Sinopsis
Zain Arvendra Atmaja, seorang remaja yang seakan tak pernah lelah terlibat masalah di sekolahnya. Setelah berbagai kejadian yang menumpuk, ayahnya akhirnya mengambil keputusan Zain harus pindah ke sebuah SMA berbasis asrama yang dikenal mampu membimbing anak-anak yang sedang kehilangan arah.
Awalnya Zain menolak keras. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan mulai menerima kenyataan itu. Di asrama inilah ia bertemu dengan Vanya, seorang gadis ceroboh yang dengan polosnya kerap menyeret Zain ke dalam berbagai situasi baru yang tak terduga.
Cerita terasa semakin rumit ketika Keira Cattleya Wiratama, kekasihnya yang selama ini jauh dari sana, tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke asrama yang sama pula.
Tiga orang, satu atap, dan hati-hati yang mulai saling bersilang. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ? Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 HARI PERTAMA YANG PENUH KEJUTAN
Matahari baru saja mengintip di ufuk timur saat suara bel pembangun berbunyi nyaring di seluruh area asrama, Zain terbangun dengan jantung berdebar seolah ia terlambat untuk sesuatu yang penting. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap ke sekeliling kamar yang masih terasa asing baginya. Rian, Bima, dan Dimas sudah mulai bergerak merapikan selimut, mengambil perlengkapan mandi, dan berbicara dengan suara pelan namun penuh semangat pagi.
"Ayo Zain, bangun. Jangan sampai terlambat ke ruang makan, bu Asrama tidak suka kalau ada yang datang paling akhir" Ucap Rian sambil menyisir rambutnya di depan cermin kecil.
Zain buru-buru bangkit, merapikan tempat tidurnya sebaik yang ia bisa. Ia belum terbiasa hidup dengan jadwal yang begitu ketat. Di rumah, ia bisa bangun sedikit lebih santai, sarapan sambil menonton televisi, lalu berangkat sekolah. Di sini, semuanya terasa teratur dan terjadwal.
Setelah selesai bersiap, mereka berempat berjalan bersama menuju ruang makan yang luas dan penuh dengan siswa-siswa lain. Suara percakapan terdengar di mana-mana, namun semua berjalan dengan tertib. Mereka mengambil nasi goreng hangat dan segelas teh manis, lalu duduk di salah satu meja yang masih ada tempat kosong.
Baru saja Zain akan menyuap nasi ke mulutnya, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari arah pintu masuk ruang makan. Seorang gadis dengan rambut yang sedikit berantakan berlari masuk dengan napas terengah-engah, matanya melirik ke kiri dan ke kanan seakan sedang mencari tempat persembunyian.
"Cepat, semoga belum ketahuan" Gumamnya pelan, lalu ia langsung duduk di kursi kosong tepat di sebelah Zain yang terkejut.
Belum sempat Zain bertanya siapa gadis itu, seorang petugas asrama berjalan mendekat dengan wajah tegas.
"Vanya, Kamu terlambat lagi ya. Berapa kali harus dikatakan, bangun lebih pagi supaya tidak terburu-buru begini" Ucap Petugas Asrama
Gadis yang dipanggil Vanya itu menunduk sambil tersenyum canggung.
"Maaf, bu. Saya sudah bangun pagi, cuma... buku catatan saya ketinggalan di kamar. Jadi saya harus kembali mengambilnya, lalu jalannya licin, saya hampir terpeleset. Lalu..." Jawab Vanya namun di potong
"Sudah cukup alasannya, makanlah sekarang dan lain kali jangan terlambat" Tegur petugas itu sebelum pergi.
Vanya menghela napas lega, lalu menoleh ke arah Zain yang masih menatapnya bingung.
"Hai, terima kasih ya sudah tidak mengusirku duduk di sini. Namaku Vanya, kamu penghuni baru ya ? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya" Ucap Vanya
Zain hanya mengangguk pelan.
"Aku Zain" Jawab Zain
"Senang sekali akhirnya ada teman baru di sini, semoga kita bisa akrab ya, Zain" Vanya tersenyum lebar
Vanya lalu dengan semangatnya mulai menceritakan hal-hal konyol yang pernah terjadi di asrama ini, Zain hanya mendengarkan sambil sesekali tersenyum tipis. Gadis ini benar-benar berbeda dari siapa pun yang pernah ia temui sebelumnya, dia ceria, berbicara cepat, dan seolah tidak pernah kehabisan topik untuk dibicarakan.
Setelah sarapan selesai, mereka semua berjalan menuju gedung sekolah yang berada tidak jauh dari asrama. Rian dan Bima berjalan di depan sambil berdiskusi tentang pelajaran hari itu, sementara Dimas berjalan di samping Zain sambil menjelaskan letak ruang kelas, perpustakaan, hingga kantin yang paling enak makanannya.
Saat mereka berjalan melewati koridor utama sekolah, Vanya tiba-tiba berlari kecil menyusul Zain.
"Zain ! Tunggu dulu, kamu kelas berapa ? Siapa tahu kita sekelas" Teriak Vanya
Zain memberitahu kelasnya, dan ternyata mereka berada di kelas yang sama. Vanya tampak sangat gembira, sementara Zain hanya merasa canggung. Ia belum siap memiliki teman baru, apalagi yang seaktif Vanya.
*****
Hari-hari berlalu, dan Zain perlahan mulai terbiasa dengan rutinitas baru ini. Namun satu hal yang ia tidak duga kehadiran Vanya sering kali menyeretnya ke dalam situasi-situasi tak terduga. Seperti hari itu, saat jam istirahat berlangsung tenang di perpustakaan.
Zain sedang sibuk membaca buku, ketika tiba-tiba Vanya datang dengan napas terengah-engah.
"Zain, tolong aku sebentar. Bantu aku menyembunyikan tumpukan buku ini, aku lupa mengembalikannya kemarin, dan penjaga perpustakaan sedang mencarinya" Ucap Vanya
Zain menatap buku-buku tebal di lengan Vanya dengan tak percaya.
"Vanya, kenapa selalu kamu yang kena masalah ?" Tanya Zain tidak habis pikir
"Aduh jangan dimarahi dulu, bantu aku cepat nanti ketahuan lho!" Vanya menarik lengan Zain pelan, dan tanpa sadar Zain ikut berdiri membantunya menyembunyikan buku-buku itu di rak paling belakang.
Mereka bersembunyi di balik tumpukan buku, menahan napas saat langkah kaki penjaga perpustakaan terdengar mendekat dan menjauh. Saat akhirnya aman, mereka saling berpandangan lalu tertawa tertahan.
Zain tidak mengerti bagaimana bisa hal-hal sederhana dan sedikit konyol ini justru membuatnya merasa tidak terlalu kesepian di tempat baru ini, di asrama, di sekolah, dan di sekitar Vanya, perlahan namun pasti Zain mulai menyadari satu hal. Mungkin tempat ini bukan sekadar tempat ia dikirim untuk diperbaiki, mungkin tempat ini adalah tempat di mana ia akan menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar aturan dan kedisiplinan.
😏 jdi jalanin seadanya aja, gk usah milih
hehe pis ya mas Zain...