NovelToon NovelToon
Kebangkitan Zahira

Kebangkitan Zahira

Status: tamat
Genre:Wanita Karir / Pelakor jahat / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: SOPYAN KAMALGrab

pernikahan selama 20 tahun ternyata hanya jadi persimpangan
hendro ternyata lebih memilih Ratna cinta masa lalunya
parahnya Ratna di dukung oleh rini ibu nya hendro serta angga dan anggi anak mereka ikut mendukung perceraian hendro dan Zahira
Zahira wanita cerdas banyak akal,
tapi dia taat sama suami
setelah lihat hendro selingkuh
maka hendro sudah menetapkan lawan yang salah
mari kita saksikan kebangkitan Zahira
dan kebangkrutan hendro

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KZ 02

Zahira menatap hidangan spesial yang ia siapkan seorang diri sejak pagi. Di usia pernikahan yang ke dua puluh, ia masih berharap ada sisa kehangatan untuk menyambung hubungan yang nyaris retak.

Ingatan itu datang tanpa permisi—tentang pertemuan pertamanya dengan Hendro. Saat itu, Hendro nyaris melompat dari tepi jurang, hatinya hancur setelah diputuskan oleh Ratna, wanita yang sangat ia cintai. Zahira, yang kebetulan lewat, menyelamatkannya. Bukan hanya secara fisik, tapi juga jiwanya—dengan nasihat sederhana namun tulus, Zahira membuat Hendro bangkit lagi.

Hendro tampak begitu gentleman di mata Zahira. Tak butuh waktu lama, ia datang ke rumah dan langsung meminangnya. Mereka menjalin hubungan jarak jauh selama satu tahun sebelum akhirnya Hendro pulang untuk menikahinya.

Dua tahun pertama pernikahan mereka terasa seperti mimpi indah. Hingga di tahun keempat, Ratna kembali. Wanita itu datang perlahan, membawa senyum dan kata-kata bijak, mengajak Zahira bersahabat. Dan Zahira yang naif, percaya... bahwa Ratna tak lagi menginginkan Hendro. Ia salah.

Tahun keempat hingga tahun kesepuluh, Zahira hidup bagaikan ratu di istana kecilnya. Hendro begitu perhatian, selalu pulang membawa senyum, oleh-oleh kecil, atau sekadar pelukan hangat yang menenangkan. Zahira percaya, inilah kebahagiaan sederhana yang ia dambakan.

Namun memasuki tahun kesebelas, segalanya mulai berubah. Hendro semakin sering bepergian keluar kota, katanya demi pekerjaan. Sementara Ratna—perlahan namun pasti—semakin sering datang ke rumah. Anehnya, anak-anak pun lebih nyaman bersama Ratna, seolah Zahira hanya bayang-bayang di sudut rumah mereka.

Zahira tetap bertahan. Bercerai bukan bagian dari kamus hidupnya. Ia tumbuh dari keluarga yang utuh, melihat cinta orang tuanya bertahan sampai maut memisahkan. Itulah yang ia impikan: menikah sekali, lalu setia sampai akhir usia.

Malam itu, Zahira tak kuasa menahan tangis. Air mata mengalir deras di pipinya, namun suara tangisnya ia redam dengan menggigit ujung handuk. Ia tidak ingin siapa pun mendengar. Bagi Zahira, menjaga nama baik dan keharmonisan keluarga adalah segalanya. Ia bukan tipe istri yang suka mengadu atau mengumbar luka. Ia menahan semuanya sendiri—karena begitulah perempuan baik seharusnya, pikirnya... meski hatinya terus terkoyak hari demi hari.

“Makanan ini harus aku bagikan…” gumam Zahira pelan.

Dengan mata masih sembab, ia membungkus satu per satu hidangan yang dimasaknya dengan penuh cinta.

Malam itu, ia melangkah keluar rumah, menyusuri jalan gelap, dan mengetuk pintu-pintu tetangga. Satu per satu ia berikan makanan itu—bukan sekadar nasi, tapi sepotong hati yang nyaris hancur.

“Ini dalam rangka apa, Mbak Zahira?” tanya Bu Sumi, tetangga sebelah, sambil menatap bingung wajah Zahira yang sembab namun tetap tersenyum paksa.

“Dalam rangka syukuran, suami saya baru naik jabatan,” jawab Zahira dengan senyum yang sedikit dipaksakan, berusaha menyembunyikan getar di suaranya dan luka yang belum juga kering.

“Harusnya Mbak Zahira senang dong, Mas Hendro kan naik jabatan. Tapi kok malah menangis, ya?” tanya Bu Sumi heran, menatap lekat wajah Zahira yang tak mampu menyembunyikan luka di balik senyumnya.

“Oh, saya lagi sakit mata, Bu... jadi sering keluar air mata,” jawab Zahira pelan, masih berusaha menyembunyikan luka sebenarnya di balik alasan yang terdengar ringan.

“Ya sudah, terima kasih ya, Mbak. Semoga rumah tangga Mbak Zahira langgeng terus. Mbak Zahira dan Mas Hendro itu panutan kami, lho,” ucap Bu Sumi tulus.

Doa itu terucap tulus tapi bagi zahira terasa menyakitkan, Zahira hanya mengangguk dan tersenyum samar. Ia kembali melangkah, membagikan makanan dari rumah ke rumah, dengan hati yang sesak dan doa yang nyaris tak terdengar.

Lalu matanya menangkap sosok pria paruh baya yang sedang duduk di atas motor, mengenakan jaket ojek online, menunduk lelah di bawah lampu jalan yang temaram.

“Mas, ini ada sedikit makanan,” ucap Zahira lembut, sambil menyodorkan bungkusan dengan tangan gemetar namun penuh ketulusan.

“Zahira... kenapa kamu menangis?” tanya pria ojek online itu, suaranya pelan namun penuh empati.

Zahira mendongak, matanya membulat tak percaya.

“Adit? Kenapa kamu ada di sini?” tanyanya terbata.

“Aku baru saja ngantar pesanan,” jawab Adit dengan senyum tipis, menatap Zahira lekat.

“Mm... kenapa kamu jadi tukang ojek?” tanya Zahira, heran melihat kondisi Adit.

Dulu, Adit adalah pria paling sombong yang pernah ia kenal—penuh percaya diri dan merasa dunia miliknya. Kini, ia tampak sederhana, jauh berbeda.

“Ya emang kenapa? Yang penting halal, nggak jadi koruptor,” ucap Adit santai, tanpa beban.

Zahira tersenyum tipis, tapi dalam hati bergumam, “orang  ini… jadi tukang ojek pun masih saja sombong.”

Tetap Adit yang dulu—berubah rupa, tapi tidak sikap.

“Ya sudah, aku masuk dulu ke rumah,” ucap Zahira sambil melangkah pelan.

“Ok… hati-hati di jalan, ya. Kalau ada apa-apa, jangan ragu hubungi aku,” kata Adit dengan nada tulus.

“Ok,” jawab Zahira pelan, nyaris tak terdengar.

Dalam hati ia menggerutu, “Apa-apaan sih… aku cuma tinggal jalan sepuluh langkah udah sampai rumah. Kenapa juga bilang hati-hati di jalan?”

Namun entah kenapa, kalimat sederhana itu terasa hangat di hatinya.

Setelah sampai di rumah, perasaan Zahira terasa sedikit lebih lega.

“Benar kata orang, sedekah itu bisa melapangkan dada… sekarang aku merasa lebih tenang,” gumamnya pelan, sambil menatap langit malam yang sepi namun menenangkan.

Zahira lalu membersihkan rumah dengan tekun.

Ia tak ingin membiarkan dirinya diam—karena diam hanya akan menyeret pikirannya kembali pada luka dan sakit hati yang terus menggerogoti batinnya.

Saat memeriksa saku celana Hendro, Zahira menemukan sebuah struk belanja. Matanya membulat saat membaca: kalung emas 20 gram, 24 karat, senilai 36 juta—tanggal pembelian 15 Juli 2022.

“Kalung ini… untuk siapa?” gumam Zahira pelan.

Hatinya berdesir. Mungkinkah… untukku? bisiknya penuh harap yang ia sendiri takut percayai.

Hati Zahira terasa hangat, membuncah harapan baru. Mungkinkah kalung itu untukku? Dari gambar kecil di struk, terbayang kilau indahnya melingkar di lehernya—hadiah penuh makna di usia dua puluh tahun pernikahan mereka. Dengan hati-hati, ia melipat dan menyimpan struk pembelian itu di dalam laci kecil.

Ia kembali ke ruang tengah, menatap jam dinding yang berdetak pelan. Jarum panjang hampir menyentuh angka dua belas. Sudah pukul sebelas malam. Tapi Hendro, ibu mertuanya, dan anak-anaknya belum juga pulang. Zahira menghela napas panjang. Sunyi semakin menusuk.

Tangannya meraih ponsel Nokia 3310 miliknya—ponsel tua yang setia menemaninya selama lebih dari dua belas tahun. Ia dilarang memiliki ponsel Android oleh Hendro, katanya "tidak perlu dan bikin repot." Zahira tidak pernah membantah, karena baginya, menaati suami adalah bentuk cinta.

Ia ingin menelepon Hendro. Tapi ragu. Ia tahu, suara Hendro yang tinggi dan dingin akan langsung menyambutnya. Mungkin marah. Mungkin membentak.

Zahira lalu berjalan ke teras rumah. Ia melangkah pelan ke sudut taman kecilnya. Tatapannya tertuju pada pot bunga. Ia menunduk, lalu mengangkat pot itu—seolah mencari sesuatu yang telah lama ia sembunyikan.

“Ternyata Mas Hendro bawa kunci cadangan… berarti dia memang berniat pulang larut,” gumam Zahira pelan, getir.

Zahira terus menatap ke arah gerbang, berharap Hendro datang membawa kejutan—sambil menggenggam struk pembelian emas erat di tangannya.

1
Boedi Harjanto Admopradjitno
lah kalo hendro g mau cerai, tinggal laporkan ke instansinya, krn ASN ada aturan kepegawaian apalagi masalah menikah lagi tanpa izin istri sah. krn dlm administrasi kepegawaian kepemerintahan, nama zahira adalah sbg istri dr hendro, dan kalo hendro menikah lg maka nama istri kedua tdk masuk database kepegawaian dan dianggap tdk sah scr aturan kepegawaian kecuali ada surat persetujuan dr istrinya dan surat persetujuan dr instansi tmpt hendro bekerja atau dr dinas kepegawaian setempat dan itu sangatlah ribet dan lama. jd zahira bisa tuntut hendro dgn video pernikahannya dan video saat zahira di talak, itu scr hukum kuat dan sah. hendro tdk pny alasan kecuali hidupnya benar2 hancur krn dipecat scr tdk hormat dr ASN.
Boedi Harjanto Admopradjitno
harusnya setiap percakapan dgn lesti, yudi dan karna direkam biar jd bukti agar mereka tdk bisa berkelit.
Boedi Harjanto Admopradjitno
sampai bab ini zahira belum resmi bercerai di pengadilan. harusnya fokus juga kesana krn hendro adalah ASN tentu aturannya lebih ribet dan mrlibatkan instansi pemerintah. lagian zahira bisa melaporkan hendro ke bagian kepegawaian pusat krn pernikahan kedua tanpa izin dr zahira dan instansi tempat hendro bekerja.
Boedi Harjanto Admopradjitno
si polisi bergumam : "gila, jd selama 10x ini kita aparat polisi sudah dikibuli ama tuh perempuan gembel kw, ngaku suaminya pemulung, ternyata pemain uang haram juga".
Boedi Harjanto Admopradjitno
ASN loh. apa boleh ASN beristri lebih dr 1? harusnya zahira laporkan kelakuan hendro ke instansinya agar kena sangsi pemecatan tdk hormat.
Boedi Harjanto Admopradjitno
kalo gue jd hendro, langsung gue talak si ratna, gue buang 2 anak dajjal atau kasih aja ke ratna buat dipelihara, lalu gue nikahi tuh sinta, lumayan double luky, 1 sisi jd istri, 1 sisi jd babu+perawat. tuh si 2 anak dajjal namanya gue hapus dr KK dan ahli waris, bodo amat ama hidup anak2 bebal. berdua ama sinta aja.
Febri Setyawan
shinta is intel kayaknya
Boedi Harjanto Admopradjitno
walah abdi negara toh. bisa dilaporkan ke instansi tempat hendro kerja, ada sangsinya krn menikah lagi tanpa persetujuan istri. bisa dipecat tuh hendro.
Boedi Harjanto Admopradjitno
kalo sampai bab akhir si anak kembar laknat tdk dikasih azab, authornya keterlaluan. pengen azab anak dajjal putus kaki dan tangannya, lalu jd gelandangan. si bumer mati dgn jasad tdk diterima bumi, dan suami gila dgn penyakit busuk.
Boedi Harjanto Admopradjitno
pengen lihat si angga jd penjahat kelamin si anggi jd pelacur emperan toko.
Yanti Picauly Constantine
cerita novel terbagus...bermutu
zee_
terima kasih untuk karya kerenmu ini thor
Sutriyono
sungguh terlalu mereka itu😢
winda aulia
apakah ini juga punya adit
winda aulia
wah. novel ini bener" diluar cerita seperti kebanyakan🤣. oke mantepp. tapi sepertinya sdh pengalaman yah author nya ini.
Dessy Lisberita
ujung"zahira yg nolongin sebel aku thoor coba bukan zahira yg nolongin
Dessy Lisberita
kalau emosi sudah mengusai membunuh di anggap mudah
Dessy Lisberita
ibu kandung berhati iblis
Dessy Lisberita
anak zahira di didik dan di besarkan dngan uang halal anak Ratna di besarkan dngan uang haram dan gabungan tingkah hendro dan ratna
Dessy Lisberita
akhir dari kesombongan dan ke angkuhan rini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!