NovelToon NovelToon
The Actress Who Fell For A Hidden Heir

The Actress Who Fell For A Hidden Heir

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Duniahiburan
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: sphinxeditz77

Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.

Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.

Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.

Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.

Arka bukan sekadar mahasiswa.

Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.

Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.

Karena mencintai seseorang ternyata mudah.

Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rutinitas Baru dan Tanggung Jawab Lama

Ada hal-hal kecil di dunia ini yang awalnya terasa begitu asing.

Sebuah nama baru di daftar kontak teratas. Sebuah notifikasi obrolan yang tidak pernah ditunggu. Sebuah percakapan singkat yang awalnya hanya terjadi karena kebetulan.

Namun tanpa disadari... ketika hal-hal asing itu dilakukan secara berulang, ia akan menyusup masuk dan berubah wujud menjadi sebuah kebiasaan.

Begitu pula yang perlahan terjadi di antara Arka dan Alya.

Pagi itu, Arka sedang duduk di kursi panjang ruang kelas, menunggu dosen masuk, ketika ponsel di atas mejanya bergetar.

Ia melirik layar yang menyala.

Alya: Sudah sarapan belum?

Arka menatap pesan itu selama beberapa detik. Ujung bibirnya sedikit terangkat. Kemudian jarinya membalas dengan santai.

Arka: Sudah.

Balasan datang hampir seketika, seolah wanita itu memang menunggu.

Alya: Bohong.

Arka mengerutkan kening.

Arka: Kok tahu?

Alya: Kalau kamu memang sudah sarapan kenyang, biasanya kamu enggak bakal jawab sesingkat itu. Minimal ada keterangan makan apa.

Arka menahan tawa, menekan bibirnya rapat-rapat.

Rendy yang sedang asyik bermain gim di sebelahnya, melirik dengan ekor mata.

"Ngapain lu senyum-senyum lihat layar?"

"Enggak ada apa-apa."

"Chat dari siapa?"

"Teman."

Rendy menyipitkan mata, menghentikan ketukan jarinya di layar. "Teman?"

"Iya."

"Teman yang mana nih maksudnya?"

Arka segera memasukkan ponselnya ke bawah meja. "Teman gue banyak."

Rendy tertawa kecil berbau ejekan. "Itu jawaban template orang mencurigakan yang lagi kasmaran."

Arka memilih mengabaikan tuduhan itu. Di bawah meja, ponselnya kembali bergetar.

Alya: Jangan lupa makan siang lho nanti.

Arka mengetik dengan satu tangan.

Arka: Kamu juga. Jangan cuma minum es kopi.

Kemudian ia mematikan layarnya.

Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada kata-kata manis atau panggilan khusus.

Namun jelas ada sesuatu yang bergeser. Sekarang, setiap kali ponselnya berbunyi, alam bawah sadar Arka mulai terbiasa mengharapkan nama Alya muncul di layar.

Di sisi lain kota, di sebuah studio foto komersial, Alya juga mengalami gejala yang sama.

Ia sedang duduk tegak di ruang rias. Seorang penata rias (make-up artist) sedang merapikan sanggul rambutnya sebelum sesi pemotretan kedua dimulai.

Ponselnya tergeletak di atas meja rias. Layarnya menyala.

Arka: Kamu juga. Jangan cuma minum es kopi.

Alya tersenyum kecil membacanya.

Penata rias yang melihat pantulan wajah artis itu dari cermin besar langsung bertanya iseng, "Dapat kabar bagus dari agensi, Mbak Al?"

Alya menggeleng pelan. "Enggak kok."

"Tapi senyumnya renyah banget barusan."

Alya melihat pantulan dirinya sendiri. "Memangnya enggak boleh senyum santai?"

"Ya boleh-boleh aja sih." Penata rias itu tertawa ringan sambil menjepit rambut Alya. "Cuma, tumben banget lihat Mbak Alya senyum sumringah gara-gara lihat HP. Biasanya kalau ngelihat HP pasti muka tegang urusin jadwal."

Alya mengambil ponselnya dan menguncinya. "Cuma chat dari teman kok."

"Teman?"

"Iya."

Penata rias itu menyipitkan mata. "Teman cowok yang kemarin ke lokasi syuting nungguin itu ya?"

Alya terdiam sebentar, merasa ketahuan. Kemudian ia mengangguk pasrah. "Iya."

Penata rias itu hanya tersenyum penuh arti. "Kalau memang bikin bahagia, lanjutkan, Mbak. Artis juga butuh asupan semangat."

Alya memutar bola matanya sambil tertawa pelan. "Jangan mulai aneh-aneh deh."

Ia kembali melirik layar ponselnya yang kini gelap. Tidak ada pesan baru. Namun entah kenapa... ia masih berharap ada balasan tambahan.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola rutinitas yang hampir sama.

Tidak setiap waktu mereka bertukar pesan seperti remaja yang sedang kasmaran. Kadang hanya berbalas beberapa pesan dalam sehari. Kadang percakapan mereka bisa berlangsung cukup panjang di malam hari.

Terkadang, Alya mengirimkan foto makanan dari lokasi syutingnya.

Alya: [Mengirim foto kotak katering] Ini rendangnya enak banget.

Arka membalas:

Arka: Kelihatannya biasa aja. Bumbunya pucat.

Alya: Makanya cobain dulu, jangan asal nge-judge dari foto.

Atau di lain waktu, Arka yang mengirimkan foto kebiasaan buruknya.

Arka: [Mengirim foto gelas kertas] Hari ini kopi hitam ketiga. Revisi bab tiga beneran neraka.

Alya langsung membalas omelan kurang dari satu menit:

Alya: Arka, jangan kebanyakan minum kopi! Nanti lambungmu rusak.

Arka: Ibu saya juga bilang begitu tiap hari.

Alya: Berarti dengarkan omongan ibu kamu dong!

Arka: Hahaha. Siap.

Begitu pula ketika Alya mengirimkan keluhan soal jadwal kerjanya yang menyiksa fisik.

Alya: Hari ini pindah lokasi syuting outdoor tiga kali. Panas banget.

Arka: Capek?

Alya: Banget. Rasanya tulangku mau copot semua.

Arka: Istirahat. Curi waktu tidur di mobil.

Alya: Kalau segampang itu, aku dari tadi udah tidur lelap.

Arka sempat berpikir beberapa saat sebelum mengetik balasannya.

Arka: Kalau begitu, jalani satu-satu pelan-pelan. Jangan pikirkan beban semuanya sekaligus hari ini.

Alya membaca pesan terakhir itu berulang kali di dalam mobil van-nya. Matanya terasa sedikit menghangat. Kemudian ia mengetik:

Alya: Kamu kadang bisa bijak juga ya ngomongnya.

Arka membalas cepat:

Arka: Kadang?

Alya tersenyum.

Alya: Jangan mulai besar kepala deh.

Dalam semua percakapan itu... tidak pernah ada pembicaraan tentang status hubungan. Tidak ada pengakuan perasaan. Tidak ada gombalan yang berusaha dipaksakan agar terdengar romantis.

Hanya dua orang manusia biasa yang perlahan-lahan mulai membuka ruang, dan menjadi bagian kecil yang menenangkan dari rutinitas masing-masing.

Dan untuk saat ini... keduanya merasa jarak itu sudah lebih dari cukup.

Sore menjelang malam di akhir pekan.

Arka baru saja melangkah keluar dari lobi utama gedung kampus setelah menyelesaikan bimbingan revisi skripsinya.

Ia menghentikan langkah di anak tangga terbawah. Ponselnya bergetar di dalam saku jaketnya.

Alya: Sudah selesai urusan kampusnya?

Arka tersenyum dan membalas dengan satu tangan.

Arka: Sudah. Baru keluar gedung.

Alya: Langsung pulang?

Arka: Iya. Mau rebahan.

Alya: Hati-hati di jalan pulangnya. Jangan ngebut bawa motor.

Arka memasukkan ponselnya ke saku. Ia memandang langit sore yang mulai kemerahan dengan senyum tipis di bibirnya.

Dulu, perjalanan pulang ke indekos hanyalah sekadar rutinitas berpindah tempat yang tidak pernah ia pikirkan maknanya.

Sekarang, ada seseorang yang menyempatkan diri mengingatkannya untuk berhati-hati.

Sebuah gestur yang sangat sederhana. Tapi rasanya luar biasa menenangkan.

Bersambung...

1
joikendil joikendil
Gokil sih kak, bab ini definisi "kamu boleh masuk ke duniaku, tapi duniaku juga bakal ngebongkar duniamu". Alya pulang happy bawa definisi kampus = liburan, Arka ditinggal sama berita nasional nama lengkap + wajah HD. Jurnalisnya udah mulai ngetik Skysea Group. Gak sabar bom kebohongan besar Arka meledak.
joikendil joikendil
Jujur awalnya agak takut baca age gap karena biasanya cringe, tapi di sini age gap nya justru bikin nyaman.

Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.

Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!

Semangat kak, ditunggu update-nya!
sphinxeditz77: Wah, makasih banyak kak sudah kasih 5⭐ dan review sepanjang ini 😭🙏 Senang banget bacanya, apalagi karena kakak sampai nangkep detail tentang Arka yang protective tapi tetap kasih Alya ruang untuk berkarier.

Aku memang pengin hubungan mereka terasa seperti dua orang yang saling menghargai, bukan sekadar trope age gap. Jadi komentar seperti ini jujur bikin semangat banget buat lanjut nulis 😂🔥

Semoga bab-bab berikutnya tetap bikin kakak betah ngikutin Arka dan Alya. 🙏
total 1 replies
joikendil joikendil
Alya: "Besok datang lagi kan Ka?"

Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"

AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭

Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
joikendil joikendil
Bab ini definisi "respect" kak. Arka yang awalnya mikir akting itu cuma hafal dialog + akting manis, sekarang lihat sendiri harus inget blocking, ekspresi, nada suara, arah kamera, vas bunga kesenggol aja harus ulang. Diulang 7x tanpa ngeluh. Terus Arka bilang "Aku respect sama kamu, Al" - bukan "cantik" bukan "akting bagus" yang klise. Alya aja kaget karena jarang ada yang ngomong gitu. Suka banget pergeseran Arka dari lihat Alya sebagai artis terkenal, jadi lihat Alya sebagai manusia pekerja keras. Tapi nomor portal gosip itu masih neror ya? Takut!
sphinxeditz77: Nahhh ini dia 😂🙏 Aku memang pengin momen itu jadi titik perubahan cara Arka melihat Alya. Bukan lagi sekadar “aktris terkenal”, tapi seseorang yang benar-benar bekerja keras di balik kamera. Dan setelah lihat take berkali-kali, menurut Arka kata “respect” jauh lebih tepat daripada sekadar bilang “cantik” atau “aktingmu bagus.” 😭🔥
total 1 replies
joikendil joikendil
Jujur nangis baca part ini kak. Arka gak muji gaun mahal, gak muji cantik, gak muji akting. Dia cuma bilang "Ngerti alasan logis kenapa tiap kita ketemu mata kamu selalu kelihatan sangat capek". ITU DALEM BANGET.

Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
sphinxeditz77: Waduh sampai nangis 😭😂 makasih banyak kak! Bagian Arka melihat rasa capek Alya sebagai manusia memang penting banget buat perkembangan hubungan mereka. Tapi soal “Selamat sore Mas Arka Pratama?”... wkwkwk mulai masuk wilayah berbahaya itu 🤣
total 1 replies
joikendil joikendil
Akhirnya! Arka diajak lihat syuting langsung. Suka detailnya kak, bangunan heritage disulap jadi rumah mewah, kabel seukuran lengan, lampu HMI raksasa, take diulang 7 kali cuma gara-gara bayangan mic bocor.

Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
sphinxeditz77: Wkwkwk makasih kak 😂 Aku memang sengaja masukin detail-detail kecil di lokasi syuting supaya Arka dan pembaca sama-sama bisa melihat kalau dunia Alya ternyata nggak sesederhana “datang, cantik, lalu akting” 🤣 Dan 2 es kopi itu memang bentuk perhatian Arka yang paling sederhana 😂
total 1 replies
joikendil joikendil
Arka: "Punya foto kamu bukan keharusan buatku"

Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya

Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!
joikendil joikendil
Bab ini favorit aku sejauh ini kak! Alya yang biasanya dipuja-puja, histeris dimintain foto, tiba-tiba ketemu Arka yang cuma bilang "Oh." doang pas tau dia Alya Renata. No pansos, no minta tanda tangan. Justru itu yang bikin Alya insecure: "Apa muka aku biasa aja kalau tanpa makeup?" Padahal dia kangen diperlakukan normal. Psikologisnya dapet banget! Dan plot foto buram jaket denim di grup WA angkatan udah mulai nyebar, duhhh...
sphinxeditz77: Wkwkwk ini salah satu bagian yang paling aku suka juga 😂 Karena Alya sebenarnya bukan butuh orang yang terus-terusan mengaguminya, tapi orang yang bisa memperlakukannya sebagai Alya biasa. Dan Arka malah “Oh.” doang pas tahu dia Alya Renata 🤣
total 1 replies
joikendil joikendil
Kak ini bab paling tegang sejauh ini! Dari Alya nge-remas gelas kopi sampe plastiknya bunyi, terus Arka yang langsung "Ikut ke belakang. Percaya sama aku" - itu keren banget, gak banyak cing-cong. Tapi endingnya... ya ampun 😭 yang moto dari balkon lantai 2 fakultas itu siapa?? Foto Alya senyum-senyum sama Arka udah kesebar kayak virus katanya. Plis jangan cliffhanger lama kak!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!