Setelah akar spiritual emasnya dirampas secara paksa oleh sepupunya sendiri dan tubuhnya dibuang ke Jurang Abu Api, Lin Xuan—seorang pemuda klan cabang yang sekarat—justru menyatu dengan Tungku Abu Takdir peninggalan zaman purba. Dari abu kehancuran, ia menempuh jalur kultivasi terlarang yang mampu melebur kutukan, meracik pil dari racun mematikan, dan menebas tatanan langit yang korup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Malam Lelang Kota Awan Merah
Malam puncak Lelang Agung Tahunan Kota Awan Merah akhirnya tiba.
Gedung utama Paviliun Harta Seribu Bintang malam itu bermandikan cahaya ribuan lentera kristal. Di lantai dasar, ratusan kursi telah dipenuhi oleh para kultivator dan saudagar kaya, sementara di lantai dua, terdapat dua belas Ruang VIP tertutup yang dikhususkan bagi tokoh-tokoh paling berkuasa di kota tersebut.
Di Ruang VIP Nomor Tiga, Tetua Agung Lin Zhen duduk bersama Lin Tianhao dengan wajah suram. Sejak Lin Kun menghilang secara misterius di tambang dua malam lalu bersama tiga algojo Bayangan Darah, firasat buruk terus menghantui hati Lin Zhen.
"Kakek, jangan terlalu dipikirkan," hibur Lin Tianhao sambil menuangkan teh. "Malam ini kita fokus saja memenangkan Rumput Jantung Teratai Api untuk hadiah penyambutan Tetua Sekte Awan Biru besok, sekaligus membeli Pil Pembuka Meridian Tanpa Ampas yang digembar-gemborkan itu. Begitu aku menelan pil itu dan menembus Alam Pembukaan Meridian malam ini, bahkan jika Lin Xuan punya seribu akal bulus, aku akan menginjaknya sampai mati di Upacara Leluhur besok!"
Lin Zhen mengangguk berat. Demi lelang malam ini, ia telah menguras hampir seluruh kas cadangan Klan Lin sebesar empat ribu Batu Roh Tingkat Rendah.
Sementara itu, tepat di seberang mereka—di Ruang VIP Nomor Satu yang paling mewah—Lin Xuan duduk santai dengan jubah hitam dan topeng kayunya sambil menyeruput teh roh ditemani langsung oleh Tetua Qin. Di Ruang VIP Nomor Dua di sebelahnya, duduk Su Qingge dari Sekte Pedang Bulan Beku.
"Para hadirin yang terhormat!" suara lantang juru lelang di atas panggung utama membuka puncak acara. "Sekarang kita memasuki dua barang lelang terakhir dan paling berharga malam ini! Barang pertama adalah tanaman obat tingkat dua yang sangat langka: Rumput Jantung Teratai Api berusia seratus tahun! Sangat ampuh untuk memurnikan atribut api maupun menyembuhkan penyumbatan meridian dingin! Harga dasar: seribu Batu Roh Tingkat Rendah!"
Begitu kotak giok dibuka di atas panggung, tanaman berbentuk teratai merah menyala yang memancarkan hawa hangat langsung memikat mata seluruh hadirin.
Tanpa menunggu orang lain menawar, Lin Tianhao langsung berdiri di jendela Ruang VIP Nomor Tiga dan berteriak lantang:
"Klan Lin menawar seribu lima ratus Batu Roh! Tanaman ini disiapkan oleh Klan Lin kami sebagai persembahan untuk Utusan Sekte Awan Biru yang akan tiba besok pagi. Kuharap rekan-rekan sekalian di Kota Awan Merah sudi memberi muka pada Klan Lin!"
Ancaman halus yang membawa-bawa nama besar Sekte Awan Biru itu langsung membuat para kepala klan lain yang tadinya hendak mengangkat papan penawaran terdiam ragu. Tidak ada yang berani menyinggung calon murid inti Sekte Awan Biru secara terang-terangan.
Senyum angkuh mengembang di wajah Lin Tianhao. Namun belum sempat juru lelang mengetukkan palunya—
"Seribu lima ratus Batu Roh saja sudah berani membawa-bawa nama Sekte Awan Biru untuk menekan orang lain? Sejak kapan pengemis di Kota Awan Merah punya kulit wajah setebal ini?"
Suara tenang namun sarat akan ejekan tajam terdengar dari balik tirai Ruang VIP Nomor Satu!
Seluruh aula lelang langsung gempar! Semua mata menoleh ke arah ruang VIP tertinggi yang biasanya hanya ditempati oleh tamu kehormatan tingkat atas Paviliun Harta Seribu Bintang.
"Dua ribu Batu Roh," lanjut suara Lin Xuan santai.
Wajah Lin Tianhao langsung berubah merah padam seperti hati babi. "Siapa kau di Ruang Nomor Satu?! Berani-beraninya menghina Klan Lin?!"
"Tuan Muda Lin, harap jaga sopan santun Anda di Paviliun Harta kami!" tegur juru lelang di atas panggung dengan nada dingin. "Tamu di Ruang Nomor Satu adalah Alkemis Agung yang meracik Pil Pemurni Darah dan Pil Pembuka Meridian malam ini!"
Mendengar itu, seisi gedung lelang terkesiap hebat! Bahkan di Ruang VIP Nomor Dua, Su Qingge ikut menoleh ke arah jendela Ruang Nomor Satu dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
Lin Zhen segera menarik lengan Lin Tianhao agar tidak bertindak gegabah. Meski hatinya mendidih, tanaman itu sudah dijanjikan kepada tetua Sekte Awan Biru. Sambil menggertakkan gigi, Lin Zhen mengangkat suara:
"Dua ribu lima ratus Batu Roh!"
"Tiga ribu lima ratus Batu Roh," sahut Lin Xuan tanpa jeda sedetik pun, bahkan suaranya terdengar seperti sedang membuang uang receh.
Napas Lin Zhen tercekat! Jika ia menawar lebih tinggi dari tiga ribu lima ratus Batu Roh, ia tidak akan punya cukup uang lagi untuk membeli Pil Pembuka Meridian di sesi terakhir!
"Kakek, bagaimana ini?!" bisik Lin Tianhao panik.
"Biarkan saja tanaman itu jatuh ke tangannya dulu!" desis Lin Zhen dengan mata berkilat licik dan kejam. "Simpan empat ribu batu roh kita untuk membeli Pil Pembuka Meridian milik orang sombong itu. Begitu acara lelang selesai malam ini, aku akan mengerahkan seluruh pasukan pelindung klan untuk mencegatnya di Jembatan Kabut luar pasar dan merampas Rumput Jantung Teratai Api sekaligus seluruh uang hasil lelangnya!"
Palu lelang diketuk tiga kali. Rumput Jantung Teratai Api resmi jatuh ke tangan Lin Xuan!
Dan yang paling konyolnya, pada sesi terakhir lelang berikutnya, Lin Zhen benar-benar menguras seluruh empat ribu dua ratus Batu Roh milik Klan Lin untuk memenangkan tiga butir Pil Pembuka Meridian buatan Lin Xuan—tanpa menyadari sedikit pun bahwa seluruh uang kas Klan Lin itu baru saja masuk ke kantong pemuda yang paling ingin mereka bunuh!