NovelToon NovelToon
Takut Nikah

Takut Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintamanis / Romansa
Popularitas:381.8k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Kapan nikah?"

"Udah mau 30 loh."

"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."

Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.

3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.

Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?

Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Setelah mengantarkan Alena sampai di depan gerbang sekolah, Budi kembali melanjutkan pekerjaannya sebagai pengemudi ojek online.

Pagi itu jalanan cukup ramai. Setelah menerima satu orderan, mengantar penumpang, lalu mangkal di dekat kampus. Sambil menunggu orderan berikutnya, Budi menghubungi Jena.

Tak lama, panggilan langsung tersambung.

"Halo?" Suara Jena terdengar dari seberang.

"Jen, kamu lagi sibuk?"

"Sedikit, kenapa?"

Budi tersenyum kecil. "Ibu mau kenalan sama kamu."

"Ibu siapa?" Jena mengernyit.

"Ya ibu aku lah, Jen."

"Ngapain?"

"Ya pengen kenal sama calon mantunya."

Mendengar kata calon mantu, Jena langsung kaget, ia menutup mulutnya yang setengah terbuka. Astaga, bagaimana ia sampai tak kepikiran soal itu. Dia dan Budi akan menikah, itu artinya, bukan hanya Budi yang harus kenal dengan keluarganya, ia juga sebaliknya.

"Jen, kok diem?"

Jena masih terdiam beberapa detik. Entah kenapa, permintaan itu membuat ia gelisah. "E...Ibu kamu tahu soal aku? Kamu udah cerita kalau kita mau nikah?"

"Sudah."

Jena langsung duduk tegak, ia semakin gelisah.

"Kapan kamu ada waktu?" tanya Budi.

"Harus banget ya, Bud?"

"Ya harus, Jen. Kamu ngenalin aku ke orang tua kamu, aku pun juga gitu. Nikah itu bukan cuma tentang dua orang. Kita memang yang menjalani rumah tangganya, tapi di belakang kita ada dua keluarga yang juga akan saling terhubung."

Budi mendengar suara nafas berat Jena. "Jen, kamu kenapa?"

Jena diam, menggigit bibir bawahnya. Selama ini, cerita tentang ibu mertua yang kejam, suka ikut campur, menuntut menantu sempurna, atau bahkan menganggap menantu perempuan sebagai saingan, terlalu sering ia dengar. Entah dari cerita teman, sinetron, atau sekadar obrolan orang-orang di sekitarnya.

Dan sekarang, untuk pertama kalinya, ia benar-benar akan berhadapan dengan sosok itu.

"Jen, kamu denger aku kan?"

"Bud, aku takut."

Budi terkekeh kecil. "Kamu takut sama Ibuku?"

"Iya." Jena mengangguk pelan.

"Kirain, seorang Jenara, tidak pernah takut apapun." Budi kembali tertawa.

"Budi..." Jena berdecak sebal.

"Kamu itu mikir apa sih, Jen? Apa yang membuat kamu takut sama ibuku? Ibuku bukan kuntilanak, suster ngesot, apalagi Mak Lampir. Ibuku cantik, kayak badarawuhi."

"BUDI! Aku lagi gak pengen bercanda." Jena mendengus. "Biasanya kan Ibu mertua itu galak, apalagi sama menantu perempuan."

"Itu Ibu mertua lain, InsyaAllah ibuku gak gitu. Ibu aku baik, Jen."

"Ya iyalah baik, kan kamu anaknya. Singa aja kalau sama anaknya juga baik."

"Enggak kok, InsyaAllah ibuku baik pada siapapun, apalagi sama perempuan secantik kamu."

"Halah, pagi-pagi udah gombal."

"Tapi kamu seneng kan? Buktinya pipi kamu memerah."

Jena reflek memegang pipinya. Ia lalu membuang nafas kasar saat sadar, Budi lagi-lagi cuma gombal. Tahu darimana pipinya merah, orang mereka cuma ngobrol dari telepon.

"Kami pasti lagi megang pipikan sekarang, sambil senyum-senyum."

"Sok tahu." Jena menurunkan telapak tangannya dari pipi. Dan...ia tersenyum.

"Jadi kapan kamu ada waktu? Sekarang udah Kamis, besok Jum'at, dan Sabtu aku udah harus ke rumah kamu untuk melamar."

Jena garuk-garuk kepala, belum bisa menentukan waktunya.

"Kamu enggak perlu datang dengan pikiran bahwa kamu sedang menghadapi calon ibu mertua yang harus kamu takuti. Datang saja sebagai Jena. Jadi diri kamu sendiri."

Jena masih diam.

"Kamu juga jangan terlalu banyak memikirkan cerita orang lain. Belum tentu cerita mereka sama dengan cerita kita."

Kalimat itu membuat Jena sedikit tenang. "Kalau Ibu kamu enggak suka aku?"

"Nanti kita hadapi sama-sama."

"Kalau Ibu kamu marah?"

"Kita hadapi sama-sama."

"Kalau Ibu kamu..."

"Jen." Potong Budi cepat.

"Apa?"

"Kamu belum ketemu orangnya, tapi sudah bikin seratus kemungkinan."

Jena terkekeh malu.

Budi ikut tersenyum. "Jadi, kapan kamu bisa aku ajak ke rumah?" Entah sudah keberapa kalinya ia menanyakan soal ini.

Pertanyaan itu kembali membuat Jena terdiam. Kali ini lebih lama. Jari-jarinya berhenti memainkan ujung baju. Ia menarik napas dalam-dalam. "Nanti aku kabari."

"Kenapa enggak sekarang, waktunya udah mepet."

"Aku harus siapin mental dulu."

Budi tertawa. "Gak perlu siapin apa-apa, ada aku. Kamu cukup datang, jadi diri sendiri aja. Pakai pakaian sopan, dan satu lagi, kalau bicara, please...banget, jangan songong ya."

"Emang aku songong?" Jena keberatan.

"Sedikit." Budi terkekeh. "Kamu tahu sendiri rumah aku gimana, kerjaan aku apa. Aku bukan orang kaya, jadi...tahan bicara kamu ya Jen, jangan terlalu sombong. Kalau di depan aku sih gak papa, istilahnya aku udah kebal, tapi Ibu aku, aku takut dia ilfill."

Jena berdecak. "Kamu itu buruk banget sih nilai aku. Aku gak ada bagus-bagusnya di mata kamu. Yang songonglah, sombonglah."

Budi terkekeh. "Kamu cantik kok. Kamu aslinya juga baik. Kamu pinter, mandiri, kaya raya, dan apalagi ya?"

"Udah ah, gak usah disebutin satu-satu, takutnya sampai besok gak kelar."

Budi terkekeh. "Besok aja gimana?"

"Apanya?"

"Datang ke rumahku."

Jena terdiam, merasa belum siap.

"Kalau kamu mau, aku bisa jemput kamu pas pulang kerja, atau malam hari."

"Ya udah, besok aku kabari waktunya."

"Oke."

Panggilan berakhir.

Budi menatap ponselnya yang layarnya sudah mati. Ia senyum-senyum sendiri. Rasanya seperti mimpi, ia akan menikah dengan Jena.

1
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
Budi udah lama jatuh cinta sama kamu Jen....Budi kamu pasti bisa membuat Jenna jatuh cinta sama kamu.
Nanti kalian saling jatuh cinta 🌹🌹🌹
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
Alhamdulillah akhirnya Sah, SAMAWA ya Jenna & Budi saling menjaga 🌹🌹🌹
Eli Rahma
yes..sah...
Hani Ekawati
Thor, aku baru inget. Karya kamu yang berjudul setelah 8 tahun ( Kisah Nisa yang ditinggal menikah sama Sandi dan berakhir menikahi si Naina karena udah hamil duluan ) ternyata ada loh dalam real life nya, si cowok itu malau menikahi kakak si cewek karena ternyata udah hamil. Sekarang lagi viral banget tuh. Kasihan cewek yang ditinggal nikah nya meninggal, keluarga si ceweknya malah mendukung cewek yg dihamilin, miris bgt.
Hani Ekawati
Ya kalau memang sampai 6 bulan Jena tidak kunjung jatuh cinta, kalian biasa ajukan gugatan pembatalan pernikahan. Karena selama 6 bulan itu kalian belum melakukan hubungan suami istri, agar status kalian jelas masih bujang dan perawan. Kalau mengajukan gugatan cerai nanti status kalian Janda dan duda, sayang banget kalian belum melakukan hubungan suami istri tapi status udah janda dan duda. Tapi semoga sebelum 6 bulan Jena sudah bisa mencintai Budi supaya tidak sampai kejadian pembatalan pernikahan.
Hani Ekawati
Budi udah jatuh cinta sama kamu, makanya dia membuat pertanyaan itu sama kamu.
Hani Ekawati
Aduh Budi, kata kata mu begitu dalam sekali bikin hati terpotek potek
Hani Ekawati
Ini pasti keluarga mama kamu yg kata kamu keluarga mama itu orangnya kaya gitu 🙄
Hani Ekawati
Ini ngomong aw bagi orang di luar kamar terdengar ambigu sekali 🤭
Hani Ekawati
Cunduk mentul tuh apa Thor?☺️
Diana Fitri.N
semangat kak semangat up nya 🥰
Ira arif
alhamdulillah dah dah... kirain bakal direcokin naura
Septi
Alhamdulillah akhirnya
Septi
semoga lancar
Linda Gunawan
Budi tidak akan menyesal, tapi mgkn Jena. karena Jena buat janji sama papanya utk segera hamil supaya dapat semua harta pak Andika
Ass Yfa
Jen...jangan lepasin Budi yg ada iker pake tali rapia biar nggk lari kemana2😄
Ass Yfa
langsung diunboxing Buf..biar Jena jinak😁
Turwaty suketi
Dari deg2an ke melow
ryuka
akkhhh budiiiii.. kamu so sweettttt 🤭🤭🤭🤭
ryuka
mau cium kamu jen 🤭🤭🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!