Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.
Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.
Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.
Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.
Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMWI : 25
Sehari sebelumnya.
Di desa Sukorejo, sedari subuh, wanita tua yang belakangan ini sulit tidur, termenung menatap keluar jendela kayu rumah sederhananya.
“Ibu kenapa akhir-akhir ini hobi melamun?” Pemuda kurus tinggi, memijat pundak ringkih ibu Ratri.
Ibunya Arjanti menghela napas panjang, pandangan mata memburam. Ia tepuk pelan tangan putranya. “Perasaan Ibu gak nyaman. Kepikiran terus sama mbakmu Janti, Tyo.”
“Aku juga sudah dua kali mimpi mbak Janti, dia ngajak jalan-jalan ke pemandian perbatasan desa kita,” ungkapnya menceritakan mimpi seminggu lalu.
“Bu, ayo kita tilik (jenguk) Mbak, hitung-hitung silaturahmi sama keluarganya mas Herlan,” usul Tyo. “Masa sudah 15 bulan, jawabannya tetep sama — suami sibuk, gak tega ditinggal.”
“Mas Herlan sudah dewasa, dan gak sakit, aneh kalau dia dijadikan alasan terus,” Tyo pun mengungkapkan kegundahan hatinya.
Air mata bu Ratri menetes membasahi pipi. Wajah mulai dipenuhi keriput dan flek hitam tampak sedih. Umurnya memang masih 50 tahun, namun kerasnya kehidupan, membuatnya seperti berusia 60 tahunan.
“Besok kita ke sana. Diam-diam saja perginya, jangan kabari mbak mu, Tyo. Biar jadi kejutan untuknya,” pak Sutris sedari tadi mendengarkan, dia baru saja pulang dari sawah, bahkan kakinya masih dipenuhi jejak lumpur lengket meski telah dicuci di air irigasi.
“Beneran, Pak?” bu Ratri langsung sumringah. Sebenarnya sudah lama dia hendak mengutarakan niat mengajak suaminya menyambangi putri mereka.
Namun, sebagai seorang istri yang paham ekonomi keluarga bahkan ikut membantu meringankan mencari nafkah, terlebih masih tersangkut hutang putri sulung mereka, bu Ratri menyimpan keinginan itu dalam sanubari.
“Iya, Bu’e. Sana pesen Salak pondoh kesukaannya Janti, biar besok pagi kita bawa sebagai buah tangan,” katanya sambil tersenyum memamerkan gigi samping bagian atas ompong.
Gegas wanita berkerudung lebar itu turun dari kursi kayu dibawah jendela. “Biar ibu pesen ke kebun juragan Daiyan saja, Pak. Kemarin kata salah satu pekerja, sudah waktunya panen buah Salak.”
“Aku anterin ya, Buk. Nanti tak sekalian mampir ke rumah temen, rental mobil bapaknya, kebetulan hasil ngojek seminggu ini lumayan,” ia tak kalah antusias, rasa rindu dihatinya nyaris tidak terbendung.
Ibu dan anak itu melangkah bersamaan mendekati kepala keluarga, berpamitan dengan menyalami tangan bagian telapak kapalan, punggungnya berurat dan keriput berwarna nyaris hitam efek terpapar sinar matahari.
Pak Sutris tersenyum lebar. Menjadi alasan anak dan istrinya tersenyum, adalah suatu kebanggaan tersendiri. Merasa menjadi pria paling beruntung bisa membahagiakan meski caranya teramat sederhana.
***
Keesokan harinya, mobil L300 warna putih sudah siap di depan rumah berhalaman luas ditanami aneka jenis bunga.
Pak Sutris menjinjing satu keranjang anyaman bambu berisi buah Salak pondoh.
Tyo menggenggam ujung plastik keripik tempe olahan produksi rumahan milik tetangga.
Buah tangan pun sudah dimasukkan ke dalam mobil, ketiga orang kesayangan Arjanti mengenakan pakaian paling bagus yang mereka punya.
Tak seberapa lama, mobil yang dikendarai Tyo melaju keluar dari halaman, lalu menyusuri jalanan pedesaan masih asri bebas polusi.
“Ibu gak bisa bayangin pas nanti kita sampai, Janti pasti terkejut,” senyumnya merekah dengan binar mata bahagia.
Tyo yang sedang fokus menyetir, menimpali tanpa melihat ke bangku belakang. “Pasti mbak Janti langsung nangis, dia kan cengeng, gampang tersentuh hatinya, gak tegaan jadi orang.”
Pak Sutris memandangi pematang sawah, teringat masa kecil Arjanti yang suka mencari Keong untuk pakan Bebek peliharaan mereka.
‘Nak, Bapak datang jenguk kamu. Rasa kangen kami gak lagi bisa diajak kompromi,’ ucap pria memakai kemeja polos warna abu-abu muda, masih melihat ke samping lewat jendela.
***
Dua jam kurang 8 menit, mobil sewaan itu tiba di tepi pagar tinggi rumah berlantai dua.
Tyo turun, memencet bel pada tembok pagar, namun tidak ada satupun orang yang keluar dari dalam rumah.
Tangannya menekan besi ulir bagian samping, ternyata tidak terkunci, lalu dia melapor ke orang tuanya.
“Pak, pintunya gak dikunci, kita masuk saja. Biar mobilnya disini dulu. Sepertinya orang di dalam rumah pada sibuk,” beritahunya.
Bu Ratri tampak ragu. “Apa gapapa kita nyelonong masuk? Coba hubungi Janti lagi, Pak.”
Pak Sutris kembali mengklik nomor putrinya, namun tetap sama seperti 3 panggilan sebelumnya, tidak dijawab.
“Bu, kita cuma masuk sampai teras, nanti nunggu dipersilahkan masuk baru ke dalam,” Tyo sedikit mendesak, kerinduan dalam dada butuh pertemuan sebagai penenang dan pelepasan rasa membuncah.
“Ayo, Bu’e!” Pak Sutris setuju usulan si bungsu.
Bu Ratri pun menurut, sebelum turun, dibenahi hijab lebar menutupi dada berwarna maroon.
Tyo berjalan di depan, tas selempang kecil dikesampingkan di bawah ketiak.
Mereka berjalan dengan langkah sedikit memberat, perasaan cemas, takut dianggap lancang.
Sebelum naik ke teras, sandal dilepaskan.
Belum juga Tyo mengucapkan salam, gelegar suara wanita yang dia hafal suara ibu mertuanya sang kakak, mengejutkan mereka.
“Uang siapa yang kamu curi ini, Janti?!”
Belum juga masuk, bertemu putrinya, bu Ratri sudah menitikkan air mata sambil meremas hijabnya.
Pemuda mengenakan kaos bertuliskan bahasa asing itu langsung tersulut emosi. Tanpa mengucapkan salam apalagi menunggu, dia mendorong pintu kupu tarung sampai terbuka hampir separuh.
“Kalau pemberian suami untuk istri disebut mencuri, maka tetapkan mas Herlan sebagai seorang tersangka. Itu uang dari dia!”
Jawaban putrinya, mengeraskan rahang pria tua yang matanya mulai memerah. ‘Putriku dituduh maling di rumah suaminya sendiri!’
Bentakan, tuduhan, semakin jelas terdengar seiring langkah kaki mendekat ke sebuah kamar.
Pintu terbuka lebar tersebut, memperlihatkan sosok yang sudah 15 bulan tak ditemui, selalu menghindar apabila diajak video call.
“Ya Rabbi, putriku kenapa kurus sekali?” bu Ratri terhuyung, beruntung Tyo cukup tanggap menjadi penopang agar ibunya tidak tersungkur.
Di dalam sana, tidak ada yang menyadari ketiga orang ikut menyaksikan bagaimana seorang wanita di pojokan, tak diberi kesempatan membela diri.
Pak Sutris menyeka sudut matanya yang basah, ia menghela napas panjang, berusaha tegar meski hatinya menangis darah melihat putri kesayangannya diperlakukan semena-mena.
“Jangan sekali-kali merendahkan diri kepada mereka yang tak pernah menghargaimu, Nduk!” ujarnya tegas. Berdiri tepat di batas pintu.
Arjanti membisu, kakinya bergerak sendiri sampai posisi berdiri hampir berbalik badan.
“Ba- Bapak!” ia setengah histeris. Malu, sedih, bahagia karena kerinduannya terobati, dan kecewa pada diri sendiri kenapa orang tuanya melihat saat-saat dirinya berada dititik terendah.
Darti, Astuti, tak kalah terkejut. Mereka tentu kenal siapa yang berdiri di pintu itu.
Sementara Tanira dan Lasti tidak kenal, namun bisa menebak jika pria kurus berkulit gelap itu bapaknya Arjanti.
Bibir bu Ratri bergetar hebat, tangisnya tumpah membuat hijabnya basah. Dia berdiri di samping suaminya. “Sini, Nak, putri Ibu.”
.
.
Bersambung.
suatu hari nanti si Herlan akan menyesal karena udh menyia2 kan kamu Janti
pasti tu anak yg dikandung saila bukan anak si Herlan
bukan Janti yg salh tapi si Herlan lh tak bisa memberikan keturunan