NovelToon NovelToon
Alencio

Alencio

Status: tamat
Genre:Bad Boy / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ikesweetdevil

Bagi Amanda, Farel adalah sahabat sekaligus cinta pertamanya. Meskipun lelaki itu tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman, namun Amanda tidak pernah memiliki rasa lelah terlebih lagi menyerah. Ia akan selalu berusaha membuat Farel melihat ketulusan cintanya, meskipun Amanda sendiri tidak bisa mengungkapkannya secara langsung.

Namun sebuah rasa itu seolah menghilang secara perlahan saat Amanda bertemu dengan lelaki bernama Cio, lelaki aneh yang selalu menggodanya dengan sikap konyolnya. Seperti pada lelaki lainnya, Amanda selalu bersikap tak peduli, namun seiring berjalannya waktu, hatinya justru tersentuh dengan kisah kehidupannya dan perasaan tulusnya.

Di balik tawa konyolnya, Cio memiliki kisah rapuh yang tidak ingin lelaki itu ingat. Meski pada akhirnya air matanya jatuh juga kala mengingat masa kelamnya, dan semua itu hanya Cio tunjukkan di hadapan Amanda, gadis cantik yang disukainya.

Saat semua berubah sedikit demi sedikit termasuk hati Amanda, Cio justru pergi den

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 27

Part 27

"Apa sih, Babi? Tidak usah bercanda ya." Amanda menjawab kian malas sembari menarik lengannya dari rengkuhan Cio.

"Aku serius dengan kata-kataku. Mungkin kamu selalu berpikir kalau aku akan terus berbicara ngawur, tapi sebenarnya aku benar-benar merasa nyaman di dekat kamu, dan aku merasa ingin memilikimu." Amanda merapatkan bibirnya, menatap ragu ke arah Cio yang begitu serius melontarkan kalimat-kalimatnya.

"Tapi kita kan ...." Amanda menjawab ragu, sampai pada akhirnya ada seseorang yang memanggil Cio, membuat ucapannya terpotong dan pada akhirnya menoleh ke asal suara.

"Kak Cio." Suara itu terdengar kian mendekat diiringi datangnya seorang gadis manis ke arah mereka. Gadis itu terlihat masih muda dua atau tiga tahun dari Cio, tatapannya terlihat tak menyukai kehadiran Amanda, bisa dilihat dari caranya yang langsung merengkuh lengan kanan Cio begitu posesif.

"Viona, kenapa kamu bisa ada di sini?" Cio bertanya tak percaya bisa melihat Viona di kampusnya. Gadis yang masih duduk di kelas tiga SMA itu datang, seolah mampu memberinya luka yang ingin sekali Cio luapkan.

"Memangnya kenapa kalau aku di sini? Aku kan mau menjemput Kak Cio." Viona menjawab manis dengan sesekali melirik tak suka ke arah Amanda yang terdiam tanpa tahu apa-apa.

"Menjemput apa? Aku tidak akan pulang." Cio meninggikan suaranya sembari melepas rengkuhan tangan Viona yang terus menggelayutinya.

"Ayo, Amanda. Kita pergi saja dari sini!" Cio menarik tangan Amanda begitu saja, tanpa mau memperdulikan gadis yang bernama Viona tersebut.

"Tapi, Cio ... dia siapa?" Amanda bertanya lirih namun Cio masih terdiam dan terus berjalan.

"Kalau Kakak tidak mau pulang, berarti Kakak mau gadis yang saat ini Kakak gandeng tangannya itu menghilang besok pagi." Cio seketika menghentikan langkahnya, menoleh ke arah Viona penuh luka. Berbeda dengan Amanda yang terlihat syok, meski ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

"Aku yang akan melindunginya, aku tidak akan membiarkan dia menghilang apalagi meninggalkan aku." Cio merengkuh erat tangan Amanda, berharap mendapatkan kekuatan dari gadis itu.

"Apa Kakak yakin bisa?" Viona bertanya dingin sembari mendekat ke arah Cio dan Amanda.

"Aku bisa, jadi stop mengganggunya!" Cio menjawab tegas seolah ada keyakinan dari cara bicaranya

"Sebenarnya apa yang Kakak inginkan? Kakak cuma tidak ingin melihat Om Hendra menikah dengan Mamaku kan? Kalau begitu, buat perjanjian bila kita akan menikah suatu saat nanti. Aku mencintai Kakak, jadi jangan lindungi gadis manapun selain aku." Viona menjawab tenang tanpa mau mengalihkan tatapannya ke arah Cio yang terdiam.

"Aku tidak mau menikah denganmu, kalaupun Papaku akan menikahi Mamamu, aku sudah tidak peduli lagi." Cio menjawab singkat lalu berjalan kembali meninggalkan Viona dengan senyum sinisnya.

"Kalau Kakak tidak mau memilih pilihan yang aku berikan, berarti Kakak juga tidak bisa memilih pilihan Kakak, termasuk gadis itu. Dia harus mati dan menghilang dari dunia ini." Viona menjawab tegas yang sebenarnya sangat jelas Cio dengar, namun lelaki itu terus berjalan seolah ucapan Viona adalah angin lalu yang tidak perlu dihiraukan.

"Cio," panggil Amanda lirih sembari terus melangkah ke arah manapun Cio pergi. Dengan memeluk boneka yang Cio berikan, Amanda meluapkan ketakutannya pada benda lembut tersebut, meski itu tak seluruhnya bisa menenangkannya, tapi setidaknya ada tangan Cio yang merengkuhnya seolah berjanji akan terus melindunginya.

"Amanda." Cio menghentikan langkahnya di tempat yang sepi, di mana tidak satu orang pun di sana termasuk Viona. Nafasnya berembus berat, seolah apa yang akan dikatakannya adalah hal yang sangat sulit di hidupnya.

"Sebenarnya dia siapa, Cio?"

"Dia Viona, anak dari selingkuhan Papaku, wanita yang menyebabkan Mamaku gila dan pada akhirnya meninggal." Amanda sempat terkejut mendengarnya, meski itu tertutupi dengan ekspresi tenangnya.

"Lalu kenapa dia ingin menikah denganmu."

"Aku tidak tahu, dia bilang mencintai ku. Dia akan membantuku agar Papaku tidak menikahi Mamanya. Tapi bagiku, semuanya sama saja. Aku akan tetap melihat Mamanya, wanita yang sudah menghancurkan Mamaku." Cio menjawab sendu, seolah semuanya sudah cukup membuatnya lelah. Sedangkan Amanda hanya terdiam, bingung harus bersikap bagaimana sekarang. Jujur saja, Amanda masih ragu dengan perasaannya sendiri akan Cio. Lelaki itu cukup baik dan Amanda merasa nyaman bersamanya, hanya saja Amanda merasa belum yakin saja, ia takut bila perasaannya hanya sebatas rasa kasihan.

"Aku tidak tahu harus berbicara apa. Tapi aku sangat berharap, bila kamu akan kuat menghadapi masalah ini." Amanda menjawab seperlunya tanpa bisa mengatakan lebih atau setidaknya membuat Cio merasa nyaman dan tidak takut. Amanda pikir, sesuatu seperti itu akan salah bila hatinya justru merasakan hal berbeda.

"Terima kasih." Cio menjawab singkat lalu menatap ke arah Amanda penuh kelembutan, seolah ada hal yang ingin ia harapkan pada gadis itu.

"Amanda, aku ingin kamu menungguku. Apapun yang terjadi nanti, aku ingin kamu selalu percaya bila aku akan tetap mencintaimu. Suatu saat nanti, aku akan datang ke rumahmu dan melamarmu, kita akan memiliki keluarga harmonis seperti yang aku janjikan tadi." Cio mengeratkan rengkuhannya seolah ingin memberi Amanda keyakinan akan janjinya. Sedangkan yang Amanda lakukan hanya terdiam, bukan karena Amanda tidak mengerti, Amanda bahkan merasa sangat paham dengan apa yang sedang Cio katakan. Sebuah janji di mana Cio memiliki impian akan masa depannya bersamanya, di mana hanya ada keluarga harmonis yang akan ia ciptakan, bukan keluarga menderita seperti kehidupannya selama ini.

"Aku pergi dulu ya?" pamit Cio tiba-tiba, membuat Amanda yang mendengarnya seketika terkejut, merasa tidak tahu tentang apa yang sebenarnya sedang Cio rencanakan.

"Kamu mau ke mana?"

"Aku mau menemui Papaku. Aku tidak mau kamu ikut ke dalam masalahku, aku cuma tidak ingin kamu kenapa-kenapa." Cio menyunggingkan senyum manisnya, seolah ingin mengatakan semua akan baik-baik saja di tangannya.

"Tapi ...."

"Tidak apa-apa. Aku pergi dulu ya," pamitnya cepat sembari berlari menjauh, meninggalkan Amanda ke dalam kebungkaman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!