JANGAN MAKAN AKU!
Aku hanyalah penyelam mutiara miskin yang bernasib sial. Niat hati mencari nafkah di kapal peneliti asing, aku justru terjebak dalam pembantaian keji di Teluk Bayangan. Kapal kami hancur, Sahabatku dibantai, dan laut berubah merah oleh darah.
Di hadapan para siren yang siap mengoyak dagingku, insting survivalku mendadak liar. Demi bertahan hidup, aku rela membuang harga diri, berlutut, menari dengan tubuh bersimbah darah, dan membualkan pujian setinggi langit untuk memohon ampunan. Bualan manisku rupanya menarik perhatian Pangeran Nataniel, iblis laut paling kejam dan mengerikan.
Bukannya dibunuh, aku malah diseret ke dalam istana karangnya sebagai satu-satunya tawanan manusia. Di mata Sang Pangeran, aku hanyalah seekor badut yang menarik untuk diamati. Di antara maut dan cengkramannya yang menyiksa, aku harus terus memutar otak dan bersilat lidah. Aku harus memastikan mulut manisku ini cukup ampuh untuk menjinakkannya, sebelum dia menjadikan ku santapan makan malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi Berdarah Teluk Bayangan
"Ampun, Tuan-Tuan yang gagah berani! Tolong jangan bunuh hamba!"
Jeritan memohon itu melengking pasrah, memantul licin di antara dinding-dinding karang raksasa. Kami terkurung di tempat yang sangat asing, bersama makhluk mitologi yang kukira hanya ada di dalam dongeng sebelum tidur. Tubuhku gemetar hebat di atas tumpukan karang dangkal yang tajam dan basah. Pakaian selam serba hitam yang kukenakan sudah robek di bagian bahu dan paha, bersimbah air laut bercampur darah segar dari luka goresan karang. Di dalam tas pinggang selamku, kantong berisi mutiara hasil selamanku tadi pagi terasa menekan pinggul, namun pikiranku tak lagi berada di sana.
Mata perihku menatap horor ke arah kubangan air tengah yang melingkar. Beberapa menit lalu, kapal peneliti asing tempatku bekerja terperangkap di sini setelah terhipnotis oleh nyanyian merdu yang menembus kabut. Dan sekarang, kapal modern itu telah hancur berkeping-keping menjadi serpihan kayu dan besi tak berguna.
Darah! Seluruh permukaan air laut berubah menjadi warna merah pekat yang kental.
Di depan mataku sendiri, rekan-rekan penyelam dan para peneliti dibantai secara keji. Makhluk-makhluk berotot dengan ekor bersisik gelap dan taring mencuat melompat dari kedalaman air, mengoyak dada mereka, mematahkan leher, dan menyeret tubuh-tubuh yang terkulai itu ke dasar samudra untuk dijadikan stok bahan makanan. Bau amis yang menyengat menjejali paru-paruku, membuat dadaku sesak oleh rasa mual dan trauma yang luar biasa hebat. Aku yang tadi belum sempat naik kembali ke kapal hanya bisa meringkuk di balik celah karang bawah air, menyaksikan neraka pembantaian itu dengan jantung yang rasanya mau meledak.
Namun, keberadaanku akhirnya ketahuan juga. Tubuhku diseret kasar dari celah karang oleh dua prajurit Siren berbadan tinggi besar.
"Lihat apa yang kita temukan di balik karang!" tawa seorang prajurit Siren berambut perak melengking nyaring, terdengar seperti gesekan batu yang memilukan telinga. "Satu serangga kecil masih bernapas!"
Prajurit kedua yang memegang tombak tulang bergerigi tertawa mengejek, mencengkeram tengkuk pakaian selamku hingga tubuhku terangkat menggantung di udara. "Tubuhnya sangat mungil. Dagingnya pasti empuk kalau dipotong-potong dan dikuliti hidup-hidup sebelum dimasukkan ke dalam ruang penyimpanan stok makanan rakyat!"
Mereka tidak langsung membunuhku. Mereka berlaku seperti seekor kucing jahat yang baru saja menangkap seekor tikus kecil yang tak berdaya. Diseret, dihempaskan ke karang tajam, lalu diancam dengan mata tombak yang menempel ketat di leherku.
Rasa takut mati membakar seluruh insting bertahan hidup di dalam kepalaku. Di desa, ayahku sedang sakit-sakitan, ibuku hanya perajut jaring berpenghasilan kecil, dan empat adikku butuh makan dari uang mutiara yang kucari. Aku tidak boleh mati di sini. Aku harus hidup, bagaimanapun caranya.
("Tuhan yang Agung! Leher aku yang mulus ini jangan disembelih dulu, dong! Kalau aku mati di sini, siapa yang mau beliin obat Ayah sama bayar sekolah adik-adik? Biarin deh harga diri aku terinjak-injak sampai ke dasar laut, yang penting aku nggak dipotong-potong jadi stok daging mentah sore ini!")
Jeritan batin melengking di dalam kepalaku, berbanding terbalik dengan raut wajahku yang langsung kubuat penuh kepasrahan total. Aku menengadah, membiarkan air mata kepanikan mengalir membasahi wajahku yang kotor oleh darah dan jelaga.
"T-Tolong, Tuan-Tuan yang amat perkasa..." bisikku dengan suara yang kubuat amat lembut, bergetar penuh kepalsuan dan ketakutan yang merangkak. "Kasihanilah hamba yang hina dan tidak berdaya ini. Daging hamba teramat tipis, pahit, dan tidak akan cukup untuk mengisi tempat penyimpanan daging Tuan-Tuan yang begitu agung."
Prajurit berambut perak itu menyeringai, menendang rusukku hingga aku tersungkur mencium karang licin. "Lalu kenapa kami harus membiarkan sampah manusia sepertimu tetap bernapas?"
"Hamba... hamba bisa melakukan apa pun untuk Tuan-Tuan! Hamba bisa menari, menyanyi, atau menjadi pelayan paling setia!" seruku cepat, buru-buru bangkit berlutut meski rasa perih menyengat di sekujur tubuhku. Tanpa membuang waktu, aku memaksakan tubuh lebamku bertingkah konyol, menggoyangkan bahu dan merentangkan tangan layaknya penari istana gila demi menarik perhatian mereka.
Aksi konyolku mendadak terhenti ketika derap langkah penuh wibawa terdengar dari atas selasar batu karang. Sosok pengawal pribadi berzirah perak tebal melangkah mendekat.
"Perintah dari Yang Mulia Paduka Pangeran Nataniel!" seru pengawal itu dengan suara lantang yang membuat seluruh prajurit mendadak menundukkan kepala hormat. "Manusia ini dilarang dibantai. Masukkan dia ke dalam sel karang bawah!"
Pengawal itu langsung mencengkeram lengan pakaian selamku secara kasar, merenggut tubuhku hingga terangkat dari karang tajam tanpa memedulikan ringisan kesakitanku.
("Ya Tuhan! Terimakasih sudah menyelamatkan ku untuk hari ini! Meskipun bahu ku rasanya mau copot dan badan lebam semua, setidaknya aku nggak dipotong-potong sore ini!")
Di dalam hati, aku bersorak kegirangan penuh rasa syukur. Mulut manis dan aksi menari konyolku ternyata berhasil menyenggol rasa kasihan atau mungkin rasa penasaran iblis laut itu. Namun, ketika tubuhku diseret melintasi celah tangga batu menuju penjara karang bawah yang gelap dan lembap, pandanganku tak sengaja mendongak ke atas.
Di balik kaca jendela karang tertinggi, berdiri sosok Pangeran Nataniel. Iris mata keemasannya yang dingin dan berkilat penuh keangkuhan menatap tepat ke arah mataku. Sebuah tatapan predator mematikan yang memandangku seolah aku hanyalah seekor mainan baru yang sewaktu-waktu bisa ia remukkan sampai hancur.
Bulu kudukku berdiri hebat. Rasa dingin menyapu tengkukku, menyadarkanku bahwa lepas dari mulut singa bukan berarti aku aman. Aku baru saja menyerahkan diriku masuk ke dalam sarang iblis yang jauh lebih mengerikan.
Pengawal melempar tubuhku secara kasar ke dalam sel karang bawah yang gelap. Pintu jeruji tulang ikan raksasa ditutup dengan dentuman keras yang menggema, mengunciku rapat di dalam kegelapan yang berbau amis.
Tubuhku terhempas keras ke lantai karang yang basah, menimbulkan rasa nyeri luar biasa di area punggung dan pinggul yang membuat mataku berkunang-kunang. Bau amis darah yang melekat di pakaian selamku bercampur dengan aroma lumut beracun yang tumbuh subur di dinding-dinding penjara karang bawah ini. Sel ini terletak jauh di dasar benteng, terisolasi dari cahaya koral indah yang menghiasi istana bagian atas. Hanya ada celah sempit di bagian tertinggi jeruji tempat air laut dangkal sesekali menyembur masuk, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang.
Aku meringkuk, meraba pergelangan kakiku yang lebam dan berdarah. Setiap tarikan napas rasanya membakar tenggorokanku. Di luar jeruji, dua prajurit Siren bertubuh tambun berdiri berjaga dengan senjata tombak tergenggam erat. Sisik gelap di lengan mereka memantulkan cahaya redup, sementara mata merah mereka menatapku dari balik celah jeruji tulang dengan binar yang memancarkan rasa lapar mendalam.
"Sangat beruntung serangga kecil ini bisa bernapas lebih lama," gumam salah satu penjaga dengan suara parau bercampur kekehan berat. "Pangeran pasti punya rencana menyiksa yang jauh lebih menyenangkan untuknya sebelum menjadikannya hidangan."
("Bersyukur banget aku masih bernapas, tapi kalau penjaganya kaya gini tiap hari, bisa-bisa aku mati berdiri karena ketakutan! Bener-bener tempat penyiksaan gila. Aku harus mikir gimana caranya bertahan di sel bau ini sebelum si pangeran iblis itu nyuruh orang buat nguliti aku!")
Dengan jemari yang tremor hebat, aku meraba tas pinggang yang masih melekat erat di celana selamku yang robek. Kantong kain berisi mutiara laut dalam hasil jerih payahku ternyata masih tersimpan rapat di sana. Jemariku gemetar mengelus permukaannya yang keras dan dingin. Mutiara-mutiara ini adalah alasan utamaku berani menantang bahaya dan menyelam hingga ke dasar samudra paling beracun, demi membawa pulang beberapa keping uang untuk membeli beras dan obat Ayah. Namun sekarang, harta kecil yang kupertaruhkan dengan nyawa ini terasa tak ada artinya di dalam penjara karang yang dikelilingi ribuan makhluk pemangsa.
Rasa lelah, kesakitan, dan trauma atas kematian mengerikan kawan-kawanku mendadak menghantam dadaku secara bertubi-tubi tanpa ampun. Air mata yang sejak tadi kutahan dengan ketat akhirnya menetes basah, menyatu dengan darah kering dan garam di pipiku. Bayangan saat kawan-kawanku diseret, menjerit, dan dikoyak di dalam air merah kental itu berputar-putar di kepalaku bagai mimpi buruk yang terasa terlalu nyata.
("Maafin aku... maafin aku nggak bisa bantu kalian sama sekali. Tapi aku janji, aku bakal bertahan hidup di sini! Aku nggak boleh mati sebelum bisa pulang ke desa! Aku akan membawakan pesan kalian semua dan membuat persemayaman meski tanpa isi untuk penanda peringatan.")
Suara langkah kaki yang berat, lambat, dan sangat teratur mendadak terdengar dari lorong tangga batu menuju sel. Keheningan yang mencekam seketika melanda seluruh penjara bawah tanah. Kedua penjaga berbadan tambun yang tadinya bersikap santai dan tertawa terkekeh langsung berdiri tegap bagai patung. Mereka menundukkan kepala sangat rendah hingga dahi mereka hampir menyentuh tanah karang yang kotor.
Hawa dingin membekukan yang sangat pekat merembes cepat melalui celah-celah udara, membuat setiap helaan napasku membentuk asap tipis. Cahaya remang-remang dari obor sihir biru di dinding sel bergoyang hebat, membiaskan bayangan sesosok tubuh yang amat tinggi besar dan megah.
Langkah kaki bermuatan magis itu berhenti tepat di depan jeruji penjara karangku.
Nataniel.
Sang pangeran Siren telah melangkah turun dari tahta istana atasnya. Ia berdiri tegap di luar sel, mengenakan jubah hitam bersulam benang perak melingkupi bahunya yang kokoh bertelanjang dada. Dua kaki manusianya yang panjang dan tegap memancarkan keagungan mutlak. Wajah tampannya yang bak pahatan dewa terpapar cahaya obor biru, memperlihatkan garis rahang tegas dan sepasang iris mata keemasan yang menatapku tanpa rasa kemanusiaan sedikit pun.
Di balik ketampanannya yang luar biasa dan menyihir mata, ada ancaman bahaya yang teramat pekat. Dia adalah penguasa, iblis, sekaligus mesin pembunuh paling ditakuti di seluruh kawasan lautan. Kawasan terkutuk yang mereka sebut 'Teluk Bayangan'.
Aku yang tadinya meringkuk ketakutan langsung memaksa tubuhku yang kesakitan untuk merayap maju di atas lantai berlumut. Dengan lutut yang berdarah dan jemari gemetar, aku berlutut tepat di dekat jeruji bawah, menundukkan kepalaku rapat-rapat ke lantai karang dingin.
"Wahai Yang Mulia Paduka Pangeran Nataniel yang Maha Agung dan Perkasa..." seruku dengan nada suara yang kubuat amat manis, bergetar penuh rasa hormat dan pemujaan yang mendalam. Aku menengadah sedikit, membiarkan mata cokelatku memancarkan binar keagungan palsu pada sosoknya. "Kehadiran Paduka di tempat yang hina ini bagaikan cahaya dewa yang menerangi kegelapan hamba!"
("Gila, gila, gila! Ini iblis turun langsung ke penjara bawah! Jangan sampai salah ngomong, Alessia! Salah dikit aja, lidah mu bisa langsung dicabut pakai cakarnya!")
Nataniel tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri diam dengan kedua tangan bersedekap di dada tegapnya. Matanya yang keemasan menyipit, mengamati setiap detail tubuh mungilku yang bersimbah darah dan gemetar di atas tanah. Tatapannya begitu tajam dan intimidatif, seolah sanggup menembus topeng kepalsuan yang kupasang ketat di wajahku.
"Kulihat kau masih memiliki tenaga untuk melontarkan pujian murahan, Manusia," suara Nataniel terdengar berat, dingin, dan berdengung pelan membawa getaran sihir yang menekan dadaku hingga sesak. "Aku berpikir kau sudah mati ketakutan di dalam sel basah ini."
"Hamba... hamba tidak akan pernah berani mati sebelum memberikan penghormatan penuh pada penguasa termegah seluruh samudra," balas mulut mualku cepat, memaksakan senyum paling manis bertabur Bunga di bibirku yang pucat. "Hidup hamba sepenuhnya adalah milik Paduka yang Agung."
Nataniel melangkah satu tapak lebih dekat ke jeruji tulang. Cahaya hijau memantul di iris mata keemasannya, memperlihatkan seringai tipis yang teramat mengintimidasi di sudut bibirnya.
"Bualanmu sungguh menghibur," bisik Nataniel penuh keangkuhan. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatapku dari atas ke bawah seolah melihat seekor serangga mainan yang menarik. "Tapi ketahuilah, Badut Kecil... di tempat ini, satu kesalahan kecil dari mulut manismu cukup untuk membuatku melempar tubuhmu ke kuali minyak mendidih para bangsawan."
Bulu kudukku berdiri hebat mendengarnya, namun aku tetap mempertahankan raut pemujaan manisku tanpa berani berkedip sedikit pun.
Nataniel berbalik perlahan, jubah hitamnya melambai anggun menyapu udara dingin penjara. Sebelum ia benar-benar melangkah pergi meninggalkan lorong sel yang gelap, ia menyuarakan perintah dingin pada kedua penjaga di luar.
"Jaga dia baik-baik. Jangan biarkan dia mati atau terluka terlalu parah oleh hal lain," perintah Nataniel tanpa menoleh sedikit pun. "Besok malam, aku ingin badut ini membawakanku pertunjukkan cerita manusia yang paling menarik."
Langkah kaki Nataniel perlahan menjauh dan menghilang di balik kegelapan lorong tangga, meninggalkan hawa dingin yang masih melekat ketat di kulitku.
Aku menghela napas panjang yang tertahan sejak tadi, lalu ambruk terduduk di lantai karang dengan jantung yang masih berdegup gila-gilaan.
("Selamat untuk malam ini! Besok malam aku disuruh mendongeng? Tenang aja wahai iblis ganteng, aku bakal ngarang cerita paling gila demi bertahan hidup di sini!")
Namun, tepat saat aku hendak menyandarkan punggungku ke dinding karang untuk beristirahat dan menenangkan pikiran, sebuah bisikan asing yang teramat tebal, parau, dan berat mendadak bergema langsung di dalam celah telingaku.
"Jangan terlalu senang dulu, Gadis Penyelam..."
Suara itu bukan berasal dari penjaga di luar jeruji, melainkan merembes langsung dari balik celah kegelapan dinding karang di belakang sel tempatku terduduk.
---
⭐⭐⭐⭐⭐
Halo KIRAVERS! Gimana bab pertamanya? Mencekam dan bikin deg-degan banget, kan? Suara misterius siapa yang mendadak berbisik di balik dinding sel Alessia? Akankah Alessia berhasil lolos dan bertahan hidup di dalam penjara karang bawah? Yuk, jangan lupa klik LIKE, simpan novel dan VOTE cerita ini sekarang juga, lalu lanjut baca bab berikutnya ya!