NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Dewi

Sistem Penakluk Dewi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:277
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BANTUAN YANG DITOLAK

Di dalam area kerja kafe 'Kopi Kala', hening yang canggung menggantung tebal usai langkah kaki Siska menghilang di balik pintu dapur belakang. Dua barista pria yang tadi berpura-pura sibuk mendadak makin tekun mengelap konter mesin espresso, sama sekali enggan menatap ke arah Maya. Mereka tahu betul betapa bahayanya ikut campur dalam perselisihan staf, apalagi menghadapi Maya yang saat ini berdiri kaku dengan rahang mengencang rapat.

Maya memejamkan matanya selama beberapa detik. Jemari tangannya yang mungil masih gemetar halus akibat luapan emosi yang memuncak. Dengan gerakan patah-patah, ia melepas celemek cokelat tuanya, menggantungkannya di paku dinding belakang, lalu berbalik menyusuri lorong kecil di samping area kasir. Ia butuh udara segar sekadar untuk menenangkan dadanya yang terasa sesak dan panas.

Enzo meletakkan gelas plastik es teh manisnya yang sudah kosong ke dalam tempat sampah daur ulang di dekat kanopi luar. Pemuda itu mengusap lehernya yang agak pegal, lalu melangkah pelan menyusuri trotoar luar yang sejajar dengan lorong samping bangunan kafe. Dari celah sudut ruko, ia melihat Maya sedang bersandar pada dinding bata merah yang agak berlumut.

Gadis berusia sembilan belas tahun itu berdiri sendirian di lorong sempit yang teduh. Kedua tangannya terlipat rapat di dada, matanya menatap lurus ke arah tumpukan kardus kosong dengan pandangan kosong dan tajam. Napasnya masih terengah pelan, menahan beban amarah yang belum sepenuhnya surut.

Enzo menghentikan langkahnya beberapa meter di depan mulut lorong. Ia tahu betul rasa tidak nyaman ketika seseorang baru saja mengalami ketidakadilan di tempat kerja.

"Mbak Siska tadi emang kelewatan," kata Enzo membuka percakapan dengan suara rendah dan tenang.

Maya melonjak kaget. Kepala gadis itu menoleh cepat, matanya membelalak tajam seraya menatap Enzo dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan pandangan penuh curiga.

"Ngapain lu ngintip-ngintip di sini?" sembur Maya dengan nada tinggi dan bergetar.

"Gue nggak ngintip," jawab Enzo tenang seraya memasukkan kedua tangannya ke saku celana jinsnya yang lusuh. "Gue cuma kebetulan duduk di meja luar dari tadi dan dengar kalian adu mulut."

Maya mendengkus keras. Ia mengalihkan wajahnya dengan gerakan kasar, menyilangkan kedua tangannya makin rapat di depan dada. "Terus? Lu ngerasa keren bisa nonton drama gratis?" potong Maya cepat, suaranya sarat dengan nada defensif yang sangat tajam. "Nggak usah sok tahu dan campuri urusan orang lain. Lu nggak tahu apa-apa soal kerjaan di sini!"

"Gue emang nggak tahu kerjaan kafe," sahut Enzo tanpa menaikkan nada suaranya sedikit pun, tetap berdiri stabil di posisinya. "Tapi gue tahu lu beneran di posisi yang bener. Soal rekaman CCTV jam satu siang tadi, lu nggak bohong, kan?"

Maya tertegun sejenak. Sorot matanya bergetar tipis, kaget karena pemuda asing di hadapannya justru menangkap poin utama dari perdebatannya tadi ketimbang menghakiminya sebagai staf yang kurang ajar pada senior. Namun, dalam hitungan detik, benteng pertahanan di dalam diri Maya kembali merapat kokoh. Dagu gadis itu terangkat tinggi, menolak menunjukkan celah kerapuhan sedikit pun di hadapan orang luar.

"Kalau gue bohong atau nggak, itu bukan urusan lu!" desis Maya dengan tatapan curiga yang makin pekat. "Lu siapanya gue, sih? Datang-datang sok perhatiin, sok mau jadi pahlawan. Mau kasihanin gue, ya?"

"Gue nggak kasihan sama lu," potong Enzo jujur seraya menatap lurus bola mata Maya. "Gue cuma mau kasih saran. Nanti pas manajer lu datang, lu nggak usah takut atau mundur. Minta cek rekaman CCTV itu baik-baik. Jangan mau dipotong gaji cuma gara-gara lu gengsi ngomong tenang sama manajer."

Kata 'gengsi' yang diucapkan Enzo dengan nada datar itu rupanya menyenggol urat saraf paling sensitif di kepala Maya. Wajah gadis sembilan belas tahun itu mendadak memerah padam. Ia maju satu langkah mendekati Enzo, menunjuk dada pemuda itu dengan telunjuknya yang gemetar oleh kemarahan yang meluap.

"Lu bilang gue gengsi?" seru Maya dengan tawa sumbang yang penuh kepahitan. "Lu nggak tahu apa-apa soal hidup gue! Orang-orang kaya lu tuh sama aja... datang pura-pura baik, sok peduli, padahal di belakang cuma mau manfaatin atau bikin bahan gosip!"

"Gue cuma pekerja lepas yang lewat," balas Enzo datar, tidak terpengaruh sedikit pun oleh tuduhan pedas dan emosional yang dilemparkan padanya. "Gue nggak kenal lu, nggak ada niat manfaatin lu, dan nggak punya kepentingan apa-apa di sini."

"Bagus kalau sadar!" sembur Maya makin menjadi-jadi, suaranya serak menahan sesak di dada. "Jadi mending lu pergi sekarang! Nggak usah sok perhatian! Gue bisa selesaikan urusan gue sendiri tanpa bantuan atau rasa kasihan dari orang asing kaya lu!"

Enzo menatap Maya dalam diam selama beberapa detik. Di hadapannya, gadis muda itu berdiri tegap dengan napas berburu, memajang wajah galak dan kata-kata tajam bak duri yang siap menusuk siapa saja yang mendekat. Namun, di balik tembok amarah yang dibangun tinggi-tinggi itu, Enzo melihat kecemasan yang luar biasa—ketakutan seorang gadis yang pernah dikhianati begitu dalam hingga kini menganggap setiap uluran tangan sebagai ancaman yang terselubung.

"Oke," ucap Enzo singkat seraya menganggukkan kepalanya pelan.

Ia tidak membalas amarah Maya dengan bentakan, tidak pula berusaha membela diri atas tuduhan-tuduhan liar yang dilemparkan padanya. Enzo menyadari bahwa makin keras ia berusaha menjelaskan niat baiknya, makin rapat pula Maya akan menutup pintu kepercayaannya.

"Gue cuma nggak mau lihat orang yang bener malah kena getahnya," tambah Enzo tenang seraya berbalik badan menyusuri mulut lorong. "Jaga diri lu."

Maya mematung di lorong sempit itu. Matanya membelalak menatap punggung Enzo yang melangkah menjauh tanpa rasa dendam, amarah, atau ejekan. Dinding pertahanan tajam yang baru saja ia bangun dengan sekuat tenaga mendadak membentur kekosongan—Enzo tidak melayaninya bertengkar, tidak juga menghakiminya sebagai gadis kasar yang tidak tahu terima kasih.

Maya mengepalkan tangannya rapat-rapat, menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih. Ia memalingkan wajahnya ke arah dinding bata, membiarkan napasnya terengah-engah di tengah keheningan lorong ruko yang dingin dan sepi. Ada rasa canggung dan kebingungan aneh yang mendadak mengendap di balik dadanya.

Sementara itu, Enzo berjalan keluar menuju trotoar jalan raya yang bising oleh lalu lalang kendaraan siang. Udara panas perkotaan langsung menyapa kulit wajahnya. Begitu kakinya menapak di atas beton trotoar, ponsel tua di saku celana jinsnya bergetar panjang dua kali secara berurutan.

Enzo merogoh saku celananya, menarik keluar ponselnya, dan menatap layar kaca retak yang berkedip menyala.

[Laporan Interaksi Subjek: Maya]

[Status Misi Opsional: Penawaran Bantuan Ditolak.]

[Analisis Respon Target: Peningkatan Pertahanan Diri (Defensif) hingga 90%. Target Mengidentifikasi Bantuan Luar sebagai Bentuk Manipulasi atau Kasihan.]

Enzo menghembuskan napas panjang seraya menyapu wajah kusamnya dengan telapak tangan. Ia menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku tanpa raut kecewa berlebih. Dari interaksi singkat tadi, Enzo paham satu hal: menembus benteng manusia yang penuh luka tidak pernah semudah memberikan bantuan teknis di toko kelontong. Dan Maya adalah tipe orang yang butuh waktu jauh lebih lama untuk percaya pada kebaikan orang lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!