Nadia tak suka dengan perjodohan yang orang tuanya berikan padanya dengan Jayden Mahendra.
Jayden san Nadia kini resmi menjadi suami istri, tapi pernikahan mereka masih harus di sembunyikan sampai mereka lulus sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smarrr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Sampai malam, Nadia mencoba menunggu Jay pulang, tapi tak ada tanda-tanda jika cowok itu akan pulang ke rumah.
Nadia yang berharap bisa bertemu dengan Jay dan mengobrol tentang permasalahan mereka kini lesu karena Jay tak datang jua.
Dan kini Nadia memilih untuk tidur di sofa, ia bahkan seolah bermimpi bahwa Jay pulang dan menyelimuti dirinya.
.
.
.
.
"Balik lagi lo?" tanya Arnold yang kini tinggal di apartemen milik jay.
"Gue tidur di sini aja, nggak bisa gue kalau deket Nadia terus, tapi gue diem aja," sahut Jay yang kini memilih menginap di apartemen miliknya.
"Dari pada nganggur, mending kita ke club aja deh, ngilangin pusing," ajak Arnold dan Jay menggeleng dengan cepat.
"Lo aja deh, gue lagi males kemana mana."
"Hayolah guys, masa gara-gara cewek jadi cupu sih, sekali kali bersenang-senanag itu perlu kawan."
Jay melempar kartu berwarna hitam kepada Arnold." Berisik!" tegas Jay yang menutup mata dengan lenganya.
"Ahh... bisa aja pak Bos, kan gue jadi suka kalau begini," kata Arnold yang terima kartu dari Jay dengan senang hati.
"Selamat beristirahat Bos kuh."
Arnold bergegeas pergi ke sebuah club malam yang terkenanl di kota itu.
Dan setelah kepergian Arnold, Jay kembali bangun dan melihat cctv yang ia pasang secara diam-diam di kamarnya, Jay diam-diam masih mengawasi Nadia. Karena cewek itu adalah istri Jay yang sangat Jay cintai, walau saat ini kondisi hubungan keduanya sedikit retak karena kata- Ikata Nadia begitu meyakitkan untuk Jay.
.
.
.
.
"Eugg..." le nguh Nadia karena badanya terasa sakit semua.
Pagi ini, di saat Nadia membuka matanya. la masih tak menemukan Jay di dalam kamarnya, perasaanya semakin tak karuan mengingat Jay juga terluka kala itu.
"Dia tidur di mana ya? kok nggak pulang juga sih?" lirih Nadia merasa ada yang kurang dari dirinya.
Walau kadang Jay bertingkah keterlaluan atau layaknya anak kecil, tapi Nadia sudah mulai terbiasa dengan itu semua, dan kini saat Jay tidak ada, Nadia merasa ada yang hilang dalan keseharianya
"Selimut? perasaan semalam gue nggak selimutan, siapa yang nyelimuti gue? jangan - jangan Jay semalam pulang terus dia balik pergi lagi?" monolog Nadia berangapan.
Nadia berlari ke lantai bawah, dan mencoba mencari keberadaan jay, Nadia berpikir mungkin saja jay tak pergi lagi dan kini sedang sarapan di meja makan.
Sayangnya harapanNadia pupus saat melihat meja makan kosong.
"Dia beneran pergi?" Nadia merasa frustasi karena ia tak bisa menemukan Jayden untuk saat ini.
"Telepon papa!" tiba-tiba sebuah ide muncul di pikiran Nadia. dan cewek itu berlari menaiki anak tanggan untuk kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya dan menghubungi papanya
Tut... tut...tut...
Tak lama kemudian panggilan Nadia pun tersambung dengan Papanya
"Hallo pa." - Nadia.
"Iya sayang ada apa? papa kamu lagi di kamar mandi, jadi mama yang angkat teleponya." - mama Nagita.
"Ma di hp papa ada kontak Jayden nggak Ma?" \= Nadia.
"Seharusnya ada ya, emangnya kamu nggak punya kontaknya Jay?" - heran Mama Nagita.
"Mama liat aja dulu ada nggak kontak Jay, kalau ada tolong please kirim sekaramg juga ya Ma." Nadia memohon.
Tanpa memutuskan panggilan, mama Nagita mencarikan nomor Jayden di hp suaminya itu, dan setelah menemukan kontak Jay, mama Nagita langsung mengirimkanya pada Nadia.
"Udah Mama kirim ya?blagian kamu aneh deh, masa nomor suami sendiri malah nggak punya sih?" decih mama Nagita.
"Makasih mama ku sayang, salamin buat papa ya kalau dia udah keluar dari kamar mandi. emuach emuach...." sebelum memetskan panggilanya Nadia memebrikan kecupan dari ponsell untuk mamanya yang sudah lumayan lama pergi ke luar negri untuk urusan pekerjaan.
tanpa menunggu lagi, Nadia langsung membuat panggilan dengan Jayden saat ia sudah menerima nomor dari mamanya.
Tutt... Tut... Tut....
"Hallo" jawab jay dengan suara yang serak khas
bangun dari tidur, cowok itu langsung menggeser tombol hijau dan tanpa melihat siapa yang meneleponya pagi ini.
"jay lo di mana sih?" seru Nadia yang sebenarnya senang bisa mendengar suara Jay lagi.
Saat mendengar suara yang nyaring di indera pendengaranya. jay langsung tahu siapa yang menelponya saat itu juga.
"Dari mana dia dapet nomor gue?" gumam Jay dalam hati.
"Ini siapa ya?" Jay pura - pura tak mengenali suara Nadia.
"Amnesia lo sama suara gue? gue bilangin bapak gue lo ya kalau lo ngelantarain gue lagi!" ketus Nadia yang kini malah membuat jay bingung.
"Nelantarin? Siapa? Maksud lo gue? Sadar lo ngomong kaya gitu?"
"Ya iayalah lo! siapa lagi kalau bukan lo? kan gue ngomongnya juga sama lo," seru Nadia yang semakin meninggikan suaranya.
"Yang terakhir nyuruh gue pergi siapa? dan sekarang lo bilang kalau gue nelantarin lo? gila lo ya?"
"iya gue gila! Kenapa? sekarang lo pokonya harus share lock, biar gue bisa mergokin lo lagi sama cewek lain, iya kan? gue yakin sekarang lo lagi tidur bareng sama cewek lain."
"Kalau iya kenapa? gue lagi nyewa kamar hotel paling mahal buat tidur sama cewek yang mau tidur sama gue dan pastinya bisa bikin gue puas, karena istri gue sendiri malah milih buat bantuin mantanya yang jelek itu dari pada suaminya sendiri!"
TUT.
Jayden memutuskan panggilanya sepihak.
"Dari Nadia?' tanya Arnold yan baru saja datang untuk menjemput Jay.
Jay hanya mengangguk sebagai jawaban, ia merasa senang juga rindu sekaligus karena mendengar suara Nadia.
"Dia mulai cemburu nggak sih?" tanya Jay pada Arnold.
"Kayaknya sih gitu, kata gue nih ya, lanjutin aja sandiwara lo baru aja, biar lo tahu gimana perasaan Nadia ke lo."
"Ide bagus!" seru Jay mulai sumringah.
itu." "Ehem... Tf kali ahh, kan gue yang ngasih ide
Tak lama kemudian Arnold memndapatkan notif bahwa dia mendapatklan Tf-n dari Jay yang nominalnya membuat Arnold melongo.
"AAAAAA.... Bos gue emang paling the best." seru Arnold.
Sementara di sisi lain, Nadia sedang uring-uringan karena teleponya di putuskan secara sepihakl saja, apa lagi itu oleh Jayden.
"Hah???? dia matiin telepon gue? seriusan? waahhhh.... nggak bener ini kan ya? masa telepon gue matiin gitu aja, gue istrinya anjir, terus sekarang dia lagi asik - asik sama cewek? nggak bisa di biarin!"
Nadia langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, dan berencana pergi ke perusahaan Jayden dengan mencari lokasinya lewat google map.
Setelah ia merapikan dirinya dengan memakai Kaos berwarna putih, dan celana jeans gombrang, lalu ia juga mengikat kuda rambutnya yang panjang, Tak lupa dengan sepatu ket berwarna putih membuat penampilan Nadia begitu fress dan kekinian.
Tak lupa juga, Nadia mengirim pesan pada Mela untuk mengijinkan dirinya karena tak bisa masuk sekolah hari ini. ia juga meminta Mela untuk mengurus Kevin hari ini dan akan membayar atas kerja kerasnya.
"Liat aja, enak aja dia seneng- seneng sama cewek lain, sedangkan gue harus ngurus orang dia gebuiin!" Oceh Nadia lalu pergi dari rumah itu.
Walau di rumah Jay ada beberapa mobil. TapiNadia yang tak bisa mengemudi tak bisa berbuat apa-apa selain memesan taxi online.
"Ke alamat ini ya," ucap Nadia memberi lihat ponselnya pada supir taxi online tersebut. Alamat di mana perusahaan Jayden, yang Nadia tahu dari Papanya tadi setelah selesai mandi, Nadia menanyakan alamat perusahaan Jayden lewat chat yang Nadia kirim ke Papanya.
.
.
.
.
Kevin merasa gelisah menunggu kedatangan Nadia di sekolah, cowok itu terlihat mondar mandir di depan gerbang sekolah.
"Nyari siapa lo? Nadia? Dia nggak masuk," tegas Mela yanh sebenarnya malas berbicara dengan Kevin kalau tidak ada bayaran dari Nadia.
"Hah? Kok lo tahu? Dia ngabarin lo? Kok dia nggak ngabarin gue sih?"
"Helooooo..... siapa lo dia harus banget ngabarin lo? Sukanya lo? Pacar juga udah mantan kali," cibir Mela.
"Kita belum putus ya!" Tegas Kevin yang tak mau kalah.
"Cih, ngelak lagi."Nadia yang tak bisa mengemudi tak bisa berbuat apa-apa selain memesan taxi online.
"Ke alamat ini ya," ucap Nadia memberi lihat ponselnya pada supir taxi online tersebut. Alamat di mana perusahaan Jayden, yang Nadia tahu dari Papanya tadi setelah selesai mandi, Nadia menanyakan alamat perusahaan Jayden lewat chat yang Nadia kirim ke Papanya.
Kevin merasa gelisah menunggu kedatangan Nadia di sekolah, cowok itu terlihat mondar mandir di depan gerbang sekolah.
"Nyari siapa lo? Nadia? Dia nggak masuk," tegas Mela yanh sebenarnya malas berbicara dengan Kevin kalau tidak ada bayaran dari Nadia.
"Hah? Kok lo tahu? Dia ngabarin lo? Kok dia nggak ngabarin gue sih?"
"Helooooo..... siapa lo dia harus banget ngabarin lo? Sukanya lo? Pacar juga udah mantan kali," cibir Mela.
"Kita belum putus ya!" Tegas Kevin yang tak mau kalah.
"Cih, ngelak lagi."
Kevin yang merasa kesal kini mencoba menghubungi Nadia. Sayangnya panggilan yang Kevin lakukan tak mendapatkan jawaban sama sekali.
"Dari pada cape - cape nelepon Nadia mending lo ikut gue, biar gue yang anter lo ke kelas."
"Ogah!" Kevin melengos dan melewati Mela menuju kelasnya.
Dan Mela yang mendapatkan tugas dari Nadia.
Tetap mengikuti Kevin kemana cowok itu berjalan.
"Ngapain lo ngikutin gue sih?" Kesal Kevin yang juga gak menyukai Mela.
"Nggak usah kepedean deh lo! Gue kalau bukan Nadia yang nyuruh juga ogah ya!"
"Nadia nyuruh lo?" Tanya Kevin dan Mela mengamgguk cepat.
"Yup! Anda betul, hari ini dia nggak masuk sekolah karena muak sama tingkah lo yang sok manja, padahal aslinya lo nggak kenapa-kenapa kan?"
"Nggak usah sotoy deh lo, dan mulai detik ini! Lo nggak usah ngikutin gue! Pergi ke kelas sendiri aja sono, sekarang gue yang muak liat muka lo."
"Idihhhh... Najiss! Ganteng lo? Muka jelek juga!" Cibir Mela yang akhirnya pergi dari kelas Kevin.
"Makasih ya pak," ucap Nadia sembari memberikan uang untuk membayar jasa taxi online.
Sebelum masuk ke dalam perusahaan, Nadia memakai topi yang ia bawa untuk jaga-jaga jika ada yang mengenalinya dirinya.
Dan benar saja, baru saja Nadia ingin masuk, netra Arnold sudah tertuju pada cewek dengan gaya kekinian itu.
"Waah.... Duit lagi nih," gumam Arnold yang diam-diam memotret Nadia dan mengirimkan hasil jepretannya itu pada Jayden.
Send foto berhasil.
Dan Jayden terkejut melihat Nadia datang ke perusahaannya.