Beberapa hari menjelang pernikahan, Yumna mengetahui perselingkuhan Desta, tunangannya, dengan Cindy, atasan mereka sekaligus adik angkat dari CEO kejam, Evander Sky Moreno.
...
Kecewa lalu mabuk, Yumna melabrak sang CEO di sebuah bar.
"Gara-gara adikmu, aku batal nikah! Aku bakal jadi bahan ejekan tetangga! Kamu harus tanggung jawab, Bos Brengsek!" teriak Yumna sambil menarik kerah kemeja mahal Evander.
Evander menatapnya dingin, lalu berbisik di telinga Yumna, "Jika posisi mempelai pria kosong, biar aku yang mengisinya."
...
Kini, Yumna datang ke gedung pernikahan bukan sebagai pengantin yang terbuang, melainkan sebagai istri dari pria yang paling ditakuti Desta dan Cindy.
"Desta, perkenalkan... ini suamiku. Mulai sekarang, panggil aku Kakak Ipar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom_cgs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daster Beruangku
Begitu Yumna melangkah masuk ke ruangan, denting sendok dan garpu yang tadinya riuh mendadak hening. Tante Martha, Tante Sofia, dan Tante Rosa menoleh serentak. Cindy, yang sedang menyuap potongan buah pir dengan gaya sok anggun, langsung meletakkan garpunya.
"Wah, lihat siapa yang baru bangun," sindir Tante Martha, melirik jam tangan berliannya. "Jam sembilan? Nyonya Moreno yang baru ini sepertinya belum tahu kalau di keluarga ini, sarapan dilakukan saat matahari baru mau mengintip, bukan saat matahari sudah di atas kepala."
Yumna tersenyum tenang, teringat posisi "kaki di wajah Evander" tadi pagi. Kalau mereka tahu apa yang ia lakukan pada kepala keluarga mereka tadi subuh, mungkin mereka akan pingsan masal.
"Maaf, Tante. Semalam tidurnya terlalu nyenyak. Maklum, kasur di sini jauh lebih empuk daripada kasur di rumah saya. Jadi kebablasan," jawab Yumna santai sambil mengambil piring.
"Tentu saja nyenyak. Setelah menjerat Evander dengan drama murahan, kamu pasti merasa sudah di puncak dunia, kan?" Cindy menimpali dengan suara tajam. "Tapi jangan senang dulu, Yumna. Semalam Kak Evander bahkan tidak terlihat bahagia di pelaminan. Wajahnya kaku seperti sedang mengurus merger perusahaan yang merugi."
Yumna duduk di salah satu kursi kosong, tepat di depan Cindy. Ia mengambil sepotong croissant dan mulai membelahnya dengan elegan, setidaknya ia berusaha.
"Wajah Mas Evander memang kaku dari lahir, Cindy. Kamu kan adiknya, harusnya tahu. Tapi kalau di dalam kamar..." Yumna sengaja menggantung kalimatnya, memberikan senyum misterius yang membuat para tante langsung saling lirik dengan wajah syok. "Dia ternyata sangat... aktif. Sampai saya capek sendiri mengimbangi energinya."
Aktif senam lantai maksudnya! batin Yumna sambil menahan tawa.
"Lancang sekali bicaramu!" Tante Sofia memukul meja pelan. "Tidak punya malu! Membicarakan urusan ranjang di depan orang tua!"
"Lho, kan Tante yang mulai bahas kebahagiaan kami?" Yumna mengangkat bahu. "Saya hanya ingin meluruskan kalau kami berdua sangat menikmati malam pertama kami. Walaupun... ada sedikit insiden minyak aromaterapi yang tumpah."
Wajah Cindy merah padam. "Jangan harap kamu bisa bertahan lama di sini. Kakek mungkin sedang tertipu, tapi kami tidak. Kami tahu kamu hanya staf marketing yang haus harta!"
"Haus harta? Mungkin iya," Yumna menyuap croissant-nya dengan nikmat. "Tapi setidaknya saya haus harta yang halal, karena Mas Evander sendiri yang memberikannya dengan tanda tangan di buku nikah. Daripada haus kasih sayang dengan merebut tunangan orang, eh?"
Desta yang baru masuk ke ruangan sarapan untuk menyusul Cindy, langsung mematung di ambang pintu mendengar ucapan Yumna. Wajahnya langsung pucat pasif.
"Oh, Mas Desta! Sini, sarapan bareng!" panggil Yumna dengan nada ceria yang dibuat-buat. "Gimana tidurnya semalam? Nggak mimpi buruk kan melihat mantanmu ini jadi istri bosmu?"
Tante Rosa mendengus jijik. "Evander benar-benar salah pilih. Harusnya dia menikah dengan anak rekan bisnis kakek di Singapura, bukan dengan gadis yang bahasanya tidak disaring begini."
"Salah pilih atau tidak, faktanya saya yang duduk di sini memakai cincin ini, Tante," Yumna memamerkan berlian di jarinya. "Oh iya, Tante Martha, sepertinya foundation Tante agak retak di bagian pipi. Mungkin karena terlalu banyak cemberut pagi ini?"
Tante Martha langsung memegang pipinya dengan panik, mencari cermin di tasnya. Suasana sarapan itu benar-benar menjadi ajang perang urat syaraf. Yumna merasa menang telak, namun ia juga bertanya-tanya: di mana suaminya itu? Kenapa dia membiarkan Yumna bertarung sendirian di sini?
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat dan berwibawa terdengar dari arah pintu. Evander muncul dengan setelan jas abu-abu yang sangat tajam, diikuti oleh Kakek William.
"Ada apa ini? Kenapa suasananya seperti sedang rapat pemecatan karyawan?" tanya Evander dingin, matanya langsung tertuju pada Yumna yang sedang memegang garpu.
Yumna menatap suaminya dengan tatapan 'Awas kamu ya ninggalin aku sendirian!'.
"Nggak ada apa-apa kok, Mas Sayang," sahut Yumna manja, suaranya naik dua oktav. "Tante-tante tadi cuma lagi kasih tips gimana cara jadi istri yang 'berkelas'. Ya kan, Tante?"
Evander berjalan mendekat, lalu dengan gerakan yang membuat seluruh meja terperangah, ia membungkuk dan mencium kening Yumna di depan semua orang.
"Kamu tidak butuh tips dari siapa pun. Menjadi dirimu sendiri yang... unik... sudah cukup bagi saya," ucap Evander dengan suara rendah yang terdengar sangat tulus di telinga Yumna, meski Yumna tahu ini bagian dari akting.
Kakek William tertawa pendek. "Ayo duduk, Evander. Kakek senang melihat kalian akur. Dan untuk kalian para Tante, berhenti mengganggu cucu mantuku. Jika aku mendengar ada yang membuatnya tidak selera makan lagi, uang saku bulanan kalian akan kualihkan ke rekening yayasan kucing telantar."
Hening seketika. Cindy dan para tante hanya bisa menunduk dalam-dalam, menahan amarah yang meledak di dada mereka. Yumna tersenyum lebar, ia mengambil sosis besar dan menyuapkannya ke mulut dengan puas.
"Makasih ya, Kakek. Sosisnya jadi kerasa makin enak!"
Setelah sesi sarapan yang penuh dengan drama "sosis kemenangan" dan ancaman kakek untuk memotong uang jajan para tante, Evander segera menarik Yumna kembali menuju lift. Genggaman tangan pria itu terasa lebih erat dari biasanya, dan aura yang terpancar dari tubuhnya jauh lebih dingin daripada AC sentral hotel.
Begitu pintu Presidential Suite tertutup dengan bunyi klik yang bergema, suasana hangat dan romantis yang mereka bangun di depan keluarga besar tadi menguap seketika.
Evander melepaskan tangan Yumna, lalu berbalik dengan perlahan. Ia tidak langsung bicara. Pria itu justru melonggarkan dasinya, membuka satu kancing kemeja atasnya, dan menatap Yumna dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara kesal, lelah, dan sesuatu yang jauh lebih intens.
"Mas... Mas Bos kenapa? Tadi di bawah bukannya manis banget ya sampai cium kening segala?" Yumna mencoba mencairkan suasana, meski kakinya mulai gemetar. Ia mundur selangkah demi selangkah sampai punggungnya membentur pintu.
"Itu di depan kakek, Yumna. Sekarang, hanya ada kita berdua," suara Evander merendah, sangat rendah sampai bulu kuduk Yumna berdiri semua. "Kita punya satu agenda yang belum selesai. Sidang pleno atas kejadian subuh tadi."
Yumna menelan ludah. "Kejadian... yang mana ya? Anu... yang aromaterapi tumpah itu kan sudah dimaafin?"
Evander melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Ia meletakkan kedua tangannya di pintu, mengurung tubuh mungil Yumna di tengah-tengahnya. Aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau kopi pagi harinya menyerbu indra penciuman Yumna.
"Jangan pura-pura amnesia. Saya bicara soal jempol kakimu yang mencoba menginvasi hidung saya," desis Evander, wajahnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Yumna. "Dan terutama... soal tanganmu yang dengan sangat 'percaya diri' mencengkeram sesuatu yang bukan hak milikmu."
Yumna memejamkan mata rapat-rapat. "Sumpah Mas! Itu murni refleks! Aku pikir itu... itu guling cadangan yang ada tonjolannya! Aku kan tidur di rumah sering meluk bantal guling yang sudah robek-robek kapasnya, jadi aku kira itu bagian yang mencuat!"
"Tonjolan?" Evander mengulang kata itu dengan nada yang sangat berbahaya. Satu sudut bibirnya terangkat, menciptakan seringai miring yang tampak sangat tampan namun mematikan. "Kamu baru saja menghina aset berharga saya dengan menyebutnya bantal guling robek?"
"Bukan gitu maksudnya! Aduh... Mas, tolong jangan begini. Posisi ini nggak sehat buat jantung staf marketing yang belum sarapan nasi uduk ini!" Yumna mencoba mendorong dada Evander, tapi dadanya sekeras dinding beton.
Evander tidak bergeming. Ia justru semakin menunduk, sehingga napasnya yang hangat menerpa telinga Yumna. "Kamu tahu, Yumna? Di dunia bisnis, setiap tindakan ada konsekuensinya. Kamu sudah melakukan pelecehan terhadap CEO-mu sendiri. Menurutmu, hukuman apa yang pantas?"
"Potong gaji? Eh, kan gajiku sekarang dari Mas juga. Anu... aku cuci daster beruangku sampai bersih deh?" tawar Yumna polos.
Evander tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat seksi namun membuat Yumna merinding. "Daster beruangmu itu sudah saya perintahkan pada Clarissa untuk dibuang dan diganti dengan pakaian yang lebih... layak untuk seorang istri."
"Hah?! Daster kesayanganku dibuang?! Tega banget!" Yumna langsung membuka matanya dan menatap Evander dengan berani. "Itu daster bersejarah, Mas! Itu daster yang nemenin aku nangis pas Desta selingkuh!"
"Justru itu alasannya. Saya tidak butuh pengingat tentang pria amuba itu di kamar saya," ucap Evander tegas. Tiba-tiba, tatapannya melembut. Ia menatap bibir Yumna sejenak sebelum kembali menatap matanya. "Dan soal kejadian subuh tadi... anggap saja itu hutang yang harus kamu bayar suatu saat nanti."
diajarin lah biar c,Yumna nya rada anggunan kalo di bentak mulu bukannya anggun yg ada malah ciut...