Miranda menikah selama 2 tahun berbakti pada suami
membantu suami keluar dari kebangkrutan
sayang sekali setelah sukses suaminya selingkuh
bagaimana kehidupan miranda selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MIA 1
“ah…uh…oh” terdengar desahan dari kamar saras
Miranda menajamkan telinganya, sudah beberapa minggu ini Miranda Curiga kalau Saras berselingkuh dengan Suaminya Rizki dan Miranda belum menemukan bukti kuat, dan ini adalah moment yang tepat.
Saras adalah sepupu Rizki, keponakan dari Ayah mertua Miranda, sudah dua tahun minggu Saras tinggal di rumah Rizki dan banyak menunjukan prilaku yang mencurigakan, bagi Miranda saras adalah wanita manipulatif yang selalu membuat dia serba salah dihadapan keluarga mertuanya.
Dua tahun menikah dengan Rizki tentu saja Miranda hafal suara seperti itu, suara lelaki dan perempuan yang sedang memadu kasih tentunya.
Dengan mengendap-endap dia melangkah ke daun pintu Saras, ponselnya dia rogoh, rencananya dia akan merekam kejadian itu, agar semua orang tahu kalau Saras tidak sebaik yang mereka kira.
“Siapa sebenarnya di kamar Saras?” pertanyaan itu muncul di kepala Miranda.
“Rizkikah? Suamiku tadi sore bilang akan pulang besok karena ada masalah di proyek galian tanah.”
Miranda mengeliminasi Rizki yang berada di kamar Saras.
“Ayah Antonkah?” mendadak nama itu muncul.
“Tidak mungkin, tadi sore dia habis diurut oleh Pak Harsono dan seharusnya dia tidur, aku sudah memberi obat herbal, efeknya akan membuat badan rileks dan tidur.”
Miranda mengeliminasi nama ayah mertuanya.
Karena tingginya kurang, Miranda hendak mengambil kursi plastik.
“Siapa pun lelaki yang ada di dalam, aku harus mendapatkan buktinya, mereka harus tahu kalau Saras tak sebaik yang mereka kira,” pikir Miranda.
Sambil terus berpikir siapa sebenarnya lelaki yang berada di kamar Saras.
Di rumah besar itu hanya ada tiga lelaki, Rizki suaminya, Anton ayah mertuanya, dan Raka kakak iparnya.
“Mungkinkah Raka?” gumam Miranda.
Namun dia membuang perkiraan itu.
Miranda mengenal Raka seseorang yang setia dan di antara para lelaki yang ada di rumah hanya Raka yang rajin ibadah dan dia masih sangat terpukul dengan kematian istrinya tiga bulan yang lalu.
Istrinya meninggal karena melahirkan anaknya.
Suara erangan semakin jelas, dengan menenteng kursi dia mendekat ke arah kamar Saras.
Dadanya berdegup kencang, dengan penuh tekad dia harus mempunyai bukti kalau Saras tidak sebaik yang orang kira.
Dan karena gemetar dia menyenggol pot bunga.
Miranda mengutuk dirinya yang ceroboh, dan seketika suara erangan itu berhenti.
Hal ini menunjukkan kalau suara erangan itu bukan karena sakit, tetapi karena sedang melakukan pergumulan. Miranda menguatkan tekad, dia menaruh kursi dekat pintu dan akan mengintip dari ventilasi pintu.
Namun saat akan naik ke kursi, suara tangisan bayi begitu melengking terdengar.
Dan Miranda secara refleks melihat Amora.
Amora bayi usia 5 bulan adalah anak dari Raka kakak iparnya, Miranda sangat menyayangi Amora.
Dua tahun menikah tetapi tak kunjung juga mendapatkan anak, tentu saja mengurus Amora membuat Miranda senang, dan walaupun Rizki mengizinkannya, Miranda tahu hubungannya dengan Rizki mulai renggang karena Miranda terlalu memperhatikan Amora.
Aneh sekali, padahal Ayah Anton dan Rizki-lah yang memaksa Miranda mengurus Amora, tetapi setelah dijalani Rizki malah bersikap dingin padanya, bersamaan dengan masuknya Saras ke perusahaan Rizki menggantikan posisi Miranda.
Miranda melangkah dengan rasa penasaran yang membuncah.
Melihat Amora menangis begitu keras membuat Miranda khawatir, tetapi tidak ada satu pun yang bangun.
Dengan telaten Miranda menggantikan popok Amora, menggantikan bajunya, memberi minyak telon, membuat susu formula lalu menggendong Amora agar tertidur.
“Ayah kamu sedang keluar, kamu yang sabar ya,” ucap Miranda pada Amora,
seolah anak itu bisa mengerti dengan apa yang diucapkan Miranda.
Hal ini menunjukkan kalau Raka belum pulang, kalau Raka ada di kamarnya pasti dia akan langsung melihat Amora.
Setelah tiga puluh menit menemani Amora, akhirnya Amora tidur lelap perlahan diletakkan di boks bayi, rasa penasaran masih ada dalam dada Miranda.
Hujan turun rintik-rintik.
Miranda keluar kamar Amora, pelan-pelan mendekati kamar Saras.
Namun pecahan pot bunga dan kursi sudah tidak ada.
“Sepertinya sudah ada yang membersihkannya,” gumam Miranda.
Melihat jam dinding sudah pukul 01.30.
Terdengar gemericik air dari dapur dan dentingan gelas dan piring seperti ada orang yang mencuci piring.
“Bi Mirna kah?” pikir Miranda.
Tetapi Bi Mirna tadi sore izin pulang ke kampung dan lusa akan kembali.
“Berarti Saras,” pikir Miranda.
“Aku akan menegur dan menginterogasinya,” gumam Miranda penuh tekad.
Melangkah dengan pasti ke arah dapur, namun dia merasa ada hembusan angin dingin menerpa tubuhnya.
Membalikan badan ternyata pintu utama terbuka.
“Kok terbuka, seingatku tiga puluh menit yang lalu tertutup,” ucap Miranda. “Sepertinya Saras membuang pecahan pot bunga keluar dan lupa menutupnya lagi, ah ceroboh sekali.”
Miranda melangkah ke pintu utama hendak menutupnya.
Angin malam langsung menerpa, hawa dingin menusuk badan dan gerimis belum berhenti.
Saat akan menutup pintu dia mendapatkan mobil Rizki suaminya ada di garasi.
Miranda menyaksikan dengan saksama.
Mobil masih menyala, ban masih terlihat bersih, bodi mobilnya juga masih terlihat bersih.
“Bukankah dia bilang sedang ada masalah di proyek galian?” pikir Miranda. “Seharusnya mobil dalam keadaan kotor, tidak ada bekas tanah merah sedikit pun.”
“Dan sejak kapan dia pulang. Dan kenapa tidak langsung masuk kamar?”
Berbagai pertanyaan muncul di benak Miranda.
Rasa penasaran membuat Miranda melangkahkan kaki menuju mobil Rizki.
Miranda melihat dari kaca mobil kalau Rizki sedang sibuk dengan ponselnya.
Seperti sedang menghapus sebuah percakapan.
Dan pikiran Miranda teringat pada obrolan Mang Narno, sopir keluarga, dan Mang Ade, tukang kebun.
“Gue tiap pulang ke rumah harus hapus bukti chat sama selingkuhan biar aman.”
Perkataan Mang Narno yang tak sengaja terdengar Miranda terngiang.
Dan dalam hati bertanya, “Apakah suamiku juga melakukan hal yang sama dengan Mang Narno?”
Segera Miranda mengetuk-ngetuk kaca mobil.
Ponsel mati, Rizki lalu menaruh ponsel di saku dan membuka pintu mobil.
Miranda mundur menunggu Rizki keluar.
“Sayang kok belum tidur?” tanya Rizki.
Miranda tertegun, setelah tiga bulan perang dingin untuk pertama kalinya Rizki memanggil dia sayang.
“Kamu juga kenapa tidak langsung masuk sih?” tanya Miranda.
“Aku ada kerjaan tadi,” ucap Rizki. “Ayo masuk.”
Rizki mengajak Miranda masuk. Dari belakang Miranda memperhatikan Rizki.
Baju Rizki bau pewangi pakaian seperti baju yang baru keluar dari lemari.
Terlalu rapi untuk seseorang yang sudah terjun ke lapangan.
Dan samar-samar tercium parfum wanita.
Rizki duduk di sofa membuka dasinya, rambutnya acak-acakan tetapi baju rapi.
“Ini mencurigakan,” pikir Miranda.
Rasa penasaran terus membuncah dan langsung ingin bertanya.
Namun dari dapur dia melihat Raka berjalan menuju kamarnya.
Memakai sarung, di dadanya ada bercak merah.
Miranda tidak bodoh. Dia juga suka memberi tanda berupa bercak merah pada Rizki saat mereka sedang melakukan pergumulan.
“Dia ada di rumah, mungkinkah Mas Raka bersama Saras?”