Bagi Syren Fauzana, nasib sial itu bentuknya nyata: menabrak pria angkuh di lobi kantor, merusakkan jam tangannya yang "kelihatan butek", dan dengan berani menuduh pria itu penipu.
Syren pikir urusannya selesai setelah ia memaki pria itu. Namun, dunianya runtuh saat ia masuk ke ruang wawancara dan menemukan pria "penipu" yang sama duduk di kursi CEO dengan senyum menyeringai.
Satu jam tangan rusak, utang seratus juta, dan sebuah kontrak kerja paksa tanpa gaji. Syren terjebak. Ia tidak tahu bahwa menjadi sekretaris Julian Aldrin bukan sekadar soal melunasi utang, tapi awal dari drama panjang yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Bersamanya
Syren yang sudah kembali rapi dengan kemeja kantornya langsung menghampiri meja Julian. "Ayo pulang Pak Boss! Udah jam berapa ini, mata saya udah kerasa ada beban lima ton!"
Julian melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan lewat tengah malam, lalu kembali menatap Syren dengan wajah lempeng. "Menginap untuk hari ini, Syren."
"Apaaaaa?! Menginap?!" Syren melotot, rasa kantuknya hilang seketika diganti mode waspada. "Ihhh nggak mau, nggak mau! Pak Bos mau modus ya? Tadi katanya nggak bakal macem-macem sebelum nikah!"
Julian menghela napas, ia berdiri dan mengambil kunci mobilnya sambil menatap ke luar jendela yang gelap gulita. "Di jam segini jalanan rawan, Syren. Pasti banyak begal di rute pulang kamu. Saya tidak mau sekretaris saya hilang atau kena masalah karena pulang dini hari."
"Tapi kan Pak—"
"Sudah, menurutlah. Kamu bisa tidur di kamar pribadi saya di dalam sana. Saya akan tidur di sofa ruang kerja ini," potong Julian telak, tidak memberikan celah untuk protes. "Atau kamu lebih memilih berhadapan dengan begal di jalan daripada menginap di sini?"
Syren menelan ludah. Bayangan begal di jalanan sepi memang lebih menyeramkan daripada tidur di ruangan Julian. Apalagi berita kejahatan jalanan di jam malam sedang marak-maraknya.
"Ya udah... tapi bener ya Pak, jangan berani-berani buka pintu kamar! Kalau saya denger suara langkah kaki mendekat, saya timpuk pake sepatu!" ancam Syren sambil jalan mundur menuju kamar pribadi Julian.
Julian hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Syren. "Tidur, Syren. Jangan banyak bicara lagi."
Syren akhirnya masuk ke kamar pribadi Julian yang luas dan beraroma maskulin elegan. Matanya berbinar melihat ranjang king size dengan sprei sutra yang tampak sangat nyaman.
"Wihhh... ini mah gue bisa-bisa besok nggak bangun! Jadi kangen banget kamar gue dulu pas masih jadi anak sultan," gumam Syren sembari menenggelamkan dirinya di ranjang empuk Julian. Rasanya sangat kontras dengan kasur di rumahnya sekarang yang sudah mulai terasa per-nya.
Teringat sang adik, Syren buru-buru meraih ponselnya. Ia menelpon Ardi berkali-kali. Ardi tidak menjawab-jawab, sepertinya sudah hanyut ke alam mimpi setelah lelah jogging pagi tadi. Barulah pada menit kelima, terdengar suara serak khas orang bangun tidur.
"Mmh-halo, Mbak?" jawab Ardi malas.
"Halo Di, gue hari ini nggak pulang. Lo berani kan sendirian di rumah?" tanya Syren was-was.
"Ya beranilah Mbak, lagian gue udah gede," sahut Ardi, namun sedetik kemudian nadanya berubah penuh selidik. "Emmm... hayo Mbak, ngapain nggak pulang? Sama siapa?!"
"Gue... gue sama Gaby! Iya, Gaby dapet musibah, jadi gue nemenin dia tidur di apartemennya," bohong Syren lancar demi menutupi fakta bahwa dia menginap di kantor bersama sang Bos Peot.
"Halah, alasan lo. Ya udah deh, ati-ati jangan lupa kunci pintu," kata Ardi sebelum menutup telepon.
Syren menghela napas lega. Ia melempar ponselnya ke samping bantal dan menatap langit-langit kamar yang mewah. Sementara itu, di luar kamar, Julian benar-benar merebahkan tubuhnya di sofa ruang kerja. Sofa itu cukup panjang untuk ukuran tubuhnya yang tinggi, namun tetap saja tidak senyaman ranjang di dalam.
Julian menatap pintu kamarnya yang tertutup rapat. Ia membayangkan Syren sudah tertidur pulas di sana. "Monyet rusuh itu... baru sehari rambutnya digerai sudah bikin kacau konsentrasi saya seminggu," bisik Julian pelan sebelum akhirn
ya memejamkan mata.
"Yaelah merem Syren, tinggal merem! Yakali dari tadi nggak merem-merem," gerutu Syren kesal pada dirinya sendiri. Ia terus berguling ke kanan dan ke kiri, tapi matanya tetap melek segede bola pimpong. Sepertinya tubuhnya butuh waktu lebih untuk "bersosialisasi" dengan tempat baru yang terlalu mewah ini.
"Satu domba... dua domba... tiga domba... dua belas domba..." Syren menghitung pelan sambil memejamkan mata, tapi bukannya ngantuk, dia malah makin lapar membayangkan domba guling.
"Ya elah, ngapa sih Ren! Payah banget lo!" serunya frustasi.
Karena sudah sangat muak dengan keheningan di dalam kamar yang malah bikin pikirannya ke mana-mana, Syren akhirnya memberanikan diri untuk keluar kamar. Ia berjalan jinjit, membuka pintu pelan-pelan, dan melongok ke arah ruang kerja.
Di sana, di bawah cahaya temaram lampu meja, ia melihat sosok Julian yang sedang berbaring di sofa dengan tangan menutupi matanya. Sepertinya Julian juga belum benar-benar terlelap.
Syren mendekat perlahan, "Pak... Pak Bos Peot, belum tidur?" bisiknya dengan suara pelan yang terdengar sedikit ragu.
Julian menggeser tangannya, menatap Syren dengan sebelah mata yang terbuka. "Kenapa keluar? Kamarnya kurang nyaman?" tanyanya dengan suara serak khas orang yang sedang menahan kantuk.
"Bukan nggak nyaman Pak, justru terlalu nyaman sampe saya ngerasa asing," jawab Syren jujur, lalu ia duduk di lantai dekat sofa Julian, menyandarkan punggungnya di sana. "Bapak sendiri kenapa nggak tidur? Sofa ini pasti keras ya buat badan Bapak yang gede
itu?"
"Nggak, udah cepetan tidur," jawab Julian ketus, berusaha menjaga jarak meskipun hatinya mulai luluh melihat wajah lelah Syren.
"Nggak bisa Pak! Gimana kalau Pak Bos temani saya? Saya duduk di sofa ini sampai tidur, terus kalau gitu Pak Bos bisa tidur di kamarnya sendiri. Gimana?" tawar Syren dengan mata yang sudah setengah watt, tapi tetap keras kepala.
Julian menghela napas panjang. Ia tahu Syren tidak akan menyerah sebelum keinginannya dikabulkan. "Ya udah," jawab Julian akhirnya pasrah. Ia bangun dari posisi berbaringnya dan duduk di sofa, membiarkan Syren duduk di sampingnya.
Benar saja, suasana sunyi dan kehadiran Julian di sampingnya ternyata menjadi obat tidur yang ampuh. Tak lama kemudian, kepala Syren mulai terkantuk-kantuk hingga akhirnya terjatuh di bahu Julian. Syren sudah tertidur pulas dengan napas yang teratur.
Julian terdiam sebentar, merasakan beban kepala Syren di bahunya. Ia menatap wajah Syren yang tampak sangat tenang saat tidur—jauh dari kesan "monyet rusuh" yang selalu bikin darah tinggi.
Dengan sangat hati-hati agar tidak membangunkan gadis itu, Julian mengangkat tubuh Syren dalam gendongan bridal style. Ia membawa Syren masuk ke dalam kamar dan membaringkannya perlahan di atas ranjang empuk miliknya. Julian menyelimuti Syren hingga sebatas dada, lalu tangannya terulur menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Syren.
"Selamat tidur, Syren," bisiknya pelan, hampir tak terdengar.
Julian tidak kembali ke sofa. Ia memilih duduk di kursi dekat jendela kamar, memandangi wajah Syren yang terlelap sambil memikirkan rahasia besar yang belum diketahui gadis itu: bahwa ayahnya, Pak Ridwan, sebenarnya tidak bangkrut.
Malam yang sangat manis! Julian benar-benar membuktikan ucapannya bahwa dia akan menjaga Syren dengan baik.
Keesokan paginya, di jam lima tepat, Syren sudah terbangun. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih tertinggal di alam mimpi. Ia menatap sekeliling ruangan yang luas dan mewah itu dengan tatapan kosong.
"Gue... di mana?" gumamnya pelan. Namun, sedetik kemudian matanya membelalak lebar saat ingatan semalam berputar kembali di otaknya. "Astaga, gue kan nginep sama Pak Bos!"
Syren segera duduk tegak di atas ranjang empuk milik Julian. Pandangannya langsung tertuju pada sosok pria yang tengah tidur di kursi dekat jendela. Julian tampak tertidur dalam posisi duduk yang pasti sangat tidak nyaman demi menjaganya semalam.
"Pak Julian... Pak! Bangun Pak, ayo pulang! Nanti ketahuan orang!" bisik Syren panik sembari mengguncang bahu Julian dengan tenaga yang cukup kuat.
Julian melenguh kecil, perlahan membuka matanya dan menatap Syren dengan pandangan masih mengantuk. "Syren? Sudah bangun?" tanyanya.
"Udah Pak! Cepetan bangun, sebelum ada satpam atau petugas kebersihan yang lewat. Bisa geger satu kantor kalau kita keluar dari sini barengan!" desak Syren lagi, benar-benar takut reputasinya sebagai sekretaris berubah jadi bahan gosip.
Julian menghela napas, ia bangkit dari kursi sambil memijat lehernya yang terasa kaku. "Tenang saja, jam segini masih aman. Tapi baiklah, saya antar kamu pulang sekarang."
Syren pun segera menyambar tasnya, tidak ingin membuang waktu sedetik pun. "Ayo Pak Bos!" ajaknya dengan suara setengah berbisik.
Mereka pun akhirnya sampai di parkiran tanpa satu orang pun mengetahuinya. Beruntung, hanya ada satu petugas keamanan yang sedang berpatroli di sisi lain gedung.
"Masuk," perintah Julian singkat sambil membuka kunci pintu mobil.
Syren akhirnya masuk ke mobil dengan napas lega. "Hampir aja jantung saya copot," gumamnya.
Julian mulai menjalankan mobilnya membelah jalanan pagi yang masih sangat sepi. Syren yang teringat rencananya semalam langsung menoleh ke arah Julian.
"Pak Bos, nanti saya nggak lembur kan?" tanya Syren was-was. Matanya menatap Julian penuh harap. "Uang lima belas juta Bapak sudah mendarat di rekening saya dengan selamat, jadi saya mau pakai buat belanja sama Gaby. Jangan bilang Bapak mau ngerjain saya lagi kayak kemarin."
Julian hanya diam, fokus menatap jalanan di depannya dengan sisa-sisa rasa kantuk. "Lihat nanti," jawab Julian singkat yang sukses membuat Syren mendengus kesal.
denger kelrg mu bangkrut,, lgsg g drestui