NovelToon NovelToon
ASLAN VALERION

ASLAN VALERION

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Penyelamat / Sistem
Popularitas:94
Nilai: 5
Nama Author: HUUAALAAA

Dua puluh kavaleri elit musuh terus bergerak mendekati lokasi persembunyian Aslan tanpa menyadari maut yang menanti. Pangeran itu telah menyiapkan jebakan mematikan melalui perhitungan sistem yang menjamin kemenangan mutlak bagi dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HUUAALAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Darah mengalir dari pelupuk matanya, mewarnai penglihatannya menjadi merah pekat sebelum kegelapan benar-benar merenggut kesadarannya. Tubuh Aslan jatuh meluncur, mendekap erat Jenderal Zarek yang tak sadarkan diri, sementara ribuan anak panah api membentur pelindung transparan yang berpendar hebat di sekeliling mereka. Suara dentuman air sungai yang menghantam tubuh mereka menjadi hal terakhir yang ia rasakan sebelum semuanya sunyi.

"Pangeran! Aslan!" teriakan Jax menggema di antara tebing-tebing tinggi.

Jax tidak menunggu sedetik pun. Ia melompat dari dahan pohon, terjun bebas menuju aliran sungai yang deras di bawah sana. Matanya liar mencari keberadaan sosok yang baru saja melakukan hal mustahil demi nyawa seorang jenderal tua. Di kejauhan, Si Tangan Besi berlari keluar dari reruntuhan menara yang mulai ambruk, wajahnya pucat pasi.

"Jax! Apa kau melihatnya?!" teriak Si Tangan Besi dari tepian sungai.

Jax muncul ke permukaan, menarik napas panjang. "Aku menemukannya! Dia tersangkut di akar pohon besar di bawah tebing!"

Butuh waktu hampir lima belas menit bagi mereka untuk menarik Aslan dan Jenderal Zarek ke daratan yang aman. Kondisi Aslan sangat mengerikan. Ia tidak bernapas, kulitnya pucat, dan darah kering masih menempel di sekitar matanya yang tertutup rapat.

"Minggir! Beri aku ruang!" Si Tangan Besi berlutut di samping Aslan. Ia menekan dada pangeran itu dengan tangan mekanisnya yang telah ia atur tekanannya agar tidak menghancurkan tulang rusuk Aslan. "Ayo, Aslan! Bernapaslah, bocah bodoh! Jangan mati setelah semua yang kita bangun!"

Lord Hektor dan para loyalis lainnya berdiri di sana dengan tubuh gemetar. Mereka baru saja bebas dari maut, tapi melihat penyelamat mereka tergeletak tak bernyawa membuat kemenangan ini terasa sangat pahit.

"Kenapa dia melakukan ini?" gumam Lord Hektor. "Dia bisa saja membiarkan Zarek jatuh. Kenapa dia mempertaruhkan segalanya?"

Jax menatap Lord Hektor dengan tajam. "Karena dia bukan Kael. Itulah sebabnya kami mengikutinya."

Tiba-tiba, tubuh Aslan tersentak. Ia memuntahkan air sungai dalam jumlah banyak dan terbatuk hebat. Napasnya pendek-pendek, seolah paru-parunya baru saja dipaksa bekerja kembali.

{Sistem... status...}

Sunyi. Tidak ada kotak dialog biru. Tidak ada suara mekanis yang biasanya menenangkan pikirannya.

{Sistem, kau di sana?}

Hanya ada kegelapan di dalam benaknya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar di setiap saraf tubuhnya, seolah ada ribuan jarum yang menusuk otaknya secara bersamaan. Pengorbanan sembilan puluh persen energi saraf benar-benar membuat sistemnya melakukan reboot total.

"Dia hidup! Dia bernapas!" teriak Si Tangan Besi, hampir menangis karena lega.

Aslan mencoba membuka matanya, tapi kelopak matanya terasa seberat timah. "Zarek...?" suaranya hanya berupa bisikan parau.

"Jenderal Zarek aman, Pangeran. Dia hanya pingsan," jawab Jax sambil menyelimuti Aslan dengan jubahnya yang kering.

"Bawa dia ke tenda medis di belakang lembah. Kita tidak boleh berada di sini saat pasukan Harimau Putih turun ke tepi sungai," perintah Si Tangan Besi.

Tiga jam kemudian, di dalam tenda utama yang tersembunyi di balik perbukitan selatan, suasana terasa sangat tegang. Jenderal Elara baru saja tiba setelah memimpin serangan pengalihan di Gerbang Barat. Ia masuk ke dalam tenda dengan langkah terburu-buru, bahkan tidak sempat melepas helm perangnya yang penuh debu.

"Di mana dia?!" tanya Elara dengan nada yang hampir membentak.

Si Tangan Besi menunjuk ke arah dipan kayu di sudut tenda. Elara mendekat, dan langkahnya mendadak terhenti saat melihat kondisi Aslan. Pria yang biasanya terlihat begitu kuat dan tak tersentuh itu kini terbaring lemah dengan perban menutupi matanya.

"Apa yang terjadi, Si Tangan Besi? Katakan padaku dengan jujur," bisik Elara. Suaranya bergetar.

"Dia melompat dari menara untuk menangkap Zarek. Lalu... sebuah pelindung aneh muncul. Aku tidak tahu bagaimana dia melakukannya, tapi energi itu sepertinya menguras seluruh kekuatannya," jawab Si Tangan Besi sambil menunduk.

Elara duduk di kursi samping tempat tidur Aslan. Ia menggenggam tangan Aslan yang dingin. "Kau selalu melakukan hal-hal gila, Aslan. Kau menyuruhku berjanji untuk kembali, tapi kau sendiri hampir tidak kembali."

Aslan tidak menjawab. Ia masih terjebak dalam koma yang dalam. Di dalam pikirannya, ia sedang melihat baris-baris kode yang rusak dan sedang diperbaiki secara perlahan.

[Memulai Restorasi Saraf...] [Kemajuan: 2%...] [Estimasi waktu pemulihan: 48 jam...]

Keesokan paginya, Jenderal Zarek terbangun di tenda sebelah. Hal pertama yang ia cari adalah Aslan. Dengan kaki yang masih goyah, ia berjalan menuju tenda utama, didampingi oleh Lord Hektor.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Zarek saat melihat Elara yang masih setia menunggu di sana.

Elara mendongak. Matanya merah karena tidak tidur semalam. "Dia belum bangun, Jenderal. Tabib bilang dia mengalami kelelahan saraf yang sangat ekstrem."

Zarek duduk di kursi kayu yang lain, menatap wajah Aslan yang tenang. "Dia menyelamatkanku. Padahal aku hanyalah seorang tawanan yang dipaksa membantunya. Aku tidak mengerti logika di balik tindakannya."

"Logika?" Lord Hektor menyela dari ambang pintu. "Jenderal, setelah melihat apa yang terjadi di menara itu, aku sadar satu hal. Aslan tidak melihat kita sebagai alat atau tawanan lagi. Dia melihat kita sebagai bagian dari kerajaan yang ingin dia selamatkan."

"Tapi mempertaruhkan nyawa untuk seorang jenderal musuh?" Zarek menggelengkan kepala.

"Anda bukan musuh lagi sejak Anda memilih untuk memberitahunya soal pipa drainase itu, Jenderal," sahut Elara dingin. "Aslan sangat menghargai kesetiaan. Dia tahu Anda melakukannya demi keluarga Anda, dan dia menghormati itu dengan nyawanya."

Zarek terdiam. Ia melihat tangan Aslan yang dibalut kain putih. Rasa bersalah yang besar menghantam dadanya. "Kael akan membayar untuk ini. Dia membakar menara itu tanpa peduli siapa yang ada di dalamnya. Dia mencoba membunuhku hanya untuk memastikan rahasiaku mati bersamaku."

"Itulah sebabnya kita harus menang," kata Elara. "Bukan hanya untuk takhta, tapi agar orang-orang seperti Kael tidak bisa lagi bermain-main dengan nyawa manusia."

Di hari kedua, Aslan mulai menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Jarinya bergerak sedikit, dan sebuah gumaman kecil keluar dari mulutnya. Elara, yang sedang memeriksa laporan logistik di dekatnya, segera menjatuhkan kertasnya dan mendekat.

"Aslan? Kau mendengarku?"

Aslan membuka matanya perlahan. Penglihatannya masih buram, tapi ia bisa melihat siluet Elara yang sangat dekat.

"Elara...?"

"Ya, ini aku. Jangan banyak bergerak dulu. Kau hampir mati dua hari yang lalu," kata Elara sambil menekan lembut bahu Aslan agar tetap berbaring.

{Sistem, status sekarang.}

[Restorasi Saraf: 100%.] [Status Fisik: Lemah. Memerlukan asupan nutrisi tinggi.] [Peringatan: Fitur Valerion Protector dikunci untuk 30 hari ke depan.]

Aslan menghela napas lega. Setidaknya sistemnya kembali berfungsi. Ia merasakan kehangatan dari tangan Elara yang masih memegang lengannya.

"Zarek selamat?" tanya Aslan.

"Dia selamat. Dia ada di sini, menunggumu bangun untuk berterima kasih," jawab Elara. "Dan Bibi Aris... dia juga selamat. Dia berhasil melarikan diri dari Lian dan sekarang sedang beristirahat di tenda pengungsian."

Aslan mencoba duduk, tapi Elara menahannya. "Dengar, Jenderal. Kita tidak punya waktu untuk beristirahat terlalu lama. Kael akan menyadari kegagalannya dan dia akan mengirim pasukan yang lebih besar ke wilayah Selatan."

"Biarkan itu menjadi urusan besok, Aslan," potong Elara dengan nada tegas. "Hari ini, kau harus makan dan memulihkan tenagamu. Kau tidak akan berguna bagi siapa pun jika kau pingsan lagi saat memegang pedang."

"Kau menjadi sangat protektif, Elara," gumam Aslan dengan senyum tipis yang jarang terlihat.

"Karena aku tidak ingin kehilangan pemimpin yang cukup bodoh untuk melompat dari menara terbakar," balas Elara, tapi matanya menunjukkan kasih sayang yang dalam.

Sore itu, Aslan memaksa untuk bertemu dengan Lord Hektor dan Jenderal Zarek. Ia duduk di kursi besarnya dengan jubah hitam yang menutupi luka-lukanya. Di hadapannya berdiri orang-orang yang kini menjadi fondasi utama perjuangannya.

"Lord Hektor, aku ingin Anda segera mengirim pesan kepada seluruh bangsawan yang keluarganya berhasil kita selamatkan dari menara," perintah Aslan. "Katakan pada mereka bahwa Kael mencoba membakar keluarga mereka hidup-hidup, tapi aku yang menyelamatkan mereka."

"Aku sudah melakukannya, Pangeran. Berita itu sudah tersebar seperti api di musim kemarau. Dukungan di ibu kota mulai retak. Banyak komandan Harimau Putih yang mulai ragu mengikuti perintah Kael," lapor Lord Hektor.

Aslan beralih ke Jenderal Zarek. "Jenderal, aku menepati janjiku. Keluargamu akan segera dievakuasi oleh Jax ke wilayah Utara yang aman. Tapi aku butuh bantuanmu lebih dari sebelumnya."

Zarek berlutut dengan mantap. Kali ini bukan karena rantai besi, tapi karena rasa hormat yang tulus. "Katakan apa yang harus aku lakukan, Pangeran. Pedangku dan pengetahuanku adalah milikmu sepenuhnya."

"Kita akan menyerang Gerbang Air sekali lagi, tapi kali ini bukan sebagai penyusup. Kita akan menyerang sebagai pembebas. Kael akan mengira kita akan bersembunyi setelah ledakan di menara. Kita akan menyerang saat dia paling tidak siap," jelas Aslan.

"Tapi pasokan kristal merah kita menipis setelah ledakan di ruang kontrol pintu air," Si Tangan Besi mengingatkan dari sudut ruangan.

"Itulah sebabnya kita akan menggunakan strategi yang berbeda," kata Aslan. Ia menatap peta ibu kota di atas meja. "Kita akan memutus pasokan makanan istana terlebih dahulu. Biarkan tentara Kael merasa lapar sebelum kita memberikan pukulan terakhir."

"Berapa lama waktu yang kita punya?" tanya Elara.

"Sepuluh hari. Dalam sepuluh hari, rakyat ibu kota harus sudah berpihak pada kita," jawab Aslan.

Malam itu, setelah rapat selesai, Aslan duduk sendirian di luar tendanya, menatap langit malam yang bersih. Ia merasakan getaran di sarafnya. Sistemnya mulai memberikan analisis data tentang pergerakan pasukan Kael yang baru.

{Kael, kau pikir kau bisa membunuhku dengan api? Kau lupa bahwa aku telah melewati dinginnya sungai Aridelle dan gelapnya Hutan Grendel. Aku bukan lagi pangeran yang kau usir dulu.}

Tiba-tiba, Lady Aris muncul dari kegelapan. Ia mengenakan pakaian tempur yang jauh lebih sederhana, tapi auranya tetap mengintimidasi.

"Kau memiliki mata ayahmu, Aslan," ucap Lady Aris sambil duduk di sampingnya.

"Bibi, kenapa kau menyembunyikan diri selama ini? Ayah selalu mengira kau tewas dalam pemberontakan pertama Kael."

Lady Aris menatap api unggun di kejauhan. "Kael menangkapku saat itu. Tapi aku berhasil melarikan diri dan bergabung dengan jaringan mata-mata bawah tanah. Aku menunggu saat yang tepat untuk muncul kembali, dan saat itu adalah saat kau merebut Gerbang Air."

"Kenapa kau tidak mencariku saat aku berada di Hutan Grendel?" tanya Aslan.

"Karena kau harus tumbuh dengan caramu sendiri, Aslan. Jika aku membantumu terlalu cepat, kau tidak akan menjadi pria yang melompat dari menara demi seorang jenderal musuh hari ini," jawab Aris dengan senyum bangga. "Valerion butuh raja yang mengerti arti pengorbanan, bukan raja yang hanya bisa memerintah dari takhta emas."

Aslan terdiam. Ia menyadari bahwa perjalanannya selama ini bukan hanya soal mengumpulkan kekuatan, tapi soal membangun karakter yang layak untuk memimpin.

"Bibi, apa yang kau ketahui tentang batu inti yang ada di tangan Lian?"

Wajah Aris berubah serius. "Itu adalah Kristal Darah. Kael melakukan eksperimen terlarang dengan mencampurkan energi kristal merah dengan darah bangsawan yang dia tangkap. Itu memberikan kekuatan luar biasa, tapi mengonsumsi jiwa pemakainya. Lian bukan lagi sepupumu yang dulu. Dia adalah senjata hidup yang tidak memiliki perasaan."

"Aku menyadarinya," kata Aslan. "Es yang dia keluarkan... itu tidak terasa alami. Rasanya sangat hampa."

"Kau harus berhati-hati, Aslan. Kael memiliki lebih banyak kristal itu daripada yang kau bayangkan. Serangan berikutnya tidak akan semudah Gerbang Air," peringat Aris.

Aslan mengepalkan tangannya. Ia merasakan sistem di sarafnya berdenyut.

[Menganalisis Strategi Melawan Kristal Darah...] [Peluang Kemenangan Saat Ini: 42%...]

{Angka itu rendah, tapi aku punya sesuatu yang tidak dimiliki Kael. Aku punya orang-orang yang bersedia mati untukku karena mereka percaya padaku, bukan karena mereka takut.}

"Kita akan menang, Bibi. Bukan dengan kekuatan kristal, tapi dengan kekuatan kebenaran yang kita bawa," ucap Aslan penuh tekad.

"Aku percaya padamu, Aslan. Sekarang istirahatlah. Besok, kita akan mulai merencanakan kejatuhan terakhir pamanmu," kata Aris sambil berdiri dan menghilang kembali ke dalam bayang-bayang.

Aslan menutup matanya. Ia merasakan detak jantungnya yang stabil. Di dalam sarafnya, sang sistem terus bekerja, memproses ribuan data untuk memastikan tidak ada cacat informasi dalam rencana besar yang akan ia jalankan sepuluh hari ke depan.

Perjalanan menuju takhta Valerion kini telah memasuki babak akhir. Dan Aslan sudah siap untuk menjadi monster yang jauh lebih menakutkan bagi para pengkhianat, sekaligus menjadi pelindung yang paling hangat bagi rakyatnya.

[Status Sistem: Siaga.] [Misi Berikutnya: Pengepungan Terakhir Valerion.]

1
anggita
mampir like👍aja Thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!