saja tanpa harus melayani pria seperti Hernan."
"Keinginanmu adalah kutukanmu," jawab cermin itu dengan tegas. "Setiap pria yang menatap matamu akan merasa ingin memberimu segalanya. Kau tidak perlu meminta, mereka yang akan memohon agar kau menerima harta mereka. Tapi ingat, setiap koin yang masuk ke rekeningmu adalah upah dari pengabdianmu pada dosa. Aku tidak menciptakan uang dari udara kosong; aku membuat pria-pria itu menjadi budak kecantikanmu."
Bianca terdiam. Ia melihat pantulan dirinya di cermin. Wajahnya memang luar biasa cantik, bahkan tanpa riasan sedikit pun. Ada daya tarik magnetis yang tidak alami di matanya.
"Sentuh gagangku, Bianca. Katakan jumlah yang kau inginkan. Besok pagi, seorang pria dari masa lalumu atau orang asing yang kau temui di jalan akan memberikannya padamu. Tapi tidak ada yang gratis. Semakin banyak uang yang kau minta, semakin banyak pria yang akan terobsesi padamu hingga mereka gila."
Bianca menatap gagang rosegold itu dengan bimbang. Ia butuh uang untuk hidup mandiri, tapi ia tahu obsesi pria bisa berubah menjadi kendali yang menyesakkan.
"Lora, kau tahu.. ada kalanya aku tak ingin bercinta meski hasratku juga besar. Apakah itu ada efek sampingnya jika berhenti sejenak?." Kali ini suara Bianca seolah lelah dan putus asa.
Permukaan cermin itu kembali beriak, warnanya berubah menjadi merah pekat yang gelap, menyerupai warna darah yang mengering. Suara Lora terdengar lebih berat, kali ini tanpa nada ejekan, melainkan sebuah peringatan yang mutlak.
"Kau adalah wadah bagi gairah itu sendiri, Bianca. Keabadianmu tidak ditenagai oleh udara atau makanan, melainkan oleh energi dari api yang kau nyalakan di ranjang."
Bianca memejamkan mata, memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. "Maksudmu?"
"Jika kau berhenti, kecantikanmu akan memudar dalam hitungan hari. Kau akan mulai melihat pantulan dirimu yang sebenarnya—sosok mayat yang seharusnya sudah membusuk di bawah apartemen itu. Kulitmu akan kering, rambutmu akan rontok, dan rasa sakit dari kematian yang tertunda akan menyerang seluruh sarafmu."
Bianca terkesiap. Ia menatap telapak tangannya yang halus, membayangkan kulit itu tiba-tiba keriput dan membusuk.
"Jangan mencoba menjadi suci, Bianca. Kau sudah menjual jiwamu saat kau setuju untuk bangun kembali. Rasa lelahmu adalah manusiawi, tapi kau bukan lagi manusia sepenuhnya. Kau adalah mahluk kutukan. Hasratmu yang besar itu bukan sekadar nafsu, itu adalah insting bertahan hidupmu. Berhenti bercinta berarti berhenti hidup."
Bianca tertawa getir, tawanya terdengar pecah di keheningan kamar itu. "Jadi aku benar-benar hanya sebuah mesin pemuas yang tidak boleh berhenti? Ini gila, Lora."
"Kau adalah mahakarya," koreksi Lora dengan dingin. "Nikmati saja peranmu. Besok, carilah mangsa baru jika kau bosan dengan Hernan. Tapi jangan pernah biarkan tubuhmu dingin, atau tanah kuburan akan mulai memanggilmu kembali."
"Lalu, Lora? Apa untungnya bagimu? Kau sendiri tidak bisa menikmati apa pun yang kudapatkan, kan?" tanya Bianca teramat sangat penasaran.
gmn laki mau menghargai
Lora lo abis di sakitin siapa weh? jdiin Bianca like u gt?