Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29. Kami Dibawa ke Mana?
Mobil mewah itu melaju meninggalkan rumah kos Dea.
Di dalamnya, keluarga angkat Dea duduk dengan wajah semringah. Sejak tadi, perempuan paruh baya itu tak henti-hentinya memandangi interior mobil yang begitu mewah. Sesekali, ia melirik ke luar jendela, membayangkan hal-hal menyenangkan yang mungkin akan mereka dapatkan hari ini.
Siapa sangka, anak yang selama ini mereka anggap tak tahu berterima kasih ternyata bisa hidup berkecukupan setelah menikah?
Senyum di wajahnya semakin lebar.
“Eh, sebenarnya kita mau dibawa ke mana?” tanya si remaja laki-laki. Namanya Doni. Anak pertama yang lahir setelah orang tua angkatnya mengangkat Dea menjadi anak.
“Memangnya kenapa?” sahut perempuan paruh baya, yang tak lain bernama Lini. “Mungkin Dea mau mengajak kita jalan-jalan. Siapa tahu dia juga mau memberi kita uang.”
Pria di sampingnya yakni sang ayah bernama Yudi, mengangguk setuju.
“Baguslah kalau begitu. Sebelumnya, kita tidak pernah menikmati hidup seperti orang kaya.”
Kedua gadis kecil Dila sang kakak, Disa si adik ikut tersenyum, meski tak memahami apa yang sedang terjadi.
Mobil terus melaju.
Namun, semakin lama, pemandangan di luar jendela berubah semakin asing. Bangunan-bangunan yang tadi begitu ramai mulai menghilang, digantikan jalan yang lebih sepi. Mobil kemudian memasuki sebuah kawasan tertutup dengan penjagaan yang sangat ketat.
Lini mulai mengerutkan kening. “Kenapa kita dibawa ke sini? Bukannya tadi mau diajak jalan-jalan?”
Namun, tak ada yang menjawab meski ada beberapa pengawal yang menemani mereka.
Mobil akhirnya berhenti di hadapan sebuah bangunan yang tampak biasa dari luar. Beberapa pria berjaket putih sudah berdiri menunggu kedatangan mereka.
Pintu dibuka.
“Silakan turun,” ujar salah seorang pria.
Perempuan paruh baya itu menatapnya curiga. “Ini tempat apa?”
“Silakan turun, Bu. Nona Alvara sudah menunggu.”
Ia tak mengenal nama itu. “Alvara? Memangnya siapa dia? Kenapa kami harus menemuinya?”
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menunggu dengan sikap tenang, seolah pertanyaan tersebut tidak perlu dijelaskan.
Dengan perasaan tak anehlp, keluarga itu akhirnya turun.
Mereka dibawa melewati sebuah pintu keamanan, lalu memasuki lift yang membawa mereka turun semakin jauh dari permukaan tanah.
Semakin dalam mereka melangkah, semakin besar pula kebingungan yang menyelimuti mereka.
“Ini sebenarnya tempat apa?” Yudi yang sejak tadi diam akhirnya bertanya dengan nada tinggi. “Kenapa kalian membawa kami ke bawah tanah?”
Tak ada yang menjawab.
Hingga akhirnya, mereka tiba di sebuah ruangan luas dengan beberapa lorong yang mengarah ke ruang-ruang lain. Suasana di sana terasa dingin dan asing. Para pria berjaga di setiap sudut, sementara beberapa orang terlihat sibuk bekerja di balik pintu kaca.
Wajah perempuan paruh baya itu langsung berubah.
“Tunggu! Kenapa kami dibawa ke sini?” Ia berusaha menghentikan langkah. “Tolong bawa kami keluar lagi!”
Salah seorang pria memberi isyarat kepada rekannya.
“Bawa mereka ke ruang tahanan.”
“Apa?!”
Mendengar perintah itu, seluruh anggota keluarga tersebut langsung panik.
“Kalian tidak bisa seenaknya membawa kami ke tempat ini!” bentak Yudi. Ia berusaha melepaskan diri. “Lepaskan!”
Lini juga ikut meronta. “Apa salah kami?! Kami tidak melakukan apa-apa!”
Namun, protes mereka tidak mengubah apa pun.
Mereka dibawa menuju sebuah ruangan berpintu besi. Setelah pintu terbuka, para petugas mengarahkan mereka masuk satu per satu.
“Tidak! Kami tidak mau masuk!”
Disa, gadis paling kecil mulai menangis. Dila segera menggenggam tangannya, sementara Doni berusaha memprotes para petugas.
Pintu akhirnya tertutup rapat.
Brak!
Suara pintu besi itu membuat mereka semua terdiam sesaat.
Lalu perempuan paruh baya tersebut bergegas menghampiri jeruji, menggenggamnya dengan erat.
“Keluarkan kami!” teriaknya. “Dea! Apa yang kau lakukan kepada kami?!”
Yudi yang ada di sampingnya ikut menggedor pintu.
“Dea! Kalau kamu mendengarkan kami, cepat lepaskan kami! Kamu tidak bisa memperlakukan orang tuamu seperti ini!”
Namun, tak ada jawaban.
Mereka tidak tahu alasan orang yang mereka duga Dea, membawa mereka ke tempat seperti itu.
Mereka tak menyangka, perjalanan yang semula mereka bayangkan akan menyenangkan justru membawa mereka ke balik jeruji besi.
.
.
Sementara di tempat lain, Dea telah bersiap menjalani praktik koasnya di rumah sakit. Ia tak ambil pusing dengan informasi keluarganya naik mobil yang sangat bagus. Yang jelas, ia sudah tak sabar menyelesaikan teka-teki kematian Linjaryani yang tak kunjung bertemu titik temunya.
Ia telah mengenakan pakaian praktik dengan rapi, merapikan beberapa berkas yang diperlukan, lalu memastikan semua perlengkapan di dalam tasnya sudah lengkap.
Setelah berpamitan kepada ibu kos, Dea berangkat menuju rumah sakit. Hari ini, Adityo telah menunggunya di pinggir jalan. Dea langsung masuk ke mobil itu.
"Hai," sapa Dea.
"Wah, beberapa waktu tak berjumpa, kamu terlihat jauh lebih segar dibanding terakhir kita bertemu."
Dea hanya tersenyum, dan memasang sabuk pengaman. "Kamu sendiri gimana prakteknya di rumah sakit tempatmu?"
"Aman. Semua terkendali dan sebenarnya aku sudah tak sabar untuk segera menamatkan ini semua dan kita mendapat gelar dokter. Setelah itu, kita akan menikah."
Dea membeku dengan ucapan Adityo tersebut. "Menikah?" Perlahan tangan Dea memegang perutnya.
'Tak mungkin, karena kamu pantas mendapat yang lebih baik dariku,' batinnya.
Adityo melirik Dea yang langsung terdiam mendengar ucapannya barusan. Lalu ia menghela napas. "Baik lah, kamu tak perlu memikirkannya sekarang. Kali ini kita fokus pada pekerjaan terakhir kita sebagai mahasiswa kedokteran."
Dea masih tak bergeming hingga kendaraan itu membawa mereka ke rumah sakit tempat Dea praktek.
"Nanti aku jemput?" tanya Adityo saat Dea telah turun.
Dea menggeleng. "Nggak usah. Aku nanti bisa naik ojol." Lalu ia melambaikan tangan dan berbalik berjalan menuju pintu masuk rumah sakit.
Namun, baru saja tiba di halaman depan, langkahnya mendadak terhenti. Seseorang berdiri tak jauh dari pintu masuk. Sosok pria yang sangat dikenalnya.
*bersambung*
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella