Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 "Mencari Black wolf"
Malam itu tidak pernah benar-benar pergi dari benak Cherrin.
Bahkan ketika fajar datang dengan cahaya pucat yang menyelinap malu-malu di sela tirai kamar, bayangan jalanan gelap, bau besi, dan topeng polos itu masih menempel di pikirannya seperti noda yang tak bisa dicuci. Ia terbangun dengan napas terengah, jantungnya berdetak terlalu cepat untuk ukuran pagi yang seharusnya tenang.
Kamar itu sunyi.
Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan, teratur, seolah mengejek kegaduhan di dalam kepalanya. Cherrin menatap langit-langit lama sekali, matanya terasa perih, bukan karena kurang tidur semata, tetapi karena ketakutan yang belum selesai.
Icha.
Ingatan tentang tubuh sahabatnya yang ambruk begitu saja membuat dadanya mengencang. Cherrin beringsut bangun, duduk di tepi ranjang, menekuk lututnya. Tangannya gemetar ketika ia mengusap wajah sendiri. Beruntung beberapa saat kemudian, keduanya bisa pergi dari tempat yang gelap dan meninggalkan sosok mayat yang entah siapa itu.
“Cuma mimpi…” gumamnya lirih.
Namun ia tahu, itu bukan mimpi.
Ia bangkit, melangkah ke kamar mandi. Cermin memantulkan wajahnya yang pucat, mata sembab, bibir kering. Ada sesuatu yang berubah di sorot matanya—bukan hanya takut, tetapi juga sesuatu yang lain. Rasa ingin tahu yang aneh, tidak wajar.
Kenapa pria itu terlihat terkejut saat ia menarik bajunya?
Kenapa ia malah kabur? Bukan malah memukul Cherrin atau malah bisa jadi membunuhnya, karena bertindak lancang?
Dan kenapa… perasaan yang muncul di dadanya bukan hanya teror, tetapi juga kejanggalan yang tak bisa ia beri nama?
Mansion kembali pada rutinitasnya.
Pagi-pagi sekali, para pelayan sudah sibuk. Bau kopi dan roti panggang memenuhi udara. Cherrin turun ke ruang makan dengan langkah pelan, berusaha tampak biasa saja. Varla sudah duduk di ujung meja, menyesap teh hangat dengan wajah datar. Nenek Sera tidak ada lagi, ia tau wanita tua itu sibuk mengikuti kemanapun suaminya pergi.
“Pagi tante,” ucap Cherrin lirih.
Varla hanya mengangguk sekilas. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada perhatian. Cherrin bersyukur sekaligus merasa hampa. Ia duduk, menyentuh roti di piringnya tanpa selera.
Zivaniel masuk beberapa menit kemudian.
Langkahnya tenang, wajahnya dingin seperti biasa. Jaket hitamnya rapi, rambutnya tersisir sempurna. Tidak ada satu pun tanda bahwa semalam ia berada di lorong gelap dengan darah di tangannya.
Cherrin menegang tanpa sadar.
Ia mengangkat kepala, menatap Zivaniel. Lelaki itu duduk di seberang meja, membuka ponsel, seolah dunia hanya sebatas layar di hadapannya. Tidak ada tatapan balasan. Tidak ada reaksi.
Namun Cherrin merasakannya.
Ada sesuatu yang bergetar di udara.
“Zivaniel,” panggilnya pelan.
Ia mendongak. Dan menatap Cherrin. “Hm?”
Cherrin menelan ludah. Ia menggigit bibirnya dengan kencang. “Semalam… kamu ke mana?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Sendok Varla berhenti bergerak. Suasana seketika berubah, nyaris tak terlihat, tetapi terasa.
Zivaniel menatap Cherrin lama. Terlalu lama untuk sekadar pertanyaan biasa. Matanya gelap, sulit dibaca.
“Ada urusan,” jawabnya singkat.
“Urusan apa?” Cherrin tidak menyerah. Sungguh ia sangat penasaran sekali, dengan black wolf, bisa saja Zivaniel tau tentang pria menyeramkan itu.
Varla berdehem, ia mendelik. “Cherrin, nggak sopan nanya begitu.”
Cherrin mengangguk kecil. “Maaf tante.”
Namun tatapannya kembali pada Zivaniel. Lelaki itu berdiri, merapikan bajunya.
“Kalau nggak ada urusan penting, aku berangkat dulu,” katanya dingin. Ia menoleh ke arah Cherrin, "Aku nggak pulang sampai malam, hari ini libur sekolah kan?"
Ia melangkah pergi.
Cherrin menatap punggungnya, jantungnya berdetak keras. Zivaniel seperti menghindarinya, tidak seperti sebelumnya? Atau hanya perasaannya saja? Padahal ia hanya ingin bertanya tentang black wolf.
*
Diam-diam, di kamar, di sela waktu kosong, ia membuka ponsel. Artikel demi artikel. Forum-forum gelap. Video buram dari kamera jalanan. Nama itu muncul berulang kali dalam bisikan netizen.
Black Wolf.
Pembunuh berantai misterius. Bergerak cepat. Tidak meninggalkan jejak. Selalu muncul dan menghilang di malam hari.
Topeng polos.
Cherrin memejamkan mata.
Tangannya berkeringat.
Ia teringat suara itu.
“Pergi! Jangan ikut campur!”
Nada marah. Panik. Seolah ia bukan target, melainkan gangguan.
Kenapa?
Tapi Cherrin teramat penasaran sekali. Ia semakin mencari tahu siapa pria yang ada di balik topeng menyeramkan itu.
Ting
Ponselnya berdenting, membuatnya langsung membuka pesan yang ada di sana.
Icha |Sumpah Cherr, gue nggak mau cari tahu apapun tentang monster itu! Beruntung tadi malam kita bisa selamat, kalau dia sempat bunuh kita gimana? Gue nggak mau ah kesandung sama kasus kayak gitu!|
Cherrin menghela nafasnya kasar, ia tadi memang mencoba mengajak Icha mencari tau semuanya tentang black wolf, tapi sahabatnya itu terlalu takut.
Ya, sebenarnya Cherrin juga takut sih, tapi ia sudah kadung penasaran bukan main.
Ceklek
Pintu kamarnya terdengar di buka, Cherrin menoleh dan mendapati Zivaniel sudah masuk ke dalam kamarnya dengan wajah segar dan rambut yang sedikit basah. Ia yakin, pemuda itu habis mandi.
Cherrin menoleh jam, pukul masih menunjukkan siang hari, bukannya pemuda itu tadi bilang akan pulang malam hari?
"Kok udah pulang?" Tanya Cherrin saat melihat Zivaniel menjatuhkan dirinya di atas ranjang sambil menatap Cherrin intens.
"Pengen pulang."
Cherrin mendengus, pria itu memang kelewat datar. Ia menggerak-gerakkan ponselnya asal. "Niel, aku mau tanya tentang pria bertopeng, kok aku–"
"Jangan pernah cari tahu, Cherr! Aku nggak mau kamu dalam bahaya!"
Deg
Kata-kata itu membuat Cherrin mengerjap. "Niel."
"Kamu mandi gih, hari ini aku mau ajak kamu makan sate."
Sate? Kok, Zivaniel tau ia pengen makan sate?