Tama datang dengan satu tujuan: menjaga Lengkara.
Bukan untuk dimiliki, apalagi diperebutkan—cukup memastikan gadis itu baik-baik saja.
Namun mendekati Lengkara tak sesederhana rencananya.
Saat Tama sibuk mencari cara supaya selalu ada di dekat Lengkara, justru Sasa muncul tanpa aba-aba. Terlalu berisik, terlalu berani, dan terlalu sering menyebut namanya seolah mereka sudah sedekat itu.
Ironisnya, Sasa adalah adik dari laki-laki yang terang-terangan disukai Lengkara.
“Bang, 831 gimana? Yes or no?” Sasa menatapnya penuh harap.
Tama mendengus, menahan senyum yang tak seharusnya ada. “Apaan sih, nggak jelas banget!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alibi
Di depan kelas Sasa lebih dulu tersenyum santai sebelum memperkenalkan diri. Akhirnya ia merasa tak sia-sia selama ini mengikuti boy band dan aneka drakor dengan english sub. Nampaknya hobi yang dianggap kakaknya tak berfaedah itu akan menunjukan manfaatnya saat ini.
"Hello everyone!"
Sasa Sedikit melambaikan tangan, "Good morning!"
"My name is Sasa Raurani Nabillah, but you can call me Sasa."
"I’m really excited to start this new school year in a new place with all of you."
Sasa mengangguk ringan sambil kembali tersenyum, "Meeting new people can be a little bit challenging, but I think it’s also a great opportunity to make new friends."
Sasa menunjuk dirinya sendiri dengan santai, "I really love K-pop and watching Korean dramas."
Senyumnya merekah setelah mengatakan hobi nya " and actually, those hobbies make me more interested in learning English."
Sasa menengok sekilas pada Bu Tri, guru bahasa Inggrisnya. "My dream is to become an English teacher, because I want to be like Miss Tri, my English teacher now."
Sasa balas mengangguk saat Miss Tri tersenyum padanya, "She inspires me to enjoy learning English and to be more confident."
Kini pandangannya kembali pada teman-teman sekelas, "So I hope we can learn together, support each other, and create many fun memories in this school."
"Thank you for your attention. Nice to meet you all!"
Sasa kembali ke tempat duduknya diiringi tepuk tangan teman-temannya. Mayra sampai salut padanya.
"Keren. Ntar ajarin yah." ucap Mayra, excited.
"Oke." Sasa membalas dengan acungan jempol.
Bel istirahat berbunyi, satu persatu temannya mulai keluar dari kelas. Kecuali Ridwan dan empat anak lainnya yang malah memiringkan HP. Sudah dipastikan mereka memiliki misi sendiri dengan game online yang candu itu.
Sasa beranjak ke belakang menghampiri Ridwan, dengan cepat ia menadahkan tangan. "Uangnya!"
Ridwan dengan cepat memberikan uang lima puluh ribu, "biasa. Kalo nggak ada terserah lo aja yang penting nggak pedes."
"Tapi kembaliannya buat Sasa yah." tanpa menunggu jawabannya Sasa langsung kembali ke mejanya. Memastikan Ridwan makan teratur adalah tugas yang diberikan mami Jesi. Mengingat anak itu sering kali main HP sampe lupa makan. Meski sering merepotkan Ridwan, tapi urusan makan Sasa tak pernah melupakan adik calon iparnya.
"Kantin yuk, May!" ajaknya pada Mayra.
"Ayo." balas Mayra, "barusan lo ngapain ke Ridwan? malak?" tebaknya karena melihat Sasa meminta uang.
"Nggak lah. Gue mau beliin dia makan. Kalo nggak dibeliin ntar itu bocah kagak makan, main HP mulu."
"Perhatian banget, Sa. Jangan-jangan lo suka sama Ridwan yah?"
"Lumayan tapi dulu sebelum gue ditolak. Sekarang udah kagak." jawab Sasa enteng.
"Lo pernah nembak dia?" Sasa mengangguk.
"Dan ditolak?"
"Yes, sure. Dulu gue tembak waktu kakak gue ribut sama kakaknya, dari pada mommy sama mami Jesi nggak bisa besanan jadi gue tembak Ririd biar mereka bisa tetep besanan, tapi ditolak."
"Tapi kok bisa sekarang biasa aja? nggak canggung gitu?"
"Biasa aja lah, ngapain canggung. Ribet amat." jawab Sasa, enteng. "udah ah yuk kantin dulu."
"Eh bentar ada kak Justin kita samperin dulu." ralatnya kemudian.
"Ngapain ke kak Justin, Sa?" tanya Mayra yang malah diabaikan.
"Jangan-jangan pengen ikut ekskul OSIS yang biar makin lancar public speaking kan cita-cita lo tadi mau jadi guru." tebaknya kemudian.
"Kagak, May. Gue ada misi penting. Lagian cita-cita gue bukan jadi guru. Gue pengen jadi pengangguran kaya raya. Amiin." jawab Sasa.
"Hah?" Mayra hanya melongo mendengar jawaban Sasa. Emang bisa yah nganggur tapi kaya raya? pikirnya.
"Tadi tuh gue bilang pengen jadi guru biar Miss Tri seneng aja sama gue." lanjutnya sambil tertawa santai.
Mayra berhenti di tempat sementara Sasa sudah beberapa langkah di depannya menuju ketua OSIS. Rasanya ia benar-benar salah memilih teman kali ini. Terlihat meragukan tapi pintar namun disisi lain sedikit aneh dengan pola pikirnya.
.
.
.
Nggak usah aneh, May. kamu hanya belum mengenal Sasa wkwkwk
Vote nya dong buat penyedap biar hari senin kita makin gurihhhh
aku jadi penasaran kayak apa ya Tama bucin sama Sasa🤔🤣🤣🤣