Bima Arka Pradipta , anak dari keluarga sederhana di pinggiran Manado. Keras kepala, tidak banyak bicara di luar lapangan tapi meledak-ledak di dalam lapangan. Hamstring putus , pensiun umur 34 tahun. Dikenal karena tendangan bebas melengkungnya dan loyalitasnya sama tim. Dari anak kampung yang main bola pakai kaki ayam -> ditolak akademi karena dianggap terlalu emosional -> bangkit setelah cedera parah di musim hujan -> jadi kapten yang mengangkat tim degradasi jadi juara.
"Bukan tentang seberapa keras kau terjatuh, tapi seberapa lama kau tetap berdiri di tengah hujan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SelToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 Piala Dunia 2038 - 12 Anak Tikala Ke Amerika
Juni 2038. Bima berumur 30 tahun.
Dia kapten timnas Indonesia no 7 yang lolos Piala Dunia 2038 di Amerika - Meksiko - Kanada. Pertama kali dalam sejarah Indonesia lolos Piala Dunia.
Bagaimana bisa lolos? Karena gol Bima no 7 di menit ke 96 lawan Arab Saudi di GBK. Tendangan keras 32 meter , tendangan nelayan , dan tendangan tarik jaring.
Setelah gol itu , satu Indonesia menangis. Tuminting menangis yang paling keras.
Tapi cerita ini bukan tentang gol itu.
Cerita ini tentang janji Bima 5 tahun yang lalu ke 12 anak Tikala "Kalau om lolos Piala Dunia , kalian semua ikut ke Amerika."
Semua kira hanya bercanda. Mana mungkin 12 anak dari Tikala yang latihan di lumpur , pakai sepatu jebol benang pancing ke Amerika ?
Bima tidak bercanda.
Dia pakai uang bonus lolos Piala Dunia dari PSSI : Rp 2,5 Miliar. Tidak buat beli rumah lagi di Manado. Tidak buat beli mobil Alphard.
Dia pakai untuk beli 15 tiket pesawat Manado - Jakarta - Los Angeles. Ekonomi , bukan Business Class. Karena 15 orang.
Siapa 15 orang itu ?
- 12 anak Tikala ( Ronald sekarang umur 15 tahun , sudah main di Manado United U-15 , sepatunya sudah no 42 )
- Yudi ( pelatih lari , pertama kali naik pesawat , muntah 3 kali , lebih parah daripada Farrel dulu )
- Joshua ( sudah operasi ACL di Skotlandia 4 tahun yang lalu , sekarang jalan tanpa kruk , tapi masih pincang sedikit )
- Bapak dan Ibu Bima ( Bapak pakai kemeja nelayan Kroasia dari Simic yang sudah lusuh , Ibu bawa 10 toples sambal dabu - dabu di dalam koper , ditahan imigrasi di LA karena dikira bom )
Mereka sampai di Los Angeles. Juni 2038. Panas.
Pertandingan pertama Indonesia vs Argentina. Di SoFi Stadium.
12 anak Tikala duduk di tribun paling atas , paling murah , Rp 1,5 juta per tiket. Pakai jersey Timnas Indonesia no 7 semua , yang dibelikan Bima di Pasar Tuminting , KW tapi tulisan BIMA SAKTI 7 nya miring.
Yudi melihat Messi dari jauh. Umur Messi sudah 51 tahun , jadi staf pelatih Argentina. Yudi berteriak "MESSI! SAYA YUDI DARI TIKALA!"
Messi tidak mendengar.
Joshua melihat Alvarez main. Dia bisik ke Ronald "Lihat Ronald , tendangan Pisang Raja itu begitu."
Ronald tidak melihat Alvarez. Ronald melihat Om Bima di lapangan.
Di menit ke 23 , Indonesia kalah dengan skor 0-2. Argentina terlalu jago.
Di menit ke 67 , Bima mendapat bola. No 7. Umur 30 tahun. Lari tidak sekencang dulu waktu umur 25 tahun. Tapi tetap berlari.
Dia melihat ke tribun atas. Dia melihat 12 anak Tikala melambai - lambai pakai bendera Merah Putih yang kebesaran.
Dia ingat Tikala lumpur. Dia ingat Sinar Bima. Dia ingat sepatu no 39 kebesaran. Dia ingat bola plastik. Dia ingat tinutuan. Dia ingat bau ikan.
Dia tendang dari 35 meter. Lebih jauh dari biasanya. Karena rindu.
GOL.
Skor 1-2.
Gol hiburan. Indonesia tetap kalah 1-3 lawan Argentina. Tapi gol itu gol pertama Indonesia di Piala Dunia sepanjang sejarah.
Golnya dicetak oleh anak Tuminting pakai no 7 , dari jarak 35 meter , tendangan nelayan.
Komentator Amerika berteriak: "GOAL! FROM INDONESIA! BIMA SAKTI! NUMBER 7! WHAT A STRIKE! FROM NOWHERE!"
12 anak Tikala di tribun atas berteriak sampai suara habis. Yudi peluk Joshua yang sudah tidak pakai kruk. Bapak Bima peluk Ibu. Ibu keluarkan sambal dabu - dabu di tribun , mau makan , ditegur oleh security Amerika.
Setelah pertandingan , Bima tidak ke ruang ganti. Dia berlari ke tribun atas. Naik tangga 80 tingkat. Pakai sepatu bola , lelah umur 30 tahun.
Sampai di atas , dia peluk 12 anak satu per satu. Keringat Bima bercampur keringat Ronald yang sudah no 42.
Ronald bertanya : "Om , golnya Pisang Raja atau tendangan keras ?"
Bima menjawab , nafasnya ngos - ngosan "Tendangan bau ikan , Nal. Tendangan bau ikan."
Yudi mengambil buku absen lusuh yang dia bawa dari Tuminting ke Amerika. Buku absen yang sudah 16 tahun dia tulis.
Catatan terakhir
Dulu kita lari di lumpur supaya tidak jadi aku. Sekarang kita ada di Amerika , tetap bau lumpur. Ternyata lumpur Tikala bisa sampai Piala Dunia.
Bima tanda tangan di buku itu. 12 anak tanda tangan. Joshua tanda tangan. Bapak tanda tangan.
Malam harinya , di hotel murah di Los Angeles , 15 orang tidur di 2 kamar. Sempit. AC tidak dingin. Bau ikan roa dari koper Ibu menyengat.
Farrel video call dari Jakarta , dia nonton di tv "Bro , gol lu gila! 12 anak lu ada di sana ? Gila!"
Marko Simic video call dari Kroasia , pakai kemeja nelayan "Brother! Goal! Fishing goal in World Cup! Hvar to Tuminting to Los Angeles!"
Bima melihat keluar jendela hotel murah di LA. Terdapat gedung - gedung tinggi.
Tapi di dalam kamar , bau ikan , bau lumpur Tikala , bau sambal dabu - dabu , 12 anak ngorok , Yudi yang ngorok paling keras.
Bima tulis di buku diary kecil yang sudah 18 tahun dia bawa sejak umur 12 tahun. Halaman terakhir yang kosong , dia tulis
SAYA SUDAH SAMPAI DI AMERIKA. TAPI TUMINTING TETAP DI KAKI SAYA. SEPATU NO 39 KEBESARAN DULU SUDAH SAYA SIMPAN DI MUSEUM SINAR BIMA. KAKI SAYA SEKARANG NO 42 , PAS. TAPI HATI SAYA TETAP NO 39 KEBESARAN , KEBESARAN UNTUK 12 ANAK TIKALA.
JANGAN LUPA BAU IKANNYA.
Dia tutup buku itu.
#####################################
Cukup sampai di sini dulu ya , besok lanjut lagi. Semoga suka , jangan lupa berikan saran , like dan hadiahnya
Happy reading