Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.
Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.
Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.
Dunia mengira ia kehilangan segalanya.
Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Televisi di ruang keluarga Nugroho menyala sejak sore, dan tidak ada yang berani mematikannya.
Ray duduk di sofa panjang dengan tongkat bersandar di lengan kursi. Di layar, potongan video yang sama diputar ulang untuk kesekian kalinya: pintu kaca bank yang terlempar, pria bertopeng yang terseret, dan seorang pemuda berkemeja putih yang menjepit sebutir peluru di antara dua jari.
Tidak ada yang bicara. Ibunya duduk di ujung sofa dengan sulaman yang tidak lagi disentuh. Dimas berdiri di dekat jendela, memunggungi mereka semua, kedua tangannya terkunci di belakang pinggang.
"Terlalu cepat," katanya akhirnya. "Ini rekayasa."
"Itu kamera pengawas, Yah." Intan, yang duduk di sebelah Ray, mengucapkannya pelan. "Disiarkan tiga stasiun."
"Elang tidak bisa berkelahi." Dimas berbalik. Suaranya naik setengah nada. "Aku yang mengantarnya ke sekolah. Aku yang tahu dia hanya jago menghafal. Anak itu bahkan takut pada anjing tetangga."
Di layar, pembawa berita perempuan menyebut nama itu dengan nada hangat.
"Pemuda bernama Elang, yang hingga kini identitas lengkapnya belum diketahui..."
Ray mengangkat kepala.
Belum diketahui. Bukan Nugroho. Tidak ada satu pun stasiun yang menambahkan nama keluarga setelah namanya, seakan ia lahir tanpa asal-usul.
"Dia tidak menyebutnya." Ray mengucapkannya pelan, hampir pada dirinya sendiri.
"Apa?" tanya ibunya.
"Namanya." Ia mencengkeram pegangan tongkat sampai jemarinya memutih. "Dia sengaja tidak menyebutnya. Dua kali di depan kamera, dua kali dia hanya bilang Elang."
Dimas mengerutkan kening. "Itu bagus untuk kita. Tidak ada yang akan mengaitkan..."
"Itu justru yang membuatku muak, Yah." Ray berdiri dengan bantuan tongkatnya. Suaranya tidak keras, tetapi tajam. "Dia tidak butuh nama kita. Dia mendapat panggung dari awal sampai akhir, dan tidak perlu menyebut satu huruf pun dari nama Nugroho."
Tidak ada yang menjawab. Tayangan itu berganti ke iklan, lalu kembali ke wajah Elang yang tersenyum tipis ke arah kamera.
...------...
Tirai kamar Lastri terbuka lebar. Sinar sore jatuh di seprai putih yang tadi pagi masih terasa terlalu berat untuk disentuh.
Ia duduk bersandar di bantal dengan kedua kaki ditarik ke dada, dan ponsel di genggaman. Televisi kecil di dinding menayangkan sebuah potongan yang sudah ia hafal. Pintu kaca terlempar. Peluru di antara dua jari. Lengan yang bersinar perak.
"Elang..." Ia membisikkan nama itu dan tersenyum.
Tunangannya. Pahlawan seluruh kota. Orang yang berdiri di depan sebuah senapan dan tidak bergerak.
Dadanya terasa ringan, seringan yang ia rasakan sejak bangun kemarin siang. Tidak ada rasa sakit di tulang. Tidak ada kabut di kepala. Ia bahkan bisa naik tangga sendiri pagi tadi tanpa berpegangan, dan pelayan yang melihatnya hampir menjatuhkan nampan.
Ia membuka pesan terakhir dari Elang.
Aku datang. Hanya dua kata. Ia sudah membacanya mungkin dua puluh kali.
Tetapi sepanjang hari tidak ada yang datang. Ayahnya bilang Elang sibuk. Televisi bilang Elang sibuk.
Lastri mengetuk layar ponselnya dengan ujung jari, lalu mengetik cepat.
Kamu bilang datang hari ini. Aku sudah menunggu seharian. Besok kamu harus datang, aku tidak mau alasan apa pun. Aku akan menyuruh Ayah menjemputmu kalau perlu.
Ia membaca pesan itu sekali, ragu, lalu menambahkan satu kalimat lagi.
Aku ingin melihatmu langsung.
Ia menekan kirim, memeluk bantal, dan tertawa kecil pada dirinya sendiri.
...-----...
Ruang tamu mansion itu lebih besar dari seluruh kontrakannya. Elang duduk di sofa kulit, kaki selonjor di atas meja, dan sebuah televisi yang hampir seukuran dinding menayangkan wajahnya dari lima kanal berbeda.
Teks berjalan di bagian bawah layar membuat sudut bibirnya naik.
PEMUDA MISTERIUS HENTIKAN PERAMPOKAN BANK DI TENGAH KOTA. PETUGAS PUJI KEBERANIAN WARGA.
SIAPA ELANG? NETIZEN BURU IDENTITAS PAHLAWAN BARU.
Ponselnya bergetar di perut. Ia membuka pesan Lastri dan membacanya, sekali, tanpa tergesa.
Aku akan menyuruh Ayah menjemputmu kalau perlu.
"Berani juga," gumamnya.
Ia mengetik balasan satu kata. Besok.
Baru saja ia menekan kirim, cahaya biru muncul di atas ponselnya, tanpa ia sentuh sarung tangan sama sekali.
[Misi: Menjadi topik pembicaraan utama di seluruh acara televisi.]
[Status: Selesai.]
[Hadiah: Satu Hak Permintaan Benda.]
[Ruang Sistem terbuka.]
Elang menurunkan kakinya dari meja. Ia berdiri perlahan, merapikan kancing kemejanya, dan menatap layar televisi yang masih menampilkan wajahnya.
"Cepat juga," katanya. "Padahal aku baru mulai."