NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Raven Ayu

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, Laras dicampakkan dalam semalam setelah putri kandung mereka, Tiara, ditemukan lewat tes DNA. Ketika Tiara menolak menikahi “duda tua beranak tiga dari kampung”, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi menjaga nama baik.
Di desa asing itu, Laras menghadapi seorang lelaki dingin bernama Arya dan tiga anak yatim yang kurus serta waspada. Semua orang mengira ia telah menikah turun derajat dan hanya bisa pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu bahwa Arya sebenarnya adalah mantan perwira Kopassus yang disegani para jenderal sekaligus konglomerat yang menyamar sebagai peternak sapi. Pria yang katanya dingin itu justru memanjakan Laras setiap hari lewat tindakannya, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik hidupnya. Ia membesarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius, membuat orang-orang yang pernah meremehkannya menelan hinaan mereka sendiri, dan bangkit dari “ibu tiri kampungan” menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Namun Tiara belum menyerah merebut apa yang dianggap seharusnya menjadi miliknya. Di saat yang sama, rahasia asal-usul ketiga anak itu mulai terungkap: mereka membawa darah keluarga konglomerat Adiwangsa.
"Kamu menikahiku karena terpaksa," kata Arya. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20: Hanya Kamu

Pernikahan mengubah banyak hal kecil sebelum aku menyadari perubahan yang besar.

Arya mulai meninggalkan satu sisi lemari untuk pakaianku. Helm putih baru muncul di samping motornya karena dia bilang tali helm lamaku sudah longgar. Setiap pulang dari peternakan, dia mencari kami di dapur sebelum masuk kamar.

Aku juga berubah.

Aku hafal jam motornya terdengar di tikungan, tahu dia sedang lelah hanya dari cara meletakkan kunci, dan bisa membedakan diamnya karena marah, khawatir, atau sekadar tidak tahu harus berkata apa.

Suatu malam, beberapa hari setelah sarapan pertama kami, hujan turun deras di Rejosari. Raka dan Bayu sudah tidur setelah menyelesaikan tugas sekolah. Sasa terlelap dengan boneka kain di pelukannya. Listrik sempat padam, lalu menyala lagi menjelang pukul sepuluh.

Arya baru pulang dari peternakan dengan bahu basah.

“Kenapa terlambat?” tanyaku sambil mengambil handuk.

“Satu sapi mau melahirkan.”

“Berhasil?”

“Berhasil.”

Aku mengeringkan rambutnya meski dia mengatakan bisa melakukannya sendiri. Dia duduk di tepi ranjang, terlalu tinggi hingga aku harus berdiri di antara kedua lututnya.

“Anaknya jantan atau betina?”

“Betina.”

“Namanya?”

“Belum ada.”

“Bayu pasti akan memberi nama aneh.”

“Karena itu jangan bilang dulu.”

Kami saling pandang, lalu tertawa pelan agar tidak membangunkan anak-anak.

Arya mengambil handuk dari tanganku dan meletakkannya di kursi. Tangannya menetap di pinggangku, tidak menarik, hanya menunggu. Aku menyentuh rambut yang masih lembap di pelipisnya.

“Dingin?” tanyaku.

“Sekarang tidak.”

Kalimat sederhana itu membuat wajahku panas.

Dia mendekat perlahan. Ciumannya terasa akrab, tetapi tidak kehilangan kemampuan membuat jantungku berlari. Aku merangkul lehernya. Hujan memukul atap, menutup suara napas kami dari rumah yang telah tidur.

Kedekatan malam itu tidak lagi dipenuhi kegugupan seperti pertama kali. Kami telah belajar kapan harus berhenti, kapan harus bertanya, dan bagaimana membaca gerakan satu sama lain. Tetap lembut, tetap tidak terburu-buru, tetapi lebih jujur.

Sesudahnya, kami berbaring berhadapan. Arya menyisir rambutku dengan jari, lalu menelusuri wajahku seolah memastikan aku benar-benar ada.

“Apa?” tanyaku.

“Tidak apa-apa.”

“Mas menatapku sejak tadi.”

“Boleh?”

“Kalau tidak boleh, aku akan menutup matamu.”

Dia menangkap tanganku ketika aku berpura-pura hendak melakukannya. Jari kami bertaut di antara bantal.

Hujan membuat malam terasa terpisah dari dunia luar. Dalam gelap yang lembut, aku mengingat perjalanan yang membawaku ke ranjang ini.

Aku datang sebagai perempuan yang dibuang untuk menggantikan Tiara. Pada hari pertama, aku hanya berjanji akan menjadi ibu yang baik karena itu satu-satunya nilai yang bisa kutawarkan. Aku mengira rasa hormat sudah cukup untuk menjalani pernikahan.

Lalu Arya berdiri di dapur dan mempercayaiku memegang uang rumah. Dia menerima rantangku di depan orang sekampung. Di kantor peternakan, dia membalut jariku dengan buruk, lalu membuat jantungku kehilangan irama hanya karena satu gerakan naluriah.

Dia menulis namaku utuh dalam semua dokumen akad. Dia berdiri dalam seragam dengan dunia lama mengelilinginya, tetapi tetap mencari tanganku di tengah kerumunan. Pada malam pertama, lelaki yang disebut komandan itu memeriksa suhu tubuhku seperti takut aku pecah hanya karena dipeluk terlalu kuat.

Tidak ada satu peristiwa besar yang membuatku jatuh cinta. Perasaan itu tumbuh dari puluhan tindakan kecil sampai suatu pagi aku sadar tidak bisa lagi membayangkan rumah ini tanpa langkahnya.

“Mas Arya,” panggilku.

“Hm?”

“Waktu pertama kali melihatku turun dari bus, apa yang Mas pikirkan?”

Dia terdiam cukup lama.

“Kamu kurus.”

Aku memukul bahunya dengan bantal. “Hanya itu?”

“Dan marah.”

“Aku tidak marah.”

“Wajahmu seperti ingin menggigit orang.”

“Aku sedang takut.”

Arya membuang bantal ke samping, lalu menarikku lebih dekat. “Aku tahu setelah melihat tanganmu gemetar.”

“Kenapa tetap menerimaku?”

“Karena kamu lebih dulu melihat anak-anak daripada rumah.”

Aku mengingat tiga wajah kotor di balik pagar. “Aku cuma tidak tega.”

“Orang yang datang sebelum kamu juga melihat mereka. Tidak semua berhenti.”

Jemarinya mengusap punggung tanganku.

“Aku pikir kamu akan bertahan seminggu,” katanya.

“Lalu?”

“Setelah kamu membongkar dapur, mungkin sebulan.”

“Setelah sebulan?”

“Aku mulai berharap kamu tidak menghitung hari.”

Dadaku menghangat.

“Mas tidak pernah bilang.”

“Aku tidak tahu caranya.”

“Sekarang tahu?”

Dia memikirkan jawabannya. “Sedikit.”

Aku menunggu.

“Aku suka kamu ada di rumah,” katanya. “Aku suka anak-anak mencarimu. Aku suka makan siang yang kamu bawa. Kalau pulang dan lampu dapur menyala, aku tahu ada orang yang menunggu.”

Dia berhenti, seolah kalimat berikutnya terlalu berat.

“Kalau nanti aku dipanggil?” tanyanya.

“Aku akan menunggu.”

“Kalau kamu bosan hidup di desa?”

“Kita bicarakan bersama.”

“Kalau kamu ingin bekerja lagi?”

“Aku akan bekerja. Menjadi istrimu tidak menghapus hidupku.”

“Aku tahu.”

“Mas benar-benar tahu?”

“Aku akan belajar.”

Jawaban itu lebih berarti daripada janji bahwa dia tidak akan pernah salah.

Kami berbicara tentang sekolah Raka dan Bayu, tentang cara membantu Sasa mengejar perkembangan tanpa memaksanya, tentang kemungkinan aku kembali mengisi acara radio atau membuat konten suara dari rumah. Arya menawarkan ruang kosong di lantai bawah sebagai studio kecil. Aku menolak rencana renovasi malam itu juga, tetapi tidak menolak kemungkinan memiliki pekerjaan sendiri.

“Dan peternakan?” tanyaku.

“Kamu boleh ikut mengurus pembukuan kalau mau.”

“Aku belum tentu mau.”

“Tidak apa-apa.”

“Kalau aku kembali bekerja dan harus sering ke kota?”

“Aku antar kalau bisa. Kalau tidak, sopir kantor bisa mengantar.”

“Kalau acaranya malam?”

“Aku jemput.”

“Kalau Mas sedang dipanggil tugas?”

Dia mengernyit, seolah pertanyaanku sengaja membuat semua jalan keluar sulit. “Bang Gino mengantar. Atau Aan. Yang penting kamu memberi kabar.”

“Bukan meminta izin?”

“Memberi kabar,” ulangnya tegas. “Aku suamimu, bukan komandanmu.”

Aku tersenyum. “Syukurlah. Aku tidak bisa hormat setiap kali Mas masuk kamar.”

Arya mencubit ringan pinggangku hingga aku menahan tawa di bantal.

Setelah tenang, dia menyentuh cincin di jariku. “Aku tidak mau kamu kehilangan kesempatan karena menikah denganku.”

“Kenapa?”

“Almira berhenti dari banyak hal setelah menikah. Bukan karena Danendra melarang, tapi karena semua orang menganggap urusan rumah otomatis miliknya. Dia selalu bilang akan mulai lagi tahun depan.”

“Lalu mereka meninggal sebelum tahun depan itu datang.”

Dia mengangguk.

Aku menutupi tangannya dengan tanganku. “Aku akan tetap menjadi ibu mereka. Tapi aku juga masih Laras.”

“Itu yang kuinginkan.”

“Dan Mas Arya tidak boleh menyelesaikan semua masalah sendirian hanya karena pernah jadi komandan.”

“Aku tidak begitu.”

Aku mengangkat alis.

Dia menyerah. “Aku akan mencoba.”

Kami lalu membicarakan hal-hal yang bahkan belum pernah kuizinkan diriku impikan. Sebuah meja kerja dekat jendela. Rak buku yang tidak perlu berbagi tempat dengan kotak pakan. Satu hari libur setiap pekan ketika Arya tidak boleh pergi ke peternakan kecuali ada keadaan darurat. Waktu khusus untuk membawa anak-anak ke kota, bukan hanya ke dokter atau membeli seragam.

“Raka ingin melihat museum sains,” kataku.

“Bisa bulan depan.”

“Bayu ingin stadion.”

“Sekalian.”

“Sasa akan mengejar burung di halaman museum.”

“Kita bawa tali pengaman anak.”

Aku tertawa. “Dia bukan anak sapi.”

“Anak sapi lebih mudah diatur.”

Di balik lelucon itu, satu hari masa depan terbentuk dengan begitu sederhana. Mobil penuh bekal, Bayu bicara sepanjang jalan, Raka berpura-pura tidak bersemangat, dan Sasa tidur di pangkuanku. Arya menyetir sambil sesekali mengingatkan semua orang agar tidak berisik.

Aku menginginkan hari itu.

“Mas Arya?”

“Hm?”

“Apa yang paling Mas takutkan sekarang?”

Dia tidak langsung menjawab. Hujan mereda, meninggalkan tetesan air dari talang.

“Pulang dan tidak menemukan kalian.”

“Kami tidak akan pergi diam-diam.”

“Aku tahu.”

“Tapi masih takut?”

“Masih.”

Aku tidak menyuruhnya berhenti takut. Luka kehilangan tidak sembuh hanya karena seseorang membuat janji. Aku menarik tangannya ke dadaku agar dia juga merasakan jantungku.

“Kalau ketakutan itu datang, tanya aku. Jangan membuat keputusan atas namaku.”

“Seperti kemarin?”

“Seperti kemarin, tapi cukup sekali. Tiga kali membuatku kesal.”

“Baik.”

“Dan kalau aku takut Mas tidak pulang?”

“Tanya aku juga.”

“Kalau Mas sedang tidak bisa menjawab?”

“Pegang Raka. Dia akan berpura-pura tenang. Bayu akan bicara sampai kamu lupa takut. Sasa akan membuat rumah berantakan.”

“Itu bukan jawaban.”

“Aku akan berusaha pulang,” katanya akhirnya. “Bukan karena perintah. Karena kalian menunggu.”

Kalimat itu menetap di antara kami, tidak megah, tetapi cukup kuat untuk dijadikan tempat bersandar.

Dia tidak sedang memberiku pekerjaan sebagai hadiah. Dia sedang memberiku tempat dalam rencana masa depan tanpa mengurungku di dalamnya.

Saat itulah aku mengerti apa yang membuatnya berbeda.

Bimo dan Ratna membesarkanku dengan daftar kewajiban. Tiara melihatku sebagai pencuri tempat. Semua hubungan di Jakarta selalu menuntutku membayar keberadaanku dengan kepatuhan.

Arya justru memberiku pilihan, bahkan ketika pilihan itu membuatnya takut.

Aku menempelkan telapak tangan pada dadanya. Detak jantung di bawahnya tetap mantap.

“Kenapa?” tanyanya.

“Aku sedang memastikan.”

“Memastikan apa?”

Bahwa perasaan ini bukan rasa terima kasih. Bukan lega karena diselamatkan. Bukan kebiasaan karena tidur di rumah yang sama.

Aku pernah dikagumi, didekati, dan dipuji sebelum hidupku berubah. Tak satu pun membuatku ingin tinggal saat jalan keluar terbuka. Hanya lelaki ini yang membuatku ingin membangun sesuatu, bukan sekadar berlindung.

Aku mematikan lampu meja dan mendekat dalam gelap.

“Arya,” panggilku, untuk pertama kalinya tanpa Mas.

Napasnya berhenti sesaat.

Aku menyembunyikan wajah di dadanya, tetapi tetap memaksa diriku menyelesaikan kalimat.

“Seumur hidupku, rasanya hanya kamu yang bisa membuatku seperti ini.”

Pelukannya mengencang.

“Kalau begitu,” jawabnya dengan suara tertahan, “biarkan selalu aku.”

1
Neny Risdiani Dewi
ini orang cari gara².... ayo Raka hajaar💪
мєσωzα
kenapa gak langsung dipecat aja si inah itu?
Sri Supriatin
lanjuut thor...eeh sy bc marathon kok .. kayanya sdh end🤭🤭🤣🤣
Sri Supriatin
gas keun pa Arya😍😍😍😍
Sri Supriatin
6 bulan lho ....anak2kurus n bi Inah kayaaa....ampun lebih galak dr mak tiri atau mertua tocik
Sri Supriatin
mampir ah, certanya end, jd ngk nunggu up🤭🤭biar marathon bc👍👍👍
Sri Hartini
wah2 akhirnya jd nyonya Arya
Sri Hartini
nah bik inah ketahuan bohongnya
Sri Hartini
pamanya terlalu sibuk di peyernakan jd nggak peduli sama ponakan
Sri Hartini
om nya kurang perhatian pdhal ponakannya kurus2
Sri Hartini
padahal bi inah msh sodara kok tega ya
Sri Hartini
arya kenapa diem klau ponakannya kurus
Sri Hartini
lamjut
Sri Hartini
lanjut ceritanya seru
Sri Hartini
ceritanya bagus
Anik Setyowati
iya kadang q bingung critanya,bener sih nggak monoton critanya nggak itu itu aja critanya,tp kapan crita kuliahnya,
Anik Setyowati
semua wanitanya iri sama Laras,tapi tidak membuat dirinya berusaha menjadi seorang wanita yg dibarengi dengan perbuatan yg baik,meningkatkan kecerdasanya, meningkatkan perekonomianya dengan jalan yg halal dan kerja keras,tapi mendahulukan prasangka buruk iri dengki,dan akhlak tercelah,nggak bisa mengontrol emosi yg malah akan menghancurkan hidup dan kebahagiaannya
Anik Setyowati
kenapa pernikahan denandra dan Almira tidak disetujui,sedangkan damar dan Vera disetujui,apakah karna Vera anak orang terpandang dan Almira anak orang biasa orang desa,padahal Vera tidak ada kelebihannya, ahklaqnya buruk
Anik Setyowati
orang seperti ini nggak pantas jadi guru,jual gorengan aja setiap hari berinteraksi sama gorengan, nggak ada orang iri sama gorengan
Anik Setyowati
Bu Ratih takut kecerdasannya tersaingi anak bocil,kasihan deh otaknya tumpul bukan tumpul ilmu tp tumpul mengelolah emosi kejiwaanya nol kosong nol,tua ilmu kedewasaannya nggak ada,yg ada ambisi dan kesombongan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!